Perjanjian Hati

Perjanjian Hati
72


__ADS_3

“Ibu dimana?” tanya Violet tidak melihat ibunya.


Ibu segera keluar dari kamarnya, “Ibu di sini nak.” ucapnya.


Violet tersenyum melihat ibunya itu lalu segera menghampirinya dan memeluk ibunya seolah-olah mereka sudah lama tidak berjumpa padahal baru kemarin dia di sini tapi entah kenapa dia sudah sangat merindukan ibunya itu, “Aku merindukanmu bu.” Ucap Violet mengecup pipi ibunya.


“Ibu juga merindukanmu nak.” balas ibu Anggi walau dia heran kenapa putrinya itu seperti itu padahal mereka baru bertemu kemarin karena dia tahu putrinya itu adalah anak yang malu mengekspresikan kerinduannya di hadapan orang banyak. Dia selalu mengekspresikan hanya berdua saja.


Deren juga segera berdiri menghampiri ibu mertuanya itu lalu menyalami tangan ibu Anggi, “Maaf baru menemuimu bu.” Ujar Deren.


“Gak apa-apa nak, ibu mengerti kau banyak urusan. Sudahlah kalian sudah makan?” tanya ibu Anggi mengalihkan pembicaraan karena dia ingin ada pembahasan yang menyedihkan di sini.


Violet dan Deren menggeleng, “Belum bu!” jawab keduanya serempak hingga membuat keduanya saling menatap dan tersenyum.


“Ya sudah karena kalian datang kesini maka ibu akan membuatkan kalian makanan special dan kita makan siang bersama.” Ucap ibu Anggi.


“Aku akan membantu bu.” Ucap Violet yang diangguki ibunya.

__ADS_1


“Carra juga mau ikut membantu. Carra mau belajar memasak makanan kesukaan Edgar agar nanti kami menikah Carra bisa membuatnya.” Ucap Carra antusias lalu menatap Edgar yang di balas dengan tatapan penuh cinta oleh Edgar.


“Kamu yakin mau memasak? Gak usah deh kasihan ibu dan istriku nanti pusing di ganggu olehmu, yang ada kau bukan membantu memasak tapi membantu menghancurkan makanan.” ucap Deren hingga membuat Carra yang tadinya tersenyum antusias seketika cemberut.


“Sudah gak apa-apa. Ayo Carra bisa ikut kok memasak. Kita akan mempelajari makanan kesukaan Edgar bersama-sama.” Ucap Violet lalu menatap suaminya tajam.


Carra yang mendengar hal itu kembali sumringah, “Beneran kak? Beneran aku bisa ikut kalian memasak? Ahh kakak ipar memang terbaik tidak seperti kakak.” Ucapnya mendelik kesal kepada Deren.


“Ayo nak. Ayo kita memasak karena jika tidak jam makan siang akan habis.” Ajak ibu Anggi lalu ketiga wanita itu segera berlalu menuju dapur meninggalkan Deren dan Edgar di ruang tamu.


“Kami hanya sedang melihat laporan keuangan café saja kakak ipar.” Jawab Edgar.


“Coba sini aku lihat.” Pinta Deren, dia ingin melakukan pendekatan dengan keluarga istrinya itu agar tidak ada yang menjadi sandungannya saat nanti hidup bersama istrinya. Dia ingin memiliki keluarga yang utuh dan harmonis.


Edgar segera memberikan dokumen keuangan itu kepada Deren dan Deren segera membacanya lalu dia mengangguk-ngangguk karena tidak menyangka bahwa penghasilan café adik iparnya itu lumayan besar, “Apa aku bisa memberikan saran?” tanya Deren setelah membacanya, dia tidak ingin Edgar merasa di ajari sehingga dia meminta izin sebelum mengatakan pendapatnya.


Edgar mengangguk antusias, “Tentu kakak ipar.” Jawabnya tersenyum. Edgar bukanlah orang yang sulit menerima orang baru, dia juga tidak dingin dengan orang lain tapi entah kenapa dia tidak bisa akrab dengan kakak iparnya itu. Selain segan karena Deren adalah pemilik perusahaan nomor satu dia juga berpendapat bahwa pernikahan kakaknya dengan Deren memiliki satu alasan yang besar yang hingga saat ini di sembunyikan. Yah, entah kenapa dia memiliki pemikiran itu, dia berusaha untuk menolak pemikiran itu dan menerima kenyataan bahwa kakaknya menikah dengan Deren memang karena saling mencintai seperti perkataan mereka tapi kata hatinya selalu mengatakan hal lain bahwa kakaknya dan Deren menyembunyikan sesuatu dari mereka semua. Hal itu yang membuatnya menjaga jarak dengan kakak iparnya itu.

__ADS_1


Deren setelah mendengar jawaban Edgar pun mulai menjelaskan apa yang menurutnya perlu di perbaiki terkait pengelolaan café Edgar. Edgar juga hanya mengangguk saja sambil memahami apa yang dikatakan kakak iparnya yang memang menurutnya bahwa semua yang Deren katakan benar, ternyata memang belajar dari ahlinya lebih baik.


“Terima kasih kakak ipar sudah memberikan saran dan solusi untukku.” Ucapnya tulus.


Deren tersenyum, “Aku hanya mengatakan apa pendapatku jika menurutmu apa yang aku katakan masuk akal dan bisa membantumu aku merasa senang. Ohiya jika lain kali kau butuh saranku, katakan saja aku pasti akan membantumu karena selain kau adalah adik istriku kau juga adalah laki-laki yang di cintai adikku. Tapi jujur saja aku bangga padamu! Kau hebat, adikku tidak salah memilihmu menjadi kekasihnya. Aku menunggu lamaranmu untuk adik cantikku itu.” ujar Deren tidak kalah tulus.


Edgar yang mendengar hal itu hanya tersenyum lalu dia semakin yakin untuk menghapus keraguan yang ada di hatinya kepada kakak iparnya itu. Dia tahu kakak iparnya itu sangat tulus dan dia bisa melihat semua perlakuan kakak iparnya kepada kakaknya itu sangat tulus, “Ohiya, aku tahu kau selama ini meragukanku dan pasti bertanya-tanya alasan sebenarnya aku menikah dengan kakakmu. Bersabarlah sebentar lagi, kau pasti akan segera mengetahui semuanya. Kami datang kesini hari ini untuk membicarakan itu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, cintaku pada kakakmu itu murni tidak perlu kau ragukan, aku mencintai dan hanya dia wanita yang membuatku jatuh cinta hingga tidak memiliki waktu untuk berpaling melihat yang lain.” lanjut Deren. Yah, satu hal yang dia pahami bahwa adik iparnya itu memang meragukannya.


Edgar yang mendengar itu sedikit terkejut karena ternyata dugaannya selama ini memang benar. Entah kenapa di saat seperti ini di saat semua keraguannya akan terjawab dia menjadi ragu. Dia tidak ingin semuanya akan berantakan.


Deren yang melihat kekhawatiran di wajah adik iparnya segera menepuk bahu Edgar, “Kau tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Kau harus ingat apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan Violet. Dia adalah wanita yang aku cintai, aku akan memperjuangkannya.” Ucap Deren.


Edgar menatap kakak iparnya itu, “Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dari kami?” tanya Edgar yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Deren tersenyum, “Sabarlah, mungkin beberapa menit lagi kau akan mengetahuinya.” Ucap Deren membuat Edgar hanya bisa menghela nafasnya kasar karena percuma dia bertanya, kakak iparnya itu tidak akan menjawabnya. Padahal jika dia sudah tahu terlebih dahulu maka dia bisa mencegah sesuatu yang akan terjadi. Jika memang alasan pernikahan itu terjadi menyakitkan maka dia akan meminta agar lebih baik di sembunyikan saja hingga akhir.


“Aku tahu kekhawatiranmu itu adik ipar tapi aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuat semuanya makin berantakan. Kau tenang saja semua kebohongan ini berawal dariku maka aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku dan aku pastikan semua akan baik-baik saja.” batin Deren sambil menatap adik iparnya yang tengah khawatir.

__ADS_1


__ADS_2