Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 141 Pengkhianatan


__ADS_3

Melihat kematian Nanhan Ding, Hudie mengernyitkan wajahnya. Dia merasa begitu kesal dan marah karena pria tersebut berani mengambil tindakan gila dengan mengkhianati Wang Chengliu.


Hudie dengan cepat melirik ke arah Li Changsheng, mendapati pria itu sedang menghunuskan pedang, terlihat begitu berhati-hati padanya.


“Berapa banyak?” tanya Hudie, tapi hanya keheningan yang menjadi balasan. “Demi langit, Keturunan Li,” makinya seraya menyisir rambut ke belakang dengan frustrasi, “kau tahu tujuan majikanku. Hanya karena orang kecil yang berusaha menjadi besar, kau akan mencurigai sekutumu?”


Setelah beberapa detik dipenuhi keraguan, Li Changsheng akhirnya menjawab, “Terlalu banyak, kita tak akan bisa melawan.”


Mendengar jawaban Li Changsheng, Hudie mendecakkan lidah. Suara teriakan dan pedang yang beradu dari luar semakin lama semakin jelas.


Hudie memaki dalam hati, ‘Sial!’ Kemudian, dia kembali menatap Li Changsheng dengan saksama. “Dari semua tempat yang bisa kau jadikan tempat persembunyian, kau malah datang kemari.” Dia memicingkan matanya. “Ada jalan tersembunyi di sini, bukan begitu?” tanyanya.


Li Changsheng mengeraskan ekspresinya, dan hal tersebut terbaca jelas oleh Hudie yang tersenyum. Perubahan ekspresi itu berarti ucapannya benar.


“Tunjukkan padaku.”


Li Changsheng tertawa. “Lalu membiarkanmu membunuhku? Aku bukan orang bodoh, Hudie,” ujarnya.


Li Changsheng tahu jelas dirinya tidak lagi berguna untuk pihak Wang Chengliu. Mengenal Hudie dan juga loyalitasnya yang tidak masuk akal, pria berparas wanita itu pasti akan membunuhnya.


Lebih sedikit jumlah orang yang mengetahui rencana Wang Chengliu, maka lebih baik. Itu pasti hal yang berada di pikiran Hudie.


Hudie menggeram rendah, ini bukan saat yang tepat untuk berdebat


“Dibandingkan saling melawan, Yang Mulia akan lebih memilih untuk bersekutu,” balas Hudie. “Masih ada begitu banyak pendukung He Wudi yang masih hidup di luar sana, dan mereka hanya bersedia mengikuti perintah dengan kehadiranmu.” Hudie merentangkan tangannya dengan gaya acuh tak acuh. “Lagi pula, pada saat ini, Yang Mulia jelas telah mengambil kendali atas Kerajaan Shi.”


“Apa kau bilang?” tanya Li Changsheng dengan alis berkerut. “Apa maksud ucapanmu itu?”


Tepat pada saat itu, terdengar suara dentuman pada bagian luar pintu. “Pintu ini terkunci! Mereka pasti di dalam!” teriak seseorang yang kentara tidak berada di pihak rombongan Hudie maupun Li Changsheng.


Melihat hal tersebut, sikap acuh tak acuh Hudie segera menghilang. “Kita tidak punya waktu,” geramnya, mendorong Li Changsheng untuk mengambil keputusan.

__ADS_1


“Katakan apa maksudmu!” balas Li Changsheng, tidak ingin mundur sebelum mendapatkan kepastian.


Tatapan Hudie berubah menjadi sangat dingin, tapi dentuman dari gerbang halaman membuatnya menggertakkan gigi. “Pangeran Keenam berencana merebut takhta dengan membunuh Kaisar Shi, dan setelah itu dia akan menyingkirkan semua orang yang menghadang jalannya. Seharusnya, hal tersebut telah terlaksana dan pasukan Zhou akan mengarah kemari.”


“Zhou?”


Dentuman yang kembali terdengar membuat Hudie mengepalkan tangannya. “Pangeran Keenam merupakan orang yang memiliki hubungan darah dengan Raja Zhou terdahulu, dan hal itu menjadikannya pewaris sah takhta Kerajaan Zhou.”


Mendengar hal itu, Li Changsheng pun membelalak. ‘Tidak heran dia berjuang keras untuk mengendalikan Wu!’


Sekarang, Li Changsheng akhirnya paham. Bukan hanya Wang Chengliu memiliki ambisi dan kemampuan yang mengerikan, tapi dia memiliki dukungan yang luar biasa. Dia adalah penerus Raja Zhou yang juga memiliki hak untuk mewarisi takhta Shi!


‘Hanya dengan menjatuhkan Wu barulah dia bisa menjadi penguasa Dataran Timur yang sebenarnya!’ seru Li Changsheng dalam hati, menyadari tujuan besar Wang Chengliu. ‘Langkah demi langkah dia ambil tanpa tercium siapa pun, pria yang begitu mengerikan.’


Satu dentuman kencang kembali terdengar dari gerbang kayu, menyebabkan retakan, pertanda gerbang akan segera jatuh. Hal itu membuat dua prajurit yang datang bersama dengan Li Changsheng sedikit merengek meminta belas kasihan Li Changsheng, “Y-Yang Mulia.”


Hudie menjadi semakin panik dan berakhir berseru, “Apa masih belum cukup, Li Changsheng?! Kalau aku tidak berpihak padamu, untuk apa aku mempercayai ucapanmu dan membunuh Nanhan Ding?!”


Semua orang berjalan mengikuti Li Changsheng ke dalam sebuah ruangan. Mantan Raja An itu menghampiri sebuah rak buku dan menarik salah satu buku, menampakkan sebuah tuas.


Setelah Li Changsheng menarik tuas tersebut, rak buku tersebut bergeser, menunjukkan sebuah pintu rahasia.


‘Sungguh ada ruangan rahasia!’ pekik Hudie dalam hati. ‘Membunuh Nanhan Ding sebagai ganti jalan keluar, transaksi yang masih cukup menguntungkan,’ ujar pria itu sembari tertawa bangga terhadap dirinya sendiri.


Rombongan Hudie mengikuti Li Changsheng masuk ke dalam jalur rahasia tersebut. Sesampainya pada anak tangga terakhir, Li Changsheng menarik sebuah tuas lain yang berakhir menutup pintu rahasia di belakang mereka.


“Hanya ada satu jalan keluar dari tempat ini. Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan pernah berharap untuk bisa keluar dari tempat ini,” ancam Li Changsheng, membuat Hudie memicingkan matanya, tidak senang.


Suara kekacauan di luar sama sekali tidak terdengar, hanya ada kesunyian dan langkah kaki sejumlah orang yang mencari jalan keluar. Dengan panduan Li Changsheng, Hudie bersama para bawahannya menyusuri lorong bawah tanah yang entah berujung di mana. Selain remang tungku kecil yang dibawa sang mantan Raja An untuk penerangan, tidak ada cahaya lain yang masuk ke dalam tempat tersebut.


Selagi berjalan, salah seorang prajurit berkata, “Ada bau aneh.”

__ADS_1


Ucapan tersebut membuat prajurit lain mendecakkan lidah, merasa pernyataan temannya sangat bodoh. “Tentu saja tempat ini memiliki bau aneh. Sudah berapa lama sejak ada yang melewati tempat ini, hah?” balasnya membuat kawannya itu bungkam. “Selain itu, Yang Mulia membawa tungku kemenyan bersamanya.”


Li Changsheng terdiam, tidak menggubris ucapan para prajurit tersebut. Seluruh fokusnya sedang berkumpul pada sosok Hudie yang berjalan dalam diam di belakangnya. Dia yakin bahwa pria itu sedang memikirkan cara untuk membunuhnya ketika mereka keluar dari sini.


Setelah berjalan untuk sekian lama, muncul kembali rentetan anak tangga yang berujung pada sebuah pintu di langit-langit jalur rahasia. Seorang prajurit menawarkan diri untuk membukanya, tapi Li Changsheng menolak.


“Kalau kau hanya mendorongnya, maka kau hanya akan menyalakan perangkap dan kehilangan kepalamu,” jelas Li Changsheng seraya memberikan tungku kemenyan kepada salah seorang prajurit. “Hanya keluarga kerajaan yang mengetahui cara membuka pintu ini.”


Hudie memperhatikan bagaimana Li Changsheng memutar pegangan yang berada pada pintu di langit-langit. Kemudian, melihat pria itu menarik benda tersebut dan membuatnya terlepas dari pintu membuat Hudie mendesis, “Apa kau berusaha untuk mengubur kita semua di sini?”


Li Changsheng mengabaikan celetukan Hudie dan mendorong pintu ke arah luar. Cahaya matahari pun menghujani orang-orang tersebut, membuat mereka menghela napas lega karena ternyata sang mantan Raja An sungguh mampu membuka pintu tersebut.


Dalam satu kedipan mata, Li Changsheng mendorong tubuhnya keluar dari tempat itu, mengejutkan Hudie dan para prajurit. Mereka mengira bahwa Li Changsheng akan mengunci mereka di lorong bawah tanah.


Ketika Hudie berniat untuk melompat keluar, dia melihat sebuah tangan terulur ke arahnya.


“Naik,” ujar Li Changsheng dari atas.


Melihat bantuan yang ditawarkan, Hudie merasa ingin tertawa, terutama karena dia berniat untuk segera membunuh Li Changsheng setelah ini. Namun, dia tidak menolak berkah dan menggenggam tangan sang mantan Raja An dengan erat.


Ketika dirinya berhasil menginjakkan kaki di luar lorong rahasia, Hudie menepuk-nepuk beberapa bagian pakaiannya yang terkena debu. Dia pun mengangkat pandangannya, berniat untuk berbasa-basi, “Kerja ba—!" Namun, tak sempat dia menyelesaikan ucapannya, suara besi tajam yang menembus kain dan daging tiba-tiba terdengar.


Suara lenguhan rendah dari luar lorong membuat prajurit yang sedang berusaha keluar langsung mengangkat pandangan. Sekejap, dia pun membeku dengan wajah diselimuti kengerian. “Ketua!” teriaknya.


Di hadapan prajurit itu, terlihat sosok Li Changsheng tengah menusuk pundak Hudie dengan pedang di tangannya. Pria itu tanpa belas kasihan menarik pedang tersebut kembali, memaksa lawannya untuk mengambil beberapa langkah mundur sebelum berakhir berlutut di tanah.


Dengan rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya, Hudie menggeram dengan mata melotot ke arah li Changsheng. “L-Li … Changsheng! Kau pengkhianat yang sebenarnya!?”


Sebuah senyuman terpampang di wajah Li Changsheng. Di waktu yang bersamaan, muncul sejumlah prajurit Huang dan Liang yang mulai mengerumuni dirinya dan Hudie.


“Aku tidak pernah berkhianat, Hudie.” Ekspresi Li Changsheng perlahan berubah serius. “Sedari awal … aku tidak pernah berada di pihak kalian.”

__ADS_1


__ADS_2