
Nyonya Carlos yang melihat keadaan Siska merasa bersalah, “Maaf nak!” ucapnya.
“Maafmu tidak akan bisa mengembalikan semuanya seperti semula nyonya Carlos terhormat. Dulu kau yang memaksaku untuk meraih cintaku ini dan kini aku tidak akan membiarkan cintaku lepas begitu saja. Aku akan membunuh wanita itu walau nanti Morgan akan membenciku tapi setidaknya wanita yang dia cintai sudah tiada. Aku akan membalas rasa sakitku ini. Ingat nyonya Carlos jika aku gagal melakukan ini maka aku akan menceraikan anakmu dan menarik investasi yang aku berikan di perusahaan kalian itu. Ingat dengan baik nyonya bukan aku yang berhutang pada kalian tapi kalian yang berhutang pada keluargaku dan aku akan menagihnya nanti jika aku tidak merasa bahagia. Aku akan menagihnya beserta dengan bunganya.” Ucap Siska lalu berlalu meninggalkan nyonya Carlos sendiri di ruang tamu. Dulu memang sangat akrab bagai ibu dan anak tapi untuk sekarang semua itu berubah menjadi kebencian. Dia benci semua ini karena keadaannya.
“Kurang ajar sekali anak itu. Berani sekali dia mengancamku. Aku tidak akan membiarkan dia menarik investasi dari perusahaan. Aku tidak akan bisa jika harus membayangkan hidup di jalanan bagai gelandangan. Jika dulu aku memaksa Violet pergi untuk kali ini aku akan menahan Siska tetap dalam pernikahannya, bukan karena menginginkannya menjadi menantu tapi untuk memanfaatkan uang ayahnya.” Gumam nyonya Carlos tersenyum miring. Setelah itu dia segera keluar dari kediaman anak dan menantunya itu entah kemana tapi satu hal yang pasti dia akan melakukan sesuatu yang buruk.
***
Di perusahaan, Deren baru saja menyelesaikan rapat pentingnya selama dua jam berlangsung, kini dia sedang menuju ruangannya dengan Max di belakangnya. Ronal sudah kembali ke tempat biasa dia bekerja. Dia memang hanya asisten Deren yang di panggil saat di butuhkan saja tapi walau begitu Ronal memiliki peran penting karena tugasnya yaitu memperkuat system yang melindungi data perusahaan agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Dia juga bertugas mengawasi orang-orang yang bisa berpotensi bahaya baik untuk perusahaan maupun untuk keluarga Deren.
“Max, apa jadwalku setelah ini?” tanya Deren berjalan membuka pintu ruang kerjanya. Seketika dia tersenyum menatap siapa yang menunggunya di ruang kerjanya.
“Sayang, kapan kau tiba?” tanya Deren mendekati Violet yang sedang duduk di sofa lalu memberikan kecupan ringan di kening sang istri.
“Emm,, sekitar 20 menit yang lalu.” Jawab Violet.
__ADS_1
Deren pun mengangguk, “Mau makan apa?” tanya Deren.
Violet menggeleng, “Aku belum lapar honey. Lanjutkan saja dulu pembicaraan kalian.” Ucap Violet menatap asisten suaminya yang menunduk saat masuk karena tidak ingin melihat pemandangan yang bisa membuat jiwanya jomblonya meronta-ronta ingin segera menikah juga.
Deren menatap asistennya, “Sudahlah gak penting kok sayang.” balas Deren.
Max yang mendengar itu hanya bisa membelalakkan matanya dan menghela nafas karena sejak kapan pekerjaan menjadi sesuatu yang tidak penting bagi tuannya itu. Violet yang mendengar ucapan sang suami tersenyum lalu melabuhkan kecupan di pipi sang suami, “Sana bekerjalah. Aku akan menunggu di sini.” Ucap Violet setelah memberikan kecupan di pipi sang suami.
Deren pun tersenyum dan menunjuk pipi sebelahnya lagi, “Satunya lagi sayang. Kasihan dia cemburu!” ucap Deren modus.
Violet pun terkekeh akan hal itu lalu dia menatap Max, Deren yang mengerti apa arti tatapan istrinya, “Max, balikkan badanmu dan jangan berbalik sebelum aku memintanya.” Ucap Deren. Max yang mendengar itu pun segera berbalik dengan cepat tanpa menolak sama sekali karena dia memang masih ingin menjaga kesehatan jiwa dan mentalnya yang sepertinya tidak sanggup melihat keuwuan yang terjadi antara tuan dan nyonya.
“Max, berbaliklah. Cepat katakan apa jadwalku setelah ini.” ucap Deren segera berdiri menuju kursi kerjanya.
Max pun berbalik menatap Deren yang sudah duduk di kursi kerjanya dan mulai menjelaskan jadwal kegiatan Deren dengan seksama. Deren pun mengangguk mengerti setelah Max menjelaskannya lalu dia fokus dengan dokumen di hadapannya hingga saat jam makan siang.
__ADS_1
Setelah jam makan siang dia menghentikan pekerjaannya dan melihat sang istri yang tertidur di sofa dengan posisi duduk, “Astaga sayang kenapa tidur begini.” Ucap Deren mendekati istrinya. Dia merasa bersalah karena terlalu fokus dengan dokumen di hadapannya hingga membuatnya lupa ada sang istri di sana bersamanya.
Deren berniat untuk memindahkan sang istri ke ruangan pribadinya di sini tapi saat dia akan menggendong Violet pindah mata istrinya itu terbuka, “Sayang! kenapa tidur di sini?” tanya Deren sambil membantu sang istri untuk dudu dengan baik.
Violet hanya tersenyum, “Maaf suamiku, aku ketiduran. Tadi aku sedang membaca artikel yang Arini buat tidak tahunya aku justru mengantuk hingga tidak sadar tertidur.” Jawab Violet.
“Sudah gak apa-apa. Aku juga yang merasa bersalah karena tidak memperhatikanmu dan tidak sadar kau ketiduran di sini. Maaf yaa sayang.” ucap Deren merasa bersalah.
Violet yang menyadari tatapan bersalah di mata sang suami pun menjadi gemas sendiri karena entah kenapa suaminya itu selalu bersikap seperti itu, “Jangan merasa bersalah suamiku, aku saja yang memang ketiduran. Sudahlah lebih baik ayo kita makan aku sudah lapar. Itu sudah jam makan siang kan?” tanya Violet mengalihkan pembicaraan sambil menatap jam di tangannya.
Deren pun terkekeh menyadari sang istri yang begitu hebat mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membuatnya merasa bersalah. Deren segera berdiri, “Ayo kita makan! Kamu mau makan di mana sayang?” tanya Deren sambil mengulurkan tangannya kepada sang istri.
Violet segera berdiri dan menerima uluran tangan sang suami, “Di restoran di depan aja deh. Aku ingin makan di sana dan mengulang momen kita makan di sana saat itu yang membuat heboh media.” jawab Violet tersenyum.
Deren pun ikut tersenyum mengingat hal itu, kejadian yang terjadi sekitar beberapa minggu lalu. Dia yang saking senangnya karena sang istri datang ke perusahaannya hingga membuat sikap waspadanya menurun yang pada ujungnya berujung dengan menghebohkan media. Selain itu juga begitu dia kembali ke rumah justru bertengkar dengan Violet.
__ADS_1
“Ayo sayang, let’s go kita ulang momen itu lagi.” Ucap Deren bersemangat lalu segera menggandeng Violet keluar dari ruangannya menuju restoran di depan perusahaannya.
Deren dan Violet berjalan kaki ke restoran itu dan mereka juga makan di tempat yang dulu mereka gunakan. Keduanya tidak memesan ruangan privat karena memang Violet sudah di ketahui oleh media sebagai istrinya. Jadi untuk apa di tutupi lagi. Violet juga tidak keberatan akan hal itu.