Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 35 Tahanan Rumah


__ADS_3

“Lan’er, apakah kau serius?” Suara itu terdengar penuh keraguan, tapi ada semangat dan harapan di balik getaran nadanya. “Kau bisa … membangkitkannya?” tanya suara itu lagi.


‘Suara yang begitu familier,’ pikir Huang Miaoling yang entah kenapa tidak mampu membuka matanya. Kegelapan adalah satu-satunya hal yang menemani dirinya saat ini. ‘Aku tahu suara itu, tapi … kenapa aku tidak bisa mengingatnya?’ batin gadis itu lagi seraya menegangkan segala ototnya yang terasa mengambang di udara. Dia yakin bahwa benaknya tidak mengizinkan dirinya untuk mengingat sosok pemilik suara tersebut.


“Aku tidak bercanda, Yang Mulia.” Itu jelas suara Lan’er. Gadis itu terdengar begitu dekat di sisi Huang Miaoling. “Aku tidak pernah bercanda mengenai kehidupan,” ujar Lan’er dengan lirih. “Tak seharusnya kalian mendapatkan akhir ini, hal itu … adalah keyakinanku.”


“Kau adalah manusia, bukan dewa,” ujar sang Pria dengan nada menuduh, tidak ingin tenggelam dalam sebuah harapan palsu.


Lan’er terdengar mendengus mengejek, seakan menertawakan pernyataan pria itu. “Bayarannya besar, apa kau yakin kau rela?” Dia tak menanggapi ucapan sinis sang Pria.


Keheningan menyelimuti Huang Miaoling yang hanya bisa terdiam sembari mendengarkan percakapan kedua orang tak terlihat itu. Cukup lama tak ada suara yang muncul, membuat Huang Miaoling mulai kehilangan kesadarannya.


“Aku memiliki segalanya, tapi dia tak ada di sisiku. Penyesalan terbesarku saat itu … adalah melepaskannya.” Pria itu seakan mengumpulkan keberanian sebelum mengucapkan kalimat selanjutnya, “Bahkan bila nyawaku bayarannya, aku rela memberikannya untuk menebus kesalahanku padanya.”


Pada saat ini, Huang Miaoling merasa kemampuannya untuk menggerakkan tubuhnya mulai kembali. Dia berusaha membuka kelopak matanya, dan perlahan … cahaya mulai menyeruak masuk.


Samar-samar, sosok seorang pria tertangkap oleh penglihatan Huang Miaoling. Seorang pria dengan rambut hitam panjangnya tergerai di belakang punggungnya, begitu kontras dengan jubah keemasan dengan sulaman naga besar rumit yang menghiasinya.


Huang Miaoling bisa merasakan keningnya berkerut, hatinya berdetak keras, sangat ingin tahu siapa pria yang sedang memunggunginya sekarang. ‘Wang Chengliu?’ batinnya bertanya-tanya. ‘Tidak mungkin.’


Seakan mampu mendengar batin Huang Miaoling, pria itu terlihat tersentak. Kepala pria itu perlahan menoleh.


Namun, sebelum kedua manik Huang Miaoling menangkap jelas wajah pria tersebut, cahaya terang memaksa masuk ke dalam pandangannya. Takdir seakan dengan sengaja mempermainkan rasa penasarannya dan menghalangi Huang Miaoling dari melihat sosok pria yang bersedia menukarkan nyawa demi dirinya.


***


“Kau tidak terlihat sehat,” ujar Shang Meiliang sembari menyentuhkan tangannya di pundak Huang Miaoling. Mata bulatnya memperhatikan keterkejutan singkat pada wajah iparnya, membuatnya khawatir. “Apa kau dengar apa yang sudah kami katakan sedari tadi?” Nada bicaranya yang tadi terdengar lebih mengintimidasi berubah menjadi lebih lembut ketika menyadari pikiran Huang Miaoling sedang dipenuhi berbagai hal.


Huang Miaoling memaki dirinya dalam hati, tak percaya bahwa pikirannya baru saja dipenuhi oleh asumsi tak berguna akibat mimpi yang dia dapatkan di malam sebelumnya. Sebuah senyuman dipaksakan terlukis di bibir gadis itu, begitu tulus sehingga tak ada yang menyadari seinci pun kepalsuan yang ada.


“Maafkan aku, Kakak Ipar. Tidurku tidak nyenyak tadi malam,” balas Huang Miaoling dengan nada bersalah. “Apa yang baru saja kau katakan?”


Selagi Shang Meiliang menghela napas, Situ Yangle menggantikannya untuk menjelaskan, “Apa yang terjadi di hari sebelumnya membuat satu kediaman Huang terkejut. Ucapan Tuan Muda Liang benar, kau tidak boleh dibiarkan keluar dari kediaman untuk beberapa waktu ke depan. Ayah telah menyetujui hal tersebut.” Ucapannya baru saja ingin ditimpali dengan ketidaksetujuan Huang Miaoling, dan wanita itu pun melanjutkan, “Kakek dan Nenek juga sudah angkat suara.”


Melihat mulut Huang Miaoling kembali terkatup, Shang Meiliang mendengus, “Hanya ketika mendengar Kakek dan Nenek terlibat barulah kau bungkam? Kurasa kau sudah tak memandang Ayah dan kakak-kakakmu lagi sejak mendapatkan gelar Junzhu.”


Sebagai seseorang dengan gelar yang sama, hanya Shang Meiliang yang berani menyindir Huang Miaoling dengan begitu terbuka. Situ Yangle hanya terdiam, dalam hati setuju dengan ucapan saudara iparnya. Huang Miaoling memang sudah lepas dari kendali siapa pun kecuali orang-orang tertentu.

__ADS_1


Tiba-tiba, sosok Liang Fenghong yang berbicara dengan para pria kediaman Huang di hari yang lalu muncul di benak Situ Yangle. Ekspresi penuh amarah dan pandangan dingin yang terpancar dari mata pria itu membuat seluruh tubuhnya bergidik ngeri. Kalau bukan karena Situ Yangle datang untuk membawakan kabar yang dia terima dari sang Ayah mengenai keadaan di istana setelah keributan kemarin, dia mungkin tak akan pernah tahu sisi Liang Fenghong yang begitu mengerikan saat membahas mengenai orang-orang yang telah menyentuh Huang Miaoling.


Mata Situ Yangle melirik ke arah Huang Miaoling, menggerayangi setiap gerak-gerik gadis tersebut. ‘Tidakkah keduanya … bak besi berani yang saling menarik satu sama lain?’ pikirnya ketika mencoba membayangkan ekspresi dingin yang mampu Liang Fenghong dan Huang Miaoling tunjukkan. ‘Tak hanya itu, mereka sama-sama mengerikan … dengan cara mereka masing-masing.’


“Aku masih memiliki hal yang perlu dilakukan,” ujar Huang Miaoling dengan lirih. “Kalau aku tidak keluar, maka masalah itu tak bisa diselesaikan.” Dia mengerutkan dahinya.


Di saat ini, sebuah suara berkata membuat ketiga wanita itu menoleh, “Masalah apa lagi yang telah kau perbuat?” Sosok Huang Jieli berjalan memasuki paviliun di halaman Yueliang. Alis pria itu menekuk ke bawah, menunjukkan ekspresi kesal. Dia mengeluarkan tiga jarinya. “Yunlin dan Yang Defei, Yuanli dan Huang Wushuang, atau Kaisar Weixin dan Wang Wuyu?” Matanya membesar. “Atau mungkin kau membicarakan Li Guifei beserta antek-anteknya?”


Mendengar Huang Jieli menyebutkan nama-nama itu dengan terbuka membuat ekspresi Huang Miaoling terlihat buruk. “Kakak …,” panggilnya seraya memberi hormat untuk menyambut kedatangan Huang Jieli. “Apa maksudmu mengucapkan hal tersebut?”


Shang Meiliang baru saja ingin berdiri untuk memberikan kursinya bagi sang Suami, tapi Huang Jieli menahannya untuk tetap duduk. Lagi pula, wanita itu sedang hamil.


“Walau aku berat hati, tapi aku harus mengatakan hal ini.” Huang Jieli menatap Huang Miaoling. “Liang Fenghong telah mengurus semuanya.”


Pernyataan Huang Jieli membuat kerutan di dahi Huang Miaoling menjadi semakin dalam. “Apa yang Kakak bicarakan? Bagaimana mungkin dia—”


“Setelah memberikanmu obat tidur untuk memaksamu istirahat kemarin, dia membahas berbagai hal dengan Kakek, Ayah, Kakak Pertama, dan juga aku. Guru Besar Qing juga berada di sana.” Huang Jieli sengaja menyebut tindakan Liang Fenghong yang menyelipkan obat tidur pada sup obat Huang Miaoling tempo hari untuk mengurangi nilai pria itu di mata adiknya, dia masih sedikit tak rela sang Adik akan segera terikat dengan pria dari keluarga lain.


‘Qing Gangtie juga ikut?’ batin Huang Miaoling, sedikit terkejut. Kalau Qing Gangtie ikut dalam percakapan tempo hari, Huang Miaoling yakin bahwa rencana yang telah dia susun secara detail untuk menjebak Wang Chengliu, Wang Wuyu, Li Guifei dan Huang Wushuang telah sepenuhnya diketahui keluarganya.


Alis Huang Miaoling bertaut, dia sudah tersadar kalau para pria kediaman Huang sedang tak hadir. Kalau bukan karena tugasnya untuk memastikan Huang Miaoling tidak keluar dari kediaman, Huang Jieli sendiri pasti telah pergi ke istana.


“Apa yang sedang Ayah, Kakak Pertama, dan Kakek lakukan?”


Huang Jieli memandangi adiknya untuk sesaat sebelum melirik ke arah Shang Meiliang dan Situ Yangle. Biasanya, dia tak akan melibatkan para wanita dalam hal ini. Namun, kondisi kerajaan sedang berada dalam puncak ketidakstabilan. Lebih banyak yang diketahui Situ Yangle dan Shang Meiliang, maka itu lebih baik. Jikalau ada hal buruk yang terjadi, paling tidak kedua wanita itu memiliki kesempatan untuk memikirkan jalan keluar bagi diri mereka masing-masing.


“Kakek sedang mengunjungi istana bersama dengan Guru Besar Qing. Selain untuk berbicara dengan Kaisar Weixin mengenai kejadian tempo hari, Kakek juga berencana untuk mengunjungi Bibi. Ayah sedang menugaskan beberapa letnan untuk mengantar Pangeran Kelima ke Kun Lun, Yang Defei meminta Kaisar Weixin menurunkan hukuman tersebut. Yang terakhir, Kakak Pertama sedang membereskan beberapa hal dengan keluarga Yang,” jawab Huang Jieli membuat pandangan Huang Miaoling menggelap.


Kunjungan Huang Liqiang ke istana bersama dengan Qing Gangtie jelas untuk memastikan bahwa Kaisar Weixin tidak akan melemparkan kesalahan terhadap Huang Miaoling. Bagaimanapun, gadis itu memaksa sang Pria Agung untuk menendang putranya keluar dari kerajaan Shi.


Sebagai seorang pemimpin dari sebuah negara, bagaimana mungkin Kaisar Weixin tidak menyimpan dendam sama sekali? Pria itu adalah salah satu orang dengan ego terbesar, apakah dia bisa diam saja ketika seorang gadis kecil mempermainkannya seperti orang bodoh?


Baiklah, mari kita akui sekarang. Kaisar Weixin bukanlah pemimpin terbaik, tapi dia tak bisa disalahkan mengenai hal tersebut. Sedari awal, takhta kerajaan bukanlah miliknya, melainkan saudaranya. Jikalau bukan karena kematian saudaranya yang tidak memiliki keturunan, apakah Kaisar Weixin yang berhati lembut memiliki kesempatan untuk duduk di atas takhta naga?


Mimpi!


Namun, walaupun demikian, seiring waktu berjalan pria berhati lembut itu berubah. Sekarang, Kaisar Weixin telah menjadi sang Putra Langit, dan egonya pun terbiasa untuk berada di puncaknya. Kalau Huang Liqiang dan Qing Gangtie tidak mengunjunginya, sang Kaisar tak mungkin diam saja. Pria itu pasti akan mencari cara untuk membalas tindakan Huang Miaoling.

__ADS_1


Lalu, apa yang menjadi jaminan kalau Kaisar Weixin tak akan melakukan apa pun kepada Huang Miaoling setelah kunjungan Huang Liqiang dan Qing Gangtie?


Hah! Tentu saja jaminannya adalah salah satu orang yang lebih ditinggikan oleh sang Kaisar dibandingkan ego dan putra keempatnya. Siapa lagi kalau bukan putri semata wayang Kaisar Weixin, Wang Qiuhua?


Dengan membahas mengenai pernikahan sang Tuan Putri dengan putra mahkota kerajaan Zhou yang kian mendekat, Huang Liqiang akan mengalihkan fokus Kaisar Weixin agar pria itu tak memiliki waktu untuk memikirkan pembalasan kepada Huang Miaoling.


Lagi pula, Wang Wuyu tidak mati, pria itu hanya akan dikurung di Kun Lun untuk beberapa waktu. Dengan sifat sang Pria Agung, dibandingkan membuang waktu mencari masalah dengan sang Mingwei Junzhu, pria itu pasti akan lebih memilih untuk mencari waktu di kemudian hari demi mengembalikan posisi Wang Wuyu di kerajaan Shi.


Selain itu, ada lima pangeran di kerajaan Shi, kenapa Kaisar Weixin harus begitu terpaku pada salah satu dari antara mereka, bukan begitu?


Huang Miaoling mendengus di dalam hati. ‘Tak masalah apabila Wang Wuyu hanya akan dikurung di Kun Lun untuk satu-dua tahun. Yang penting, untuk sementara, dia menjauh dari jalanku untuk memperkuat fondasi keluarga Huang di kerajaan Shi.’ Matanya memancarkan kilatan berbahaya. ‘Selain itu, aku harus segera melakukan pemilihan. Pria yang bersedia dan mampu melindungi keluarga Huang dengan baik, pria itulah yang akan aku persilakan ke atas takhta.’


Otak Huang Miaoling beralih pada kalimat kedua kakak keduanya, yang mana sang Kakek akan mengunjungi sang Bibi. Huang Miaoling yakin bahwa tujuan pria tua itu tak lain adalah untuk membicarakan mengenai situasi Li Guifei.


Setelah rencana Li Guifei dengan Wang Wuyu menjadi kacau-balau karena Huang Miaoling, pastinya wanita itu sangat murka. Namun, dia tak bisa melakukan apa-apa untuk beberapa waktu, terutama karena Pasukan Kematian telah kehilangan pemimpin mereka, Xiaoye.


Selagi Li Guifei berada pada kondisi terburuknya, ini merupakan waktu yang tepat untuk membereskan keluarga Li untuk selamanya. Huang Miaoling yakin kakeknya mengetahui hal tersebut dan ingin mengajak Huang Yan’an untuk bekerja sama.


‘Apa rencana yang telah Liang Fenghong ajukan pada Kakek?’ pikir Huang Miaoling.


Karena kondisinya sendiri tidak begitu baik, Huang Miaoling memutuskan untuk menunggu sampai sang Tuan Muda Liang mengunjunginya nanti. Dia akan langsung bertanya pada pria itu … memaksa Liang Fenghong untuk mengatakan semuanya.


Huang Miaoling pun tiba pada kalimat terakhir Huang Jieli. “Apa Kakak Pertama sedang berusaha membawa kembali Yunlin?” tanyanya, berusaha untuk tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah dalam hatinya karena harus menggunakan bawahan kakaknya itu sebagai bagian dari rencananya.


“Untuk apa kau bertanya begitu banyak? Pada akhirnya, kau sedang menjadi tahanan rumah,” balas Huang Jieli yang menyadari kalau memberi tahu terlalu banyak informasi pada adik kecilnya sama saja dengan membawa malapetaka.


“Kakak Kedua, dengan dirimu yang menjaga gerbang kediaman, bagaimana mungkin aku bisa melakukan apa pun?” balas Huang Miaoling seraya menghela napas, tahu mengenai apa yang dikhawatirkan oleh Huang Jieli. “Kakak Pertama tak akan keberatan jika kau mengatakannya,” bujuknya lagi.


Mendengar hal ini, Situ Yangle yang sedari tadi terdiam bersama Shang Meiliang terkekeh. “Huang Miaoling, yang menahanmu di kediaman sama sekali bukan kakak pertamamu.” Wanita itu berkata dengan lengan baju menutupi setengah wajahnya, mencoba untuk menutupi senyuman mengejeknya yang terukir lebar. “Calon suamimu adalah dalang utamanya. Jadi, kalau kau ingin keluar, maka kau harus membujuknya, bukan Jieli maupun Yade.”


____


A/N: Baru sadar kalau nama maknya Shao Yanjun sama Rong Gui sama. Jadi, untuk menghindari kebingungan nama maknya Rong Gui kuganti jadi Rong Sha, ya. Hahahaha.


P.S. Author akan publish bab berikutnya di tanggal 1 April.


Additional note: Terasa ada yang kurang di bab ini, jadi ada revisi dadakan lol.

__ADS_1


__ADS_2