Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
24


__ADS_3

Violet pun baru ingat bahwa dia memang belum bicara dengan sang ibu menerima lamaran ini dengan cepat, “Kau tenang saja Edgar aku akan menjelaskannya kepada ibu kalian.” Bukan Violet yang menjawab melainkan Deren yang baru selesai menelpon anak buahnya.


Edgar dan Violet pun menatap Deren lalu mereka segera berdiri, “Sudah selesai?” tanya Violet lembut dan Deren pun hanya mengangguk.


“Edgar apa kau tidak ingin merestui pernikahan kami?” tanya Deren menatap Edgar yang dalam beberapa jam ke depan akan menjadi adik iparnya itu.


“Aku merestuinya tapi berjanjilah untuk tidak menyakiti hati kakakku.” Ucap Edgar.


Deren pun tersenyum, “Terima kasih atas restumu, aku janji tidak akan pernah melakukan itu. Apa kau tidak ingin bertanya alasanku menikahi kakakmu secara dadakan begini?” tanya Deren lagi.


“Tidak, aku tidak akan bertanya, aku yakin kau memiliki alasan sendiri. Selain itu juga aku bisa menduga ini pasti berhubungan dengan mommy kalian.” Jawab Edgar.


“Terima kasih dan untuk ibu kalian jangan khawatir aku sendiri yang akan menjelaskannya. Kita pergi!” najak Deren menatap Violet yang diam saja melihat percakapannya dengan sang adik.


Violet pun segera mengangguk, “Bagaimana dengan mommy?” tanya Violet.


“Tenanglah mommy ada dokter dan suster yang menjaga dan ada Carra juga di sini. Aku harus menjelaskan pernikahan dadakan ini kan. Ayo kita pergi!” ucap Deren.

__ADS_1


“Edgar aku titip Carra.” lanjutnya menatap Edgar dan hanya di balas dengan anggukan karena tanpa di minta dia pasti akan menjaga kekasihnya itu.


***


Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Violet, “Kau tidak ingin menanyakan sesuatu?” tanya Deren menatap sekilas Violet.


“A-aku,, apa mommy baik-baik saja?” tanya Violet.


“Detak jantung mommy tadinya sempat berhenti berdetak tapi dengan bantuan dokter akhirnya detak jantungnya kembali dan kini mommy sudah melewati masa kritisnya. Tapi karena dia tahu detak jantungnya sempat terhenti hingga membuatnya memintaku menikahimu hari ini, dia takut jika sewaktu-waktu detak jantungnya akan berhenti berdetak. Dia ingin melihatku menikah sebelum dia menutup matanya. Jadi karena itulah aku meminta menikah hari ini.” jelas Deren dengan sedih.


Violet yang menyadari itu pun segera menatap Deren, “Tenang saja mommy pasti akan baik-baik saja. Bukankah kita akan menikah hari ini. Jangan sedih!” ucap Violet tulus.


“A-aku tentu saja marah dan kaget ingin rasanya aku menolak lamaran itu karena bahkan pertunangan yang masih 10 hari lagi bukan keinginanku apalagi ini menikah dadakan tapi setelah mendengar alasannya aku tidak jadi marah. Aku justru bangga ternyata kau seorang anak yang berbakti.” Ucap Violet tersenyum. Deren pun akhirnya ikut tersenyum mendengar pujian dari gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu walau pernikahan ini dadakan bahkan kontrak tapi di sudut hatinya yang paling dalam dia merasa bahagia.


Sementara Violet dia pun hanya berdoa semoga ini adalah yang terbaik menikah dengan seorang pria yang baru saja di kenalnya dan masuk ke dalam golongan pria yang dihindarinya bahkan menikah pun dadakan dan berdasarkan kontrak.


***

__ADS_1


Kini mereka sudah sampai di rumah Violet. Violet pun segera masuk bersama Deren lalu dia segera meninggalkan Deren ke kamar bicara berdua dengan sang ibu karena dia juga butuh menenangkan dirinya yang jujur saja perasaannya campur aduk. Tidak pernah ada dalam impiannya menikah dengan seseorang hanya untuk memenuhi permintaan terakhir orang sakit dan juga berdasarkan perjanjian melindungi sang adik. Dia sudah memikirkan bagaimana jika perjanjian mereka berakhir dan mereka akan bercerai apa dia sanggup menyandang status janda di usianya ini dan berbagai pikiran buruk lainnya tapi dia tetap meyakinkan hatinya.


Sekitar 20 menit berlalu kini sang ibu masuk ke kamarnya setelah mendapat izin dari Violet kini mereka duduk berhadapan di ranjang Violet, “Kau yakin nak menerima pernikahan ini? Nak Deren sudah menjelaskan semuanya tapi ibu ingin mendengar pendapatmu.” Ucap Ibu Anggi menatap Violet dalam.


“Vio yakin bu walau ini memang pernikahan dadakan tapi Vio yakin Deren akan menepati janjinya. Ibu tenang saja Vio baik-baik saja.” Jawab Violet.


Ibu Anggi pun hanya bisa menghela nafasnya karena dia tidak menyangka bahwa putrinya sebentar lagi akan menjadi istri orang, “Baiklah nak jika memang hal ini sudah jadi keputusanmu maka ibu berdoa semoga pernikahan kalian ini berjalan dengan baik dan sehidup semati. Semoga kau bahagia!! Walau ibu sedih akan berpisah denganmu tapi ibu ikut bahagia untuk pernikahanmu ini. Ingat nak dalam pernikahan nanti pasti akan ada batu dan kerikil yang akan menimpa pernikahan kalian kelak tapi ingatlah kalian harus bisa melewatinya bersama. Jika salah satu di antara kalian sedang emosi maka salah satunya harus jadi air untuk menenangkan yang lainnya. Jangan sampai hanya karena masalah sepele kalian memutuskan bercerai karena perceraian itu sangat di benci oleh Allah.” ucap Ibu Anggi memeluk sang putri.


Sementara Violet yang berada dalam pelukan sang ibu semakin merasa bersalah karena sudah membohongi ibunya ini, “Maafkan Violet bu! Aku harap ibu tidak akan membenciku jika tahu nanti.” Batin Violet. Ingin rasanya dia menangis karena merasa bersalah telah membohongi ibunya itu tapi dia tetap berusaha tegar karena tidak ingin sang ibu merasa sedih.


Setelah itu Violet dengan di bantu oleh sang ibu menyusun beberapa pakaiannya ke dalam tas pakaian karena setelah ini dia mungkin tidak akan tinggal bersama mereka. Ada rasa kesedihan yang dalam jika harus mengingat bahwa sebentar lagi dia akan menikah dan meninggalkan rumahnya ini, rumah yang penuh kenangan apalagi kamarnya ini yang menjadi saksi bahagia sedihnya. Dia pasti akan merindukan rumah ini terutama kamarnya ini.


Tidak lama setelah itu ada yang menekan bel rumah itu, “Itu pasti orang yang akan mengantar baju untuk pernikahanmu.” Ucap sang ibu karena memang sebelum Deren pergi dia sudah mengatakan semua itu.


Violet dan ibunya pun turun menyambut orang yang mengantar kebaya dan penata rias yang sudah di sewa oleh Deren itu. Setelah itu Violet segera membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum nanti akan di rias dan memakai kebaya nikahannya yang memang pernikahan akan di laksanan tiga jam lagi setelah isya di rumah sakit.


Kini Violet akan mulai di rias oleh penata rias itu, “Saya ingin riasan natural, jangan berlebihan.” Ucap Violet.

__ADS_1


“Kami mengerti nona karena walaupun tanpa riasan anda sudah sangat cantik jadi kami hanya ingin menambah kecantikkan anda saja.” Jawab salah satu penata rias itu memuji


Violet pun hanya tersenyum dan penata rias mulai melakukan pekerjaannya hingga sekitar satu jam akhirnya riasan natural yang diinginkan oleh Violet selesai dan kini dia di bantu untuk memakai kebaya dan hijabnya. Akhirnya setelah jam menunjukkan pukul 18.00 Violet sudah siap untuk pernikahannya.


__ADS_2