
Di mansion saat Carra kembali bersama Edgar dari kantor Edgar sudah ada Violet dan Deren yang menunggu. Carra dan Edgar memang dari membeli cincin lamaran pergi ke kantor Edgar dulu karena Edgar masih harus memeriksa beberapa dokumen nanti setelah urusan kantor selesai mereka kembali. Edgar mengantar Carra pulang dulu ke mansion sebelum dia sendiri pulang ke rumahnya.
Mereka tiba di mansion tepat ba'da magrib. Mereka bahkan sudah singga lebih dulu di masjid untuk melaksanakan sholat magrib tadi d jalan, "Kak, kok kalian di sini?" tanya Carra kaget melihat Violet dan Deren yang sedang duduk di ruang tamu.
"Kami menunggu kalian. Kami mau menanyakan semuanya." ucap Deren.
"Carra, Edgar duduklah. Kami mau bicara sebentar." Ucap Violet lembut.
Carra dan Edgar pun menurut mereka segera duduk di hadapan kedua kakak mereka itu, "Kenapa gak membiarkan kami membantu dalam proses lamaran kalian. Kenapa saat kami menghubungi WO dan vendor ternyata kalian sudah melakukannya sendiri? Apa kami bukan kakak kalian? Kenapa gak memberi kami kesempatan mempersiapkan lamaran kalian ini?" tanya Violet menatap kedua adiknya itu. Pasalnya tadi Max mengatakan bahwa WO dan vendor sudah di booking oleh adiknya itu.
Edgar yang tadi menunduk kini mengangkat kepalanya, "Maaf kak bukan tidak memberi kalian kesempatan hanya saja ini kan baru lamaran jadi biarkan kami yang mempersiapkan sendiri. Kami janji untuk persiapan pernikahan nanti akan kami serahkan kepada kalian." Ucap Edgar.
Violet yang mendengar jawaban adiknya kini berpikir, "Baiklah jika begitu. Kakak memaafkan tindakan kalian ini. Tapi kalian harus menepati janji membiarkan kami membantu untuk pernikahan kalian nanti. Awas saja jika kalian tidak menepati janji." ucap Violet dengan mengancam padahal aslinya dia pura-pura. Dia justru bangga pada adiknya yang bisa mewujudkan pernikahan impian Carra dengan hasil kerja kerasnya sendiri tapi yaa begitulah harus ada drama sedikit agar adiknya itu tetap merasa bersalah karena tidak melibatkannya. Salah sendiri gak menganggapnya ada dan tidak mengatakan apapun padanya. Heheheh!!
Edgar dan Carra pun mengangguk dan berjanji akan menepati janji mereka. Sementara Deren yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya bahwa sang istri akan melakukan apa yang dia rencakan saat mereka pulang tadi yaitu membuat kedua adik mereka itu merasa bersalah. Ternyata istrinya itu juga memiliki jiwa iseng.
__ADS_1
Setelah itu ke empat orang itu segera makan malam bersama. Setelah makan malam Edgar segera kembali sementara Carra, Violet dan Deren mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Ternyata istriku ini iseng yaa." ucap Deren saat Violet dan dirinya memasuki kamar mereka.
Violet yang mendengar ucapan suaminya hanya tersenyum, "Kan sudah aku katakan tadi bahwa aku akan membuat mereka merasa bersalah. Mas lihat tadi kan wajah mereka? Ahh sangat lucu." ucap Violet tersenyum senang.
Deren yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-geleng, "Tapi kau mengatakannya dengan raut wajah sangat serius sayang hingga aku saja merasa bahwa kau benar-benar menyudutkan mereka. Andai saja aku gak tahu rencanamu itu, aku pasti menjadi orang pertama yang percaya bahwa kau memang benar-benar kecewa kepada mereka." ucap Deren.
"Wah, apa itu artinya aku cocok menjadi artis? Aktingku lumayan kan?" tanya Violet.
Violet tersenyum, "Dasar posesif." ujar Violet.
"Aku tahu sayang aku posesif bahkan sangat posesif. Aku mengakuinya dan tidak akan menyangkal hal itu. Kau hanya perlu menerima semua keposesifanku itu." ucap Deren masih memeluk Violet dari belakang.
Violet lagi-lagi tersenyum mendengar itu lalu dia berbalik menghadap suaminya dan kini mereka saling berhadapan dan berpelukan. Violet meletakan kepalanya di dada bidang sang suami dengan manja, "Aku menerima semua keposesifanmu itu suamiku karena aku pun sama. Aku juga posesif, aku tidak ingin apa yang sudah menjadi hak milikku di miliki orang lain." ucap Violet.
__ADS_1
Deren tersenyum lalu semakin mengeratkan pelukannya, "Kita pasangan yang sama-sama posesif sayang." ujar Deren lalu setelah itu keduanya tertawa menertawakan kesamaan mereka karena Violet dan Deren itu sefrekuensi dalam segala hal. Keduanya memiliki pemikiran yang sama hingga membawa mereka kepada kecocokan dan nyaman satu sama lain. Memang hubungan pernikahan itu bisa terjalin dalam apa saja dan dalam bentuk apa saja. Ada yang menjalani pernikahan mereka dengan sebuah perdebatan tapi tetap pernikahan mereka awet karena perbedaan pendapat itu. Pernikahan itu unik dan hanya orang-orang yang mampu memahami keunikan itu yang bisa menjalaninya.
***
Keesokkan harinya semua sibuk dengan persiapan lamaran. Violet sudah tidak ke kantor dan tinggal di mansion tinggal Deren yang tetap pergi ke perusahaan. Violet tidak pergi ke perusahaan karena dia ingin mengawasi persiapan lamaran kedua adiknya itu. Yah, hubungan mereka akan sangat unik nanti.
Violet juga mengawasi apa mansion sudah bersih dan rapi semua. Violet dan Deren itu sama-sama memiliki sifat yang suka kerapian sehingga jika ada yang berantakan sedikit saja atau ada sesuatu yang tidak cocok di mata mereka maka mereka tidak akan puas dan akan merasa harus segera di perbaiki. Violet selain mengawasi pihak WO yang mulai mendirikan tenda di halaman depan mansion dia juga mengawasi para maid bekerja, "Nyonya ini akan di letakkan di mana?" tanya salah satu maid yang membawa vas bunga yang baru saja di ganti bunganya.
Violet pun memandang di mana tempat yang pas untuk meletakkan vas bunga itu, "Emm letakan saja itu di meja ruang tamu dan vas bunga yang ada di sana pindahkan itu di dekat tv di ruang keluarga." jawab Violet.
Maid itu pun mengangguk mengerti dan segera melakukan tugasnya, "Nyonya, guci pesanan anda sudah di antarkan. Apa kami harus membawanya kesini?" tanya bodyguard yang tiba-tiba datang bergantian dengan maid yang membawa vas bunga.
"Ouh sudah datang yaa. Ouh yaa udah bawa saja ke sini. Saya minta tolong yaa bawakan kesini." ucap Violet yang memang tidak pernah melupakan kata tolong jika meminta bantuan sekalipun itu kepada para maidnya ataupun para bodyguard. Hal itulah uang membuat Violet di sayang oleh seluruh penghuni mansion karena mereka merasa di hormati oleh majikan mereka.
Enam orang bodyguard pun kembal dengan tiga dos di tangan mereka. Violet memang memesan tiga buah guci besar kemarin dan hari ini sudah di antarkan. Violet pun segera sibuk memikirkan tempat untuk menata ketiga guci barunya itu.
__ADS_1