Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 172 Bukan Akhir yang Dia Inginkan


__ADS_3

Ucapan Wang Chengliu tersendat, darah memenuhi kerongkongannya. “Kenapa …?”


Kenapa wanita itu begitu kejam?!


Kenapa dia tidak mengerti bahwa semua ini dilakukan Wang Chengliu agar mereka bisa bersama?!


Kenapa dia harus menggagalkan semuanya ketika hanya perlu satu langkah lagi bagi Wang Chengliu untuk mengulang kembali waktu dan membenarkan semuanya!?


Di saat ini, Liang Fenghong melihat sepasang manik Lan’er yang menatap lurus dirinya. Seakan menangkap maksud gadis itu, Liang Fenghong menarik pedangnya dari tubuh Lan’er dan Wang Chengliu. Tidak ada tenaga, tubuh keduanya pun langsung jatuh berlutut di tanah.


Satu tangan Wang Chengliu masih menggenggam erat pangkal pedang yang menembus tubuh Lan’er. Sedangkan kedua tangan Lan’er masih memeluk Wang Chengliu dengan erat.


“Aku … membencimu …,” geram Wang Chengliu dengan tangan bergetar.


Pria itu merasa alasan seluruh rencananya menjadi kacau bukanlah karena orang lain, tapi karena Lan’er sendiri!


“Tidak sedikit pun kau berjuang untuk ‘kita’!”


Padahal, Wang Chengliu melakukan semua itu untuk menciptakan hidup bahagia dengan gadis tersebut.


“Aku … lelah ….”


Ucapan tersebut membuat tautan alis Wang Chengliu mengerat. Manik semerah darahnya beralih pada sosok yang menyandarkan kepala di pundaknya itu.


“Tiga kehidupan … mungkin bukan apa-apa bagimu,” ujar Lan’er dengan napas tersengal. Wajahnya menampakkan ekspresi pahit. “Akan tetapi … tidak bagiku yang telah mengulang kehidupan untuk ratusan kali ….”


Mata semua orang terbelalak.


Ratusan kali?!


Jadi, Lan’er bukan hanya mengulang kehidupan sebanyak tiga kali bersama mereka?!


“Di setiap kehidupan, kita … selalu berakhir sama, Wang Chengliu …,” bisik Lan’er seiring dirinya menutup mata. “Takdir … tidak mengizinkan kita bersama ….”


“Apa … maksudmu?” Wang Chengliu mengerutkan keningnya, menuntut jawaban.

__ADS_1


Pertanyaan Wang Chengliu membuat Lan’er menutup mata. “Aku … sudah menyerah ….”


“Lan’er, kau—!”


Tepat pada saat itu, tangan Lan’er yang berada di belakang punggung Wang Chengliu mulai bersinar.


Merasa ada yang aneh, Wang Chengliu berniat melepaskan diri. Akan tetapi, selain darah yang terus mengalir keluar dari lukanya, kesadaran yang memudar membuat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa.


Alhasil, pria itu hanya bisa menerima nasib dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Lan’er. Kemarahan dalam dirinya membuat pria tersebut menggigit leher gadis itu dengan kuat, membuat Lan’er meringis.


Di waktu yang bersamaan, Huang Miaoling dan Liang Fenghong merasakan tanah di sekitar mereka bergetar.


“A-apa yang terjadi?!” pekik Huang Miaoling. “Gempa!?”


Liang Fenghong melihat bagaimana sebuah retakan dari area Wang Chengliu dan Lan’er berada mulai menyebar ke sekeliling kediaman. Dia pun langsung menghampiri sang istri.


“Kita harus pergi dari sini!”


“Tapi, Lan’er?!” Huang Miaoling menatap sosok Lan’er yang berada di tanah dengan Wang Chengliu.


“Lan’er!” teriak Huang Miaoling seiring dirinya dipaksa pergi oleh Liang Fenghong.


Tampak Lan’er membuka matanya, maniknya telah sepenuhnya redup dan berubah menjadi cokelat gelap layaknya manik milik manusia biasa, pertanda kekuatannya telah sepenuhnya dikerahkan.


Namun, bibir gadis yang pucat itu menyunggingkan senyuman yang begitu lembut.


Menatap senyuman itu, Huang Miaoling pun langsung mengerti.


Ini … adalah akhirnya.


Alhasil, Huang Miaoling hanya bisa mengeraskan hati dan berlari keluar meninggalkan kediaman tersebut.


Gempa yang keras menyebabkan gedung-gedung di kediaman tersebut runtuh satu per satu.


Seakan tak cukup parah, retakan di tanah kediaman menjadi semakin besar dan mulai menelan segala hal yang ada di tempat tersebut.

__ADS_1


“Sedikit lagi!” teriak Liang Fenghong yang menarik Huang Miaoling untuk berlari menuju pintu keluar kediaman.


Hanya dua inci di belakang tiap langkah kaki mereka, tanah mulai amblas seperti terhisap ke bawah.


Di saat keduanya menapak tanah di luar area kediaman, cahaya membutakan bersinar menyelimuti area kediaman. Tepat di saat itu juga, tanah seluruh area kediaman hancur ke bawah, seperti terhisap bumi.


Hanya ketika cahaya membutakan itu hilang, barulah Huang Miaoling dan Liang Fenghong yang berhasil selamat berbalik untuk menatap apa yang terjadi.


“Ini—”


Keduanya berakhir dikejutkan dengan bagaimana tempat yang tadinya merupakan kediaman Lan’er telah berubah menjadi lubang besar, serupa area yang baru saja terkena bencana longsor.


Ketika Huang Miaoling dan Liang Fenghong bertanya-tanya mengenai apa yang baru saja terjadi, sebuah suara bergema di dalam benak mereka.


‘Semua sudah berakhir …, terima kasih Naga dan Feniks-ku.’


Mendengar suara itu, Huang Miaoling berakhir terjatuh ke tanah. “Lan’er ….” Air mata menuruni wajahnya.


Entah kenapa … ada ketidakrelaan dalam hatinya.


‘Sungguh harus berakhir seperti ini?’ batin Huang Miaoling dalam hatinya.


Di sisi lain, Liang Fenghong juga memerhatikan lubang besar di depan mata. Semuanya hilang tanpa ada sisa … seakan tempat yang baru saja dia lihat hanyalah halusinasi belaka.


Satu kenyataan yang harus dirinya dan Huang Miaoling hadapi saat ini ….


“Ini bukan akhir yang dia inginkan …,” ucap Liang Fenghong dengan helaan napas berat. “Tapi … hanya ini akhir yang bisa dia berikan ….”


___


A/N: Setelah procrastination untuk berhari-hari, akhirnya dapat ilham ngakhirin cepetnya gimana hahaha :")


Sorry guys kalau tidak memuaskan, tapi yang penting karyanya aku tutup ya >< walau dipercepat, semoga semuanya terjawab.


Bisa dilist di komen yang belum terjawab apa aja okeey! Siapa tahu kalau belum terjawab di main story, aku buatkan ekstra part hehe

__ADS_1


__ADS_2