Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
85


__ADS_3

Sudah sekitar pukul 23.04 tapi Violet masih terjaga, dia tidak bisa tidur sama sekali mengingat sang suami yang tidur di sofa yang dia yakini tidak nyaman sama sekali. Violet hanya menutup matanya tapi pikirannya tertuju pada sang suami. Violet hanya berpura-pura tertidur tapi nyatanya dia dari tadi terjaga, bahkan Carra yang tidur di sampingnya sudah tertidur nyenyak.


Violet bangun dan bersandar di ranjang pelan-pelan agar tidak membangunkan Carra, "Ahh lebih baik aku melihatnya sendiri. Apa dia nyaman atau tidak daripada aku terus khawatir yang berujung aku tidak tertidur." gumam Violet kecil setelah cukup lama berpikir.


Violet berdiri dan mengambil selimut tebal dan nyaman dari lemarinya lalu segera keluar kamarnya dengan pelan-pelan. Itu dia lakukan agar Carra tidak terbangun dan nanti akan menyebabkan keributan. Tapi satu hal yang dia tidak ketahui bahwa Carra sudah terbangun juga saat dia bangun dan dia mendengar gumaman Violet itu. Carra hanya tersenyum tipis melihat kakak iparnya itu keluar dan dia lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya. Dia tahu dan mengerti pasti kakak iparnya itu mengkhawatirkan kenyamanan kakaknya seperti dia yang selalu mengkhawatirkan Edgar. Jadi untuk kali ini dia biarkan saja dan berpura-pura tidak tahu karena tidak mungkin kakak dan kakak iparnya itu melewati batas sementara rencana untuk mengulang pernikahan datang dari keduanya dan jika pula keduanya melewati batas maka itu tidak masalah karena keduanya adalah pasangan suami istri.


Kembali ke Violet setelah dia keluar kamar dia menutupnya pelan dan segera menuju sofa di ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu. Dia melihat tv sudah tidak menyala dan dia melihat sang suami sudah tertidur dengan memakai selimut yang sudah dia sediakan di kamar tamu. Di ruangan itu dia hanya melihat sang suami dan tidak menemukan Edgar tapi dia tidak kaget akan hal itu karena adiknya itu sudah memberitahu lewat pesan dengan mengatakan bahwa suaminya itu keras kepala tidak bisa dibujuk sama seperti dirinya hingga membuat sang adik menyerah dan lebih memilih meninggalkan Deren sendiri di ruangan itu dan istirahat di kamarnya.


Violet menatap wajah sang suami dalam dan menyelimuti suaminya dengan selimut lembut miliknya. Deren merasa ada seseorang segera terjaga dan dalan keadaan baru bangun dia langsung tahu itu adalah sang istri karena dia mengenali bau tubuh istrinya, "Sayang kenapa kamu di sini?" tanya Deren dengan suara bangun tidur.


Violet menatap suaminya, "Aku takut kau tidak nyaman di sini. Kenapa tidak pindah ke kamar sih?" ucap Violet.

__ADS_1


Deren tersenyum mendengar jawaban istrinya itu dan mencoba bangun untuk duduk dengan di bantu oleh Violet, "Aku nyaman tidur di sini sayang. Sofa ini sangat nyaman untukku. Jangan bilang karena kamu mengkhawatirkan aku kamu belum tidur dari tadi?" Selidik Deren begitu menyadari tatapan mengantuk di mata sang istri.


Violet hanya mengangguk saja karena dia tidak ingin berbohong pada suaminya, "Ahh sayang. Kenapa gak tidur sih? Aku kan sudah bilang istirahat saja jangan khawatirkan aku." ucap Deren segera mendekat sang istri ke pelukannya.


"Namanya juga khawatir. Apa kau pikir seseorang bisa tidur jika dia khawatir pada seseorang. Kalau aku gak bisa tidur jika khawatir." ucap Violet.


Deren tidak menjawab tapi dia segera menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya dan melabuhkan kecupan lembut di bibir sang istri, "Terima kasih sayang sudah mengkhawatirkan aku dan maaf sudah membuatmu tidak tertidur. Tenang saja aku baik-baik saja dan nyaman tidur di sini. Jadi kau bisa tidur dengan nyenyak nanti. Ohiya apa lebih baik kau ikut saja tidur di sini denganku sayang?" tanya Deren.


"Muat sayang. Jika gak muat kita paksa agar muat." jawab Deren.


"Ahh gak usah nanti kau tidak akan nyaman lagi. Lebih baik aku tidur di kamarku saja. Selain itu juga ada Carra di sana jika dia melihatku gak ada di kamar saat dia bangun maka akan terjadi kekacauan nanti." ujar Violet.

__ADS_1


Deren tersenyum mendengar jawaban istrinya itu karena dia juga tidak mungkin mengajak istrinya itu tidur di sofa yang hanya muat untuk satu orang. Sama seperti Violet yang mengkhawatirkan kenyamanannya maka dia juga akan memastikan kenyamanan istrinya itu, "Aku juga bercanda sayang aku tidak mungkin mengajakmu tidur di sini. Lebih baik sana kau kembalilah ke kamar dan cepatlah tidur. Aku tidak ingin besok nanti kau mengantuk." Ucap Deren.


Violet mengangguk lalu dia segera berdiri, "Baiklah aku akan tidur, kau juga yaa suamiku tidurlah. Ohiya pakailah selimut itu, itu adalah selimut kesayanganku dia sangat lembut yang sangat cocok untuk musim panas dan dingin. Selimut itu diberikan ayah sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-17 yang memang di buat seperti itu." ucap Violet tersenyum.


Deren tersenyum mendengar ucapan sang istri, "Baiklah aku akan memakainya sayang." ucap Deren karena tanpa di minta pun dia akan memakainya karena itu pemberian istri cantiknya yang ternyata adalah selimut kesayangannya.


Violet pun segera berlalu tapi tiba-tiba dia berbalik dan mengecup bibir sang suami sekilas. Deren kaget akan apa yang dilakukan istrinya tapi selanjutnya dia tersenyum dan mengubah kecupan singkat itu menjadi ciuman yang lembut. Setelah sekitar lima menit mereka berciuman Deren melepas ciumannya dan membersihkan sisa saliva keduanya di bibir sang istri dengan jarinya, "Tidurlah yang nyenyak sayang." ucap Deren.


Violet tidak menjawab dan justru segera berlari menuju kamarnya meninggalkan Deren karena dia malu dengan apa yang dia lakukan, "Ahh Vio apa yang kau lakukan? Ahh wajahku pasti memerah itu jika saja lampunya menyala tapi untung saja gelap. Ahh apa dia menganggapku perempuan apa telah melakukan itu. Vio oh Vio kenapa kau tidak bisa mengendalikan gairahmu yang sempat naik dan justru melakukan hal memalukan. Ah aku malu, aku seperti anak ABG saja yang baru jatuh cinta padahal umurku tahun depan akan kepala tiga." Gumam Violet lirih. Percayalah cintanya kepada sang suami sangatlah besar hingga jika di bandingkan dengan cintanya kepada Morgan itu sangat jauh, perbedaannya sangat jauh.


Sementara Deren di luar dia hanya terkekeh melihat apa yang di lakukan sang istri, "Dia pasti sedang malu sekarang. Ahh dia sangat menggemaskan jika seperti itu hingga membuatku tidak bisa menahannya. Aku harus mempercepat pernikahan ini. Yah, aku akan mengarahkan segalanya. Aku tidak rela melihat istriku tidur dengan adikku lagi." Ucap Deren lalu dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu di sana setelah memastikan sudah terkirim yang dia yakini akan membuat seseorang memakinya besok tapi dia tidak peduli yang terpenting dia segera menikah dan membawa istrinya kembali ke Mansion. Setelah itu Deren segera berbaring dan tidur dengan selimut kesayangan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2