Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
51


__ADS_3

Sesampainya di Mansion Violet segera membersihkan dirinya lalu sedikit mengistirahatkan tubuhnya dan terbangun pada pukul 15.46. Violet segera bangun dan segera mengerjakan sholat terlebih dahulu sebelum turun menuju dapur tapi dia tidak memasak hanya melihat saja para maid memasak.


“Nyonya, apa anda butuh sesuatu?” tanya Mbak Ratih.


“Mbak, Vio gak butuh apapun Vio datang kesini hanya ingin melihat kalian saja menemani kalian memasak. Vio bosan sendiri karena tidak ada yang menemani Vio Carra pergi ke kota B. Jadi mbak abaikan aku dan lanjutkan pekerjaan kalian.” Balas Violet.


Para maid pun tersenyum mendengar ucapan nyonya mereka itu dan seperti perkataan Violet mereka kini fokus dengan pekerjaan mereka. Violet melihat-lihat sebentar ponselnya hingga dia melihat artikel di berandanya dan dia segera membukanya dan belum genap 5 menit dia membacanya artikel itu tiba-tiba hilang sendiri tapi inti artikel itu sudah sempat dia baca.


Violet segera berdiri dan pergi dari dapur lalu segera menghidupkan tv karena ingin tahu berita terkini tapi sayang saat dia menghidupkan tv dan memutar channel yang biasa menayangkan berita terkini gak ada satupun berita yang memberitakan seperti artikel yang di abaca, “Apa aku salah membaca? Artikel itu sungguh baru dirilis beberapa jam yang lalu.” Gumam Violet karena dia sudah mengganti-ganti channel tetap saja tak menemukan apapun.


“Jika memang itu benar terjadi maka aku--” ucap Violet terduduk di sofa ruang keluarga itu.


***


Kini jam sudah menunjukkan pukul 21.38 tapi Deren belum juga pulang dan Violet yang sudah dari tadi menunggunya untuk memastikan berita itu masih mondar-mandir saja di ruang keluarga bahkan para maid sudah dia perintahkan istirahat tapi mbak Ratih sebelum dia istirahat masih sempat membuatkan Violet segelas coklat panas karena mengetahui bahwa nyonya nya itu menyukai hal itu.


“Kenapa dia belum pulang jam segini? Apa benar perusahaan--” gumam Violet terhenti karena mendengar suara mesin mobil di depan. Violet segera berlari menuju pintu masuk dan membukanya.


Deren yang baru memberikan kunci mobilnya kepada bodyguard yang berjaga agar mobil bisa di simpan di garasi mobil heran melihat Violet yang sudah berada di pintu tapi entah kenapa hal itu membuat hatinya sedikit menghangat.

__ADS_1


“Ada apa menyambutku? Kenapa kau belum tidur jam segini?” tanya Deren mendekati Violet sambil melihat jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 22.02.


“Aku menunggumu!” jawab Violet singkat, padat dan jelas.


Deren tersenyum mendengar hal itu dan karena ucapan Violet itu dia dengan berani mengecup kening Violet walau tanpa Violet ketahui secara diam-diam bukan hanya kening Violet yang sudah di cium oleh Deren tapi seluruh wajahnya termasuk bibir sang istri.


“Kau tahu perkataanmu itu membuatku sedikit berharap akan hubungan ini.” gumam Deren lirih.


“Aku memang menunggumu kok untuk menanyakan ahh lebih baik kau mandi dulu lalu aku akan menanyakannya.” Ucap Violet.


“Ada apa? Katakan saja yang ingin kau katakan?” tanya Deren menatap Violet serius.


***


“Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Deren saat mereka sudah di kamar dan sudah selesai makan.


“Apa benar saham perusahaan turun karena berita kita tadi di restoran?” tanya Violet.


Deren yang memang sudah menduga bahwa istrinya ini pasti akan menanyakan ini dan dia juga tadi entah kenapa lupa untuk meminta Violet tidak memeriksa ponsel dan menonton tv, “Gak ada hubungannya dengan itu.” jawab Deren.

__ADS_1


“Kau bohong! Jelas-jelas kau pulang larut begini karena saham perusahaan turun kan?” tanya Violet.


“Huh, ya saham perusahaan memang turun tapi percayalah bukan karena berita itu.” jawab Deren.


“Kau mencoba melindungiku. Aku sekarang mengerti kenapa kau menelponku tadi dan memintaku untuk pergi kemana-mana selalu bersama Doni agar massa itu tidak akan bisa mendatangiku. Seharusnya aku tidak datang ke perusahaanmu dan tidak makan bersamamu di restoran itu apalagi di ruangan terbuka seperti itu. Aku benar-benar bodoh kenapa tidak memikirkan hal itu.” ucap Violet menunduk.


“Hey Vio tatap aku!” ucap Deren segera mengangkat wajah Violet yang sudah ada air mata di sana.


Deren segera menghapus air mata Violet, “Dengar! Saham perusahaan memang sempat turun karena berita itu tapi itu terjadi karena mereka gak tahu apa hubungan kita sebenarnya sehingga menggiring opini public tapi kau tak perlu mengkhawatirkan apapun karena saham perusahaan sekarang sudah stabil.” Ucap Deren.


“Saham perusahaan stabil karena kau langsung mengetahui berita itu dan segera menekannya tapi bagaimana jika terjadi lagi. Aku memang bodoh seharusnya aku gak datang!” ucap Violet masih menyalahkan dirinya.


“Vio stop menyalahkan dirimu karena itu juga bagian kesalahanku yang lupa tidak menggunakan ruangan pribadi. Perlu kau tahu Vio aku adalah orang paling senang saat kau datang tadi jadi jangan pernah merasa bersalah datang kesana karena sejujurnya aku sangat mengharapkan kedatanganmu di perusahaan tapi aku tidak ingin memaksamu datang kesana. Untuk itulah hari ini aku sangat senang walau saham perusahaan turun tapi gak masalah karena kau datang kesana.” Ujar Deren.


“Tapi kedatanganku justru mendatangkan petaka untukmu. Aku tidak ingin menjadi penyebab perusahaanmu hancur. Mungkin benar perkataan mereka aku memang gak cocok denganmu. Lebih baik kita berpisah saja. Aku tahu hal ini mengingkari janji kedua kita tapi aku sudah siap berpisah denganmu kau bisa menyuruh pengacara untuk segera mengurus surat perceraian kita.” Ucap Violet melepas tangan Deren yang ada di bahunya.


“Vio kenapa hal ini bisa sampai ke surat perceraian! Apa kau sungguh ingin benar-benar berpisah? Apakah kau sudah sanggup memikul status barumu di usiamu ini dan mendengar omongan di luar sana?” tanya Deren karena dia tidak menyangka bahwa masalah tadi akan sampai pada masalah yang sangat ingin dia hindari.


“Siap tidak siap aku memang harus menyiapkan diri dan setelah kupikir-pikir semakin cepat makan semakin baik. Mungkin sebulan, dua bulan, tiga bulan atau mungkin hingga enam bulan mereka akan membicarakanku tapi aku yakin pasti mereka akan bosan sendiri membicarakan hal itu. Jadi semakin cepat semakin baik.” ujar Violet.

__ADS_1


__ADS_2