
*Beberapa saat yang lalu*
“Tuan Putri, kau tidak bisa terus-menerus seperti ini, kau harus makan!” ujar seorang pelayan sembari berlutut di lantai, tepat di hadapan sosok Wu Meilan yang terduduk diam di pinggir tempat tidur. “Kaisar dan Permaisuri akan bersedih melihatmu seperti ini dari atas sana.”
Sekeras apa pun pelayan tersebut berusaha untuk menyadarkan Wu Meilan, tapi gadis itu sama sekali tidak bereaksi. Dia hanya terdiam menatap kosong ke depan, seperti seseorang yang telah kehilangan jiwa.
Tiba-tiba, derap langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Pintu ruangan terbuka dan menunjukkan sosok Liang Fenghong yang datang bersama dengan Meihua. Kedua orang itu mengenakan baju besi yang terlihat berat, menandakan bahwa mereka terus bersiaga terhadap kemungkinan datangnya serangan dari pihak musuh.
Melihat sosok sang Penasihat Liang, pelayan tersebut memberi hormat. Liang Fenghong pun memberi isyarat padanya untuk pergi.
“Kaisar dan Permaisuri akan sangat kecewa padamu,” ujar Liang Fenghong dengan ekspresi dingin.
Ucapan Liang Fenghong membuat pelipis Wu Meilan berkedut. Dia menaikkan pandangannya untuk menatap pria tanpa ekspresi itu.
“Sebagai keturunan Wu, kau bersikap menyedihkan,” tegas Liang Fenghong lagi.
Meihua yang berada di pojok ruangan merasa punggungnya sedikit berkeringat. ‘Apakah ini hal yang tepat untuk dikatakan kepada seorang anak yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya?’ batin gadis itu sembari menangis dalam hati. Dia melirik Liang Fenghong dan berbisik dalam hati, ‘Kenyataannya, dirinya sendiri masih bersedih.’
Di luar dugaan Meihua, bahkan setelah mendengar makian Liang Fenghong, Wu Meilan malah menurunkan kembali pandangannya. Gadis itu kembali bersikap seperti patung hidup.
Melihat hal ini, Liang Fenghong merasa kesabarannya hilang. Wu Huatai berpesan padanya untuk melindungi Wu Meilan, tapi kalau gadis itu tidak memiliki niat untuk melindungi dirinya sendiri dan bertahan hidup, maka Liang Fenghong akan gagal memenuhi janjinya.
“Kau tahu jelas ibundamu mati di tangan pihak musuh, dan kau juga tahu bahwa ayahandamu meninggal karena menyelamatkanku. Dalang asli atas kematian keduanya masih hidup, tapi kau malah berdiam diri seperti ini.”
Mendengar hal ini, Wu Meilan dengan cepat mengangkat kepalanya. Pandangan yang terlihat lebih hidup itu seakan meneriakkan rentetan pertanyaan, “Lalu, apa yang kau ingin kulakukan? Kau ingin aku berdiri, mengambil pedang, lalu menebas Wang Chengliu hidup-hidup!? Kau kira aku juga tidak menginginkannya?!”
Dengan tangan mengepal kuat, Liang Fenghong berkata, “Perang akan segera terjadi, dan aku mungkin tidak akan hidup untuk melihatnya selesai.” Ucapannya mengejutkan bukan hanya Meihua, tapi juga Wu Meilan. “Ketika hal itu terjadi, kau akan menjadi keturunan terakhir Wu, dan kau harus berdiri untuk memastikan keberlangsungan kerajaan—!”
__ADS_1
Tidak sempat Liang Fenghong menyelesaikan ucapannya, sebuah tangan telah terlebih dahulu mencengkeram kerah pakaiannya.
“Kau tidak boleh mati!” ucap Wu Meilan dengan mata membara, menunjukkan sebuah sikap yang tak pernah ia tunjukkan kepada orang lain sebelumnya. “Ayahanda mati untuk menyelamatkanmu, kau tidak berhak menyia-nyiakan nyawa yang dia berikan begitu saja!”
Tidak pernah Liang Fenghong sangka bahwa hal pertama yang akan keluar dari bibir keponakannya setelah sekian lama adalah … dia tidak boleh mati.
Dia selalu mengira Wu Meilan tengah menyalahkannya!
Ucapan Wu Meilan membuat hati Liang Fenghong terasa sedikit lebih lega, tapi ekspresi pria itu masih terlihat dingin. “Ayahandamu berpesan bahwa aku harus melindungimu, itulah alasan dia menyelamatkanku. Demikian, apabila kau tidak ingin kematiannya terbilang sia-sia, maka bersikaplah yang pantas.”
***
Sebelum dirinya benar-benar meninggalkan ruangan Wu Meilan, Liang Fenghong berbalik untuk menatap keponakannya itu melahap makanannya. Hal tersebut membuatnya jauh lebih tenang.
“Kau berhasil membuat Tuan Putri menjadi jauh lebih bersemangat,” ujar Meihua yang berada di sisi Liang Fenghong. Di dalam hati, dia menambahkan, ‘Walau menggunakan cara yang tidak biasa ….’
Selagi berjalan meninggalkan halaman Wu Meilan, Meihua teringat ucapan Liang Fenghong beberapa saat lalu. “Ketua, aku harap pernyataanmu tadi hanya terlontar karena ingin membangkitkan kembali semangat Tuan Putri,” ujar gadis itu, membuat majikannya meliriknya sekilas.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Liang Fenghong membalas, “Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, aku hanya membuka pikirannya terhadap segala kemungkinan yang ada.”
Sembari mengatakan hal tersebut, Liang Fenghong menatap ke depan, ke arah prajurit yang berlari dengan wajah dipenuhi kengerian. Samar-samar suara dentuman gendang perang terdengar di telinganya.
Di dalam hati, Liang Fenghong berkata, ‘Terutama bila kita bersangkutan dengan hal yang tidak duniawi ….’
Sesampainya di hadapan Liang Fenghong, prajurit tersebut berlutut dan melaporkan, “Pasukan Pangeran Keenam telah tiba! Ada sekitar lima puluh ribu prajurit yang dibawa olehnya!”
Mendengar hal tersebut, Meihua mengerutkan kening, “Wang Chengliu yang memimpin pasukan?” Dia sedikit terkejut ketika melihat prajurit di hadapannya menganggukkan kepala.
__ADS_1
Dengan cepat Liang Fenghong menurunkan titah, “Siapkan kudaku!” Dia melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa-gesa.
Sembari setengah berlari, Meihua tak mampu menahan rasa penasarannya. “Kenapa pria itu menyerang dengan begitu terbuka? Dengan sikapnya yang begitu licik, dia bisa saja menyerang di malam hari ketika semua orang lengah.”
Liang Fenghong menyadari hal ini, dan dia juga merasa bingung. Namun, melihat Wang Chengliu membawa lebih dari setengah pasukan yang dia miliki untuk menyerang Jingcheng, terlihat pria itu ingin menekan dirinya dan Huang Miaoling.
Sesampainya di gerbang kediaman, Liang Fenghong segera naik ke atas kudanya. “Ada sesuatu yang dia inginkan,” tebaknya sembari mengencangkan pegangan pada tali kekang kuda. ‘Tapi … apa?’ batinnya.
Selagi memacu kudanya menuju gerbang kediaman, ujung mata Liang Fenghong mendapati sosok di atas salah satu atap rumah. Hanya sekelebat, tapi Liang Fenghong bisa melihat sepasang manik merah menatap ke arahnya dengan begitu menusuk.
Suara lengkingan kuda yang larinya dihentikan paksa terdengar, mengejutkan Meihua yang terpaksa harus melakukan sama. “Yi!” seru gadis tersebut, mencoba menenangkan kudanya. Dia menoleh dan mendapati Liang Fenghong menatap ngeri satu arah. “Ketua, apa yang—?!”
Meihua melihat mata Liang Fenghong terpaku ke satu arah. Namun, hanya ada kekosongan di arah tersebut.
Di sisi lain, Liang Fenghong masih menatap sosok Lu Si yang muncul di hadapannya sebelum mendengar sebuah suara terngiang di telinga, ‘Yang pria itu inginkan, apa perlu bagimu untuk bertanya?’ Wajah pria bermata merah itu terlihat dingin selagi dirinya melanjutkan, ‘Tentu pemeran di balik layar itu.’
Mendengar pertanyaan tersebut, kening Liang Fenghong segera berkerut, ‘Pemeran … di balik layar?’
Mendadak, mata Liang Fenghong membesar. Pria itu dengan cepat memacu kudanya kembali, memmbuat Meihua tak mampu berkata-kata dan langsung mengejarnya.
Di dalam hatinya yang terdalam, Liang Fenghong mengajukan sebuah pertanyaan, ‘Apa Wang Chengliu … mengingat sesuatu?’
__
A/N:
Apa yang sebenarnya Wang Chengliu inginkan? Jangan lupa tulis di komentar!
__ADS_1