Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
44


__ADS_3

Deren pun menyentuh rambut adiknya itu, “Kau ini selalu saja menolak jika itu berhubungan dengan perusahaan padahal itu milikmu.” Ujar Deren.


“Milikmu apa kak? Ingat kau adalah kakakku dan kau adalah putra pertama keluarga ini, kau pemilik perusahaan itu. Daddy dan mommy mempercayaimu, aku pun juga begitu. Aku tidak ingin perusahaan, lagian kau juga selalu memberiku uang yang banyak. Itu sudah cukup untukku. Jadi jangan bicara begitu lagi kak. Kau itu kakakku dan aku adalah adikmu.” Ucap Carra.


Deren pun tersenyum, “Tentu saja aku kakakmu dan kau adikku. Tapi jika nanti kau ingin mengelola perusahaan katakan saja kepada kakak, kakak akan memberikannya untukmu.” Ucap Deren.


Carra pun mengangguk, “Sudah lebih baik kita sarapan dulu.” Ucap Violet.


“Emm maaf kakak ipar sepertinya kalian harus sarapan berdua lagi hari ini aku tidak bisa bergabung karena kekasihku itu sudah menunggu di depan dan bekalku juga sudah di siapkan. Aku akan sarapan di hotel. Aku ingin berpamitan.” Ucap Carra berdiri lalu segera mengecup pipi Deren dan Violet lalu segera mengambil bekalnya yang di siapkan mbak Ratih dan berlari keluar menemui Edgar yang sudah menunggu di luar.


Violet pun hanya bisa menghela nafasnya melihat kepergian Carra itu, “Dasar bucin! Edgar juga kenapa dia gak masuk dan justru pergi begitu saja.” ucap Violet.


Deren yang mendengar itu pun tertawa, “Apa kamu cemburu karena sepertinya adikmu itu lebih menyayangi Carra dan melupakanmu di sini.” Ucap Deren menggoda.


Violet pun hanya mendelik kesal kepada Deren lalu menyendok sarapan untuknya, “Kau gak perlu cemburu pada mereka karena aku akan selalu ada untukmu.” Ucap Deren tersenyum sambil mulai menyendok sarapan untuknya.


Violet hanya diam saja tidak membalas ucapan suaminya itu karena dia saat ini malas berdebat dengan pria itu hingga mereka pun menjalani dalam diam.


Kurang lebih 20 menit akhirnya sesi sarapan dalam diam itu berakhir dan Violet segera membereskan sisa sarapan mereka. Deren juga hendak berdiri tapi kemudian dia menoleh kepada Violet, “Vio jika kamu ingin memeluk saya lagi seperti tadi malam katakan kepada saya sebelum tidur agar saya sudah bersiap sebelumnya.” Ucap Deren tersenyum menggoda lalu dia segera pergi dari sana meninggalkan Violet kebingungan.


Violet mencerna perkataan Deren itu dalam otaknya hingga tiba-tiba dia mengingat mimpi dia semalam, “Apa itu bukan mimpi? Apa aku memeluknya semalam karena mengira dia ayah. Ahh Violet apa yang telah kau lakukan. Ahh aku malu!” ucap Violet sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Deren yang dari lantai dua melihat hal itu hanya tertawa, “Kau sangat lucu jika sedang malu seperti itu.” gumam Deren.


***

__ADS_1


Malam harinya Violet memastikan bahwa dia tidak ketemu dengan suaminya karena sejujurnya dia sangat malu jika mengingat hal itu walaupun itu dia lakukan saat tidak sadar.


“Vio kenapa kau tidak ingat bahwa laki-laki yang tidur di sampingmu itu bukan ayahmu. Huhuhuuu aku merindukanmu ayah.” Ucap Violet lalu dia segera berbaring di ranjang sebelum suaminya itu pulang karena memang Deren sepertinya melakukan lembur hari ini.


Tepat sebelum jam 9 malam Deren sudah tiba di rumah dan dia segera menuju kamar untuk membersihkan dirinya dan begitu dia masuk dia melihat Violet yang sudah tidur di ranjang. Seketika dia tersenyum dan dia yakin istrinya itu malu bertemu dengannya hingga memutuskan untuk tidur atau mungkin pura-pura tidur lebih awal.


“Kenapa kau harus malu? Padahal kita suami istri.” Ucap Deren lalu dia segera menuju kamar mandi. Violet yang memang hanya berpura-pura tidur itu pun mendengar ucapan suaminya.


“Suami istri? Suami istri yang sebentar lagi akan bercerai? Seandainya saja---” batin Violet lalu tiba-tiba dia memukul keningnya agar tidak melanjutkan apa yang di pikirkan oleh otaknya itu.


“Jangan pernah memimpikan sesuatu hal yang tidak akan terjadi Vio. Sadarlah Vio sadarlah!” lanjutnya.


***


Tidak terasa hari ini sudah weekend dan seperti biasa Deren dan Violet berada di Mansion dengan kesibukkan mereka masing-masing. Violet yang sibuk berkutat di dapur dengan para maid dan Deren yang sibuk di ruang kerjanya, tidak ada yang tahu apa yang di kerjakannya di sana.


“Nyonya, anda ingin membuat apa untuk makan siang nanti?” tanya mbak Ratih.


Violet berpikir, “Hari ini para mbak saja yang memutuskan ingin makan apa. Vio gak tahu memasak apa hari ini.” jawab Violet.


“Bagaimana jika kita masak daging ayam saja nyonya, berhubung di lemari es tinggal tersisa daging ayam saja.” usul Mbak Ratih.


“Emm bagus juga tapi akan kita olah jadi apa?” tanya Violet.


“Ahh ayam kecap saja dan sup.” Lanjut Violet kemudian yang langsung diangguki oleh para maid karena mereka ingin merasakan kembali kedua masakan Violet itu.

__ADS_1


“Ya sudah kita putuskan begitu saja.” Ucap Violet sambil memeriksa kuenya yang sedang di panggang.


Beberapa maid segera mengambil ayam dari lemari es sementara yang lain penasaran dengan kue buatan Violet hingga mengerumuni Violet.


Violet pun membiarkan saja para maid itu karena dia tidak merasa terganggu. Violet segera memotong-motong kue buatannya itu setelah melakukan toping di atasnya lalu dia segera membagikan kepada para maid dan bodyguard karena dia selalu jika memasak pasti banyak yang dia masak.


“Saya antar ini dulu yaa ke ruangan suami saya. Ohiya itu semua untuk kalian karena punya Carra sudah di simpan.” Ucap Violet lalu pergi dengan kue dan segelas teh menuju ruang kerja suaminya.


Para maid pun segera berkumpul untuk mencicipi kue buatan nyonya mereka dan tidak lupa juga membagikannya dengan para bodyguard, “Sangat lezat seperti biasa. Masakan nyonya gak pernah gagal.”


Tok tok tok


“Masuk!” ucap Deren dari dalam.


Violet pun segera masuk, “Aku hanya ingin mengantarkan ini. Selamat bekerja kembali.” Ucap Violet setelah meletakkan apa yang dia bawa di meja dan hendak berbalik.


“Apa kau tidak melupakan sesuatu hari ini?” tanya Deren.


Violet pun berbalik dengan bingung, “Lupa? Emang ada apa hari ini?” tanya Violet.


“Sungguh kau tidak ingin ada apa hari ini?” selidik Deren dan Violet segera menggeleng karena memang dia merasa bahwa hari ini gak ada apapun.


“Sudahlah, aku hanya ingin mengatakan setelah makan malam nanti bersiaplah karena kita akan pergi menghadiri pesta.” Ucap Deren.


“Pesta? Apa hari ini ada undangan pesta? Apa pesta relasi bisnismu?” tanya Violet.

__ADS_1


“Kau benar-benar lupa atau kau pura-pura lupa?” tanya Deren lagi.


Violet pun mengingat tapi tidak ada apapun yang dia ingat, “Huh, hari ini pernikahan mantan kekasihmu. Bukankah kau mendapatkan undangannya? Kenapa kau melupakannya?” tanya Deren.


__ADS_2