Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
26


__ADS_3

“Apa anda yang membicarakan ibu?” ucap Ibu Anggi tiba-tiba masuk ke ruangan di mana putrinya itu berada.


Violet pun segera menatap sang ibu, “Ibu!” panggil Violet merentangkan tangannya.


Ibu Anggi yang mengerti itu pun segera mendekati sang putri lalu memeluknya, “Tenang saja kau jangan khawatirkan ibu ada Edgar yang menjaga ibu. Selain itu juga ibu sangat sehat untuk menjaga diri ibu sendiri.” Ucap Ibu melepas pelukannya.


“Kau saat ini sudah memiliki keluarga baru dengan status barumu itu. Kau harus bisa mempertanggung jawabkan untuk selalu menjaga mereka. Kau harus selalu patuh kepada suamimu dan juga ibu mertuamu. Jaga keluargamu dengan baik nak.” lanjut ibu Anggi.


“Ibu! Aku janji akan selalu mengunjungimu dan kau juga jangan lupa selalu minum obatmu. Aku tidak ingin saat aku tidak ada kau tidak meminum obatmu.” Ucap Violet.


“Iya, dasar bawel. Ibu pasti akan meminumnya.” Balas Ibu Anggi. Violet pun hanya tersenyum.


Setelah itu Deren masuk ke ruangan itu, “Ibu, Edgar, Carra!” sapa Deren. Mereka bertiga pun hanya mengangguk lalu Edgar dan Carra segera keluar dari sana.


Ibu Anggi pun segera beranjak dari tempat duduknya dan segera keluar memberikan waktu bagi Deren dan Violet tapi sebelum dia keluar dia menepuk bahu menantunya itu, “Ibu titip yaa!” ucap Ibu Anggi.


Deren pun hanya mengangguk lalu segera menatap wanita yang dari tadi diam, wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu, “Kita pergi!” ucap Deren canggung. Violet pun hanya menatap Deren karena mereka memang sama-sama canggung.


***


Singkat cerita, kini mereka berdua sudah ada di sebuah kamar. Begitu masuk kamar itu Violet wajah Violet memerah melihat kamar mereka yang di hiasi mawar merah khas kamar pengantin. Deren yang menyadari tatapan Violet langsung mengerti, “Kau tenang saja semua poin yang ada dalam perjanjian kita berlaku. Kamu jangan khawatirkan apapun karena saya akan menepati semua janji yang saya buat.” Ucap Deren.


Violet pun hanya mengangguk karena dia memang mengerti alasan pernikahan ini di laksanakan. Dia juga memang tidak berharap lebih pada pernikahan ini karena mereka berdua sama-sama tahu bahwa ini hanyalah sandiwara, “Kamu gak keberatan kan kita tidur di sini dulu?” tanya Deren.

__ADS_1


Violet menatap Deren, “Keberatan?” tanya Violet.


“Yah, saya memilih hotel ini karena ini dengan dengan rumah sakit dan jika kita juga harus ke rumah ini sudah malam. Besok kita akan ke rumah, kamu masih bisa berkemas untuk pakaianmu dan berpamitan dengan keluargamu.” Ucap Deren.


“Ohiya, kau juga jangan khawatir ibumu dan Edgar sudah tiba di rumah.” Lanjut Deren karena memang anak buahnya sudah mengantarkan mereka sementara Carra menemani sang mommy di rumah sakit.


“Terima kasih!” ucap Violet.


“Itu sudah jadi tanggung jawab saya. Ohiya apa kau tidak akan mandi dulu?” ucap Deren yang memang mereka berdua masih memakai pakaian yang mereka gunakan untuk akad tadi.


“Emm,, sebenarnya saya ingin mandi hanya saja tidak membawa pakaian.” Ucap Violet dengan suara kecil.


“I-ini untukmu. Saya sudah menyiapkannya. Sana kau mandilah lebih dulu, saya masih harus melakukan sesuatu.” Ucap Deren menyerahkan paperback kepada Violet.


Violet pun segera menatap tajam Deren lalu dia segera masuk ke kamar mandi meninggalkan Deren. Deren yang melihat itu hanya tersenyum, “Terima kasih sudah membuat saya tersenyum kembali Vio, setidaknya dengan menggodamu saya sedikit melupakan masalah saya.” gumam Deren lalu segera meraih tabnya untuk memeriksa email yang masuk.


Sekitar 45 menit akhirnya Violet keluar dengan pakaian tidurnya dan rambut yang di bungkus dengan handuk. Deren pun menatap tersenyum kepada Violet lalu segera kembali menatap tabnya. Violet pun membiarkannya dan segera mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya dan untungnya kamar hotel itu menyediakan hair dryer karena jika tidak maka di pastikan Violet akan tidur dengan rambut basahnya dan besoknya akan kena flu.


“Tuan, apa anda tidak ingin mandi juga?” tanya Violet setelah selesai mengeringkan rambutnya.


Deren pun menatap Violet sekilas lalu segera menyelesaikan dokumen yang dia periksa dan mematikan tabnya, “Saya akan mandi atau kamu ingin memandikan saya?” tanya Deren tersenyum.


“Dalam mimpi!” ucap Violet lalu segera duduk di samping ranjang.

__ADS_1


Deren pun terkekeh lalu segera mengelus rambut Violet, “Kamu tunggu saya selesai mandi. Ohiya jangan panggil saya dengan tuan, jika saya mendengar kamu memanggil saya begitu maka kamu akan mendapatkan hukuman dari saya.” ucap Deren lalu segera masuk ke kamar mandi.


“Dasar tuan muda suka mengancam dan apa tadi dia menyuruh untuk menunggunya mandi. Emang dia pikir saya akan menunggunya apa, aku mengantuk lebih baik tidur dari pada menunggunya.” Ucap Violet.


“Saya mendengarnya Violet dan kamu harus menunggu saya baru bisa tidur.” Teriak Deren dari kamar mandi. Violet yang mendengarnya pun hanya tersenyum miring lalu segera membaringkan tubuhnya di ranjang karena dia memang merasa sangat lelah.


30 menit berlalu, “Vio! Ambilkan pakaian saya!” teriak Deren.


Violet yang memang sudah sedikit tertidur pun membuka matanya, “Emang kamu gak membawanya?” tanya Violet.


“Jika saya memintanya berarti tidak membawanya Vio. Ayo ambilkan saya kedinginan. Apa saya saja keluar dan mengganti pakaian saya di depanmu. Ahh itu sepertinya lebih baik.” balas Deren.


“Ahh gak usah biar saya ambilkan. Di mana pakaianmu kau letakkan?” tanya Violet segera bangun dari ranjangnya dan melihat sekeliling.


“Mungkin di atas sofa! Jika kau tidak menemukannya lebih baik saya keluar saja dan mencarinya sendiri.” Ucap Deren.


“Gak usah saya sudah menemukannya. Buka pintunya sedikit!” ucap Violet, Deren pun segera membukanya dan Violet segera memberikan paperback itu dengan badan yang menyamping. Deren yang melihatnya hanya tersenyum, “Gak usah memalingkan muka begitu Vio jika kamu memang ingin melihatnya gak apa-apa kok saya ikhlas lagian kita ini suami istri.” Goda Deren.


Violet pun segera melepas paperback dari tangannya, “Terserah mau ambil atau tidak. Kalau perlu mati kedinginan saja sekalian.” Ucap Violet lalu segera pergi dari pintu kamar mandi itu. Sementara Deren segera mengambil paperback itu lalu menutup pintu kamar mandi. Dia segera memakainya dan tertawa dengan sepuasnya karena sudah berhasil menggoda Violet. Sepertinya menggoda Violet menjadi hobinya mulai saat ini. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang cuek seperti Violet ternyata bisa malu juga jika di goda seperti itu.


Setelah selesai mengganti pakaiannya Deren segera keluar dengan menggosok rambut basahnya dengan handuk. Dia menatap Violet di ranjang yang sibuk dengan ponsel di tangannya.


Deren setelah selesai mengeringkan rambutnya segera mendekat menuju ranjang tapi belum juga dia duduk, “Kamu mau apa?” tanya Violet

__ADS_1


__ADS_2