
Liang Fenghong mengerutkan kening, tangan menempel pada dada. Napas pria itu terdengar berat dan ekspresi kesakitan muncul di wajahnya.
“Lu Si, kau tahu jelas perjanjianku dengan Lan’er …,” desis sang Tuan Muda Liang yang mulai terengah-engah. Terlihat bulir-bulir keringat menghiasi dahinya.
Lu Si mendengus, lalu dia berhenti tepat di hadapan Liang Fenghong. Dengan tangan terlipat, dia menatap pria yang terlihat sedang kesakitan itu.
“Apa sedikit pun tak pernah terduga olehmu bahwa pria itu akan melakukan ini?” ucap Lu Si dengan nada tidak senang. “Mengorbankan takdirmu yang begitu luar biasa untuk sebuah takdir lain yang tak menentu, aku tak sadar kau adalah seorang bodoh.” Lalu, pria tersebut melambaikan tangannya di hadapan Liang Fenghong yang setengah membungkuk.
Ucapan Lu Si yang dipenuhi makna tersembunyi membuat Liang Fenghong mengerutkan dahi. “Bukan urusanmu,” jawabnya ketus.
Rasa sakit yang Liang Fenghong rasakan mulai mereda, mengizinkannya untuk kembali menegapkan badannya. Pandangan pria itu pun kembali tenang, sama dengan emosinya yang jauh lebih terkendali.
“Aku sempat menduganya,” ucap Liang Fenghong pada akhirnya. “Namun, tak kusangka dari segala pilihan, dia akan memilih untuk melakukan itu pada Ling’er.” Kedua tangan pria itu mengepal erat.
Sebuah dengusan kabur dari mulut Lu Si. “Dia bukan pria yang sama, kau tahu itu.” Pria itu menautkan alisnya selagi tersenyum mengejek. “Bahkan jika dia pria yang sama, aku yakin dia tidak akan mengambil pilihan yang berbeda.” Matanya melirik Liang Fenghong. “Berbeda denganmu, dia mengedepankan ambisinya.”
Liang Fenghong menutup matanya yang sedikit berkunang-kunang. Tenggorokan pria itu terasa kering, membuat dirinya mengernyit tidak nyaman. Setiap kali Lu Si mulai membahas mengenai masa lalunya, hal tersebut akan terjadi.
“Ambisi?” Sang Tuan Muda Liang tersenyum tipis, seakan menantang lawan bicaranya. “Siapa bilang aku tidak memilikinya?”
Lu Si memutar bola matanya. “Jangan kau mainkan ucapanku.” Pria itu kemudian memutuskan untuk mengembalikan pembicaraan pada topik yang lebih penting. “Setelah informasi terakhir yang kuberikan, tentu pria itu akan berlari kemari.” Kening pria itu berkerut. “Terutama karena besok adalah hari pernikahan kalian.”
Pandangan Lu Si mengarah kepada kediaman Huang, membuatnya terlihat seakan bisa melihat menembus tembok kokoh yang ada di hadapannya. Manik merahnya sedikit berkontraksi, entah apa yang sedang dia perhatikan.
“Setelah pertemuan mereka, apakah kau yakin gadis itu masih akan memilihmu?” Lu Si mengalihkan pandangannya lagi kepada lawan bicaranya.
Liang Fenghong mengerutkan wajahnya dengan kesal. “Apa kau ke sini hanya untuk menghinaku?”
“Aku ke sini untuk memperingatkanmu,” balas Lu Si dengan cepat.
Liang Fenghong menunjukkan wajah kebingungan. “Apa maksudmu?”
“Satu tahun.” Ucapan Lu Si diikuti dengan kekagetan Liang Fenghong. “Kalau dalam waktu satu tahun kau tak bisa memenuhi perjanjianmu dengan Lan’er,”—Lu Si menyentuhkan tangannya di pundak Liang Fenghong selagi berjalan melewati pria itu—“maka aku sendiri yang akan membunuhmu.”
Liang Fenghong menoleh ke belakang dengan cepat, tapi Lu Si telah menghilang tanpa jejak.
Datang dalam kegelapan, dan menghilang lebih cepat dari bayangan. Kalau bukan karena Liang Fenghong begitu mengenal pengunjungnya tadi, maka dia pasti akan terbelalak dan menampakkan wajah terkejut.
Manusia macam apa yang mampu menghilang bak debu ditiup angin?
Liang Fenghong menyandarkan punggungnya pada tembok kediaman Huang selagi menutup setengah wajahnya dengan tangan. Benak pria itu mencoba memproses informasi yang baru saja diberikan oleh Lu Si.
Kalimat terakhir yang terlontar dari bibir Lu Si menjawab semua pertanyaan Liang Fenghong mengenai kedatangan pria tersebut. Ekspresi sang Tuan Muda Liang terlihat begitu putus asa saat dia sadar akan sesuatu.
__ADS_1
‘Lan’er tak bisa bertahan lebih lama lagi.’
***
“Apa yang terjadi padamu?!” seru Liang Siya ketika melihat mata cucunya yang membengkak disertai bayangan hitam. “Ini mimpi buruk!”
Huang Miaoling yang baru saja membersihkan diri dan terduduk di meja riasnya mengangguk. “Aku memang mendapatkan mimpi buruk,” jawabnya dengan wajah datar. Kentara sekali kalau dirinya tak mampu tidur dengan nyenyak di malam sebelumnya.
“Kau tahu maksudku bukan itu!” tegur Liang Siya setengah menggeram. Dia menoleh kepada para pelayan yang berada dalam ruangan. “Segera siapkan daun teh dan air dingin!” Lalu, wanita tua itu melirik kembali kepada Huang Miaoling. “Aku ingin melihat kantung mata hitam itu hilang secepat mungkin!”
Seisi kediaman Huang bak porak-poranda. Para pelayan berlarian ke sana dan kemari selagi mempersiapkan segala kebutuhan sang Pengantin Wanita. Walau bulir-bulir keringat menghiasi dahi, tapi senyuman tetap terukir di bibir mereka.
Hari pernikahan adalah hari bahagia!
Terutama karena akan ada amplop merah yang akan dibagikan!
Berbeda dengan biasanya, kediaman Huang hari itu diselimuti oleh segala hal yang bernuansa merah. Hiasan-hiasan berwarna cerah bergelantungan di beberapa sisi kediaman. Karpet merah menghiasi lantai kamar Huang Miaoling dan juga tempat-tempat tertentu, seperti aula leluhur dan juga ruang tengah—jalan-jalan yang akan dilalui sang Pengantin.
Di halaman Huang Miaoling, berbagai hidangan telah disediakan. Beberapa kerabat dan teman telah datang, bersiap menemani sang Pengantin Wanita untuk bersantap sebelum memulai ritual pernikahan dan pergi ke rumah calon suaminya. Sesuai peraturan, hanya generasi yang setara atau lebih muda dari pengantin wanita yang bisa menemani.
Terlihat di halamannya, Shang Meiliang sedang menggigit sapu tangannya sembari menangis. Situ Yangle yang berada di sebelah wanita itu memijit pelipisnya.
“Kenapa tradisi kita tidak mengizinkan ipar wanita dari mempelai wanita untuk menghadiri pernikahan?! Tidak adil!” rengek Shang Meiliang dengan bulir-bulir air mata berjatuhan dari pelupuk matanya yang cantik. “Kenapa hanya Kakak Ipar Pertama dan Jieli yang boleh mengantar Miaoling!? Aku juga mau!”
Balasan Situ Yangle membuat tangisan Shang Meiliang semakin mengeras. “Aku ingin melihat Miaoling dalam gaun pernikahannya! Dia pasti terlihat cantik, dan aku tidak bisa melihatnya!”
Situ Yangle benar-benar tak bisa berkata-kata. ‘Apa ini sungguh efek dari kehamilannya? Ini mengerikan,’ batin Situ Yangle sembari mengerutkan bibir.
Di sisi lain, Huang Liqiang dan Huang Qinghao sedang menjamu para tetua yang berkunjung di ruang tengah. Qing Gangtie sendiri terlihat bersantai sembari menyesap tehnya, dia duduk berdampingan dengan sang Perdana Menteri, Situ Haonan. Wei Xinhao dan beberapa kerabat lain tertawa sembari bercakap-cakap, sesekali melemparkan candaan pada Huang Liqiang.
Suasana begitu meriah, tapi tak ada yang tahu kalau berbagai macam pikiran sedang berkecamuk di dalam benak Huang Miaoling. Pikirannya tanpa henti terus kembali pada kejadian di malam sebelumnya. Bahkan ketika dirinya sedang bersantap bersama beberapa kerabatnya, Huang Miaoling hanya bisa menelan beberapa sendok.
“Kalau kau tidak makan lebih banyak, kau akan lapar,” sebuah suara berkata, membuat Huang Miaoling menengadahkan kepalanya. Sosok Wang Qiuhua terlihat tersenyum kepadanya dengan wajah penuh kekhawatiran. “Apa yang membuatmu begitu khawatir?” tanyanya seraya menyentuh tangan sahabatnya itu.
Wei Xiaomei, adik perempuan dari Wei Shulin, tersenyum. “Miaoling mungkin khawatir mengenai malam pertamanya, Tuan Putri,” candanya membuat beberapa orang lainnya tertawa.
“Candaanmu itu menggelikan,” balas Wei Xiaolan, kembaran Wei Xiaomei, sembari ikut terkekeh.
Wang Qiuhua hanya bisa tersenyum kecil untuk menanggapi candaan tersebut. Namun, dia yakin ada hal lain yang Huang Miaoling sembunyikan. “Makanlah lebih banyak. Walau tidak sesuai tradisi keluarga kerajaan, tapi pernikahan dengan tradisi keluargamu juga akan memakan waktu seharian.”
Qiuyue mengambilkan sepotong roti kukus dan meletakkannya di piring majikannya. “Tuan Putri benar, Nona. Makanlah lebih banyak. Kau tidak akan diizinkan bersantap sampai pengantin pria kembali menemuimu di kamar pengantin,” jelasnya membuat wajah beberapa gadis merona merah.
Huang Miaoling tersenyum tipis. “Terima kasih,” ucapnya seraya memaksakan diri untuk makan lebih banyak. Matanya kemudian melirik ke arah guci anggur yang ada di meja. “Aku mau itu.” Dia menunjuk ke arah guci anggur tersebut.
__ADS_1
“Ah?” Qiuyue tertegun. “Nona, kau serius?”
Pada saat ini, Xiang Ruyi tertawa. “Menurut penglihatanku, Kak Miaoling takut bertemu dengan calon suaminya!” Semua orang pun tertawa kecil, membuat Huang Miaoling meringis. Kalau Tang Lixi ada di sana saat itu, dia pasti sudah memelintir telinga adik seperguruannya.
“Kalau aku takut, aku tak akan setuju menikahinya,” balas Huang Miaoling seraya merengut. Dia meneguk anggur yang baru saja dituangkan Qiuyue.
Mendengar balasan Huang Miaoling, semua orang yang ada di sana semakin heboh. “Wah, apakah itu sebuah pengakuan?!” seru salah seorang gadis dengan riang.
Sudut bibir Huang Miaoling sedikit terangkat. Jujur, memiliki keluarga dan sahabat dekatnya di sisinya saat ini adalah hal yang baik. Paling tidak, sedikit kekhawatirannya sempat sirna.
Tak berarti hal tersebut hilang sepenuhnya.
Selagi halaman Huang Miaoling dipenuhi canda-tawa, tiba-tiba Chunhua datang dengan tergesa-gesa. “P-pengantin pria telah tiba! Para tuan muda sedang menghadangnya!” dia mengumumkan dengan girang.
Pada saat ini, Wang Qiuhua memasang sebuah senyuman penuh arti. “Coba kita lihat apakah dia bisa melalui tantangan yang akan diberikan para pria kediaman Huang.”
***
Di depan gerbang kediaman Huang, sekerumunan orang bisa terlihat mengepung tempat tersebut. Beberapa penduduk kota yang memiliki waktu luang terlihat ikut memandangi perayaan yang ada, bahkan beberapa pejalan kaki yang ingin lewat berakhir terdiam dan ikut menonton.
“Luar biasa! Memang keluarga bangsawan dari Kerajaan Wu, bahkan rombongan mereka jauh lebih mewah dan ramai dibandingkan rombongan kerajaan yang menjemput Nona Kedua Huang,” celetuk seorang penonton.
“Kau kira ini semena-mena karena pengantin pria berasal dari keluarga Liang? Tentu tidak!” balas seorang penonton lain. “Ini karena Tuan Muda Liang juga pemilik Lianhua Yuan!”
“Hah?!”
Seorang pria dengan pakaian pelajar membuka kipasnya dan menutup setengah wajahnya. Dia memperingatkan, “Ada baiknya kalian tidak membicarakan hal tersebut. Kalau ada orang yang menyebarkan ucapan kalian dan hal tersebut terdengar sampai telinga keluarga kerajaan, maka habis sudah riwayat kalian.” Dia membuat para penonton itu segera bungkam, sadar bahwa Tuan Putri Qiuhua menghadiri perayaan ini.
Selagi beberapa penonton berbisik mengenai identitas Liang Fenghong, pria yang dibicarakan itu baru saja turun dari kudanya. Dengan pakaian berwarna cerah, dirinya terlihat sangat berbeda dengan biasanya. Tentu saja, ketampanannya sama sekali tidak terguncang. Sebaliknya, pria itu terlihat semakin tampan dan mengundang.
Hanya saja, kalau diperhatikan dari dekat, ada sekelebat bayangan gelap yang menyelimuti wajah sang Tuan Muda Liang.
Menyambut kedatangan Liang Fenghong, Huang Jieli berdiri di barisan paling depan pada gerbang kediaman Huang, menunjukkan kalau dirinya adalah pemimpin pertahanan. Di sisinya, ada Huang Hanrong dan Huang Junyi yang telah siap menghadang Liang Fenghong dari ‘menculik’ kakak ketiga mereka. Karena dipaksa, bahkan Wei Shulin selaku saudara sepupu dari Huang Miaoling harus ikut dalam bagian perayaan ini. Para pelayan pria dan wanita juga telah siap menghalangi rombongan Liang Fenghong dari menembus ‘benteng pertahanan’ mereka.
Andaikan Wang Zhengyi diizinkan untuk hadir, dia pasti akan berpartisipasi dalam perayaan ini. Lagi pula, dia masih sedikit tak rela dengan pernikahan Huang Miaoling yang begitu mendadak dengan sang Tuan Muda Liang.
Ketika Liang Fenghong mengambil satu langkah menaiki undakan tangga, Huang Jieli berkata lantang dengan tangan terjulur menghalangi calon iparnya, “Enak saja mau masuk semudah itu!” Dia menyeringai dengan sombong. “Sebelum melalui tantangan, kau tak boleh masuk!”
Mendengar hal ini, Xiaoming yang tidak sepenuhnya mengerti dengan tradisi pernikahan Kerajaan Shi terperangah. “Ah? Lalu, kalau tidak bisa melewati tantangannya bagaimana?” tanyanya dengan bodoh.
Pada saat ini, Huang Hanrong dan Huang Junyi tersenyum jahat. Mereka berseru secara bersamaan, “Tentu tidak bisa masuk!”
________
__ADS_1
A/N: Asalkan kalian tahu, riset budaya pernikahan zaman dulu Tiongkok itu ... makan waktu banget, terutama karena beragam :") Jadi, kalau ada ketidakselarasan dengan yang asli, kasih tahu aja, tapi jangan dihina, ya. Wakakak, hatiku rapuh.