Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
41


__ADS_3

“Kau benar. Kita tidak memiliki hak satu sama lain.” Ucap Violet tersenyum kecut sambil menahan sesuatu di dalam hatinya. Sesuatu yang terasa nyeri tapi dia tidak tahu apa penyebabnya.


Violet menunduk dan mencoba memakan hidangan yang ada di hadapannya walaupun beberapa hidangan yang dia masak adalah makanan kesukaannya tapi entah kenapa perkataan Deren menyentil sudut hatinya dan membuatnya tidak selera terhadap makanan yang ada di hadapannya.


Deren yang menyadari perubahan ekspresi Violet hanya memandang istrinya itu dalam diam karena dia tidak tahu harus apa yang dia katakan agar tidak akan menyakiti mereka berdua. Deren mencoba untuk memahami Violet dan mencoba untuk mengikuti apa yang di inginkan oleh wanita itu seperti perkataannya minggu lalu walaupun apa yang dia lakukan ini bertentangan dengan keinginan hatinya yang mungkin tidak ingin jauh dari istrinya itu.


Deren kembali memasukkan steak itu ke mulutnya sambil pikiran dan logikanya berperang. Dia tidak bohong jika semua makanan di meja ini sangat lezat dan sesuai dengan seleranya karena Violet adalah wanita yang pintar memasak, “Vio, makanlah! Jangan pikirkan perkataanku.” Gumam Deren lirih.


Violet mengangkat kepalanya dan menatap Deren lalu tersenyum, “Kau juga habiskanlah makanan ini, aku memasaknya untuk kita.” Ujar Violet lirih juga.


Deren tersenyum, “Aku akan menghabiskannya karena aku juga kelaparan. Kau juga makanlah, ayo kita habiskan makanan ini bersama.” ucap Deren.


Violet hanya mengangguk dan setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka hanya dentang sendok, garpu dan piring yang menemani dua orang itu memecahkan keheningan yang tercipta. Setelah mereka selesai menghabiskan makanan itu, Violet segera membersihkan sisa dan bekas makanan mereka sementara Deren entahlah dia sudah pergi kemana.


Setelah semuanya beres Violet segera pergi ke kamarnya dan membersihkan diri lalu segera meringkuk di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala. Tidak lama setelah itu Deren masuk ke kamar itu dan mendapati Violet yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Deren hanya menatap ranjang itu sekilas lalu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum bergabung untuk mengistirahatkan tubuhnya. Setelah dari kamar mandi dia segera bergabung di sisi ranjang sebelah Violet dan mencoba memenjamkan matanya sambil memunggungi Violet hingga setelah sekitar 30 menit kemudian Deren mendengar suara isakan tangis yang dia yakini tangisan itu berasal dari seseorang di sebelahnya. Ingin rasanya Deren berbalik dan memeluk gadis itu ke dalam pelukannya tapi tidak dia lakukan karena dia takut jika hal itu dia lakukan gadis itu pasti akan bertambah marah atau benci padanya hingga yang dia bisa lakukan berpura-pura tidur saja.

__ADS_1


Sementara Violet sejak dia masuk ke kamar dia menangis dalam balutan selimut itu, entahlah apa yang membuatnya menangis. Ini kali pertama dia menangis di sini hanya karena mendengar ucapan suaminya tapi dia juga gak tahu kenapa dia harus menangisi ucapan suaminya itu padahal sebelumnya inilah yang dia inginkan yaitu tidak saling mencampuri urusan satu sama lain yang artinya tidak memiliki hak satu sama lain tapi kenapa saat itu keluar dari mulut suaminya hal itu membuatnya sedih dan sakit.


Violet menangis dalam diam hingga Deren masuk dia mencoba menahan isak tangisnya karena tidak ingin suaminya itu tahu bahwa dia menangis hingga setelah sekitar 30 menit suaminya tidur atau lebih tepatnya dia yakini tidur dia kembali menangis apalagi saat dia menyadari suaminya itu memunggunginya. Entahlah kenapa hal itu menjadi masalah untuknya dan semakin menambah kesedihannya padahal sebelumnya hal itu tidak menjadi masalah untuknya. Apa Violet sudah mencintai suaminya?


Lama Violet menangis sambil menahan isakan tangisnya agar tidak terlalu keras agar tidak membangunkan suaminya, pria yang sudah membuatnya untuk pertama kali menangis dalam diam setelah menikah.


Deren juga yang setia mendengar tangis Violet tanpa berbalik hanya diam saja sambil dalam otaknya berpikir apa yang membuat gadis itu menangis. Apa dia telah melakukan kesalahan hingga gadis itu menangis ataukah dia sudah merasa bahwa pernikahan ini hanya membawa kesedihan untuknya. Haruskah dia melepaskan gadis itu? Gadis yang sudah---


***


Seperti biasa Violet selalu bangun lebih awal atau mungkin Deren yang selalu berpura-pura untuk bangun terakhir hanya untuk melihat kegiatan istrinya itu sewaktu bangun tidur. Violet segera melakukan sholat dan Deren diam-diam memandang istrinya dan dia menyadari ada sisa-sisa tanda gadis itu menangis di sana.


“Ahh apa aku salah masih mengikat dia dalam hubungan ini?” gumam Deren sambil melakukan push up di ruang olahraga.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Deren selanjutnya dengan frustasi.


***

__ADS_1


Setelah dari berolahraga Deren segera turun dan duduk di meja makan dimana disana sudah ada hidangan untuk sarapan yang di siapkan tapi Deren melihat sekeliling mencari seseorang.


“Tuan, apa anda mencari nyonya?” tanya salah satu maid yang melihat Deren seperti mencari seseorang.


Deren pun mengangguk, “Kemana dia? Apa kalian melihatnya?” tanya Deren.


“Nyonya mungkin ada di kamar tuan sudah siap-siap ke sekolah karena sepertinya hari ini dia harus menghadiri rapat dengan beberapa guru.” Jawab maid itu.


Deren mengangguk mengerti, “Emm tapi apakah dia sudah sarapan?” tanya Deren lagi.


“Nyonya gak sarapan tuan tapi dia sudah meminta mbak Ratih untuk menyiapkan bekal untuknya. Tuan sarapan saja karena semua hidangan ini nyonya yang membuatnya.” Ujar maid itu.


Deren tersenyum lalu memandangi hidangan sarapan itu yang lagi-lagi hidangan kesukaannya, “Ada apa dengannya? Ini tidak seperti dia?” gumam Deren masih memandang hidangan di hadapannya.


“Mbak Ratih!” panggil Deren yang memang ketua pelayannya itu sedang menuju ke arahnya dengan sebuah tempat bekal di tangannya yang dia yakini itu adalah bekal istrinya.


“Iya tuan, apa anda butuh sesuatu?” tanya mbak Ratih.

__ADS_1


“Mbak aku juga siapkan bekal, aku harus segera ke kantor karena Max baru saja menelponku. Aku akan sarapan di kantor saja.” pinta Deren berbohong. Pasalnya Max tidak menelponnya dan tidak ada hal penting yang mengharuskannya cepat ke kantor hari ini. Tapi entah kenapa dia merasa ada yang kurang saat sarapan sendiri hari ini walaupun hidangan sarapan hari ini menggugah seleranya. Selama seminggu ini walau dia dan Violet saling diam-diaman tapi mereka tetap sarapan bersama dan itu sudah membuatnya terbiasa hingga saat ini dia tidak mood jika sarapan sendiri.


Setelah mengatakan itu Deren segera pergi dari sana dan berlari menuju kamar hingga membuat mbak Ratih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada pasangan itu yang bersikap aneh hari ini tapi dia tetap melakukan apa yang di minta oleh kedua majikannya itu.


__ADS_2