Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 94 Hidup dan Mati, Juga Sumpahnya


__ADS_3

*Beberapa saat yang lalu*


‘Sial! Aku tak bisa menghindar!’ teriak Yuanli dalam hati ketika melihat tiga pedang yang terayun ke arahnya. ‘Apa … aku akan mati di sini?’


Mata Yuanli tidak menutup, dia memandang pedang yang diarahkan padanya dari tiga arah. Kalau memang dia akan mati saat itu juga, maka akan dia hadapi hal itu seperti seorang pejuang!


Mendadak, sebuah sinar yang membutakan menyeruak masuk ke dalam pandangan Yuanli. Gadis itu terpaksa menutup mata dan mencoba menghalangi sinar menyakitkan itu dengan tangannya. Walau tak bisa melihat apa pun, tapi dia mendengar begitu banyak suara mengerang dari sekelilingnya.


Sebelum Yuanli mendapatkan kembali penglihatannya, sebuah tangan menarik dirinya. “Kemari!” teriak pemilik tangan tersebut, membocorkan identitasnya sebagai seorang perempuan.


Suara dentingan pedang yang bertemu dengan tanah bisa terdengar begitu Yuanli tertarik ke satu arah. Tanpa melihat, Yuanli yakin bahwa beberapa saat lalu dirinya hanya berjarak sejengkal saja dari kematian.


Seraya berlari dengan tuntunan perempuan itu, penglihatan Yuanli perlahan kembali. Sementara itu, telinganya mendengar samar napas tersengal dari orang di hadapannya. Keadaan perempuan misterius itu tidak terdengar baik.


“Jangan biarkan mereka kabur!” teriak salah satu orang dari pihak musuh.


Perempuan yang menarik tangan Yuanli mendecakkan lidahnya seraya berkata, “Sial!” Makian itu diikuti dengan suara langkah kaki sejumlah orang, tak lagi hanya tiga, menandakan bahwa musuh yang mengejar mereka semakin banyak.


Saat pandangan Yuanli kembali sepenuhnya, dia melihat bahwa perempuan di hadapannya mengenakan jubah hitam bertudung yang menutupi kepalanya. Sosok misterius itu juga menuntunnya berlari ke satu arah yang Yuanli kenali sebagai jalan pintas menuju kediaman Pangeran Mahkota. Dari gerak-geriknya, kentara bahwa perempuan di hadapan Yuanli itu mengenal jelas denah istana, dan itu adalah suatu hal mencurigakan.


Di saat telinga Yuanli menangkap suara benda tajam yang melesat ke arahnya, dia segera berniat mendorong sosok di hadapannya untuk merunduk. Namun, sebelum dirinya sempat bertindak, perempuan tersebut telah terlebih dahulu mengambil langkah ke samping dan dengan lincah menghindari serangan musuh.


‘Dia seorang ahli bela diri!’ pekik Yuanli, sedikit terkejut karena dia tak bisa merasakan sedikit pun aura ahli bela diri dari tubuh perempuan di depannya.


Tepat ketika Yuanli dan perempuan asing itu mencapai halaman Kolam Kematian—kolam yang menjadi tempat bersemayamnya banyak tubuh orang-orang yang telah disingkirkan—langkah kaki sosok itu berhenti. Yuanli mengangkat pandangannya ke depan, mendapati sekelompok prajurit dengan lencana Pasukan Tiaozhan—Pasukan Raja Hui, Wang Chengliu—siap menghadang.


“Berhenti di sana!” teriak salah satu pria dengan penampilan seorang letnan jenderal—Chenxiao.


Yuanli menoleh ke belakang dan melihat bawahan Wang Chengliu yang lainnya telah berhasil mengejar mereka juga. ‘Sial, kita dikepung.’ Kemudian, dia berkata, “Nona, ini adalah masalahku. Aku akan mengalihkan perhatian selagi kau kab—” Tak sempat Yuanli menyelesaikan ucapannya ketika menyadari tubuhnya telah tertarik oleh perempuan yang masih menggenggam tangannya. “Ah?” Matanya membulat ketika menyadari perempuan itu menariknya ke arah kolam.


Melihat gerakan mendadak Yuanli dan perempuan bertudung itu, Chenxiao terbelalak. “Jangan biarkan mereka lari!”


Sebelum Yuanli bisa bereaksi, dirinya telah terlebih dahulu menghantam air. Suara benda tajam yang menembus dan membelah air bisa dia dengar dari beberapa sisi, membuat dirinya terpaksa membuka mata di dalam air, berharap bisa menghindari serangan itu.


Membuka mata di bawah air yang jelas tak bersih, mata Yuanli terasa begitu pedih. Namun, nyawanya jauh lebih penting dibandingkan rasa sakit sementara yang dia rasakan.


Sialnya, kegelapan malam tak membantu dirinya untuk melihat apa pun di dalam kolam yang lama tak terurus ini. Namun, dia bisa mendengar lenguhan rendah serta suara riak air yang tercipta akibat seseorang yang sedang bersamanya.


Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul di hadapan Yuanli, mengizinkan dirinya untuk melihat jelas paras perempuan yang menolongnya. Mata cokelat terang yang sedikit merah akibat cahaya yang dipantulkan, juga rambut berwarna sama yang bergelombang di dalam air bak selendang yang terbang tertiup angin. Penampilan perempuan di hadapan Yuanli itu begitu menghipnotis.


Jari-jari lentik perempuan itu terjulur untuk meraih tangan Yuanli yang mengambang bebas. Kemudian, bibir pucatnya terbuka, menggumamkan sebuah kata, “Lianhua … Yuan.”


Detik berikutnya, Yuanli merasa dunia berputar. Pening yang sangat menyerang kepalanya, membuatnya menutup mata.

__ADS_1


Saat dirinya merasa membentur dasar yang keras, Yuanli melenguh karena rasa sakit sebelum akhirnya terbatuk-batuk. ‘Tunggu, aku bisa bernapas?’ Dia membuka mata, dan barulah gadis pelayan itu tersadar bahwa dirinya telah berada di dataran kering, tepatnya di sebuah gang kecil yang terlihat familier baginya. ‘Ini daerah Lianhua Yuan!’ Yuanli mengerjapkan matanya beberapa kali. ‘Apa yang—?!’ dia tak mampu berkata-kata, kaget dengan keajaiban yang disuguhkan.


Kekagetan yang Yuanli rasakan tak bertahan lama karena sebuah tangan menyentuh lengannya, mengalihkan perhatiannya pada sosok yang terbaring di tanah. Dengan bantuan cahaya bulan, Yuanli menyapu pandangannya sekilas pada perempuan misterius itu. Di saat itulah Yuanli menyadari bahwa sebuah belati tengah bersemayam pada pinggang penyelamatnya.


‘Dia terluka!’ pekik Yuanli dalam hati. “Bertahanlah!” ujarnya seraya membantu perempuan di hadapannya itu untuk terduduk. Kemudian, dengan sangat berhati-hati agar tidak melukai sosok tersebut, Yuanli menggendongnya.


Dengan napas yang tersengal-sengal dan wajah yang pucat, perempuan itu berkata dengan suara lemah, “Bawa aku … menemui Huang Miaoling.”


***


Gadis itu membuka matanya, menatap langit-langit yang terlihat asing baginya. ‘Ini … di mana?’ sebuah pertanyaan khas seseorang yang baru mendapatkan kembali kesadarannya.


“Ah! Kau sudah sadar!” teriak seseorang dengan nada tinggi, seorang perempuan.


Manik cokelat terang gadis itu melirik ke kanan, menangkap keberadaan sosok yang tidak dia kenali. Namun, ketika melihat pakaian yang dikenakan sosok tersebut, gadis itu mengerutkan keningnya. ‘Aku … masih hidup?’


Tanpa banyak basa-basi, perempuan yang baru saja berteriak semangat itu berlari ke luar ruangan. “Yuanli, Mudan, orang itu sudah sadar!” Kemudian, teriakan itu disusul dengan suara gugup, “A-ah! S-salam kepada Junzhu!”


Mendengar hal ini, pelipis gadis di dalam ruangan berkedut. ‘Jun … zhu?’ dia bertanya-tanya, apakah orang yang dipanggil “Junzhu” itu merupakan orang yang ada dalam pikirannya sekarang?


Tak berapa lama, terdengar langkah kaki sejumlah orang yang menghampiri ruangan. Hal tersebut membuat manik cokelat gadis itu teralihkan ke arah pintu. Ketika pandangannya bertemu dengan manik hitam segelap malam yang tak akan pernah dia lupakan, gadis itu berusaha mengangkat tangannya.


“Ah …,” gadis itu sedikit kesulitan mengeluarkan kata-kata.


“Miaoling,” panggil Lan’er dengan suara parau. Lalu, dia tersenyum, “Atau … Yang’er?”


Mendengar candaan itu, Huang Miaoling tak bisa menahan diri untuk tersenyum dan mendengkus, “Sudah seperti ini dan kau masih bisa bercanda?”


Lan’er mengabaikan teguran Huang Miaoling, lalu mengalihkan pandangannya kepada dua orang yang berdiri di belakang sang Mingwei Junzhu. Saat pandangannya mendarat pada sosok Yuanli, gadis itu berkata, “Aku … berutang nyawa padamu.”


Yuanli tersentak dengan Lan’er yang tiba-tiba berbicara padanya. Namun, dia dengan cepat mengendalikan emosinya. Dengan satu tangan yang merengkuh kepalan tangan lainnya, dia memberi hormat kepada Lan’er, “Sebaliknya, aku berutang nyawa padamu, Nona.”


Bisa mendengar napas Lan’er yang sedikit berat, senyuman di wajah Huang Miaoling tak bertahan lama. “Istirahatlah terlebih dahulu, kau tidak terlihat baik,” tuturnya dengan wajah cemas.


Walau ucapan Huang Miaoling tidak salah, tapi Lan’er memiliki suatu hal penting yang harus dia ucapkan. “Tunggu, Miaoling, kau harus—!"


Ucapan Lan’er terhenti dan ekspresinya berubah mengernyit, seakan tubuhnya diserang rasa sakit yang sangat. Mendadak, Lan’er menepiskan tangan Huang Miaoling, membuat semua orang sedikit terkejut dan kebingungan dengan tindakan gadis itu.


“Ugh!” lenguhan yang menyuarakan penderitaan itu diiringi dengan percikan petir yang mengelilingi tubuh Lan’er.


“Lan’er!” teriak Huang Miaoling yang kebingungan dengan apa yang terjadi.


Huang Miaoling teringat bahwa ini merupakan hal yang sama seperti yang terjadi di masa lalu, di saat Lan’er berusaha membaca takdir dirinya. Tidak, percikan petir waktu itu kecil, sedangkan yang ini jauh lebih ganas!

__ADS_1


Sekilas, gambaran Lu Si yang merobek sebuah halaman buku terlintas di benak Huang Miaoling, sebuah buku yang wanita itu ingat selalu Lan’er bawa ke mana pun dia pergi. Dengan pikiran tersebut, Huang Miaoling segera bertanya kepada Yuanli dan Mudan, “Apa dia membawa sesuatu? Sebuah buku? Apa pun itu!” teriaknya panik, tapi kedua bawahannya itu hanya menggelengkan kepala cepat, tak ada yang Lan’er bawa kecuali dirinya sendiri.


Melihat hal ini, pandangan putus asa menyelimuti wajah Huang Miaoling. Dia hanya bisa menatap Lan’er yang mengerang kesakitan di atas tempat tidur.


“Lan’er! Apa yang harus kulakukan?!” teriak Huang Miaoling. Tak mendapatkan balasan, dia berusaha menyentuh Lan’er.


“Jangan!” teriak Lan’er. Di sela siksaan yang sedang dia terima, Lan’er memaksakan diri untuk menjauhkan diri dari Huang Miaoling. “Tidak ada … yang bisa kau lakukan.” Darah menuruni sisi bibirnya, tapi gadis itu kembali angkat suara, “Ini … hukuman takdir.”


Mendengar ucapan Lan’er, Huang Miaoling terperangah, begitu pula Yuanli dan Mudan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menatap pemandangan mengerikan di depan mereka.


‘Inikah yang dipanggil … petir surga?’ pikir Huang Miaoling.


Menurut legenda, seorang manusia yang berusaha berkultivasi menjadi dewa akan diberikan hukuman karena melawan garis takdir. Apakah hukuman tersebut yang sedang Lan’er lalui? Jadi, Lan’er sungguh seorang dewi?


Tak peduli apa pun itu, yang Huang Miaoling rasakan sekarang adalah amarah, sedih, dan juga takut. Sebelumnya, wanita itu mengira bahwa hal yang mampu membuat dirinya tersiksa … adalah pengkhianatan. Namun, dia baru tahu bahwa ada satu hal lain yang mampu membuat dirinya lebih menderita;


Ketidakmampuan.


Setelah beberapa waktu berlalu, petir yang memerangkap Lan’er dalam siksaan menghilang tanpa jejak. Pada tubuh dan wajah gadis berparas unik itu, hanya ada bekas luka dan ekspresi kesakitan yang tersisa.


“Hah … hah … hah …,” napas Lan’er terdengar berat, dan dirinya terlihat begitu lemah.


Melihat situasi kembali normal, Huang Miaoling segera menghampiri Lan’er. Dia menyentuh tangan Lan’er, berusaha memeriksa nadinya. ‘Ini buruk …,’ batin Huang Miaoling. Dia mengalihkan perhatian kepada Mudan, “Mudan, panggil Tabib B—”


“Berhenti,” ucapan Lan’er membuat Huang Miaoling menoleh. “Waktuku tak banyak, dan seorang tabib, bahkan bila dirinya seorang tabib dewa sekali pun, tidak akan bisa mengubah takdirku.”


Ekspresi yang terpasang di wajah Huang Miaoling terlihat sedih. Bagaimanapun, Lan’er adalah orang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Ucapan Lan’er tadi seakan mengisyaratkan bahwa dalam kehidupan ini, Huang Miaoling tak akan pernah bisa membalas budi itu.


Siapa yang akan menyangka bahwa ucapan Lan’er berikutnya akan begitu mengejutkan?


“Miaoling, kau harus membunuh Wang Chengliu.” Tangan Lan’er menggenggam erat tangan sang Mingwei Junzhu, membuat semua orang di dalam ruangan terbelalak. “Dia tak lagi bisa … diselamatkan,” gadis itu terbatuk, dan demi tidak membuat wanita di hadapannya khawatir, dengan terpaksa Lan’er menelan kembali darah yang sempat terdorong keluar, “hanya kegilaan yang tersisa dalam hatinya.”


Alis Huang Miaoling bertaut, terkejut dengan ucapan Lan’er yang sangat di luar topik. Walau sadar bahwa untuk mengakhiri kekacauan dirinya harus mengakhiri nyawa pria itu, tapi mendengar seseorang memintanya melakukan hal itu secara terus-terang membuat Huang Miaoling tak elak merasa aneh.


“Kenapa … kau ingin aku membunuhnya?” tanya Huang Miaoling dengan alis bertaut, dia bahkan sempat mengira bahwa Lan’er adalah sekutu Wang Chengliu. Selain itu, ada satu hal lagi yang membuatnya penasaran, “Siapa dia bagimu?”


Lan’er terdiam sebentar, memejamkan matanya selama sesaat. Kemudian, dia menatap lawan bicaranya dengan tajam. “Dia … adalah seseorang yang terikat hidup dan matiku,” ucapan itu membuat Huang Miaoling memasang ekspresi terkejut. “Hanya dengan membunuhnya … barulah aku mampu menebus sumpahku.”


“Sumpahmu?” Kerutan di kening Huang Miaoling terlihat semakin dalam.


Jantung Lan’er berdetak kencang, tahu bahwa sebenarnya mengatakan hal ini akan membahayakan seseorang. Namun, dia harus mengatakannya. “Sumpahku adalah … untuk memberikanmu … akhir yang bahagia.”


___

__ADS_1


A/N: ...


__ADS_2