Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
64


__ADS_3

Violet segera masuk ke dalam tapi dia hanya menemukan kegelapan di dalam Mansion. Hanya beberapa lampu yang menyala untuk menerangi Mansion itu. Di depan saja hanya di teras saja yang lampunya menyala yang lainnya padam dan bodyguard yang berjaga juga hanya sedikit hanya dua orang yang dia lihat, itu pun hanya yang menjaga pintu gerbang saja. Begitu masuk ke dalam Mansion hanya lampu di dapur saja yang menyala dan di ruang keluarga hingga membuat bangunan itu seperti tak berpenghuni di tambah lagi dia tidak melihat pada maid, entah kemana mereka pergi. Apa sudah tidur? Mungkin saja tapi Violet tetap saja masih heran karena masa iya baru jam segini para maid sudah istirahat. Yah, itu baru pukul 19.43 yang di mana biasanya para maid masih ada yang berlalu lalang tapi ini tidak ada sama sekali. Hanya kegelapan dan keheningan yang dia rasakan begitu masuk dalam Mansion ini. Mansion semegah ini terasa sangatlah menyeramkan dengan situasi seperti ini.


Jangan tanya dimana Carra berada karena sejak sebulan lalu gadis itu memutuskan pindah ke apartemennya dengan alasan ingin mandiri dan juga letak apartemen itu dekat dengan cafe Edgar dan juga hotel yang dia kelola. Carra hanya datang dan menginap di Mansion jika ada sesuatu seperti saat ulang tahun Violet.


Violet mengabaikan kegelapan itu dan segera naik ke lantai dua di mana kamarnya dan Deren berada. Dia ingin mencari suaminya itu dan sesampaikan di kamar lagi-lagi hanya kegelapan yang dia temukan. Violet segera menyalakan lampu di kamar itu dan melihat sekeliling untuk mencari keberadaan suaminya tapi sudah semua sudut di kamar ini yang dia periksa dia tidak menemukan Deren.


"Apa dia tidak pulang ke sini? Terus dia menginap dimana? Tapi mobilnya ada di parkiran. Apa dia menggunakan mobil lain. Tidak mungkin karena semua mobilnya ada di parkiran. Apa dia belum kembali. Mungkin saja." gumam Violet yang memang melihat mobil yang biasa di gunakan suaminya itu ada di parkiran.


Lalu tiba-tiba dia mendengar ada suara mobil dari bawah. Violet menduga mungkin itu Deren yang baru kembali dari perusahaannya. Sebelum dia turun ke bawah dia masih merapikan seprai ranjang sedikit berantakan serta berdebu dan menatap skincare dan make up nya yang tetap tertata rapi seperti saat dia tinggalkan ke pantai. Tidak ada yang berubah sama sekali seperti tidak ada yang masuk ke kamar ini. Kamar Deren dan Violet sejak Violet menjadi istri Deren, Violet yang membersihkan kamar ini dan melarang pada maid masuk, Deren juga membiarkannya tanpa protes.

__ADS_1


Setelah sedikit membersihkan debu di kamar itu dia segera keluar untuk mencari tahu siapa yang datang. Apakah Deren atau tidak. Dia segera turun ke lantai bawah tapi tidak ada yang berubah lampu yang menyala tetap seperti tadi saat dia naik ke atas. Violet pun mulai menyalakan lampu-lampu itu tapi saat dia akan menyalahkan lampu dekat ruang kerja suaminya dia mendengar suara dua orang yang sedang bicara. Salah satu suara itu dia kenali adalah milik suaminya tapi yang satunya lagi terdengar seperti suara perempuan. Perempuan? Seketika Violet tidak jadi menyalakan lampu dan justru mendekat ke arah pintu kerja suaminya yang ternyata tidak tertutup rapat hingga suara dari dalam bisa terdengar dari luar.


"Lalu bagaimana dengan istrimu itu?" itu suara seorang wanita. Violet yang mendengar ucapan istri dari mulut wanita itu membuatnya penasaran. Apakah mereka sedang membicarakannya.


"Dia baik-baik saja dan kini dia sedang berada di rumah ibu mertua." jawab Deren. Violet yang mendengar jawaban Deren sangat yakin bahwa dia yang menjadi topik pembicaraan mereka. Violet sedikit mengintip untuk melihat siapa wanita yang menjadi lawan bicara suaminya itu tapi sayang hanya punggungnya yang bisa dia lihat.


"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apa kau akan benar-benar menyetujui perceraian kalian? Apakah kau akan menceraikannya? Kau yakin?" tanya wanita itu lagi.


Violet yang mendengar perkataan suaminya itu merasa sangat sedih karena dia merasa bahwa dalam perkataan suaminya itu terdengar sangat pedih. Apakah suaminya itu juga tertekan selama ini? Apakah bisa dia simpulkan bahwa suaminya memiliki perasaan yang sama dengannya? Apakah suaminya itu mencintainya juga tapi kenapa tidak dia ungkapkan jika memang suaminya benar-benar mencintainya, kenapa harus menyembunyikannya? Sungguh dia sangat senang jika dugaannya itu benar.

__ADS_1


Violet memang sudah memutuskan saat dia tadi meminta izin untuk datang ke Mansion satu tujuannya yaitu dia akan mengatakan bahwa dia mencintai suaminya itu. Dia akan mengungkapkan perasaannya walau itu bertolak belakang dengan keinginannya tapi dia hanya tidak ingin menjadi pengecut. Setidaknya dia sudah mengungkapkan perasaannya, urusan suaminya menerima atau menolak perasaannya jadi urusan belakangan. Semua keputusan akan dia serahkan kepada suaminya jika masih tetap akan berpisah atau tidak, semua akan dia terima dengan lapang dada setidaknya dia sudah berjuang untuk cintanya walau kalah yang penting kalah dengan kesatria.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu padanya Deren. Aku sangat mengerti apa yang kau rasakan. Aku yakin kau akan terpuruk lagi seperti saat daddy pergi." Ujar wanita itu lagi. Violet yang mendengarnya semakin penasaran siapa wanita itu kenapa dia memanggil ayah mertuanya dengan sebutan daddy. Apakah wanita itu juga mengenal mertuanya?


"Aku tidak peduli dengan perasaanku. Sudah cukup aku menyakitinya. Sudah cukup aku bersikap egois selama ini dengan mempertahankannya di sisiku. Biarlah mungkin aku akan menderita nanti tapi setidaknya dia tidak akan terluka lagi. Aku akan memberikan perpisahan yang dia inginkan karena aku tidak ingin membuatnya merasa seperti di neraka lagi." Ujar Deren.


"Apakah kau yakin akan menyerah setelah semua yang kau lakukan untuknya selama ini?" tanya wanita itu lagi.


"Aku hanya mencoba untuk memperbaiki kesalahan dan keegoisan yang aku lakukan. Percuma juga aku melakukan sesuatu lagi karena semua yang aku lakukan sama saja dia tidak mencintaiku dan justru menambah penderitaan untuknya. Kau tahu semuanya aku sudah mengatakan kepadamu. Kau tahu masalahku. Sepertinya sudah waktunya aku menyerah. Aku tidak ingin menyakitinya lagi, kau tahu kan apa yang terjadi terakhir kali. Aku membuatnya celaka Liza hanya karena ingin melihat kecemburuannya akan kedekatan kita." ucap Deren.

__ADS_1


Violet yang mendengar pengakuan itu hampir saja terjatuh jika dia tidak segera bersandar di tembok. Jadi semua yang terjadi sudah terencana? Jadi kedatangan Eliza sudah di rencanakan. Apakah Deren sedang mempermainkan perasaannya?


__ADS_2