Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
73


__ADS_3

Sekitar satu jam akhirnya ketiga wanita itu berhasil mengeksekusi makan siang akan mereka santap. Carra di dapur tidak memasak dia hanya bagian mencuci saja sambil mengenal bumbu-bumbu makanan yang akan mereka buat. Ibu Anggi pun menjelaskan dengan lembut kepada Carra calon menantunya itu. Yah, dia sangat menyayangi Carra bukan karena Carra kaya tapi karena ketulusan hati Carra yang mencintai Edgar padahal Edgar tidak memiliki apapun.


Violet hanya tersenyum melihat keakraban Carra dan ibunya, dia tidak cemburu akan hal itu karena dia tahu bahwa sang ibu menyayanginya dan menyayangi Carra dengan porsi masing-masing. Selain itu dia bisa mengingat bagaimana interaksinya dengan mommy Grysia jika melihat interaksi Carra dan ibunya. Yah, seperti ibunya yang memperlakukan Carra dengan lembut, mommy Grysia pun memperlakukannya dengan sangat lembut walau kebersamaan mereka hanya singkat tapi bagi Violet apa yang dia lakukan dengan mommy Grysia membekas di hatinya. Mommy Grysia memiliki tempat tersendiri di sudut hatinya hingga membuatnya merasa bersalah hingga kini karena telah membohongi seorang ibu setulus mommy Grysia.


Carra setelah selesai dengan tugas mencuci sayur dan buah dia juga bertugas menyiapkan alat makan yang akan mereka gunakan dan kini dia sedang menata alat makan itu di meja makan sederhana milik keluarga Violet. Walau sederhana tapi terasa sangat nyaman hingga membuat Carra betah di sana.


“Selesai!” ucapnya Carra melihat hasil penataannya.


Violet yang mulai membawa makanan ke atas meja tersenyum melihat tingkah adik iparnya itu, “Sini kak, biar aku yang menatanya. Aku ingin belajar jadi istri yang baik untuk adikmu kak.” Ucapnya segera menerima makanan di tangan Violet.


Violet pun memberikannya lalu tersenyum, “Edgar sangat mencintaimu sayang. Dia pasti menerima apapun baik kelebihan maupun kekuranganmu.” Ujar Violet.


“Aku tahu itu kakak ipar tapi cinta saja tidak cukup untuk membina rumah tangga karena banyak di luaran sana yang selingkuh karena istrinya tidak tahu memasak. Menurut yang aku dengar setiap istri itu minimal memiliki dua kemampuan untuk menyenangkan suaminya yaitu bisa menyenangkan suaminya di atas ranjang dan juga menyenangkannya dengan masakannya.” Ucap Carra.


Edgar yang memang datang ke ruang makan karena mengetahui Carra ada di sana begitu mendengar ucapan kekasihnya itu tersenyum, “Aku bukan pria seperti itu sayang. Aku menerima semua tentangmu.” Ujar Edgar memeluk Carra dari samping.


Carra menatap Edgar, “Aku tahu kau bukan orang seperti itu, aku hanya berjaga-jaga saja.” ujarnya.


Deren yang memang mengikuti adik iparnya itu hanya tersenyum melihat cinta di mata Edgar dan Carra lalu dia tersenyum menatap sang istri yang juga tersenyum kepadanya seolah mereka berkata, “Kita tidak melakukan kesalahan.”

__ADS_1


Violet segera meninggalkan tiga orang itu dan kembali ke dapur membantu ibunya membawa makanan yang lain, “Semuanya sudah selesai.” Ucap Carra setelah melihat semua masakan sudah tertata di atas meja.


“Ibu, ayo makan!” ajak Violet memanggil sang ibu yang masih di dapur.


Ibu Anggi pun segera datang setelah melepas celemeknya lalu dia duduk di ujung meja tempat biasa sang suami duduk semasa dia hidup lalu di samping-sampingnya Edgar dan Violet lalu Carra dan Deren duduk di samping pasangan mereka masing-masing.


Carra mencolek Edgar. Edgar pun menoleh, “Aku mau duduk berdekatan dengan ibu.” Pintanya lirih.


Edgar pun tersenyum lalu segera berdiri berganti tempat duduk dengan Carra. Carra pun segera pindah hingga kini dia dekat dengan ibu Anggi. Violet dan ibu Anggi yang melihat itu hanya tersenyum sementara Deren hanya menggelengkan kepalanya karena sifat manja adiknya itu, “Ibu, gak apa-apakan aku duduk di dekatmu?” tanya Carra.


“Gak apa-apa sayang. Kamu itu juga putri ibu. Jadi kamu bisa duduk dimanapun kau mau.” Jawab ibu Anggi lembut.


Ibu Anggi pun membiarkan Carra memeluknya dan membalas pelukan gadis itu, dia mengerti Carra bagaimana perasaan Carra sebenarnya. Dia masih butuh sosok ibu, dia berjanji akan menjaga Carra dengan baik, “Sudah jangan sedih nak. Jika kamu merindukan mommy-mu kau bisa berdoa untuknya lalu bisa juga mengunjungi makamnya. Sekarang hapus air matamu dan kita nikmati makanan ini.” ucap Ibu lembut menghapus air mata di pipi Carra.


Violet yang melihat itu hanya tersenyum tidak terbersit sedikit pun iri di hatinya untuk Carra karena dia juga mengerti perasaan gadis itu karena di usia segitu dia juga kehilangan ayahnya, “Ayo Carra jangan sedih nanti jelek loh. Ayo makan! Ini makanan kesukaanmu.” Ucap Violet.


Mata Carra pun berbinar melihat makanan itu, “Kau benar kak! Emm,, tapi jujur saja kakak ipar semua makanan ini kesukaanku karena ini buatanmu dan ibu. Aku menyukai makanan buatan kalian.” Balasnya.


“Yaa sudah ayo makan sayang.” timpal Edgar karena dia tidak ingin kekasihnya itu larut dalam kesedihan. Bukan menyuruh Carra melupakan mommy-nya hanya saja dia tidak ingin melihat kekasihnya itu bersedih.

__ADS_1


Deren yang melihat itu hanya tersenyum karena ternyata bukan hanya dia yang bersedih akan kepergian mommy Grysia tapi Carra adalah orang paling bersedih karena adiknya itu harus kehilangan mommy Grysia di usianya yang masih terbilang remaja karena sikapnya yang kadang-kadang kekanak-kanakkan. lalu dia menggenggam tangan Violet yang ada di dekatnya hingga membuat wanita itu menatapnya tersenyum seolah berkata, “Semua akan baik-baik saja.”


Mereka berlima di meja makan itu pun makan siang dengan hikmat dan damai tidak ada kesedihan di sana hanya ada senyuman dan kebahagiaan. Semua makanan habis ludes tidak tersisa karena Deren dan Edgar menghabiskannya, “Ibu masakanmu sangat lezat!” puji Deren kepada ibu mertuanya.


Ibu Anggi hanya tersenyum, “Tapi itu buatan Vio.” Jawab ibu Anggi.


Deren langsung menatap sang istri, “Ahh masa kakak gak bisa membedakan makanan buatan kak Vio dan ibu.” Ucap Carra kompor.


“Sayang, a-aku--” ucap Deren.


“Gak apa-apa. Aku mengerti karena aku memang belajar masakan itu dari ibu. Jadi pantas seorang guru harus mendapatkan pujian atas hasil kerja keras muridnya.” Ujar Violet bijak.


Deren yang mendengar ucapan istrinya terharu karena istrinya itu memang benar-benar paket lengkap, “Ahh kakak ipar gak asik.” Ucap Carra kesal karena tidak berhasil mengerjai kakaknya.


Edgar yang melihat ekspresi kesal dari Carra hanya tersenyum, “Makanya jangan jadi kompor sayang!” ucap Edgar.


“Kan sekali-kali, boleh dong.” Timpal Carra.


Ibu Anggi hanya tersenyum melihat hal yang di lakukan oleh ke empat anak muda di hadapannya hingga membuatnya teringat akan kenangan mudanya bersama sang suami. Violet yang menyadari hal itu segera menggenggam ibunya. Ibu Anggi tersenyum menanggapi Violet dia memang tahu Violet itu adalah orang yang sangat peka jika menyangkut perasaannya, “Ibu baik-baik saja.” ucap ibu Anggi lirih.

__ADS_1


__ADS_2