Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
112


__ADS_3

Mbak Ratih gak meninggalkan Violet sedikit pun. Dia kembali memijat tengkuk Violet dan membantunya kembali ke ranjang, "Nyonya saya panggilkan dokter Eile saja yaa atau kita ke rumah sakit. Saya khawatir kepada nyonya. Nyonya pucat." ucap mbak Ratih begitu Violet kembali ke ranjang. Sarapan yang tadi belum habis hanya di tatapnya karena entah kenapa dia merasa mual karena itu.


"Mbak, Vio boleh minta tolong siramin teh hanget!" pinta Violet karena sepertinya hanya itu yang dia pikirkan bisa meredakkan mualnya.


Mbak Ratih pun hanya mengangguk lalu segera keluar dari kamar Violet menuju dapur. Dalam perjalanan menuju dapur tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Apa jangan-jangan nyonya sedang--" Tebak mbak Ratih tersenyum membayangkan hal itu jika dugaannya benar.


Mbak Ratih segera menuju dapur sambil memikirkan bagaimana caranya membujuk Violet agar mau di panggilan dokter, minimal dokter Eile yang memang dokter keluarga Robert, "Yah, aku harus bisa membujuk nyonya." Gumam mbak Ratih lalu segera membuat teh hangat untuk Violet. Setelah selesai membuah teh hangat mbak Ratih kembali ke kamar Violet.


Begitu dia masuk dia melihat Violet yang sedang berbaring di ranjang dengan keduanya matanya tertutup perlahan di buka begitu mbak Ratih masuk, "Silahkan nyonya ini teh hangatnya." ucap mbak Ratih.


Violet pun segera duduk dan menerima teh hangat itu dan mulai meminumnya. Untunglah dugaannya benar bahwa teh hangat itu sedikit meredakan mualnya. Setelah menghabiskan teh hangat setengah gelas, Violet kembali berbaring di ranjangnya.


"Nyonya saya panggilkan dokter Eile yaa!" Bujuk mbak Ratih.


Violet yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya sepertinya dia harus menuruti ketua maidnya itu karena sayang ketua maidnya itu sangat mengkhawatirkannya, "Baiklah, terserah mbak saja." jawab Violet pasrah.


Mbak Ratih yang mendengar hal itu tersenyum senang karena sebentar lagi dia bisa memastikan dugaannya itu benar atau tidak, "Baik kalau begitu saya akan menghubungi dokter Eile dulu. Nyonya silahkan beristirahat dulu. Jika butuh bantuan panggil saja kami nyonya." pesan mbak Ratih yang hanya di angguki oleh Violet.


Mbak Ratih segera keluar dan segera menelpon dokter Eile memintanya datang.

__ADS_1


***


Di sisi lain di sebuah pesawat yang saat ini sedang mengudara, Deren membaca dokumen di tangannya. Dia menutup dokumen itu setelah membacanya dan tiba-tiba dia merasa rindu kepada sang istri yang baru saja dia tinggalkan beberapa menit yang lalu. Deren hanya bisa menghela nafasnya untuk meredakan perasaannya. Dia hanya ingin segera tiba dan menyelesaikan rapat ini dan bisa pulang kembali ke mansion.


Deren memandang Max, "Max, kau sudah memastikan semuanya kan?" tanya Deren yang memang mengkhawatirkan istrinya karena dia sudah mendapat laporan dari Ronal ada yang berniat mencelakai sang istri. Untuk itulah dia melakukan perlindungan berlapis untuk sang istri. Selain Doni yang memang bertugas sebagai bodyguard sekaligus supir istrinya ada juga beberapa bodyguard bayangan yang dia tugaskan memastikan keamanan istrinya.


Max mengangguk, "Semuanya sudah saya siapkan dengan baik tuan. Doni juga sudah mengetahui ini. Ronal juga dia selalu stand by mengawasi semuanya." jawab Max. Deren yang mendengar hal itu pun sedikit lega karena setidaknya semua masih terkendali namun tidak bisa dia pungkiri ada perasaan khawatir seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi.


Sementara di sebuah gedung yang terbengkalai, "Bagaimana keadaannya?" tanyanya menatap seorang laki-laki yang kini ada di hadapannya yang memang dia tugaskan menjadi mata-mata di mansion.


"Sepertinya rencana anda bisa dilaksanakan hari ini karena tuan Deren sedang pergi keluar kota dan nyonya Violet saat ini dia sedang di mansion belum keluar ke manapun sepertinya dia tidak akan keluar dari sana tapi tenang saja saya sudah punya solusi untuk membuat nyonya Violet keluar dari mansion. Yang perlu kita pikirkan bagaimana caranya agar nyonya keluar tanpa tuan Doni menemaninya dan juga tanpa bodyguard bayangannya." jelas orang itu.


Seorang yang seperti bos mengangguk kepalanya, "Doni biar jadi urusanku. Kau hanya perlu memastikan wanita itu keluar dari sana dan juga menyingkirkan para bodyguard bayangan itu." Jawabnya licik.


Sementara di dalam seorang wanita memikirkan rencana selanjutnya hingga dia tidak menyadari kedatangan seseorang, "Mami akan membantumu menculiknya." ucap seorang wanita.


Wanita yang sedang duduk di kursinya segera berbalik, "Aku tidak butuh bantuanmu Mih. Aku tidak ingin dengan adanya campur tanganmu semua rencana yang ku buat berantakan. Aku sudah muak dengan kalian." Teriak Siska. Yah wanita yang ingin mencelakai Violet itu Siska. Dia sudah menunggu sebulan ini untuk menjalankan rencananya dan hari ini adalah waktunya karena kemarin-kemarin Deren ada bersama Violet dan dia tidak ingin rencana ini gagal.


Nyonya Carlos yang mendengar penolakan dari menantunya itu ingin rasanya dia membunuh istri putranya itu jika saja tidak mengingat wanita itu masih berguna untuk perusahaan mereka, "Mami hanya ingin membantumu saja. Mami tahu kau sedang pusing bagaimana caranya untuk menjauhkan bodyguard Violet dari sisinya. Kau tenang saja mami tidak akan membuat rencanamu ini gagal." ucap nyonya Carlos.

__ADS_1


Siska pun mulai memikirkan tawaran dari ibu mertuanya itu, "Baiklah karena mami memaksa aku akan memberikan tugas itu kepadamu dan mami harus berhasil menjauhkannya dari wanita itu. Aku tidak menerima kegagalan." perintah Siska.


Nyonya Carlos pun hanya bisa mengangguk sambil di dalam batinnya sedang mengutuk menantunya itu. Sungguh dia ingin membunuh Siska jika saja dia tidak membutuhkan suntikan dana dari perusahaannya.


***


Sementara di Mansion kini dokter Eile baru saja tiba dan dia segera masuk yang langsung di sambut oleh mbak Ratih, "Di mana nyonya?" tanya dokter Eile.


"Di kamar tuan Deren dokter." jawab mbak Ratih.


Dokter Eile pun mengangguk mengerti lalu segera berjalan menuju kamar Deren dengan di ikuti oleh mbak Ratih di belakang. Mbak Ratih sudah menjelaskan kondisi Violet dan seperti dugaan mbak Ratih dokter Eile juga memiliki dugaan yang sama saat mendengar penjelasan mbak Ratih di telpon tapi dia harus memastikannya sendiri dengan datang ke sini.


Tok tok tok


"Nyonya, dokter sudah tiba." ucap Mbak Ratih sambil mengetuk pintu.


Violet yang di dalam mendengar ketukkan dan suara mbak Ratih segera menyuruh mereka masuk. Violet mencoba duduk, "Silahkan duduk dokter." sambut Violet ramah.


Dokter Eile pun segera mendekat ke ranjang di mana ada seorang wanita cantik di sana. Ini kali kedua dia datang kesini memeriksa wanita itu. Beberapa bulan lalu dia di panggil ke sini karena wanita itu di beri obat tidur dosis tinggi kini dia dipanggil kesini untuk memastikan sesuatu.

__ADS_1


Dokter Eile segera memeriksa tanda-tanda vital Violet dan saat memeriksa nadi dia tersenyum. Dia segera mengambil tasnya dan memberikan sesuatu kepada Violet.


Violet yang menerima itu kaget dan menatap dokter Eile, "Ini?"


__ADS_2