Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 42 Langkah Berikutnya sang Kaisar


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan dengan penjagaan terketat di istana, terlihat tiga orang pria sedang berbicara dan bertukar pikiran. Dua orang terduduk di bantalan yang disediakan di depan meja yang penuh kudapan. Pria yang satunya lagi terduduk di depan meja yang menghadap ke arah pintu, menandakan dialah sang Tuan Rumah.


Tak lama kemudian, satu dari dua pria yang datang berkunjung terlihat memberi hormat kepada sang Tuan Rumah. “Pergilah, aku yakin Shufei sudah sangat merindukan ayahnya.” Kaisar Weixin menganggukkan kepalanya ke arah Huang Liqiang.


Huang Liqiang membalas, “Terima kasih atas berkahmu, Yang Mulia. Hamba pamit.” Pria itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang kerja Kaisar Weixin.


Ketika pintu tertutup, Kaisar Weixin mengalihkan pandangannya pada satu pria yang tersisa di dalam ruangan bersamanya. “Guru Besar Qing, aku yakin dirimu—dibandingkan siapa pun—tahu jelas bahwa aku mengerti maksud kedatanganmu dan Tetua Huang kemari, bukan?” tanyanya dengan mata memicing, aura yang pria itu keluarkan terasa berat dan menyesakkan dada.


Walau berhadapan dengan sang Kaisar, pemimpin dari kerajaan tempatnya tinggal untuk sementara, Qing Gangtie tidak terlihat takut. Sebaliknya, pria itu tersenyum. “Tentu,” jawabnya singkat.


Kaisar Weixin sendiri yakin bahwa sang Guru Besar adalah satu dari segelintir orang yang mengerti caranya berpikir. Namun, dia bingung mengenai alasan Qing Gangtie yang memutuskan untuk mendukung Huang Miaoling dalam insiden ini. Gadis itu jelas-jelas bertindak di luar jabatan dan kekuasaannya, mencoba untuk memaksakan kehendak kepada pemimpin negara!


Alis Kaisar Weixin bertaut. “Lalu, kenapa kau mendukung gadis itu? Walau aku tak bisa menyentuhnya karena Perdana Menteri Liang, tapi kau harusnya mengerti bahwa di kemudian hari … hal itu bisa berubah.” Dia menambahkan, “Apakah kau meragukanku sebagai pemimpin negara? Sama dengan gadis itu, kau ingin menantang kekuasaanku?!” Suaranya mulai meninggi, mengeluarkan amarah yang terpendam untuk begitu lama.


Qing Gangtie segera membungkukkan tubuhnya dengan sangat rendah. “Yang Mulia, tenanglah. Masalah-masalah yang bermunculan mulai menguasai emosimu,” jelasnya membuat Kaisar Weixin menggertakkan gigi, tahu bahwa pria tua itu tak salah.


Kaisar Weixin menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat duduknya dan memijit batang hidungnya. “Tegapkanlah tubuhmu, aku tak ingin disebut pemimpin yang menindas seorang pria tua,” ujarnya ketus. Dia mengangkat jari telunjuknya. “Aku memberikanmu satu kesempatan.” Dia mengizinkan Qing Gangtie untuk menjelaskan.


Dengan perlahan, Qing Gangtie berdiri. Dia berkata dengan nada serius, “Yang Mulia, kau adalah seorang pemimpin yang baik hati. Tanpa dirimu, kerajaan Shi tak mungkin mencapai kemakmuran untuk bertahun-tahun lamanya.” Sebuah pujian, jelas untuk meringankan efek dari ‘cacian’ yang akan segera keluar dari mulutnya. “Namun, kau tentu sadar bahwa kebaikan hatimu merupakan sebuah kekurangan?”


Kening Kaisar Weixin berkerut. “Baik hati?” Pria itu memasang wajah bertanya-tanya. “Gangtie, aku rasa kau sedang membicarakan orang lain,” balasnya sembari menyeringai, seakan baru saja mendengar sesuatu hal yang sangat konyol.


“Yang Mulia, kau mungkin tak menyadarinya. Namun, kau memiliki kelemahan terhadap anggota keluargamu,” lanjut Qing Gangtie membuat Kaisar Weixin bungkam, pancaran matanya berubah serius.

__ADS_1


Qing Gangtie memulai perkataannya dengan mengangkat nama Situ Mingmei, sang Permaisuri. Bila dibandingkan dengan kaisar-kaisar sebelumnya, Kaisar Weixin begitu memanjakan istrinya. Setiap tindakan yang pria itu ambil bisa dengan mudah dipengaruhi oleh wanita tersebut. Selama tidak merugikan negara, pria itu juga akan menyetujui tindakan wanita itu.


Dengan keleluasaan dan kelonggaran peraturan yang dianugerahkan Kaisar Weixin kepada istri sahnya itu, Permaisuri Mingmei bisa saja menjungkirbalikkan kerajaan Shi selagi dia ingin. Namun, beruntung wanita itu bukanlah seseorang yang dikuasai ego dan memiliki otak yang tersumbat. Dengan begitu, dia masih mengedepankan kemakmuran negara dan memikirkan dengan matang efek tindakannya terhadap pemerintahan suaminya. Kalau tidak, Qing Gangtie tak akan heran apabila api pemerintahan Kaisar Weixin akan dengan cepat padam.


Lalu, Qing Gangtie berpindah pada perlakuan Kaisar Weixin kepada para putra-putrinya. Walau tindakan yang paling mencolok adalah perlakuan sang Pria Agung yang memanjakan putri satu-satunya itu—Wang Qiuhua—tapi banyak orang bisa melihat betapa besarnya kasih sayang sang Kaisar pada para putranya juga.


Lihat bagaimana Kaisar Weixin tidak mengambil tindakan keras terhadap perilaku Wang Junsi yang mencoreng nama baik kerajaan beberapa waktu silam. Lalu, tindak lanjut dari perzinaan Wang Zhengyi dengan Huang Wushuang yang hanya berupa pernikahan dan pemotongan gaji. Ada pula Wang Chengliu yang bertindak di luar kekuasaan dengan menghubungi kerajaan Zhou untuk bekerja sama. Bahkan karena Wang Xiangqi, Kaisar Weixin tak berani mengambil tindakan kepada Li Guifei. Yang terakhir, niat Kaisar Weixin untuk mempertahankan posisi Wang Wuyu di kerajaan Shi setelah pangeran itu berusaha membunuh saudaranya sendiri!


“Yang Mulia, sifatmu sudah terbaca jelas oleh semua orang, dan itu menjadi kelemahan terbesar kerajaan,” jelas Qing Gangtie dengan prihatin. Pria itu menggelengkan kepalanya. “Menutup sebelah mata atas kesalahan karena mereka putra-putramu bukanlah cara yang baik, dan Mingwei Junzhu menyadari hal tersebut.” Qing Gangtie melanjutkan, “Gadis itu juga bisa membaca jelas kalau alasanmu menikahkan Putri Qiuhua ke kerajaan Zhou didasari pada keinginanmu untuk melindunginya dari peperangan internal kerajaan Shi yang akan segera terjadi.” Helaan napas kabur dari bibir pria itu. “Tindakan-tindakan yang diambil gadis itu menutupi kelalaianmu.”


Kaisar Weixin membanting tangannya ke atas meja. “Qing Gangtie! Kau bermaksud untuk berkata gadis kecil itu adalah pemimpin yang lebih baik dibandingkan diriku?!” bentaknya, wajahnya memerah karena marah dan tersinggung.


Mata Qing Gangtie memancarkan sebuah keyakinan. “Bukankah alasanmu mengangkatnya menjadi seorang Junzhu juga didasari kenyataan tersebut? Kau ingin menjadikannya salah satu penasihat yang mampu membantumu mengatur negara, sama seperti Menteri Huang.” Jantungnya berdebar, mulai khawatir kalau ucapannya berlebihan. “Yang Mulia, bukalah matamu. Gadis itu sangat penting untuk keberlangsungan kerajaan Shi. Dibandingkan menyingkirkannya, lebih baik menariknya dekat di sisimu.”


Bagaimana mungkin Kaisar Weixin tidak marah?! Harga dirinya terluka!


Namun, sesuai pengertian Qing Gangtie terhadap sang Kaisar, pria itu adalah orang yang pada dasarnya memiliki hati yang lembut. Bahkan setelah menghinanya sejauh itu, Kaisar Weixin masih bisa mengendalikan diri untuk tidak memanggil pengawal dan memenggalnya di tempat.


Qing Gangtie menghela napas dalam hati. ‘Ini gila. Di umur ini, aku malah bermain dengan kematian,’ batinnya.


Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Kaisar Weixin menutup matanya. Getaran pada tubuh pria itu perlahan mereda. “Jadi, itu alasanmu atas keputusan untuk bekerja sama dengan Huang Miaoling dan menyingkirkan Wuyu?” tanyanya dengan nada tenang yang mengerikan.


“Tidak semata-mata karena hal tersebut,” jawab Qing Gangtie dengan jujur. Jawabannya membuat sang Kaisar memicingkan mata, penasaran setengah bingung dengan keberadaan alasan lain. “Yang Mulia, seperti yang kuucapkan tadi, aku yakin kau telah merasakan bahwa perseteruan internal akan segera terjadi." Pria itu melanjutkan, "Aku juga yakin hal ini tak terlepas dari perubahan para pangeran, bukan begitu?”

__ADS_1


Sebenarnya, Huang Miaoling telah menjelaskan kepada Qing Gangtie tentang perkiraannya terhadap masalah yang akan segera terjadi di kerajaan Shi. Sang Pangeran Mahkota, Wang Zhengyi, yang awalnya begitu percaya diri dan berambisi terhadap takhta entah kenapa terasa semakin menjauh dari panggung. Di sisi lain, Pangeran Keempat dan Pangeran Keenam menjadi semakin bersinar. Itu jelas akan menimbulkan keresahan dalam pemerintahan.


Penerus takhta seakan kehilangan ambisi selagi saudara-saudaranya seakan berlomba-lomba untuk berdiri di tengah panggung dengan pencapaian mereka!


Titik awal masalah sebenarnya telah lama terjadi, yaitu usaha Wang Wuyu untuk menjatuhkan keluarga Huang dengan bantuan keluarga Li serta menyingkirkan saudara-saudaranya. Sebagai salah satu penyulut masalah, pria itu harus segera ditangani, dan Huang Miaoling telah berhasil melakukannya.


Namun, apakah hal tersebut cukup untuk menghentikan perseteruan dari sosok-sosok lain?


Ha! Kalau semudah itu, untuk apa Huang Miaoling menjulurkan tangannya kepada Qing Gangtie dan kerajaan Zhou?


Walau posisi Wang Wuyu sebagai pangeran telah ditarik, tapi masih ada empat pangeran lain yang tersisa. Bahkan bila Wang Zhengyi tak ingin lagi bersaing, tapi tiga pangeran lainnya tentu tak akan dengan mudah mundur. Ah, singkirkanlah Wang Junsi dari perumpamaan ini karena pria itu tak peduli dengan takhta.


Ambisi Wang Chengliu untuk naik ke atas takhta diketahui jelas oleh Huang Miaoling, pria itu sudah mulai menunjukkan taringnya. Di sisi lain, ada juga Wang Xiangqi yang sebenarnya tak ingin duduk di atas takhta, tapi terdorong kuat oleh keinginan ibundanya. Kedua orang ini akan menjadi sosok-sosok terkuat yang mampu mengombang-ambing kerajaan Shi.


Masalah tak bisa dihindari, tapi harus ditangani. Jika Kaisar Weixin sungguh ingin melakukan itu, satu-satunya cara adalah dengan mengendalikan putra-putranya. Habisi ambisi Wang Chengliu dan hapus keberadaan Li Guifei dari sisi Wang Xiangqi. Jalan untuk melakukan kedua hal tersebut telah dibuka lebar oleh Huang Miaoling.


Dengan menyingkirkan Wang Wuyu ke Kun Lun dan menarik posisinya, Li Guifei tak lagi memiliki sekutu. Kematian Xiaoye juga menandakan hancurnya jembatan yang menghubungkan Pasukan Kematian dengan sang Selir Agung. Bukti yang melibatkan Li Guifei dengan Wang Wuyu juga sudah disediakan. Maka dari itu, hanya perlu satu ucapan dari Kaisar Weixin untuk menyingkirkan wanita berbisa itu beserta antek-anteknya dari kerajaan Shi.


Mengenai Wang Chengliu, status Raja Hui yang diberikan Kaisar Weixin pada putranya itu mempersulit Huang Miaoling dari menangani pria tersebut. Namun, surat yang dititipkan Huang Miaoling kepada Qing Gangtie untuk sang Kaisar Zhou diharapkan akan membantu mengekang sumber daya pria tersebut. Selain itu, peringatan yang diberikan gadis itu kepada Permaisuri Mingmei jelas akan sangat membantu memperkecil ruang gerak Wang Chengliu. Apabila sang Pria Agung mendukung tindakannya, maka mengendalikan Wang Chengliu bukanlah hal yang begitu sulit.


Melihat ekspresi kesulitan di wajah Kaisar Weixin membuat Qing Gangtie mengerti, pemimpin kerajaan Shi itu telah menyadari maksud tindakan Huang Miaoling. “Dengan semua hal yang telah terjadi, apa langkah berikutnya yang akan Yang Mulia ambil?” tanya Qing Gangtie dengan mata tajam. ‘Huang Miaoling, sebaiknya langit sungguh memihakmu. Karena jika tidak, maka bukan hanya kepalamu yang akan bergelinding, melainkan seluruh orang yang terlibat.’ Kedua maniknya yang berwarna cokelat tua bergetar. ‘Dan, aku mungkin menjadi korban pertamanya.’


 

__ADS_1


 


__ADS_2