
Detik ketika Huang Miaoling mendengar nama Hudie disebut, matanya langsung berbinar. “Kalian menangkap Hudie?” Detik berikutnya, pandangannya berubah abu. ‘Tunggu, mereka hanya menangkapnya? Tidak membunuhnya?’
Huang Miaoling bisa menduga alasan Li Changsheng untuk tidak langsung membunuh pria berparas wanita itu. Itu semua jelas karena perintah Liang Fenghong. Suaminya itu pasti merasa bahwa Hudie menyimpan sebagian besar rahasia Wang Chengliu, jadi dia berniat untuk mengeluarkan sebanyak-banyaknya jawaban dari pria tersebut.
‘Namun, layakkah?’ batin Huang Miaoling.
Seakan mengerti maksud tatapan Huang Miaoling, Liang Fenghong menghela napas. “Menangkap pria itu adalah sebuah keputusan buruk.”
Huang Miaoling bisa melihat wajah Liang Fenghong mengeras. ‘Inikah … awal kesalahannya?’
Liang Fenghong menutup matanya, mengingat apa yang terjadi setelah Li Changsheng berhasil menangkap Hudie.
“Pasukan musuh telah didorong keluar dari ibu kota. Di sisi lain, para kepala daerah bersatu untuk membantu pasukan Liang mengamankan kerajaan,” jelas seorang pria yang tak lain adalah Li Changsheng.
Wu Huatai yang terbaring di tempat tidur tersenyum. “Kalian telah berjuang,” ujarnya sembari menatap Li Changsheng dan Liang Fenghong secara bergantian.
Liang Fenghong yang baru saja selesai memeriksa keadaan Wu Huatai langsung berkata, “Yang Mulia, beristirahatlah. Jangan terlalu memikirkan masalah pemerintahan terlebih dahulu. Serahkan semuanya kepada kami.”
Melihat wajah Liang Fenghong tanpa ekspresi, Wu Huatai merasa tidak percaya bahwa beberapa hari yang lalu pria itu sempat menangis untuk dirinya.
Wu Huatai menganggukkan kepala dan berkata, “Dengan Changsheng dan juga dukungan Keluarga Liang, aku percaya semuanya akan baik-baik saja.”
“Kalau demikian, aku mengundurkan diri,” ujar Liang Fenghong sembari memberi hormat. Li Changsheng pun mengundurkan diri bersamanya.
Setelah meninggalkan ruangan Wu Huatai, Li Changsheng berkata kepada Liang Fenghong, “Penasihat Liang, bisa aku meminta waktumu untuk sesaat?”
Liang Fenghong tidak berkata banyak dan hanya menganggukkan kepala.
Setelah mereka berada cukup jauh dari ruangan Wu Huatai, Li Changsheng langsung berterus-terang, “Aku rasa ... akan lebih baik membunuh Hudie sekarang.” Dia menambahkan, “Pasukan musuh sudah hampir berada di luar tembok, itu berarti Kerajaan Wu telah aman. Sebagai orang yang bertanggung jawab untuk mengambil alih kendali atas Wu, informasi yang Hudie miliki sebagian besar pasti berhubungan dengan Kerajaan Wu, bukan hal lain.”
Liang Fenghong tahu bahwa membiarkan Hudie hidup membuat Li Changsheng merasa tersiksa. Pria itu tidak bisa merasa lega sebelum dia membalaskan kematian Permaisuri Tianzhen! Akan tetapi ....
“Selama pria itu berada di daerah istana, aku merasa tidak tenang,” ucap Li Changsheng jujur, mengalihkan pandangan kepada Liang Fenghong. “Kau mempertahankan Hudie demi melawan Wang Chengliu, itu tidak salah. Namun, aku harap kau tidak lupa bahwa pilihanmu bisa membawa bahaya bagi Kaisar,” ucap pria itu.
Liang Fenghong menutup matanya, mencoba untuk berpikir dengan tenang. Ucapan Li Changsheng memang benar, kalau tidak bisa mendapatkan apa pun dari Hudie, maka membunuhnya adalah pilihan yang lebih baik.
Akhirnya, Liang Fenghong menganggukkan kepalanya. “Aku akan menurunkan perintah untuk menjalan eksekusi esok pagi.”
Ekspresi Li Changsheng sekejap berubah terang, merasa sedikit lebih lega karena ancaman terdekat akan segera menghilang. “Apa langkahmu setelah ini?” tanya Li Changsheng. “Kembali ke Shi?”
Liang Fenghong mengangkat pandangannya ke langit sembari berkata, “Ya.” Manik hitam pria tersebut memantulkan cahaya bulan, terlihat begitu menghipnotis.
__ADS_1
Pandangan Li Changsheng beralih ke ruangan tempat Wu Huatai berada. “Kondisi Kakak tidak baik, dan aku yakin kau tahu itu.” Dia menatap kembali wajah Liang Fenghong. “Kau perlu meneruskan takhta.”
Ucapan Li Changsheng membuat Liang Fenghong menoleh dengan cepat, matanya membelalak terkejut. “Raja An, apa yang kau bicarakan?!” Dia tidak bisa menahan diri untuk melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar apa yang baru saja dikatakan lawan bicaranya itu.
Liang Fenghong mengepalkan tangannya, seakan bersiap akan sesuatu hal untuk menyerangnya. Namun, setelah sekian lama terdiam dan tidak ada yang terjadi, keningnya pun berkerut.
Sementara itu, melihat tingkah konyol lawan bicaranya, Li Changsheng mendengus mengejek. Dia yakin ini pertama kalinya Liang Fenghong bersikap manusiawi di hadapannya.
“Apa kau kira aku tidak tahu?” tanya Li Changsheng, menatap sang Penasihat Liang dengan senyum tipis. “Wu Fenghong, kau terlalu meremehkanku.”
Mengesampingkan pertanyaan yang sempat hinggap di benaknya, wajah Liang Fenghong mengeras. “Sejak kapan?” Dalam hati, dia bertanya-tanya berapa banyak orang yang sebenarnya mengetahui hal ini.
Pandangan Li Changsheng beralih ke arah lain, menghindari tatapan Liang Fenghong ketika dirinya menjawab, “Ketika Ibunda berada di dalam penjara.” Dia berdeham, “Aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Nona Hua— Mingwei Junzhu.”
‘He Wudi …,’ batin Liang Fenghong dalam hati. Kemudian, dia berkata, “Aku tidak akan pernah meneruskan takhta.”
Jawaban ini berhasil membuat alis Li Changsheng tertaut. “Apa? Kenapa?”
Satu tarikan napas dalam diambil oleh Liang Fenghong. Dia pun menjawab, “Karena aku—"
Sebelum Liang Fenghong menyelesaikan ucapannya, dia mendengar suara gaduh dari dalam ruangan Wu Huatai. Hal tersebut membuat dirinya dan Li Changsheng menoleh dengan cepat sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam ruangan.
“Apa yang terjadi?” tanya Li Changsheng kepada Wu Huatai yang terduduk di pinggir tempat tidurnya dengan pandangan khawatir, terlihat ingin berdiri walau tidak bisa.
Wu Huatai mengangkat pandangannya, menatap kedua saudaranya dengan bingung dan sedikit panik. “Periksa mereka! Mereka tiba-tiba saja terjatuh dan tak sadarkan diri.”
Liang Fenghong langsung melaksanakan perintah kakaknya. Ketika memeriksa salah satu prajurit, dia mengerutkan kening. Dia pun berpindah untuk memeriksa nadi prajurit yang lain, dan kerutan di dahinya pun semakin dalam.
“Ada apa dengan mereka?” tanya Li Changsheng yang berada di sebelah Liang Fenghong.
“Mereka … tertidur,” jawab Liang Fenghong dengan nada aneh, merasa sangat kebingungan. “Bagaimana—”
“Hong’er! Di belakangmu!”
Teriakan Wu Huatai membuat Liang Fenghong bergegas berdiri dan berbalik. Hal tersebut diikuti dengan siulan nyaring benda tajam yang berayun membelah udara. Suara kain dan kulit yang teriris pedang terngiang di telinga sang Penasihat Liang, begitu pula dengan teriakan sang saudara yang begitu histeris.
“Hong’er!”
Ketika dirinya perlahan sadar dari keterkejutan, Liang Fenghong mendapati dirinya telah berada di lantai dengan luka besar menganga di tubuhnya. Darah terus mengalir keluar dengan deras, dan rasa sakit yang menyelimuti diri membuat pria tersebut tak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.
“Changsheng!”
__ADS_1
Teriakan tersebut membuat Liang Fenghong mengalihkan pandangannya, menangkap sosok Li Changsheng membentur tembok dengan pedang menancap di pundaknya. Sepertinya, pria tersebut juga tak bisa menghindari serangan kejutan yang mendadak datang.
Sembari menarik pedang keluar dari tubuh Li Changsheng, sang penyusup mengalihkan pandangan ke arah Wu Huatai, mengizinkan Liang Fenghong untuk menatap jelas wajahnya. “Giliranmu, Kaisar Huatai,” ujar pria tersebut dengan sebuah senyuman keji.
‘Hu ... die ...!?’ teriak Liang Fenghong dalam hati, mulai merasa panik dengan kehadiran yang tidak terduga itu.
Bagaimana mungkin?
Hudie seharusnya berada di dalam penjara! Kenapa dia bisa di sini?
Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Liang Fenghong, tapi tidak ada yang bisa menjawabnya.
Liang Fenghong berusaha untuk meraih pedang yang berada di sisinya. Akan tetapi, lengannya tidak bisa digerakkan.
Tanpa membuang waktu, Hudie segera melesat ke arah Wu Huatai. Dia menghunuskan pedangnya, bersiap untuk menancapkan senjata itu ke jantung targetnya.
Liang Fenghong menggertakkan giginya, berusaha sekuat tenaga untuk bergerak. Namun, dia sungguh tidak mampu berbuat apa pun!
Dengan mata yang memerah, Liang Fenghong berteriak dalam hati, ‘Kakak!’
___
A/N:
Hi, semuanya. Kembali lagi dengan Luke.
Pasti banyak dari kalian yang bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Luke? Apa dia sehat-sehat aja? Apa dia udah nyerah nulis Phoenix Reborn? Atau mungkin dia sempat berpikir untuk menghilang sepenuhnya dari dunia kepenulisan?
Jawabannya:
Yes, Author sehat, puji syukur.
No, gak nyerah nulis Phoenix Reborn.
Yes, sempat berpikir untuk menghilang sepenuhnya dari dunia kepenulisan.
Kenapa?
See you in the next chapter :)
Extra note: Sayang kalian yang masih bertahan
__ADS_1