
Malam harinya Deren menjelang isya sudah berada di rumah dan dia segera menuju kamar membersihkan dirinya lalu segera bergabung makan bersama Violet, Carra dan Edgar di ruang makan karena memang Carra dan Edgar malam ini ikut makan bersama mereka.
“Carra, bagaimana dengan hotel di kota B?” tanya Deren basa basi karena dia sudah menerima laporan dari Max bahwa adiknya itu bisa menyelesaikan masalah di sana dengan baik.
“Semuanya berjalan baik kak.” Jawab Carra sambil makan.
“Edgar terima kasih sudah membantu Carra menyelesaikan masalahnya.” Ucap Deren memandang adik iparnya itu.
“Ahh itu sudah tugas saya membantu menyelesaikan masalah dari wanita yang saya cintai. Jadi gak usah berterima kasih kakak ipar.” Balas Edgar.
“Aku suka kau memanggilku seperti itu.” timpal Deren karena adik iparnya itu jarang mengobrol dengannya.
Lalu ke empat orang di meja makan itu serius dengan makanan mereka masing-masing dan tidak ada pembicaraan lagi antara mereka di sana.
***
“Carra, apa kalian akan pergi?” tanya Deren begitu melihat sang adik yang sepertinya akan keluar.
Carra langsung mengangguk, “Emm,, kami akan keluar sebentar kak. Bisa kan?” Carra mengucapkan itu sambil mengedip-ngedipkan matanya.
“Gak usah begitu karena kakak pasti mengizinkan dirimu yang penting bisa menjaga dirimu apalagi jika pergi dengan Edgar kakak percaya padanya dia pasti akan menjagamu.” Deren mengatakan itu menatap adik iparnya yang memang terkesan dingin padanya itu.
“Terima kasih kakak ipar aku pasti akan menjaga Carra dengan baik.” balas Edgar.
“Yaa sudah dulu yaa kakakku kami pamit. Ohiya dimana kakak ipar?” Carra menatap sekeliling mencari Violet.
__ADS_1
“Sepertinya dia sudah ke kamar. Sudahlah sana kalian pergilah biar nanti aku yang sampaikan kepada Vio kalian sudah pergi.” ucap Deren.
Carra pun mengangguk lalu seketika dia teringat sesuatu, “Kak, aku ingin mengatakan sesuatu untukmu.” Carra segera mendekatkan wajahnya ke telinga Deren dan membisikkan sesuatu kepada kakaknya itu.
Deren yang mendengar bisikkan sang adik pun menatap tidak percaya, “Sungguh? Kau tidak bohong kan?” tanya Deren masih tidak percaya.
Carra hanya mengangkat kedua bahunya, “Terserah mau percaya atau tidak tapi aku sarankan buktikan sendiri. Ohiya kakak gak lupa kan acara yang akan kita lakukan akhir pekan ini?” tanya Carra.
“Acara? Emang kita punya acara minggu ini?” tanya Deren balik dengan bingung.
Carra pun menepuk keningnya, “Oug God. Kau lupa lagi kak padahal aku sudah mengingatkanmu dari beberapa minggu lalu terakhir tiga hari lalu aku mengatakannya. Masa lupa.” Carra mengatakan itu dengan ekspresi kesal.
Deren pun berpikir lalu seketika dia tersadar apa yang di maksud oleh adiknya, “Ouh kakak sudah ingat. Beres! Kau tenang saja akan itu.” balas Deren.
“Awas saja jika kakak lupa lagi.” Ancam Carra dan Deren hanya tersenyum.
“Ya kami memang akan pergi tapi percayalah kak apa yang aku katakan padamu itu benar jadi jika kau ingin tahu maka buktikan saja sendiri.” Ucap Carra lalu langsung pergi menggandeng Edgar yang dari tadi hanya diam saja menyaksikan pembicaraannya dan Deren.
“Masa sih dia melakukan itu?” tanya Deren pada dirinya sendiri terkait bisikkan Carra. Setelah itu Deren berdiri ingin membuktikan apa yang dikatakan Carra karena dia memang penasaran akan hal itu.
***
Sementara Edgar dan Carra saat ini sedang dalam perjalanan. Mereka menggunakan mobil Carra dengan Edgar sebagai supirnya.
Edgar yang dari tadi penasaran akan hal yang di bisikkan kekasihnya itu kepada Deren hingga membuat ekspresi tidak percaya pada wajah kakak iparnya itu pun segera bertanya pada Carra, “Apa yang kamu bisikkan pada kakakmu itu? Kok dia seperti tidak percaya?” tanya Edgar menatap sekilas Carra lalu kembali fokus dengan jalanan.
__ADS_1
“Kamu penasaran yaa? Tenang saja kok aku hanya membisikkan sesuatu yang mungkin bisa menambah kedekatan hubungan mereka.” Jawab Carra lalu segera mendekatkan mulutnya ke kuping sang kekasih dan membisikkan apa yang dia bisikkan kepada Deren tadi.
Edgar yang mendengar itu menatap Carra, “Sungguh? Masa sih? Emm,, tapi itu bisa saja terjadi sih kan mereka suami istri. Walau kakak bukan tipe romantis tapi dia itu penyayang dan perhatian. Syukur deh jika pernikahan mereka bahagia. Aku menakutkan hal ini sejak lama, aku takut kakakku tidak bahagia.” Balas Edgar.
Carra yang mendengar hal itu segera menatap kekasihnya itu, “Aku tahu kau masih ragu akan pernikahan mereka yang terjadi sangat cepat. Aku pun sama ragu seperti dirimu pasalnya kita tidak pernah melihat mereka dekat lalu tiba-tiba mereka akan bertunangan dan berakhir menikah secepat itu tapi aku hanya berdoa pernikahan mereka memang benar-benar seperti pernikahan pada umumnya yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang bukan karena sesuatu. Aku bisa memaklumi kau yang masih canggung bersikap dengan kakak karena kalian memang tidak terlalu dekat sebelumnya sedangkan aku yang memang sudah sangat dekat dengan kakakmu jadi semakin dekat karena pernikahan mereka. Tidak aku pungkiri bahwa aku bahagia bisa memiliki kak Vio sebagai kakak iparku karena itu impianku sejak dulu. Kak Vio adalah sosok kakak perempuan yang aku inginkan selama ini.” ucap Carra.
“Kok aku merasa kau lebih mencintai kak Vio di banding aku? Apa aku ini hanya alat yang kau gunakan agar bisa memiliki kakak perempuan?” ucap Edgar pura-pura merajuk.
“Bisa di katakan begitu karena sejujurnya aku lebih mencintai kak Vio di banding dirimu.” Balas Carra mengikuti arus yang di buat sang kekasih.
Edgar yang mendengar hal itu menjadi gemas akan tingkah Carra, “Kau ini tau-tau aku sedang merajuk, bukannya membujuk tapi tambah membuat kesal.” Ujar Edgar.
“Kau sedang merajuk? Kok aku gak sadar?” tanya Carra tersenyum menggoda Edgar. Edgar pun hanya manyun saja.
“Hahahhahh,, baiklah maafkan aku sayang. Aku bercanda. Aku mencintai kak Vio sebagai kakak perempuanku sedangkan dirimu aku mencintaimu sebagai kekasihku, calon suamiku, calon imamku dan calon ayah dari anak-anakku nanti. Kau itu segalanya untukku. Cintaku untukmu dan untuk kak Vio berbeda sayang.” ucap Carra.
Edgar yang mendengar hal itu tersenyum, “Aku tahu! Aku juga mencintaimu sangat mencintaimu. Apa kita menikah saja.” ucap Edgar.
“Menikah? Sepertinya bisa saja tapi kau harus melamarku dulu di depan kakak dan kakak ipar. Ohiya jangan mentang-mentang kakakmu adalah kakak iparku kau bisa merasa mudah untuk melamarku karena saat kau melamarku nanti kak Vio itu bukan kakakmu tapi kakak iparku. Ingat itu.” ujar Carra.
“Yaya aku tahu kau sudah mengambil kakakku.” Ucap Edgar.
“Yah aku memang hebat bisa merebut kakakmu lebih dulu.” Ucap Carra tertawa.
“Tapi aku serius kita menikah saja yaa agar kita bisa terus sama-sama.” Ucap Edgar menatap Carra dalam.
__ADS_1
Carra mengangguk, “Baiklah kita menikah saja tapi lamar aku dulu.” Ucap Carra.
“Tentu. Aku pasti akan melakukannya.” Balas Edgar tersenyum. Dia memang sudah yakin akan menikah di usianya saat ini karena dia tidak ingin kehilangan wanita sebaik Carra.