Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
159


__ADS_3

“Siapa nama ketiga keponakanku ini kak?”


Ibu Anggi, Edgar dan Carra menatap Violet dan Deren. Sementara Deren dan Violet yang mendapat tatapan dari ketiga orang itu saling memandang dan tersenyum.


“Kenapa kalian hanya saling tersenyum begitu. Kami ini ingin tahu nama mereka. Ayo beritahu.” Ucap Carra.


“Sabar adikku. Kami pasti akan memberitahukannya.” Ucap Deren.


“Ya sudah ayo cepat. Aku ini tidak punya banyak stok sabar.” Ucap Carra.


Deren pun menoel kening adiknya itu pelan karena saking gemasnya dengan tingkah Carra, “Dasar tidak sabaran.” Ucap Deren.


“Sayang, kamu yang beritahu!” ucap Deren.


Violet pun tersenyum lalu mengangguk, “Itu yang pertama yang pakai biru dia si sulung. Kami memberinya nama Rafandra Arsenio Robert. Terus yang kedua yang pakai hijau kami memberinya nama Rafendra Aqsenio Robert. Terus yang terakhir yang pakai pink si bungsu putri cantik kami itu kami beri mana Rifania Agatha Robert. Agatha adalah nama yang di titipkan mommy untuknya.” Ucap Violet.


“Ahh nama mereka bagus. Aku menyukainya. Terus apa mereka akan di panggil dengan nama depan atau nama tengah mereka?” tanya Carra kemudian.


“Kami memutuskan untuk memanggil mereka dengan nama tengah mereka. Arsen, Aqsen dan Agatha.” Ucap Deren.


Carra pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah jika begitu. Aku akan memanggil mereka triplets A.” ucap Carra lalu kembali mendekati box bayi yang berisi ketiga keponakannya yang lucu-lucu itu.


“Hi triplets A. Ini aunty Carra. Ohiya dan itu uncle Edgar.” Ucap Carra memperkenalkan dirinya dan juga suaminya itu kepada keponakan mereka.


Edgar pun segera mendekati istrinya itu lalu menatap ketiga keponakannya yang terlelap. Setelah itu Edgar mengelus perut istrinya, “Kita juga akan memiliki bayi seperti mereka kak.” Ucap Carra.

__ADS_1


Edgar mengangguk lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut.


“Hey, adik ipar. Jika kalian mau bermesraan jangan di hadapan anak-anakku juga dong. Mereka itu masih suci. Aku tidak ingin mereka ternoda oleh kemesraan kalian. Aku tidak ingin mereka dewasa sebelum waktunya karena kelakukan kalian itu.” ucap Deren tajam.


“Ouh astaga kak. Mereka itu sedang terlelap. Jadi tidak mungkin melihat apa yang kami lakukan. Jangan sentimental begitu dong.” Balas Carra.


“Tetap saja jiwa mereka itu melihat kalian. Sudah jangan bermesraan di depan anak-anakku.” Ucap Deren. Carra pun menurut lalu menatap sinis kakaknya itu.


“Kakak ipar, aku punya hadiah untukmu!” ucap Carra kemudian lalu mengambil hadiah yang dia bawa.


Carra pun mendekati Violet lalu segera memasangkan gelang di tangan Violet. Violet mengangkat tangannya, “Dek, ini kan gelang mommy!” ucap Deren.


Carra menganguk, “Benar. Itu gelang turun temurun keluarga Robert. Dulu nenek yang memakaikan gelang itu kepada mommy saat dia melahirkan diriku. Tapi kini itu adalah milikmu kak karena kau sudah melahirkan tiga penerus keluarga Robert.” Ujar Carra.


Carra langsung menutup bibir Deren, “Stt, jangan di teruskan kak. Aku tahu apa yang akan kamu katakan. Ingat kak kau itu anak sulung daddy dan mommy. Kau itu kakak sulungku. Kau itu saudaraku. Memang benar darah lebih kental dari air. Tapi hubungan kita terikat sejak kita kecil. Aku mengenalmu sebagai kakakku sejak kecil. Aku memanggilmu kakak sejak kecil dan hubungan yang kita miliki itu adalah ikatan saudara yang sesungguhnya. Walaupun darah yang mengalir dalam tubuh kita berbeda tapi tidak ada yang bisa memutuskan hubungan kita yang bersaudara. Mommy dan daddy tidak pernah membedakan kita sejak kecil. Mereka menganggapmu putra sulung mereka dan ahli waris Robert. Kau adalah putra mommy dan daddy. Jangan pernah katakan lagi bahwa kau tidak pantas. Karena bagiku kau sangat pantas untuk semuanya.”


“Jika aku yang mengelola seluruh usaha Robert mungkin tidak akan berkembang seperti sekarang ini. Maka kau pantas untuk itu. Mommy menitipkan gelang itu kepadaku untuk di berikan kepada kakak ipar saat kalian punya anak dan ini lah saatnya. Jadi jangan menolaknya atau merasa tidak pantas. Kau itu kakakku. Tidak ada yang bisa mengubah itu.” ucap Carra.


Deren pun terharu lalu memeluk adiknya itu. Memang dari Carra kecil sampai sekarang Carra adalah adiknya. Dia menjaga Carra dengan baik. Tidak pernah dia menganggap Carra orang lain. Carra selamanya adiknya. Hal itulah yang membuatnya tidak bisa mencintai Carra karena baginya Carra adalah adik yang harus dia lindungi. Jadi bagaimana mungkin dia menikahi adiknya yang sudah dari kecil dia jaga.


“Terima kasih!” ucap Deren lalu mengecup kepala adiknya itu.


“Jangan berterima kasih kak. Aku hanya menunaikan permintaan mommy. Kau adalah putra mereka. Kau pantas untuk semuanya.” Ucap Carra.


Deren pun memeluk adiknya itu erat, “Kak, jangan erat-erat meluknya. Kasihan anakku.” Ujar Carra.

__ADS_1


Deren yang mendengar itu pun segera melepas pelukannya. Dia lupa bahwa adiknya itu sedang hamil saking dia terharu dengan ketulusan adiknya yang menganggapnya kakak.


“Maafkan uncle nak. Maaf! Kamu baik-baik saja kan?” tanya Deren mengelus perut adiknya itu.


“Tenang uncle. Aku baik-baik saja. Aku akan memaafkanmu tapi kamu harus janji akan membelikan aku ice cream nanti.” Ucap Carra menirukan suara anak kecil.


“Uncle janji akan membelikannya untuknya. Tapi kamu harus lahir dulu untuk menikmatinya. Jangan nakal dalam perut ibumu dan lahirlah dengan selamat. Jangan menyusahkannya! Uncle akan menyiapkan kedai ice cream untukmu dan juga ketiga kakakmu yang sudah lahir.” ucap Deren.


“Baiklah. Janji yaa uncle. Kedai ice cream. Awas saja jika uncle ingkar janji. Aku dan ketiga kakak akan menuntutmu!” ucap Carra lagi menirukan suara anak kecil.


“Uncle janji!” ucap Deren.


Violet, Edgar dan ibu Anggi yang melihat itu tersenyum. Lalu Edgar segera mendekati istrinya itu dan memeluk Carra dari samping lalu menuntun istrinya itu untuk duduk.


Sementara Deren mendekati istrinya lalu mengangkat tangan istrinya yang memakai gelang turun temurun milik keluarga Robert, “Cantik kan?” tanya Violet.


Deren mengangguk, “Sangat cantik! Apalagi yang memakainya adalah dirimu sayang.” ucap Deren.


Violet pun tersenyum, “Dasar gombal.” Ujar Violet.


Deren pun terkekeh, “Aku akan menjaganya dengan baik mas. Ini bukan hanya gelang biasa saja tapi ada restu leluhur di sini.” Ucap Violet. Deren pun mengangguk lalu mengecup punggung tangan istrinya itu.


Carra dan Edgar yang melihat itu tersenyum, “Aku yakin kak Deren dan kak Vio yang pantas untuk itu.” ucap Carra. Edgar pun memeluk istrinya itu dengan tersenyum bangga.


Tiga hari kemudian di mansion di adakan penyambutan mewah untuk menyambut ketiga buah hati Violet dan Deren itu. Seluruh mansion berbahagia menyambut anggota baru mereka itu. Deren bahkan menyumbang di 10 panti asuhan untuk merayakan kelahiran ketiga buah hatinya itu. Semua orang berbahagia. Deren dan Violet memutuskan untuk tidak mempublikasikan wajah ketiga anak mereka ke public untuk menjaga privasi.

__ADS_1


__ADS_2