Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 123 Bala Bantuan


__ADS_3

‘Tidak bisa,’ batin prajurit muda itu dengan wajah terperangah, manik hitam miliknya menyapu pemandangan kawan-kawan seperjuangannya yang mulai terpukul mundur. ‘Terlalu banyak, musuh terlalu banyak …. Apa aku akan mati di sini?’ tanyanya dengan putus asa, matanya mulai berkaca-kaca.


Mendadak, sebuah pukulan mendarat pada kepalanya, membuat prajurit muda itu hampir terjerembap ke depan. “Apa yang kau pikir kau lakukan?! Perang masih berlangsung!” geram sebuah suara, membuat prajurit muda itu menoleh. Ketika melihat sosok pemilik suara, prajurit muda itu terkejut. “Apa kau ingin mati tanpa berjuang?!”


“T-tidak, Tetua Huang!” balas prajurit muda itu seraya memberi hormat.


“Perset*n dengan hormatmu! Pergi dan lakukan tugasmu!” teriak Huang Liqiang dengan wajah memerah. Melihat prajurit muda itu kembali melayangkan pedang seperti yang seharusnya, Huang Liqiang segera menghunus pedangnya tinggi ke udara. “Pertahankan barisan depan! Jangan biarkan para pengkhianat kerajaan menembus Qiongpo Di!”


Walau teriakan itu terdengar bersemangat, tapi para prajurit istana dan Longzhu terus terpukul mundur. Mereka kalah jumlah, dan kalau terus seperti ini, jelas mereka akan segera bergabung dengan para saudara yang telah menjadi tumpukan mayat.


Huang Liqiang memaki dalam hati, moral pasukannya semakin lama semakin jatuh dan dia tahu itu. Hal tersebut tak mampu dihindari dengan semakin banyaknya prajurit yang jatuh dari pihak mereka. Tak hanya itu, pasukan musuh pun terus berdatangan.


‘Dari mana Wang Chengliu mendapatkan pasukan sebanyak ini?!’ ujar Huang Liqiang dalam hati.


Tetua Huang itu yakin bahwa bukan hanya Pasukan Shiyan yang berada di bawah kuasa pangeran keenam itu. Sepertinya, jauh sebelum ini, Wang Chengliu telah lama mempersiapkan pemberontakan.


Tiba-tiba, pandangan Huang Liqiang menangkap sosok prajurit muda yang tadi dia tegur. Pedang prajurit itu terlempar jauh ke belakang, dan musuh di hadapannya tengah berusaha menyerangnya.


Melihat hal itu, Huang Liqiang bergegas melangkah maju. “Haaa!” Pria tua itu mengayunkan pedangnya dan menyingkirkan satu prajurit musuh. “Ambil pedangmu!” teriaknya kepada prajurit muda itu.


Tanpa menunggu sedikit pun, prajurit tersebut berlari untuk meraih pedangnya. Ketika dia berbalik, manik prajurit muda itu membesar. “Tetua Huang, di belakangmu!”


Huang Liqiang dengan lincah menghindari satu serangan yang terarah padanya. Kemudian, dengan mudah dia menancapkan pedang ke tubuh musuh. Walau bertahun-tahun sudah sejak dirinya terakhir menginjakkan kaki di medan perang, tapi tubuh pria itu masih tahu caranya bertarung!


“Urgh!” Huang Liqiang melenguh. Ternyata, dia tak sepenuhnya menghindari serangan tadi, pinggangnya berhasil menerima serangan. ‘Tubuh ini memang sudah tua,’ gerutunya selagi bersiaga. Menyadari prajurit muda itu memperhatikannya, dia berteriak, “Jangan pedulikan aku! Jatuhkan musuh!”


Walau khawatir, prajurit tersebut tetap mendengarkan perintah sang Tetua Huang. Dia yakin pria tua itu akan baik-baik saja.


“Kakek!” seru seseorang. Huang Liqiang mengalihkan pandangannya dan mendapati sosok Huang Yade menghampiri dirinya. “Apa yang kau lakukan?! Sudah kukatakan jangan terlibat perang!”

__ADS_1


“Pasukan kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mengetahui hal itu, apa kau kira aku bisa diam saja?!” Huang Liqiang berbalik melontarkan pertanyaan dengan marah.


Huang Yade memasang wajah kesulitan, dia tahu jelas sifat Huang Liqiang. Sebagai mantan jenderal besar, bagaimana mungkin pria tua itu bisa diam saja selagi melihat kondisi perang yang begitu buruk?


“Panah!” teriak seseorang jauh dari barisan paling depan.


“Lindungi Menteri Huang dan Tetua Huang!” Dalam sekejap, sejumlah prajurit berkerumun dan melindungi Huang Yade serta Huang Liqiang.


Huang Yade terkejut dengan tindakan itu, dan dia pun berteriak, “Apa yang—!”


Tak sempat dia menyelesaikan ucapannya, telinga Huang Yade mendengar jelas suara benda tajam menembus daging. Panah demi panah menancap mantap pada tubuh para prajurit yang melindungi dirinya dan Huang Liqiang.


“Ah …,” gumaman kecil kabur dari mulut Huang Yade, matanya menatap lurus sepasang manik hitam yang berada di hadapannya. “K-kalian ….”


Salah satu prajurit yang berada di hadapan Huang Yade berkata dengan napas tertahan, seperti berusaha mengerahkan tenaga yang tersisa untuk menghalau rasa sakit, “M-Menteri … pergilah ….”


Pada saat itu juga, pandangan Huang Yade dan Huang Liqiang menyapu sekeliling. Prajurit mereka berhasil dihabisi dengan satu serangan itu.


“Barisan depan mereka telah hancur! Serang!” teriak seorang prajurit dengan pakaian letnan jenderal. Huang Yade menebak bahwa pria itu adalah pemimpin penyerangan kali ini.


Sang Menteri Huang berusaha keras untuk berdiri, tapi keterkejutan atas apa yang baru saja terjadi membuat tenaganya seperti terisap. ‘Bergeraklah! Bergerak!’ pekiknya dalam hati.


Letnan jenderal Pasukan Shiyan itu mengangkat pedangnya, bersiap untuk menebas kepala Huang Yade. Pandangan pria itu berbinar, tahu penghargaan yang akan dia dapatkan apabila kepala sang Menteri Huang disuguhkan ke hadapan pemimpinnya. “Haaa!”


Melihat Huang Yade hanya membeku di tempat, Huang Liqiang segera meraih pedang. Beruntung, pedang tersebut berhasil menangkis serangan sang letnan jenderal dengan tepat waktu.


“Huang Yade!” teriak sang Tetua Huang. “Huang Yade! Sadarlah!” geram Huang Liqiang dengan tangan bergetar. Dia sudah tua, tapi dia masih memiliki tenaga untuk melindungi cucunya. “Bocah si*lan, cepat lari!”


Sang letnan jenderal mendecakkan lidahnya, merasa sedikit geli dengan drama di hadapannya. “Matilah!” teriaknya seraya mengerahkan seluruh tenaga untuk menekan pedang Huang Liqiang.

__ADS_1


Tanpa permisi, suara tengkorak yang retak dan napas tersedak bisa terdengar. Hal tersebut membuat mata semua orang yang berada di tempat itu terbelalak lebar. Langkah kaki para prajurit Shiyan sekejap berhenti.


Mata Huang Yade membesar, menatap pedang yang tertanam pada batok kepala prajurit di hadapannya. Tanpa pria itu sadari, sebuah luka sayatan terbentuk di sisi wajahnya. Darah perlahan mengalir turun dari luka tersebut.


‘Apa yang—’


“Lindungi Menteri Huang dan Tetua Huang!” suara seorang pria bisa terdengar berteriak lantang.


Huang Yade dengan cepat memutar kepalanya, menatap dua sosok familier sedang memacu kuda dengan kencang ke arahnya. Saat cukup dekat, salah satu sosok itu melompat turun dan menendang jauh tubuh letnan jenderal Pasukan Shiyan yang tak lagi bernyawa. Di waktu yang bersamaan, sosok yang lain mencabut lepas pedangnya dari batok kepala korbannya.


Dengan pedang terhunus ke depan, juga tatapan penuh aura membunuh, salah satu pendatang baru itu mengumumkan, “Singkirkan mereka dari Qiongpo Di!”


“Xiaofei … Langcao?” Huang Yade merasa sangat terkejut. “Bagaimana—”


“Menteri Huang! Tetua Huang!” Panggilan itu memotong pikiran Huang Yade. Sosok Mudan menghampiri kedua pria keluarga Huang itu dengan tergesa-gesa. “Ayo! Kita harus segera pergi dari sini!”


Dengan tatapan kosong, Huang Yade mulai berdiri. Sang kakek yang berada di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Di saat mereka berbalik dan menatap jelas pemandangan di belakang mereka, Huang Yade dan Huang Liqiang membelalak.


“I-ini?!” Huang Liqiang tak mampu berkata-kata.


Melihat keterkejutan di wajah Huang Liqiang, Mudan pun tak mampu menahan diri untuk tersenyum. Dengan sebagian besar pasukan keluarga Huang yang menghampiri, Mudan berkata dengan nada bersemangat, “Ya, bala bantuan telah datang.”


___


A/N:


Pengakuan dosa. Tadinya mau ceritain tentang A Feng, tapi abis itu liat kolom komentar ada yang nanya. "Huang Liqiang sama Qing Gangtie ke mana?" Terus aku yang tadinya mau ceritain nanti, jadi tergoda masukin sekarang. WAKAKAK. Ya, itung-itung suspense nungguin A Feng muncul. Mwahahahah


iblis

__ADS_1


__ADS_2