Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
150


__ADS_3

"Hati-hati sayang. Kau kan--" ucap Edgar terpotong karena sadar hampir saja keceplosan.


Violet segera memandang kembali adiknya itu begitu mendengar perkataan Edgar, "Carra kenapa Edgar?" tanya Violet dengan tatapan penasaran.


Edgar pun menelan ludahnya kasar dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil merutuki mulutnya yang keceplosan walau belum selesai. Dia yakin kakaknya itu pasti akan penasaran dan akan menuntutnya bicara. Carra juga yang sedang menggandeng Violet seketika tegang karena sang suami yang keceplosan, "Ahh itu kak. Carra--" ucap Edgar mencari alasan yang tepat apa yang harus dia berikan.


"Sudahlah katakan saja dengan jujur dek. Apa yang kalian sembunyikan dari kakak." ucap Violet kembali ke meja makan dan menatap adiknya tajam. Dia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi yang semakin yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kedua adiknya itu darinya. Entah apa alasan mereka menyembunyikannya.


Edgar menatap kakaknya lalu menatap kakak iparnya seolah meminta tolong tapi Deren hanya diam saja karena dia juga gak tahu apa yang harus dia bantu. Selain itu juga dia sama penasarannya dengan sang istri dan juga seperti perkataannya di kantor tadi siang dia suka melihat adik-adiknya itu jika di sidang oleh sang istri.


"Dek, ada apa sebenarnya? Pasti ini berhubungan dengan Carra yang menelpon kakak tadi pagi kan? Kakak yakin ada yang kalian sembunyikan dari kakak. Ayo katakan!" ucap Violet.


Edgar pun menghela nafasnya dalam. Sepertinya dia memang harus mengatakan ini. Semoga saja kakaknya itu gak akan sedih nanti, "Kak, kami tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu hanya saja kami gak mau kau sedih. Jadi kak setelah kami mengatakannya kau gak boleh sedih apapun itu. Bisa kau berjanji padaku?" Ucap Edgar menatap kakaknya.


Violet berpikir lalu menatap adiknya itu, "Baiklah. Ayo cepat katakan." Ucap Violet penasaran.

__ADS_1


Edgar menatap Carra lalu kemudian Carra mengangguk. Carra segera mengambil tangan Violet dan meletakkannya di perutnya, "Aku hamil kak." ucap Carra sambil menatap mata kakak iparnya itu.


Violet seketika terdiam karena masih mencoba mengolah informasi yang di dengarnya. Suasana menjadi hening. Deren saja diam karena dia juga tidak ingin sang istri sedih dan kembali teringat kepada janinnya. Ini adalah berita gembira namun entah kenapa terasa sedih karena semua orang tidak ingin menyakiti Violet.


Violet setelah hampir satu menit mengolah apa perkataan adik iparnya itu seketika tersadar bahwa adik iparnya sedang hamil ya hamil. Violet segera memeluk adik iparnya itu tersenyum bahkan dia sangat terharu, "Selamat dek. Selamat sayang. Kau hamil. Kakak akan menjadi aunty. Wah kakak gak sabar. Kapan tahunya?" tanya Violet sambil mengelus perut rata adik iparnya itu.


Deren, Edgar dan Carra saling menatap satu sama lain melihat respon yang di tunjukkan oleh Violet, "Kak, kau tidak sedih?" tanya Carra hati-hati.


Violet yang mendengar ucapan Carra seketika menatap sekeliling dan menyadari arti tatapan ketiga orang itu. Mereka mengkhawatirkannya. Kini dia mengerti kenapa adik dan adik iparnya itu menyembunyikan hal ini darinya karena tidak ingin membuatnya sedih, "Ouh ayolah kenapa aku harus sedih. Ini berita membahagiakan. Jadi kenapa harus sedih. Aku tahu kalian mengkhawatirkanku. Tenanglah aku baik-baik saja. Aku sudah mengikhlaskan anakku yang sudah pergi. Gak masalah aku belum hamil. Aku yakin jika sudah waktunya aku pasti akan di beri. Sekarang aku senang menyambut keponakanku." Ucap Violet.


"Sudah jangan sedih dan jangan khawatirkan aku. Sekarang katakan kapan kalian mengetahuinya?" tanya Violet penasaran sambil menatap kedua adiknya itu.


Violet yang mendengar itu tersenyum lalu mengusap kembali perut adik iparnya itu, "Edgar kau harus menjaga kandungannya dengan baik. Kalian lebih baik tinggal di sini bersama kami. Please!" mohon Violet.


Edgar dan Carra saling menatap satu sama lain, "Kami akan memikirkannya kak." ucap Edgar.

__ADS_1


Violet pun mengangguk tersenyum, "Baiklah. Kalian pikirkan dulu. Kakak sangat berharap kalian mau tinggal di sini. Ohiya sekarang kakak akan menjadi chef untuk keponakan kakak ini. Carra duduk dengan manis saja. Tunggu di sini jangan kemana-mana. Kakak akan membuatkan makanan spesial." ucap Violet segera menuju dapur dengan senyum gembiranya.


Edgar dan Carra saling menatap satu sama lain lalu dengan kompak keduanya menatap Deren, "Kak, menurutmu ekspresi yang kakak tunjukkan itu benar ekspresi bahagia atau dia pura-pura kuat saja?" tanya Carra menatap kakaknya.


Deren menghela nafasnya, "Kakak juga gak tahu tapi semoga saja itu beneran ekspresi bahagia. Kakak gak mau dia sedih. Ohiya selama untuk kehamilanmu dek. Jaga dengan baik dan untukmu Edgar jadilah suami dan ayah siaga untuk istrimu dan juga calon anakmu. Jangan sampai yang terjadi padaku terjadi juga padamu." ucap Deren menepuk bahu adik iparnya itu.


Edgar dan Carra hanya mengangguk lalu kedua saling menatap lagi sambil berpikir. Ternyata bukan hanya Violet yang sedih tapi juga Deren. Kesedihan Deren tentu sangat berbeda dengan kesedihan yang Violet alami. Jika Violet sedih karena kehilangan bayinya dan merasa tidak becus menjaga kandungannya berbeda dengan kesedihan Deren yang merasa tidak bisa melindungi istri dan calon anaknya serta merasa tidak becus menjaga istrinya. Sakit yang di rasakan Deren tentu saja lebih sakit dari Violet tapi dia mencoba kuat dan menyembunyikannya demi bisa membuat sang istri kuat.


***


Singkat cerita, kini mereka sudah selesai makan malam. Violet dan Carra kembali lebih dulu ke kamar masing-masing meninggalkan para lelaki bicara mengenai perkembangan bisnis mereka.


Violet setelah membersihkan diri dan memakai perawatannya dia mengambil kotak kecil dan membukanya lalu mengambil sebuah gambar di sana. Dia mengelus gambar itu yang masih sangat utuh seketika dia meneteskan air matanya.


Deren masuk ke kamar saat itu, Violet segera menghapus air matanya dan kembali meletakkan gambar itu di kotak lalu dia segera berbalik menatap sang suami dengan tersenyum, "Sudah selesai bicara dengan Edgar?" tanya Violet.

__ADS_1


Deren bukannya menjawab tapi langsung mendekati sang istri dan memeluknya, "Aku tahu kau sedih sayang. Tidak perlu menyembunyikannya dariku. Kenapa pura-pura kuat di hadapanku jika memang kau tidak bisa. Aku tahu kau melihat foto USG itu kan." Ucap Deren memeluk erat sang istri lalu dia juga mengambil gambar USG itu dan melihatnya.


Violet yang dalam pelukan suaminya hanya bisa meneteskan air matanya ternyata dia masih rapuh dan belum mengikhlaskan janinnya itu.


__ADS_2