Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
12


__ADS_3

“Kak, kau sedang memasak apa? Bukankah ada makanan di sana?” tanya Carra yang melihat Violet memasak.


“Iya memang benar tapi kakak ingin makan yang lain.” Jawab Violet.


“Emm sepertinya enak.” Ucap Carra melihat apa yang Violet masak.


“Hehheh,, tenang saja kok kakak membuat banyak. Kau tunggulah di sana dengan Edgar karena sebentar lagi akan masak dan kita makan bersama.” Ucap Violet lembut karena dia memang memperlakukan Carra sama seperti Edgar adiknya. Dia sudah menganggap Carra adiknya juga karena Carra walau dia bergelimang harta tapi tidak pernah memandang rendah mereka.


“Emm,, aku di sini saja menemani kakak sekalian belajar memasak juga. Tau gak kak makanan kakak dan ibu itu sangat enak.” Ucap Carra.


“Hahha kau bisa aja mujinya.” Ucap Violet tertawa lalu melanjutkan memasaknya dengan Carra yang terus saja bicara menanyakan bahan-bahan masakannya.


Setelah 15 menit berlalu akhirnya masakan Violet sudah siap di santap dan kini mereka sudah berada di meja makan untuk mencicipinya.


“Wah,, sangat lezat seperti biasanya.” Puji Carra mulai makan.


Violet pun hanya tersenyum sementara Edgar hanya mengelus rambut kekasihnya itu dengan gemes, “Makanlah!” ucap Violet.


Mereka pun segera makan lalu tiba-tiba Carra terbatuk.


Uhuk uhuk uhuk


Edgar yang di samping langsung memberikannya air dan menepuk pelan belakangnya, “Pelan-pelan sayang. Tidak ada yang berebut makanan denganmu.” Ucap Edgar.


Carra pun hanya memanyunkan bibirnya, “Makanan kakak sangat lezat makanya aku tidak bisa pelan-pelan.” Ucap Carra menatap Violet yang dari tadi hanya menatap mereka.


“Makanlah itu untukmu semua. Jika bisa habiskan.” Ucap Violet tersenyum.


“Baiklah kak aku tidak akan ragu lagi menghabiskannya.” Ucap Carra lalu kembali makan.

__ADS_1


“Pelan-pelan!” ucap Edgar perhatian lalu dia pun segera makan.


Violet yang melihat senyum di antara keduanya tiba-tiba dia berpikir bagaimana jika Carra menikah nanti. Dia yakin pasti Edgar akan sangat patah hati bahkan mungkin bunuh diri karena dia tahu Edgar itu memiliki stok kesabaran yang rendah.


“Kak, kau kenapa bengong. Ayo kau juga makan.” Ucap Edgar memecahkan lamunan Violet.


Violet pun mengangguk lalu melanjutkan makannya sambil pikiran dan perasaannya berperang. Setelah dia makan, dia segera berlalu dari meja makan meninggalkan Edgar dan Carra yang masih makan dan saling bercanda itu.


“Apa aku memang egois hanya memikirkan perasaanku?” tanya Violet pada dirinya sendiri.


Tapi dia tidak menemukan jawabannya dan akhirnya dia hanya bisa mengajak rambutnya lalu segera menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya hingga tanpa sadar dia tertidur.


Sekitar dua jam dia tertidur begitu dia bangun jam sudah menunjukkan pukul 15.03, “Hah, sudah jam tiga? Kenapa aku bisa tertidur.” Ucap Violet lalu segera berlari ke kamar mandi membersihkan tubuhnya sekilas lalu dengan cepat juga mengganti pakaiannya dan merias wajahnya hanya dengan bedak saja. Lalu menyambar tas dan ponselnya segera keluar kamarnya karena dia harus cepat, “Kak, kau mau kemana?” tanya Edgar melihat sang kakak yang terburu-buru.


“Kakak punya urusan penting Edgar tolong jika ibu bertanya katakan saja kakak punya urusan penting.” Ucap Violet berlari keluar.


Edgar yang melihat itu segera berlari menyusul sang kakak keluar untung saja Violet belum menghidupkan vespanya, “Kau mau kemana kak? Kenapa terburu-buru?” tanya Edgar khawatir.


“Iya tapi siapa?” tanya Edgar penasaran karena dia tahu sang kakak itu tidak memiliki teman akrab.


“Ed!” ucap Violet.


Edgar yang mengerti bahwa Violet saat ini tidak ingin menjawabnya jika sudah memanggilnya dengan nama singkat dan bukan Edgar lagi, “Baiklah tapi hati-hati di jalan. Jangan ngebut!” ucap Edgar.


Violet pun tersenyum lalu segera mengecup pipi sang adik, “Okay kakak berangkat.” Ucap Violet lalu segera naik ke vespanya dan melajukannya keluar. Edgar pun hanya bisa menghela nafasnya melihat kepergian sang kakak dan dia segera masuk kembali karena mendengar ponselnya berdering yang dia yakini itu sang kekasih. Yah Carra sudah pulang ke rumahnya setengah jam sebelum Violet bangun.


***


Sementara di sisi lain ada seorang pria yang dari tadi menunggu ponselnya berdering menunggu seseorang menelponnya tapi sayang telpon yang masuk bukan dari orang yang dia tunggu.

__ADS_1


“Max, apa dia memang tidak akan berubah pikiran?” tanya Deren kepada asistennya.


Max yang memang berada dalam ruangan Deren pun segera menatap presdirnya itu, “Saya juga gak tahu tuan.” Ucap Max.


“Huh, bagaimana bodyguard yang selalu mengikutinya. Apa laporan mereka?” tanya Deren menutup matanya.


“Nona Violet hari ini segera pulang ke rumahnya dan belum keluar-keluar juga.” Jawab Max.


“Lalu apa mantan kekasihnya itu menemuinya?” tanya Deren lagi.


“Selama tiga hari ini tuan Morgan tidak terlihat datang ke sekolah itu lagi sepertinya dia sibuk dengan perusahaannya karena saya dengan saham perusahaannya sedang menurun.” Jawab Max lagi.


“Lalu kenapa dia belum menghubungiku? Dasar keras kepala.” Ucap Deren menatap ponselnya sekilas lalu segera menutup matanya kembali.


Max yang mendengar perkataan tuannya hanya bisa tersenyum karena Deren juga sangat keras kepala karena jika dia sudah memutuskan sesuatu maka harus dia dapatkan seperti saat ini dia sudah memutuskan untuk memilih Violet sebagai seseorang yang akan dia kenalkan kepada Mommynya maka harus terjadi.


Sekitar 15 menit berlalu dan hanya ada keheningan di ruangan itu sebelum ponsel Deren berdering dan membangunnya yang sedikit terlelap mungkin karena kelelahan atau banyak pikiran.


Deren pun mengernyapkan matanya dulu lalu melihat siapa yang menelponnya seketika dia tersenyum melihat siapa yang menelpon, “Akhirnya kau menelpon juga.” Ucap Deren lalu segera menggeser ikon hijau di ponselnya.


“Halo, siapa ini?” tanya Deren berpura-pura padahal dia sudah tahu siapa yang menelpon karena dia memang sudah memiliki nomor ponsel Violet. Entah dari mana dia mendapatkannya tapi satu hal yang pasti hal seperti itu bukanlah hal yang sulit untuk seorang Deren.


“Ini saya Violet tuan. Maaf sudah mengganggu waktu anda. Tapi bisakah kita bertemu jika anda punya waktu luang.” Ucap suara dari seberang.


Deren menahan senyumnya, “Emm,, sepertinya nona Violet harus menunggu sebentar lagi karena saya masih harus memeriksa beberapa dokumen. Apa nona Violet bisa menunggu?” ucap Deren berbohong karena sebenarnya sudah tidak ada dokumen lagi yang harus dia periksa. Max yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengatai tuannya itu dalam hati.


“Tentu saja tuan saya bisa menunggu. Selesaikanlah perkerjaan anda dulu.” Ucap Violet lalu tidak lama setelah itu sambungan telepon mereka berakhir.


Deren hanya tersenyum lalu segera meraih jasnya, “Ayo kita pulang ke cafe Coklat dulu.” Ucap Deren.

__ADS_1


“Bukankah anda masih harus memeriksa beberapa dokumen lagi tuan.” Goda Max.


Deren hanya menatap tajam asistennya itu, “Max itulah hanya basa basi saja. Aku tidak ingin harga diriku terluka. Ayo pulang.” Ajak Deren.


__ADS_2