Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
138


__ADS_3

Violet pun mengerutkan keningnya sambil mengingat, "Kamu sudah melupakannya?" Tanya Deren tersenyum melihat ekspresi imut yang di tunjukan sang istri.


"Ahh aku ingat. Yaa kita sudah mengucapkannya ah bukan Carra yang mengajak kita. Baiklah kita akan ikut mereka bulan madu. Gak masalah kan dek?" tanya Violet menatap kedua adiknya itu.


Edgar dan Carra menggeleng, "Gak masalah kak. Kami senang kalian ikut." ucap Carra.


"Beneran? Bisa saja kalian akan merasa kami mengganggu." Ucap Violet.


"Kakak mengatakan apa sih. Kenapa kami harus terganggu? Kami tidak merasa di ganggu. Lagian kalian gak mungkin akan tidur bersama kamu di kamar kami kan? Jika itu sudah terjadi maka itu baru di namakan mengganggu. Sudahlah jangan bicara begitu lagi kak. Kau ikutlah." ucap Edgar.


Violet yang mendengar ucapan adiknya tersenyum, "Baiklah jika memang kalian tidak merasa di ganggu maka kakak dengan senang hati akan ikut kalian hitung-hitung bulan madu kedua juga." ucap Violet lalu menatap sang suami tersenyum.


Deren yang melihat istrinya tersenyum dia pun membalas senyum lalu segera merangkul pinggang sang istri dan menariknya Violet untuk semakin mendekat kepadanya.


"Edgar, Carra kalian habis dari mana tadi?" tanya Violet yang baru menyadari bahwa dia belum menanyakan itu.


Edgar dan Carra yang mendengar pertanyaan Violet saling menatap lalu tersenyum, "Kak, pertanyaanmu itu sudah terlambat." ucap Carra.


Violet pun tertawa mendengar jawaban Carra itu karena dia juga baru mengingatnya, "Maaf kakak lupa." ucap Violet.

__ADS_1


"Sudahlah. Lebih baik katakan saja kalian dari mana?" tanya Deren.


"Kami dari jalan-jalan kak." jawab Carra.


Violet dan Deren pun mengangguk mengerti, "Ouh kakak tahu kalian jalan-jalan karena kalian kau sudah tidak bisa saling bertemu lagi sampai nanti akad." Ucap Deren.


"Ingat kalian harus mematuhi itu." lanjut Deren.


Carra pun menatap kakaknya itu dengan sinis, "Kami akan melakukan itu kak. Kami ini taat aturan emang kakak yang melanggarnya." Ucap Carra.


Deren yang di sindir oleh Carra menatao adiknya kembali, "Salah sendiri membuat peraturan seperti itu. Selain itu juga kami itu sudah menikah jadi untuk apa melakukan ritual begituan." ucap Deren.


"Emang benar. Makanya kakak melanggarnya lagian kenapa juga harus melakukan hal begituan. Ahh yang membuat ritual itu menyebalkan. Ehh tapi kalian tetap harus melakukan ritual itu jangan mengikutiku." ucap Deren.


Edgar dan Violet pun tertawa mendengar itu, "Sudahlah jangan berdebat lagi suamiku. Mereka akan melakukan ritual itu." ucap Violet menengahi karena tidak ingin memperpanjang perdebatan antara Carra dan suaminya. Setelah cukup ke empat orang itu bicara dan Edgar juga sudah pamit pulang dan mulai besok Edgar dan Carra akan memulai ritual tidak saling bertemu dan menghubungi satu sama lain.


***


Singkat cerita, kini tidak terasa sudah hari pernikahan Edgar dan Carra. Semua orang sibuk dengan pernikahan tersebut. Carra, Violet dan Derrn beserta orang-orang mansion setelah ba'da subuh langsung menuju hotel dan Carra begitu tiba di sana langsung di rias oleh tim MUA yang sudah menunggunya di sana.

__ADS_1


Sementara Violet dan Deren sebelum mereka bersiap masih menyempatkan untuk memeriksa apa semua persiapan sudah siap dan tidak ada kesalahan sedikit pun yang nantinya akan menghambat prosesi pernikahan kedua adik mereka. Setelah memastikan semua aman dan terkendali serta siap semuanya barulah Violet dan Deren menuju kamar yang memang sudah di siapkan untuk mereka bersiap mengganti pakaian untuk akad nanti.


Violet segera menyiapkan setelan jas untuk sang suami dan gaun untuknya yang tentunya dengan warna senada, "Sayang, bantu aku." ucap Deren saat memakai kemeja.


Violet pun belum memakai pakaiannya dan justru membantu sang suami terlebih dahulu mengancingkan kemeja dan jas sang suami serta memakaikan dasi juga. Violet layak membantu seorang anak kecil padahal Deren bisa melakukannya sendiri namun tentunya Deren ingin bermanja dengan sang istri dan dia akan melakukan itu setiap hari agar bisa bermanja dengan istri cantiknya.


Setelah memastikan pakaian sang suami sudah rapi dan terpasang dengan sempurna dan kini suaminya itu sudah sangat tampan padahal usianya sudah kepala tiga, "Kau sangat tampan suamiku." puji Violet tersenyum.


Deren yang di puji oleh istrinya tentu saja senang, "Ini semua berkat istriku yang pintar. Dia pintar mengurusku hingga aku selalu saja terlihat tampan. Terima kasih sayang." ucap Deren lalu mendekati istrinya dan melabuhkan kecupan lembut di kening sang istri.


Setelah melepas kecupannya dia menatap wajah istrinya yang selalu cantik di matanya, "Kau sangat cantik dan selalu cantik sayang. Aku selalu jatuh cinta berulang kali padamu." ucap Deren.


Violet yang mendengar itu tersenyum dan beralih mengambil gaunnya, "Dasar gombal kau suamiku. Sudah ah aku mau siap-siap dulu." Ucap Violet hendak keluar tapi di tahan oleh sang suami.


"Hari ini kamu di izinkan untuk merias wajah tapi jangan--" ucap Deren terpotong karena Violet langsung menyambungnya.


"Jangan terlalu cantik." lanjut Violet yang memang sudah hafal dengan perkataan suaminya itu.


Deren pun terkekeh mendengar sang istri yang langsung menyambung perkataannya, "Sudah sana pergilah dan cepat kembali karena akan terasa begini jika aku menyambut tamu sendiri. Aku masih harus menghafal kalimat ijab agar tidak salah nanti menikahkan adikku." ucap Deren yang memang di minta Carra dan Edgar untuk menjadi wali nikah Carra walau Deren bukanlah kakak kandung Carra dan tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Carra namun tetap saja Carra ingin kakaknya itu yang menjadi wali nikahnya.

__ADS_1


Saat Carra mengatakan hal itu dua hari yang lalu meminta Deren jadi wali nikahnya Deren menangis karena tidak percaya bahwa adiknya itu akan memintanya menjadi wali nikahnya. Deren pikir adiknya akan memakai wali nikah pihak KUA saja tapi ternyata adiknya memintanya melakukannya. Bagi Deren tidak masalah jika adiknya itu menggunakan wali nikah orang lain walau harapannya dia juga ingin menjadi wali nikah adiknya yang ternyata bukan hanya sekedar menjadi harapannya karena itu menjadi kenyataan. Adiknya yaa adik yang tidak memiliki hubungan darah apapun kini mempercayai dirinya menjadi wali nikah. Adik yang selalu berdebat dengannya itu akan menikah hari ini dan dia akan menjadi wali nikahnya. Sungguh Deren sangat bahagia sekaligus sedih karena adiknya akan memiliki seorang suami yang mungkin akan menggantikan perannya menjaga adiknya itu tapi dia bahagia pria yang menikahi adiknya adalah adik iparnya yang sudah dia tahu seluk beluknya yang dia tahu bahwa tidak akan mungkin menyakiti adiknya. Deren percaya seperti dirinya yang menjaga kakak dari Edgar begitupun yang akan Edgar lakukan kepada adiknya. Yah, hubungan mereka akan sangat unik nanti setelah hari ini. Untuk kedua kalinya hubungan mereka akan menjadi adik dan kakak ipar lagi.


__ADS_2