
Violet segera naik taxi dan menuju rumah sakit keluarga Robert sambil di jalan melihat begitu banyaknya panggilan dari Deren, Carra, Edgar, ibunya bahkan mbak Ratih dan Doni.
“Mommy aku tahu kau kuat, bertahanlah! Aku akan segera sampai. Jangan tinggalin kami, aku dan Deren terlebih Carra sangat membutuhkanmu.” Ucap Violet meneteskan air matanya sambil menatap fotonya bersama ibu mertuanya itu di ponselnya. Seketika rasa bersalah menyelingkupi perasaan Violet karena dia sudah mengetahui bahwa jika sang ibu mertuanya itu mengalami serangan jantung lagi maka sangat kecil kemungkinan bisa selamat.
Sekitar 20 menit kemudian Violet akhirnya sampai di rumah sakit, dia pun segera turun dan menuju ruangan di mana biasanya mommy Grysia di rawat. Begitu dia tiba di sana langsung melihat Carra menangis tersedu dalam pelukan Edgar.
Violet segera mendekati ruangan itu dengan penuh ketakutan karena dia takut apa yang dia khawatirkan terjadi, “Kakak kau kemana saja? Kenapa tidak menjawab panggilan dari kakak ipar?” tanya Edgar begitu Violet sudah bersamanya.
Carra yang mendengar Edgar menyebut Violet segera melepaskan pelukannya dari Edgar lalu segera beralih memeluk Violet, “Hiks, hiks, hiks,, kakak ipar mommy sudah pergi. Dia sudah pergi meninggalkan kita. Kakak ipar, aku harus bagaimana?” isak Carra.
Violet yang mendengar itu langsung meneteskan air matanya, “Maafkan kakak dek, kakak datang terlambat.” Hanya itu yang bisa Violet katakan dengan suara yang bergetar karena ternyata keegoisannya pagi tadi berujung seperti ini.
“Aku tidak menyalahkanmu kak, aku memang sudah bersiap untuk keadaan ini karena aku tahu mommy bisa pergi sewaktu-waktu tapi tetap saja ini menyakitkan saat mommy benar-benar pergi. Hiks,, hiks,, kakak ipar!” ucap Carra.
Violet pun mengelus rambut adik iparnya itu walau dia sendiri sangat sedih atas kepergian ibu mertuanya itu, ibu mertua yang begitu baik yang langsung saja menyetujuinya menjadi istri dari putranya tanpa bertanya lebih dalam, ibu mertua yang memperlakukannya layaknya seorang putri dari pada menantu. Bagi Violet mommy Grysia adalah ibu keduanya yang sama pentingnya dengan ibu kandungnya walau dia baru sebulan lebih tinggal bersama ibu mertuanya itu.
Sepuluh menit berlalu tapi Violet tidak juga melihat keberadaan Deren hingga membuatnya khawatir akan laki-laki itu tapi tidak lama kemudian laki-laki itu keluar bersama jasad mommy Grysia yang akan segera di bawa ke Mansion untuk segera di makamkan.
Violet memandang suaminya itu dengan dalam dan dia hanya melihat sikap dingin di sana bahkan air mata pun tidak ada di pipinya. Deren juga yang melihat Violet ada di sana bersama Edgar dan Carra hanya menatapnya sekilas lalu kembali mengurus untuk pemindahan jasad sang mommy.
__ADS_1
***
Sore harinya, kini pemakaman mommy Grysia baru saja selesai dan semua tamu yang datang untuk mengantarkan mommy Grysia ke tempat peristirahatan terakhirnya juga sudah pulang.
Violet berada di ruang keluarga mansion itu sambil menatap sekeliling mansion itu yang terlihat sunyi. Carra sedang ada di kamarnya dengan di jaga oleh Edgar karena ternyata gadis itu pingsan saat mommy Grysia sudah akan di bawa ke pemakaman. Dokter juga sudah memeriksa Carra dan memberinya infus untuk menunjang cairan dalam tubuh Carra. Para pelayan dan bodyguard juga yang biasanya ribut kini hilang entah kemana dan mansion ini terlihat sangat sunyi tanpa suara. Sementara Deren sampai saat ini Violet belum melihatnya, dia belum pulang dari pemakaman.
“Nyonya apa anda butuh sesuatu?” tanya mbak Ratih menghampiri Violet.
Violet menggeleng, “Gak ada mbak, aku gak butuh apapun. Mbak apa kau sudah melihat di mana suamiku?” tanya Violet.
“Tuan sepertinya masih bicara bersama tuan Max nyonya.” Jawab mbak Ratih.
Violet menunggu sekitar 10 menit di ruangan itu menunggu Deren tapi laki-laki itu tidak kunjung terlihat. Akhirnya dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan membersihkan tubuhnya sebentar.
Sementara Deren yang baru saja selesai bicara dengan Max segera masuk ke Mansion sekitar 5 menit setelah Violet meninggalkan ruang keluarga. Deren menatap sekeliling Mansion yang memang sangat sunyi itu lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar.
***
Tiga hari berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa mommy Grysia sudah pergi tiga hari dan suasana mansion itu masih seperti tiga hari yang lalu yaitu sunyi.
__ADS_1
Carra yang biasanya selalu saja membuat keributan dengan ceritanya dan tingkahnya berubah menjadi Carra yang rapuh dan sering menangis jika mengingat sang mommy. Tapi untunglah ada Edgar yang menemaninya hingga membuat gadis itu tetap makan dan tidak memakai infus lagi.
Violet selalu menjaga adik iparnya itu dengan baik begitu juga dengan Deren dia selalu memastikan kebutuhan Deren walau Deren dan dia tidak saling bicara dan hanya diam-diaman bahkan pria itu selama tiga malam ini tidur di kamar mommy Grysia dan hanya akan datang ke kamarnya untuk mengganti pakaian saja.
Violet tentu saja merasa khawatir dan sedikit merasa kehilangan akan Deren walau mereka tidak melakuakan apapun jika tidur bersama tapi tetap saja Violet yang sudah terbiasa tidur bersama pria itu sebulan ini merasa ada sesuatu yang hilang.
“Carra makanlah! Kau harus makan yang banyak. Bukankah kalian sebentar lagi akan wisuda?” ucap Violet yang kini berada di kamar Carra melihat Carra sarapan di suapi Edgar. Yah, tiga hari ini Edgar bolak-balik mansion dan rumah mereka. Violet juga untuk seminggu ini dia mengajukan cuti karena ingin menjaga Carra.
“Terima kasih kak!” ucap Carra.
“Jangan berterima kasih ini sudah harus aku lakukan sebagai kakakmu. Kakak tahu kau sangat kehilangan mommy, bukan hanya kau tapi kita semua kehilangan mommy tapi dia pasti ingin melihatmu bahagia dan meraih cita-citamu lalu setelah itu bekerja. Jadi jangan sakit lagi, cepatlah sembuh sayang.” Ucap Violet mengecup kening Carra.
“Terima kasih kak, aku baik-baik saja dan aku janji aku tidak akan menangis lagi. Benar katamu aku tidak boleh sedih dan harus bahagia agar mommy dan daddy bahagia melihatku dari surga. Aku akan segera sembuh dan tidak sakit lagi. Aku akan segera menyelesaikan studiku lalu membantumu kakak ipar.” Balas Carra tersenyum.
Edgar yang melihat itu ikut tersenyum karena akhirnya setelah tiga hari yang lalu dia kembali bisa melihat senyuman di wajah kekasihnya itu, “Yaa sudah habiskan makananmu.” Ucap Violet segera bangkit dari ranjang tapi di tahan oleh Carra.
“Ada apa?” tanya Violet.
“Aku ingin bicara berdua denganmu kakak ipar. Honey, bisa kan kau tinggalkan kami dan bawa juga makanan itu sekalian aku sudah kenyang.” Pinta Carra pada Edgar. Edgar pun mengangguk lalu segera pergi dari sana meninggalkan kedua wanita kesayangannya itu bicara.
__ADS_1
“Kakak Ipar!” panggil Carra.