Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
76


__ADS_3

“Kakak jangan memiliki niat balas dendam begitu gak baik.” ucap Carra yang hanya di tanggapi Deren sinis.


“Kakak ipar lebih baik sekarang kau mengatakan apa keputusanmu.” Lanjut Carra mengabaikan tatapan Deren.


Violet pun berpikir, “A-aku setuju dengan kalian. Sepertinya apa yang kalian bicarakan memang benar dengan begitu aku bisa memiliki waktu bersama kalian sebelum menikah nanti. Dulu pernikahanku dadakan hingga aku tidak memiliki waktu bersama ibu dan Edgar. Aku harap kau menyetujui keputusanku ini suamiku.” Ucap Violet menatap sang suami yang sudah cemberut.


Carra yang mendengar ucapan Violet segera berdiri dengan bahagianya tanpa mempedulikan wajah cemberut kakaknya, lalu segera kembali duduk di samping Edgar dan sepasang kekasih itu saling bertos ria.


“Baiklah kita putuskan begitu saja karena Vio sudah setuju maka mulai hari ini Vio akan tinggal di sini. Kamu akan tinggal di sini bareng ibu dan Edgar kan sayang?” tanya ibu Anggi dan Violet hanya mengangguk.


Deren menghela nafasnya berat, “Apa keputusannya tidak bisa di ubah? Begini saja deh gak usah pindah rumah kami pisah ranjang aja. Kami akan tidur di kamar terpisah, aku mohon bu jangan siksa aku, aku tidak bisa tidak melihatnya walau sehari.” Ucap Deren menatap ibu mertuanya dengan tatapan memohon.


“Gak boleh! Kakak dan kakak ipar harus tinggal terpisah karena siapa yang menjamin jika kakak gak berbuat curang masuk ke kamar kakak ipar secara sembunyi-sembunyi. Pokoknya kakak ipar tinggal di sini dan kakak tinggal di Mansion. Hanya untuk beberapa hari saja kak, aku yakin kau tidak akan mati karena hal itu. Jadi jangan dramatis. Jika kau memang benar mencintai kakak ipar maka buktikan dong masa iya hanya berpisah beberapa hari saja sudah gak boleh.” Ucap Carra.


“Hanya beberapa hari saja suamiku.” Ucap Violet segera menggenggam tangan suaminya. Dia tahu suaminya itu kesal akan hal ini tapi dia juga ingin memiliki menghabiskan waktunya bersama sang ibu dan adiknya sebelum menikah dengan suaminya kembali.

__ADS_1


Deren pun hanya bisa pasrah dengan keputusan itu karena percuma dia menolak jika sang istri sudah menyetujuinya.


***


Kini Violet dan Deren sedang dalam perjalanan ke Mansion setelah selesai menjelaskan semuanya kepada keluarga mereka. Selain itu juga Violet ingin mengambil beberapa barangnya karena dia akan tinggal di rumah sang ibu. Carra dan Edgar ikut dari belakang karena tidak ingin Violet mengubah keputusannya nanti dan hal itu menambah kekesalan di wajah Deren hingga membuatnya selama di perjalanan hanya diam saja sambil cemberut. Violet yang melihat itu hanya tersenyum.


Begitu tiba di Mansion Deren segera keluar dan membukakan pintu untuk istrinya walau dalam keadaan kesal dia tetap melakukannya karena dia sudah berjanji untuk selalu membuat istrinya itu merasa di cintai selalu, “Terima kasih suamiku!” ucap Violet mendekatkan wajahnya di pipi sang suami hingga hidungnya mencium pipi suaminya itu.


Mereka segera masuk ke dalam Mansion tidak lupa di sambut oleh para maid. Keduanya segera ke kamar untuk mengambil barang yang perlu Violet bawa. Sementara Edgar dan Carra menunggu di ruang keluarga sambil menikmati camilan yang di hidangkan oleh para maid.


Violet begitu masuk segera menuju meja riasnya karena dia hanya akan mengambil skincare dan make up-nya saja karena dia masih memiliki pakaian di rumahnya. Dia mulai mengisinya dalam tas make up yang dia punya hingga membuat Deren kesal akan hal itu karena di abaikan istrinya itu padahal dia sedang kesal akan keputusan ini. Dia segera mendekati Violet dan menarik Violet hingga keduanya duduk di ranjang dengan Violet dalam pangkuannya, “Apakah ini harus di lakukan?” tanya Deren.


“Aku tidak melarangmu untuk menghabiskan waktu bersama ibu dan Edgar tapi kenapa harus tinggal terpisah. Kau bisa menemui mereka dan menghabiskan waktumu dari pagi sampai sore di sana lalu malamnya kembali lagi kesini.” Ucap Deren.


“Itu beda suamiku, aku ingin tidur bersama ibu.” Ucap Violet.

__ADS_1


Deren menghela nafasnya, “Aku akan mengajak ibu tinggal di sini dan mengizinkanmu tidur bersama ibu semalam.” Ucap Deren masih berusaha membujuk Violet untuk mengubah keputusannya.


“Kenapa sih kau sangat menolak hal ini?” tanya Violet bingung karena suaminya itu sangat keberatan akan hal ini.


“Aku tidak bisa berpisah jauh darimu sayang. Apa kau tidak kasihan padaku, aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu dan tanpa mencium wajahmu sebelum tidur.” Ucap Deren tanpa sadar keceplosan dan membongkar apa yang dia lakukan selama ini secara diam-diam.


Violet yang mendengar kalimat sang suami kaget, “Mencium wajahku sebelum tidur? Apa selama ini kau melakukan itu? Ahh jadi selama ini kau melecehkanmu diam-diam suamiku?” teriak Violet kaget bahkan dia sampai berdiri dari pangkuan suaminya itu tapi langsung di tarik Deren kembali.


Deren yang sudah sadar keceplosan hanya bisa menghela nafasnya karena mungkin ini sudah saatnya dia mengakui semua yang dia lakukan pada istrinya secara diam-diam, “Maaf sayang, aku melakukannya karena tidak tahan. Salah sendiri memiliki wajah cantik seperti itu dan bibir manis seperti itu. Jujur saja aku kecanduan bibirmu sejak saat pertama kali aku merebut first kissmu walau itu hanya kecupan singkat tapi terasa manis hingga membuatku ingin mengulangi dan merasakannya lagi. Jadi aku melakukannya diam-diam karena jika kau sadar aku yakin kau pasti tidak akan memberikannya.” Jelas Deren.


“Dasar mesum. Kau melecehkanku suamiku, sekarang aku takut jika kau sudah merenggut keperawananku diam-diam juga, siapa yang tahu jika kau tidak melakukan itu padaku juga.” Ucap Violet bergidik ngeri.


Deren yang mendengar kalimat istrinya itu segera menegecup bibir Violet sekilas, “Aku berani bersumpah, aku tidak melakukan hal lain selain ciuman padamu. Walau kadang-kadang pemikiran itu terbersit di otakku tapi aku tidak mungkin melakukan itu kepada orang yang tidak sadar apalagi itu adalah istriku sendiri wanita yang aku cintai. Aku ingin melakukan itu dalam keadaan sadar dan saat sama-sama kita menginginkannya satu sama lain. Jadi aku pastikan sayang kau masih perawan karena selain wajahmu aku tidak melakukan hal lain pada tubuhmu yang lain.” Ucap Deren.


“Hmm masa sih? Kok aku gak percaya? Bukankah saat aku di beri obat tidur oleh Morgan saat itu paginya aku sudah berganti pakaian. Siapa yang menggantikan aku jika bukan kau?” tanya Violet.

__ADS_1


“Aku meminta bantuan mbak Ratih karena selain menghormatimu. Aku juga ingin menjaga kewarasanku yang mungkin tidak akan bisa menahan hasratku sendiri jika aku yang menggantikan pakaianmu. Melihatmu memakai batrobe atau handuk saja saat selesai mandi bisa membuatku sedikit hilang kendali apalagi jika melihatnya langsung.” Ucap Deren.


“Melihat langsung apa?” tanya Violet.


__ADS_2