Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 114 Yang Mereka Ketahui


__ADS_3

Chenxiao segera berlutut dengan satu kaki, ekspresi di wajahnya terlihat begitu kesulitan. Lu Si adalah seseorang yang begitu misterius, juga dengan kekuatan yang mengerikan. Ditambah dengan rasa segan yang diarahkan Wang Chengliu kepada pria itu, bagaimana mungkin Chenxiao—bawahan dari sang pangeran keenam—berani menyinggungnya?


“Tentu tidak,” balas Chenxiao dengan kepala tertunduk. “Silakan, Tuan Lu.”


Saat langkah kaki yang begitu ringan—hampir tak terdengar—mendekat ke arahnya, Huang Miaoling menoleh dan mendapati sosok Lu Si berdiri di hadapannya. Wajah pria itu pucat, hampir sama seperti apa yang ditampakkan Lan’er ketika gadis itu membongkar sejumlah rahasia. Wanita itu menyimpulkan bahwa kondisi Lu Si merupakan efek samping dari sihir yang dia gunakan.


Apa kata Lan’er saat itu? Hukuman akibat melawan takdir? Melawan hukum surga?


“Kau yang menyihir Wang Zhengyi,” tuduh Huang Miaoling dengan alis bertaut, sangat yakin dengan ucapannya.


Ekspresi Lu Si tidak berubah, masih begitu datar dan suram. Dia mengabaikan tuduhan yang diarahkan padanya dan bertanya, “Ke mana perginya Lan’er?” Ada pancaran kekhawatiran dari pandangannya. “Di mana kau sembunyikan dirinya?”


Pertanyaan Lu Si membuat Huang Miaoling cukup terkejut, sedikit ingin tertawa. “Apa yang membuatmu berpikir aku mengetahui keberadaan Lan’er?” tanyanya dengan pandangan mencemooh. Wanita itu menambahkan, “Apa yang membuatmu berpikir bahwa Lan’er ingin bertemu denganmu setelah mengetahui semua yang telah kau lakukan?”


Ucapan Huang Miaoling tajam, cukup tajam untuk melukai hubungannya dengan Lu Si yang sudah rapuh. Bagaimanapun, mereka sempat menjadi guru dan murid, apa sungguh harus menjadi seperti ini?


Lu Si ingin mengangkat tangannya untuk mencekik wanita di hadapannya itu, sama seperti terakhir kali mereka berjumpa. Namun, kali ini dirinya sadar jelas bahwa ucapan Huang Miaoling benar. Setelah semua yang telah dia lakukan, Lan’er pasti membenci dirinya.


“Huang Miaoling, aku tidak memiliki waktu untuk dibuang, begitu pula dengan dirimu,” balas Lu Si. “Dua hari lamanya kau tertidur dengan begitu tenang, tapi apakah kau tahu berapa banyak orang telah kehilangan nyawanya selama itu?”


‘Dua hari?!’ pekik Huang Miaoling dalam hati, tak menyangka dirinya tak sadarkan diri selama itu. Walau tubuhnya tidak merasa nyaman, tapi wanita itu bisa menilai bahwa dirinya tidak terluka parah. ‘Kenapa aku bisa tertidur selama itu?’


Lu Si memicingkan matanya, tak sabar. “Apa kau hanya akan diam?”


Ucapan Lu Si membuat roh Huang Miaoling kembali. Dia pun teringat dengan ucapan Wang Chengliu padanya. “Aku akan menjawab apabila kau menjawab pertanyaanku,” ujar wanita itu.


“Apa kau kira kau berada dalam posisi untuk bernegosiasi denganku?!” geram Lu Si, merasa emosinya kembali tersulut.


Huang Miaoling mengabaikan amarah Lu Si, lalu langsung menembakkan pertanyaannya, “Apa yang kau ketahui perihal keselamatan keluargaku?”

__ADS_1


Lu Si mendecakkan lidah, memaki sifat keras kepala wanita di hadapannya itu. Selain itu, Huang Miaoling memang mengajukan satu pertanyaan, tapi tentunya ‘keluarga’ dalam hal ini tidak hanya merujuk pada satu orang—itu berarti wanita itu tak hanya akan mendapatkan satu jawaban.


Namun, siapa itu Lu Si? Apa dia akan dengan sukarela masuk ke dalam jebakan sang Mingwei Junzhu?


“Ada yang selamat,” jawab Lu Si secara ambigu.


Mendengar jawaban pria itu, Huang Miaoling merasa napasnya tercekat. Dengan kepala tertunduk, wanita itu membatin, ‘Ada yang selamat … berarti ada pula yang ….’ Tenggorokannya terasa kering, dan pandangannya terasa sedikit berkunang-kunang.


“Jawabanmu,” Lu Si memotong lamunan Huang Miaoling tanpa sungkan. “Aku telah melakukan bagianku, sekarang kau perlu melakukan bagianmu.” Maksud Lu Si tak lain adalah Huang Miaoling harus menjawab pertanyaannya.


Huang Miaoling terdiam sesaat, dia ingin berkata bahwa jawaban Lu Si tidak memuaskan. Namun, dirinya sadar bahwa pria itu tak akan memberikan jawaban lebih, jadi tak ada guna baginya untuk membuat Lu Si semakin marah.


Sang Mingwei Junzhu pun mengangkat kepalanya sedikit dan menjawab, “Aku tidak tahu.”


“Huang Miaoling!” bentak Lu Si, tak merasa dirinya cukup sabar untuk mengikuti permainan mental sang Mingwei Junzhu. “Kau telah bersepakat!”


“Ya, tapi aku tak pernah mengatakan aku tahu apa pun,” balas Huang Miaoling dengan sebuah senyuman lemah. Dia tidak berbohong, Huang Miaoling sungguh tidak tahu mengenai keberadaan Lan’er.


Akhirnya, Huang Miaoling menghela napas. “Lan’er menemuiku di satu malam. Sebelum berpisah, dia berkata bahwa kali itu adalah kali terakhir kami berjumpa—”


“Sebelum tali takdir kalian terpisah untuk selamanya,” lanjut Lu Si membuat Huang Miaoling terkejut, tak mengerti bagaimana pria tersebut mengetahui hal itu. Lu Si kemudian menutup setengah wajahnya, memasang ekspresi terluka. “Gadis itu ….”


Seusai mendapatkan hal yang dia inginkan, Lu Si berbalik dengan cepat untuk meninggalkan ruangan. Namun, dia mendadak berhenti sebelum mencapai ruang tamu, tepat pada perbatasan ruang tidur.


“Jangan menyesal,” ucap Lu Si, satu tangannya mencengkeram kusen pintu dengan erat. “Kau sebaiknya jangan menyesal dengan akhir yang akan segera menghampiri,” pria itu menoleh dan menatap ke arah Huang Miaoling dengan mata merahnya yang berkaca-kaca—pemandangan yang membuat sang Mingwei Junzhu membeku, “atau aku sendiri yang akan membunuhmu!”


Tak lama setelah ucapan tersebut dikatakan, Lu Si keluar dari ruangan itu. Pria itu tidak menyisakan sedikit pun waktu untuk melihat ke arah Chenxiao yang menunggu di luar ruangan, dia hanya melangkah pergi meninggalkan koridor dan menghilang entah ke mana.


Di tempatnya berada, Chenxiao membatin, ‘Tidakkah Tuan Lu dan Pangeran Keenam … begitu mirip?’ Chenxiao menggelengkan kepala, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Di atas tempat tidur, Huang Miaoling menghela napas. ‘Dia selalu berniat untuk membunuhku.’ batinnya membalas pernyataan Lu Si sebelumnya. Wanita itu mensyukuri kenyataan bahwa dirinya tidak membuang waktu dengan meminta tolong kepada pria itu.


Tiba-tiba, Huang Miaoling mendengar langkah kaki yang mendekat. Dia menoleh dan mendapati Chenxiao menghampiri dirinya.


Kedatangan Chenxiao membuat benak Huang Miaoling yang sempat melayang akibat Lu Si langsung kembali. “Chenxiao ….”


Chenxiao membeku, merasa sedikit aneh. Panggilan Huang Miaoling kepada dirinya terdengar familier, seakan mereka telah saling mengenal untuk sekian lama.


Dengan ekspresi mengeras, Chenxiao melayangkan sebuah pukulan ke sisi tengkuk Huang Miaoling, merebut kesadaran wanita itu secara paksa. “Maafkan aku, Junzhu.”


***


Huang Miaoling membuka matanya, menyadari bahwa dirinya tidak lagi terbaring tak berdaya di atas tempat tidur seperti sebelumnya. Sekarang, dirinya terikat kuat pada sebuah kursi besi di sebuah ruangan kecil yang diselimuti bau anyir memabukkan. Penerangan tempat tersebut sangat terbatas, hanya berupa dua obor yang berada di dua sisi tembok ruangan.


Dentingan besi membuat manik hitam wanita itu melirik ke kiri, mendapati keberadaan sosok Chenxiao yang sedang meraih sesuatu serupa belati. “Chenxiao,” panggil Huang Miaoling.


Seperti sebelumnya, panggilan Huang Miaoling membuat Chenxiao menghentikan aksinya. Pria itu membalikkan tubuh dan menatap wanita yang sedang terduduk di kursi besi itu. “Junzhu, apa sebenarnya tujuanmu?” tanyanya dengan penasaran.


“Aku tak mengerti maksudmu,” balas Huang Miaoling.


“Kau hanya perlu menyerahkan Pangeran Mahkota dan juga Putri Wu,” jelas Chenxiao. “Hanya dengan melakukan hal itu, maka keluargamu akan selamat. Bukankah itu yang kau inginkan?” tanyanya. “Melawan Pangeran Keenam dengan situasimu saat ini bukanlah sebuah pilihan bijak, terutama karena dirinya mengetahui kelemahan setiap orang.”


Huang Miaoling terdiam sesaat mendengar ucapan pengawal pendamping Wang Chengliu itu. “Sesuai ucapanmu, situasiku memang tidak menguntungkan,” aku wanita itu. Namun, matanya kemudian memancarkan sebuah tekad. “Akan tetapi, apa yang membuatmu berpikir bahwa Wang Chengliu lebih berpengetahuan dibandingkan diriku?”


____


A/N:


Chenxiao: Pangeran Keenam tahu kelemahan setiap orang.

__ADS_1


Huang Miaoling: Aku lebih berpengetahuan dibandingkan Wang Chengliu.


Me: Am I a joke to you?


__ADS_2