
Kini Deren sedang ada di balkon yang ada di kamarnya. Dia melihat gugusan bintang sambil menunggu sang istri yang setelah ibu Anggi, Carra dan Edgar pamit dia masih bicara dengan para maid hingga Deren memutuskan untuk kembali lebih dulu ke kamar.
Tidak lama Violet masuk ke kamar dengan membawa dua gelas susu untuk keduanya. Dia melihat sekeliling dan tidak mendapati suaminya lalu dia melihat ke arah balkon sambil tersenyum. Violet segera membawa brownis tadi yang memang sudah dia letakkan di meja di kamar mereka itu menuju balkon, "Kenapa di sini?" tanya Violet sambil meletakkan dua gelas susu dan brownis di meja yang ada di balkon itu.
Deren tersenyum dan langsung menarik sang istri untuk duduk dalam pangkuannya, "Terima kasih sayang." Ucap Deren.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Violet.
"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah kembali lagi, terima kasih sudah memaafkan kelalaianku, terima kasih un--" Ucap Deren terpotong karena tiba-tiba ada bibir lembut yang menyentuh bibirnya.
"Jangan berkata begitu suamiku, aku merasa sangat bersalah karena sudah mengabaikanmu selama beberapa hari terakhir ini. Maaf suamiku." Ucap Violet.
Deren tersenyum lalu semakin mengeratkan pelukannya, sungguh dia sangat rindu kepada istrinya ini, "Aku mengerti sayang. Kita lupakan yang telah terjadi mari kita bersiap untuk kedepannya lagi." Ucap Deren.
Violet pun mengangguk, "Suamiku, aku ingin bertanya bagaimana dengan Siska? Kau tidak membunuhnya kan?" tanya Violet penasaran karena memang dia yang terlalu bersedih hingga tidak sempat tahu dengan apa yang terjadi kepada orang-orang yang sudah menculiknya.
"Sejujurnya aku ingin membunuhnya karena sudah berani menculik istriku dan tanpa dia sadari juga dia menjadi penyebab keguguranmu. Tapi ternyata sisi kejam itu redam hingga aku hanya menyerahkannya ke polisi bersama nyonya Carlos. Selain itu juga tentu saja aku memporandakkan saham perusahaan mereka." jawab Deren jujur dengan apa yang telah dia lakukan karena dia memang tidak ingin membohongi istrinya ini.
Violet yang mendengar nyonya Carlos di sebut kaget karena yang dia tahu hanya Siska yang menculiknya, "Ibunya Morgan juga berhubungan dengan penculikanku?" Tanya Violet.
Deren mengangguk, "Anak buahnya yang menghalangi kalian untuk menolong Cally saat kau menuju tempat itu. Dia jugalah yang memerintahkan anak buahnya untuk menyabotase dan meletakkan bom di mobil yang membawamu pulang." Jelas Deren.
Violet yang mendengar itu semakin kaget, "Aku tidak menyangka dia sejahat itu suamiku. Aku membencinya. Seharusnya kau membunuhnya saja." Ucap Violet menangis.
__ADS_1
Deren yang melihat itu segera menghapus air mata sang istri, "Jangan menangis sayang. Aku tahu kau sangat sedih. Tenanglah kita akan membuat mereka merasakan juga apa yang kita rasakan." ucap Deren.
Violet pun mengangguk lalu dia meletakkan kepalanya di bahu sang suami.
Deren pun membiarkannya saja dan justru mengambil gelas yang berisi susu dan meminumnya, "Sayang, kau juga minumlah!" ucap Deren.
Violet menerimanya lalu keduanya minum susu itu dan makan brownis buatan Violet.
"Honey, apa yang kamu bicarakan dengan Edgar tadi?" tanya Violet penasaran dengan apa yang suaminya bahas dengan adiknya.
Deren pun menghela nafasnya, "Kau ingin tahu?" tanya Deren dan Violet segera mengangguk yakin.
"Kamu yakin ingin tahu?" tanya Deren memastikan.
Violet pun mengangguk, "Yakin suamiku. Emang kenapa sih?" tanya Violet balik.
Violet pun yang tadinya penasaran berubah menjadi kesal, "Iss cepat suaminya. Emang kenapa sih? Cepat cerita. Jangan membuatku penasaran." ucap Violet.
"Baik, baik. Aku akan cerita. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya dulu, bagaimana pendapatmu jika perusahaan ayahmu bukan bangkrut karena kelalaian ayahmu tapi bangkrut karena rencana orang lain? Bagaimana juga pendapatmu jika penyakit ayahmu di sabotase oleh orang yang berniat jahat kepada ayahmu?" tanya Deren menatap lekat mata sang istri. Dia bisa melihat kekagetan di wajah istri cantiknya itu setelah mendengar pertanyaannya.
"Maksudmu perusahan ayah dan penyakit ayah ada campur tangan orang lain?" tanya Violet memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Deren mengangguk, "Seperti itulah." jawab Deren.
__ADS_1
Violet segera meneteskan air matanya, "Siapa orang itu suamiku? Siapa dia?" tanya Violet marah.
"Sayang, jangan menangis dong. Aku tidak akan mengatakan siapa dia jika kau menangis." ucap Deren.
Violet pun segera diam, "Siapa orang jahat itu suamiku?" tanya Violet.
"Mereka adalah orang tua Siska dan orang tua Morgan. Mereka dulunya ternyata adalah teman ayahmu. Ayahmulah yang membantu mereka mendirikan perusahaan mereka itu tapi saat mereka sudah sukses mereka ingin menyingkirkan ayahmu dengan cara menipu tukang pajak dengan mengatakan bahwa perusahaan ayahmu tidak membayar pajak. Mereka merencanakan dengan sangat teliti hingga bukti semua pembayaran pajak yang setiap tahun ayahmu bayar mereka hapus sehingga ayahmu tidak bisa membuktikannya dan terpaksa merelakan perusahaan di sita. Selain mereka menipu ayahmu dengan itu mereka mengambil semua aset penting ayahmu sehingga ayahmu harus bangkrut dan tidak bisa bangkit lagi." Jelas Deren.
"Ahh aku tahu itu, aku dengar ayah bangkrut dan dia sudah tidak sanggup membayar tapi untunglah ayah menjual kediaman kami untuk membayar karyawan. Aku tidak tahu bahwa di balik ini ada konspirasi besar. Apa ayah gak tahu temannya itu yang menipunya?" Tanya Violet.
"Ayahmu tahu dan dia juga sempat mendatangi mereka tapi ayahmu justru di maki dan mendapat hinaan dari sana." Jawab Deren.
"Ah aku ingat pantas saja hari terakhir dia masuk perusahaan untuk membayar gaji karyawan dia pulang dengan pakaian yang sudah berantakan dan saat kami bertanya dia hanya bilang bahwa dia jatuh. Jadi ternyata ini alasan sebenarnya. Ahh kenapa akj tidak mengetahuinya. Kenapa dia menanggungnya sendiri." ucap Violet.
"Setelah itu ayahmu sakit kan?" tanya Deren memastikan.
Violet mengangguk, "Penyakit ayahmu sebenarnya hanya penyakit biasa tapi saat dia di bawa ke rumah sakit mereka menyuruh orang untuk memasukkan obat yang dapat merusak orang ayahmu sehingga penyakitnya pun makin parah dan meninggal." jelas Deren.
"Mereka jahat suamiku. Kenapa mereka melakukan itu kepada ayah?" ucap Violet.
"Tujuan mereka membunuh ayahmu hanya satu yaitu mereka tidak ingin rahasia mereka terbongkar karena ayahmu secara diam-diam melakukan penyelidikan." Jawab Deren.
"Aku tidak akan membiarkan itu suamiku. Aku akan membalas semuanya. Gak masalah mereka mengambil perusahaan ayah tapi kenapa mereka juga harus membunuhnya?" ucap Violet.
__ADS_1
"Sudah sabar yaa sayang. Aku tahu ini sangat menyakitkan untukmu tapi kau harus menerimanya." ucap Deren.
Violet pun mengangguk, "Aku sudah mengikhlaskan ayah suamiku namun tetap saja aku tidak akan rela jika orang-orang yang sudah membunuh ayahku hidup bergelimang harta. Aku ingin mereka juga merasakan apa yang kami rasakan saat itu." ucap Violet.