
“Ha ha ha, Nona Muda, kau begitu mahir bercanda,” ujar seorang wanita tua sembari tersenyum ke arah tamunya. “Aku tak pernah tahu kalau putraku memiliki kenalan sepertimu.”
Mendengar tawa ibunya dari luar halaman, Shao Yanjun mengerutkan kening. Dia bergegas memasuki halaman tempat tinggal Rong Xia, dan dia pun melihat seorang wanita muda berpakaian mewah yang familier sedang berbincang dengan sang Ibu di kursi taman.
“Ibu,” panggil Shao Yanjun membuat wanita tua itu menoleh. Ada ekspresi tidak senang dari wajah sang ibu, dan hal itu membuat sang Menteri Kehakiman kebingungan.
“Yanjun! Bagaimana mungkin kau membiarkan wanita muda ini menunggu begitu lama sampai harus mencarimu sendiri ke dalam halaman?” tegur Rong Xia kepada putranya.
Shao Yanjun menautkan alisnya dan menatap sosok wanita muda yang perlahan menoleh ke arahnya. Begitu melihat wajahnya, pria itu membeku. ‘H-Huang Miaoling?!’ Shao Yanjun segera berseru, “Semua pelayan, segera tinggalkan halaman ini!” perintahnya mengejutkan semua orang.
Melihat wajah suaminya yang memucat, Li Yanmei segera tahu bahwa ada yang salah. Wanita itu mengalihkan pandangannya kepada sosok Huang Miaoling, tapi dia tak mengenalinya. Lagi pula, tak sembarang orang mampu bertatap wajah dengan sang Mingwei Junzhu.
‘Siapa wanita ini?’ batin Li Yanmei dalam hati.
Setelah para pelayan telah mengundurkan diri, Shao Yanjun segera membungkuk hormat. “Salam kepada Mingwei Junzhu,” ucapnya dengan ekspresi khawatir terpasang di wajahnya, pasalnya sang ibu berada begitu dekat dengan sosok wanita itu.
‘Mingwei Junzhu?!’ pekik Rong Xia dan Li Yanmei dalam hati seraya menatap ke arah Huang Miaoling.
Begitu Rong Xia ingin memberi hormat kepadanya, Huang Miaoling segera menghentikan wanita itu. “Aku datang ke sini sebagai wanita biasa, bukan dengan statusku sebagai Junzhu,” ujarnya. “Sebagai pihak yang lebih muda, akan lebih masuk akal apabila aku memberi hormat padamu, Nyonya Besar Shao.”
Tangan Rong Xia bergetar, tahu bahwa tak pernah ada hal baik ketika terlibat dengan keluarga kerajaan, terutama mereka yang berhasil diangkat menjadi bagian dari keluarga kerajaan. “A-aku tak berani, Junzhu,” ucapnya, yakin bahwa wanita muda di hadapannya bukanlah orang biasa.
Huang Miaoling menatap ke arah Shao Yanjun. “Menteri Shao, tegapkanlah dirimu.” Dia menghela napas. “Karena dirimu, aku tidak bisa berbincang santai lagi dengan Nyonya Besar,” gerutunya dengan sikap manja, entah kenapa malah membuat sang Menteri Kehakiman merinding ngeri.
“Apa yang mungkin menjadi alasan bagimu untuk mengunjungi rumahku yang sederhana ini, Junzhu?” tanya Shao Yanjun seraya mengepalkan tangan kiri yang berada di balik punggungnya. “Kalau kau tidak keberatan, mari kita pergi ke ruang tengah untuk berbincang.”
Ekspresi cemberut di wajah Huang Miaoling perlahan menghilang digantikan air muka tenangnya yang biasa. Kemudian, wanita itu pun berkata, “Mari kita berbicara di sini. Lagi pula, aku juga perlu berbincang dengan Nyonya Besar dan Nyonya Li,” matanya melirik Li Yanmei. “Mungkin, kita bisa memulai dengan keberadaan Nona Ketiga Li dan juga Nyonya Besar Li.”
***
Langkah kaki Liang Fenghong begitu besar dan cepat, menunjukkan suasana hatinya yang sedikit panik dan diselimuti kekhawatiran. Terngiang dalam benaknya percakapan antara dirinya dan Kaisar Weixin, mengenai bahaya yang kemungkinan besar telah menyerang Wu saat ini.
__ADS_1
‘Aku harus segera mengirimkan seseorang ke Wu,’ pikir Liang Fenghong dengan kerutan tipis terbentuk di antara kedua alisnya. ‘Selain itu, apa yang ada dalam pikiran Ling’er dengan mengunjungi kediaman Shao Yanjun?’ Pria itu mencoba menerka, ‘Mencari tahu keberadaan Li Yanran dan Han Yu? Tidak, tidak sesederhana itu.’
Tepat ketika Liang Fenghong sedang memikirkan hal tersebut, sudut pandangannya menangkap keberadaan seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. Seorang pria berpakaian serba putih dengan jubah berwarna sama terlihat menghampiri Liang Fenghong. Plakat yang tergantung di satu sisi pinggang pria tersebut menunjukkan jabatannya sebagai anggota departemen penyelidikan.
“Salam kepada Penasihat Liang,” pria itu membungkuk hormat ke arah Liang Fenghong, tepat di hadapannya. Hal tersebut menandakan bahwa dia ingin melibatkan sang Tuan Liang ke dalam sebuah percakapan.
Mata Liang Fenghong memicing, aura kewaspadaan mengelilingi dirinya. ‘Pria ini ….’ Bibir tipis sang Tuan Liang terpisah, “Siapa dirimu?”
Pria dengan mata sejernih cermin itu memantulkan maksud tersembunyi. Namun, sikap hormat tetap dia pertahankan untuk berbicara dengan Liang Fenghong. “Hamba bernama Rong Gui, anggota departemen penyelidikan.”
Liang Fenghong berbisik dalam hati, ‘Dia masih seorang anggota?’ Ada yang mengganjal dalam hatinya, tapi dia mengesampingkannya karena tak menemukan jawaban. “Apa yang kau perlukan?”
Rong Gui sedikit terkejut dengan keketusan Liang Fenghong. Namun, mengingat rumor yang tersebar mengenai sang Tuan Liang, pria itu sudah cukup bersyukur lawan bicaranya tetap menanggapinya. Apabila Liang Fenghong tak menganggapnya pantas diajak bicara, mungkin sedari tadi pria itu sudah melewatinya tanpa membalas sapaannya.
Itu berarti, Liang Fenghong mengenali dirinya.
“Penasihat Liang tidak seharusnya menetap di Shi,” ujar Rong Gui dengan berani, matanya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Rong Gui mengabaikan ucapan menantang Liang Fenghong, tahu bahwa pria itu sedang mencobai dirinya. “Apabila Penasihat Liang tidak segera kembali ke Wu, maka bisa aku pastikan bahwa dirimu akan menyesal.” Sekilas, terlihat pria itu memancarkan pandangan kesulitan. “Aku tak akan banyak berkata. Intinya, hal ini berkaitan dengan langit Kerajaan Wu.”
Jantung Liang Fenghong berdetak kencang, sekejap mengerti maksud ucapan Rong Gui. Matanya menggelap, dia melemparkan pandangan yang begitu mengerikan terhadap penyelidik itu. “Sebagai antek Pangeran Keenam, apa tujuanmu memberitahuku mengenai hal ini?”
Mata Rong Gui membesar, terkejut dengan kenyataan bahwa Liang Fenghong mengetahui keterlibatannya dengan Wang Chengliu. ‘Jadi, pertanyaannya mengenai siapa diriku hanyalah sebuah kepura-puraan?’ Otak Rong Gui meneriakkan peringatan, ‘Liang Fenghong bukan orang yang bisa disepelekan.’ Melihat aura mengintimidasi yang dipancarkan sang Tuan Liang, kentara bahwa pria itu tak tahu mengenai keputusan Rong Gui untuk meninggalkan kubu sang Pangeran Keenam.
“Aku tidak tahu-menahu mengenai dari mana Penasihat Liang mengetahui hubungan yang sempat terjalin antara diriku dengan Pangeran Keenam,” tutur Rong Gui dengan tenang, sedikit membingungkan Liang Fenghong dengan kata ‘sempat’. “Namun, kami tidak lagi mengarah ke puncak gunung yang sama.”
‘Mereka telah berpisah jalan?’ Liang Fenghong mengerutkan kening. ‘Ini tidak masuk akal …. Apa yang mungkin—’ Pria itu menghentikan arus pikirannya, mulai memiliki dugaan mengenai alasan Rong Gui berpaling dari Wang Chengliu.
Dalam kehidupan ini, hanya ada empat eksistensi yang merupakan sebuah anomali. Tiga eksistensi tidak mungkin berinteraksi dengan sosok Rong Gui, dan hal itu berarti … hanya satu eksistensi terakhir yang mampu mengubah jalur kehidupan penyelidik di hadapan Liang Fenghong itu.
“Kau mengenal istriku?”
__ADS_1
***
“Rong Gui telah bertemu dengan Liang Fenghong, Huang Miaoling pergi menemui Shao Yanjun. Kelihatannya, kedua orang ini harus segera disingkirkan,” ucap Wang Chengliu seraya meletakkan kuasnya dan memperhatikan hasil tulisannya.
Chenxiao yang membungkuk hormat di depan meja kerja Wang Chengliu memasang wajah serius. “Apakah kita harus mempercepat rencana?” tanyanya untuk memastikan langkah terbaik yang patut diambil selanjutnya.
Wang Chengliu melipat kertas suratnya, lalu memasukkannya ke dalam sebuah amplop. Kemudian, dia menyodorkan surat tersebut kepada Chenxiao. “Kirimkan ini secepatnya kepada kupu-kupu kecil kita, gunakan jalur merpati.” Sebuah senyuman penuh arti terlukis di bibirnya, membuat ketampanannya terlihat semakin bersinar. “Sudah waktunya bagi keturunan Li untuk bertindak.”
Setelah menerima surat yang diberikan oleh majikannya, Chenxiao berkata, “Apa Yang Mulia sungguh ingin menjatuhkan … keluarga Huang?” Ada sekelebat keraguan yang menyelimuti pandangannya.
Manik hitam kecokelatan milik Wang Chengliu bergeser ke arah bawahannya. “Apa kau sedang mempertanyakan tindakanku?” tanyanya dengan aura mengancam.
Alis Chenxiao bertaut seraya dirinya segera berlutut. “Yang Mulia, jangan marah. Hamba hanya sedikit khawatir mengenai hasil akhirnya.” Dia memberanikan diri untuk menengadahkan kepala dan menatap majikannya. “Sesuai pengetahuan semua orang, Keluarga Huang adalah pilar penopang Kerajaan Shi. Apabila Keluarga Huang sungguh jatuh, maka pertahanan Kerajaan Shi akan hancur dan kita rentan bertahan terhadap serangan dari kerajaan lain.” Chenxiao melanjutkan, “Bahkan, bila dirimu telah terlibat perjanjian dengan Zhou dan Tubo, tak ada sedikit pun jaminan bahwa mereka tak akan berbalik menyerang kita nantinya.”
Wang Chengliu menatap Chenxiao dengan tajam. Kemudian, dia berkata, “Chenxiao, apa alasanmu mengabdi padaku?”
Mendengar hal ini, Chenxiao membeku. Mulut pria itu terbuka, tapi kemudian kembali menutup. “Hamba telah lancang.” Chenxiao menundukkan kepalanya, merasa telah melakukan sesuatu yang sangat salah.
Secara perlahan, Wang Chengliu berdiri dari kursinya. Kemudian, pria itu berkata, “Pergilah.”
Chenxiao menegapkan tubuhnya, memberi hormat terakhir, lalu berbalik untuk meninggalkan tempat tersebut. Mata pria itu mencerminkan kegundahan dalam hatinya. ‘Chen Meiren, apakah tepat bagiku untuk mendukung Pangeran Keenam seperti ini?’ Saat pintu tertutup dan memisahkan dirinya dengan tatapan Wang Chengliu, Chenxiao termenung sesaat. ‘Yang Mulia, aku harap kau tahu mengenai apa yang sedang kau lakukan.’ Pria itu pun melangkah pergi.
Di dalam ruangan, pandangan Wang Chengliu beralih pada sebuah lukisan yang bergantung di sudut ruang tidurnya. Matanya memandangi sosok wanita pada lukisan tersebut. Wanita itu berpakaian begitu biasa, tanpa pernak-pernik emas yang menarik perhatian layaknya seorang wanita bangsawan. Sepasang manik berwarna hitam kecokelatan milik wanita itu terlihat begitu sendu, selaras dengan senyumannya yang kentara dipaksakan.
Tangan Wang Chengliu mengepal, lalu pandangannya berubah gelap. ‘Berbalik menyerang Shi?’ Sebuah seringai terlukis di wajahnya. ‘Tidakkah itu akan membuat keadaan menjadi semakin menyenangkan?’ Matanya memancarkan sebuah hasrat untuk membunuh, ‘Huang Miaoling, salahmu berusaha menghalangi jalanku.’
___
A/N: Hmm, kayaknya beberapa waktu ini author akan bolong-bolong updatenya. Mohon maklum ya, guys.
Anyhow, si Chengliu kayaknya udah kehilangan akal sehat. LOL
__ADS_1