Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 27 Cemburu


__ADS_3

Setelah sekian lama menunggu, Liang Fenghong akhirnya mendengar suara Huang Miaoling yang penuh keraguan berkata, “Wang Wuyu adalah seorang genius. Namun, tetaplah tidak mungkin baginya untuk membentuk sebuah pasukan mematikan di usia yang begitu belia.” Gadis itu melanjutkan, “Karena bukan Kaisar yang membantunya, maka hal tersebut pasti berhubungan dengan keluarga ibunya.” Dia terdiam sesaat. “Yang Yuechan, sang Defei, adalah pecinta kedamaian, ambisi sama sekali tidak hadir dalam kamus kehidupannya. Namun, hal tersebut tak berarti keluarganya menganut kepercayaan yang sama.”


Mendengar ucapan Huang Miaoling, Liang Fenghong tidak memberikan reaksi apa pun di wajahnya. Namun, dia membatin, ‘Keluarga Yang Defei dipimpin oleh Yang Tianbai, sang Menteri Ritus. Pria itu memang sedikit berbeda.’


Dari interaksi singkatnya dengan Yang Tianbai pada saat perjamuan di malam sebelumnya, Liang Fenghong tidak merasa pria itu memiliki hal yang menonjol. Sebaliknya, Yang Tianbai adalah pria yang rendah diri, seakan berusaha untuk tidak menarik perhatian orang lain.


Itu adalah sebuah keanehan mengingat Yang Tianbai adalah salah satu petinggi istana yang seharusnya berusaha menarik hati para petinggi di setiap saat.


Huang Miaoling menjelaskan bagaimana dahulu Menteri Yang melihat potensi dalam cucunya dan ingin mendorong Wang Wuyu ke atas takhta. Yang Defei menyadari hal ini dan kemudian mengumumkan pada dunia mengenai kemunduran Wang Wuyu dari pemerintahan. Hal tersebut dilakukan oleh wanita itu guna menghapuskan niat ayahnya untuk menanamkan ambisi berbahaya dalam diri putranya.


“Bahkan tanpa campur tangan Menteri Yang, aku yakin Yang Defei tetap akan memaksa Wang Wuyu untuk mengundurkan diri karena Li Guifei,” ujar Huang Miaoling. “Dia tentu tak ingin Wang Wuyu berakhir seperti Pangeran Kedua dan Pangeran Ketiga.” Jari-jari Huang Miaoling sedikit bergerak. “Namun, hal tersebut tak berguna karena ambisi terpendam itu telah terlebih dahulu tersulut.”


Telah terbiasa dengan pandangan tinggi semua orang, tentu sang Pangeran Kelima tak akan terbiasa dengan tatapan tanpa ekspektasi semua orang di sekelilingnya. Terlebih lagi ketika mengetahui ibundanya … memiliki sifat yang dia anggap begitu pengecut.


Menghindari masalah karena takut pada Li Guifei dan tantangan yang mungkin menghadang? Wang Wuyu tidak terima!


Sejak pengumuman sang Ibunda atas kemundurannya dari pemerintahan, Wang Wuyu tahu kalau ayahandanya tak akan memberikan sumber daya padanya. Hal tersebut mendorong sang Pangeran Kelima untuk menghubungi kakeknya yang dengan senang hati membantunya mempersiapkan sebuah pasukan khusus baginya. Itu adalah asal-muasal Pasukan Kematian yang sebenarnya.


Yang Defei bukan orang bodoh. Sebaliknya, dia sangat cerdas. Wanita itu pasti mengetahui komunikasi antara putra dan ayahnya. Namun, tahu tidak bisa menghentikan ambisi keduanya, dia memutuskan untuk menanamkan seseorang dalam Pasukan Kematian untuk mengawasi gerak-gerik putranya. Hal itu guna menghindari terjadinya kesalahan yang tak mampu diperbaiki.


Seperti saat ini.


“Yang Defei tahu kalau rencana Wang Wuyu memiliki celah, dan dia pun mempersiapkan rencana cadangan kalau-kalau celah itu sungguh membuat rencana putranya gagal,” jelas Huang Miaoling. “Dia akan menghubungi Kakak Pertama.”


Yang Defei dan Huang Shufei memiliki hubungan baik, hal itu berarti hubungannya dengan keluarga Huang pun juga tidak buruk. Bukanlah hal yang tak masuk akal bagi Yang Defei untuk kemudian menghubungi Huang Yade untuk masalah ini. Paling tidak, Yang Defei yakin kalau Huang Yade akan berusaha memberikannya wajah dan membantu putranya.


“Bahkan, dia mungkin telah mengutus orang untuk menghubungi Kakak Pertama beberapa saat yang lalu.”


Liang Fenghong akhirnya angkat bicara, “Yang Defei memerintahkan bawahannya dalam Pasukan Kematian untuk menggunakan Yunlin sebagai alat transaksi agar keluarga Huang … melepaskan putranya.” Lalu, dia menggelengkan kepalanya. Dia membenarkan ucapannya, “Agar kau melepaskan putranya.”


Tangan Huang Miaoling terasa kaku selama sesaat, seakan terkejut kalau Liang Fenghong bisa dengan cepat mengerti jalan pikirannya. Saat otot-ototnya kembali santai, gadis itu menganggukkan kepalanya, masih tidak menatap pria itu.


“Kau menjelaskan ini padaku, aku bersyukur karena kau memperkuat keyakinanku.” Alis Liang Fenghong bertaut. “Namun, kau tahu bukan ini yang ingin aku bicarakan,” ujarnya.


Masalah keluarga kerajaan yang berusaha memperebutkan takhta, hal tersebut adalah hal sepele yang sudah sedari awal telah Liang Fenghong ketahui. Setiap langkah orang-orang itu begitu mudah terbaca dari detik dirinya mengetahui rencana Wang Wuyu dan Li Guifei untuk menjebak Wang Junsi dan Huang Miaoling. Ditambah dengan kenyataan bahwa Yuanli berhasil dengan tepat waktu menghubunginya, Liang Fenghong sudah tahu kalau Huang Miaoling telat mempersiapkan jalan keluar bagi dirinya sendiri. Bahkan, Liang Fenghong tak akan kaget apabila selain dirinya, Huang Miaoling telah mempersiapkan rencana cadangan lainnya.

__ADS_1


“Aku sudah berbicara dengan Guru Besar Qing,” ucap Huang Miaoling, seakan bisa membaca pikiran Liang Fenghong. Ah, sebenarnya, ini adalah cara gadis itu untuk meredakan amarah pria itu yang didasari tindakannya yang seakan berencana untuk membahayakan dirinya sendiri. “Kau tahu aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak bisa kupastikan keberhasilannya.”


“Ling’er!” Liang Fenghong tak tahan lagi, dia mengeratkan pegangannya pada tangan Huang Miaoling. “Aku tidak peduli dengan perebutan takhta dan politik istana, aku ingin tahu kenapa kau begitu terpaku pada Wang Chengliu!”


Mendengar hal ini, Huang Miaoling terdiam. Seluruh tubuhnya membeku, seakan kenyataan baru saja dilemparkan ke hadapan wajahnya.


‘Pernyataan itu ….’ Mata Huang Miaoling berbinar.


Liang Fenghong meringis. “Kau masih mencintainya ….”


“Tidak!” Huang Miaoling segera terduduk dan menatap Liang Fenghong. Tangannya menggenggam erat tangan pria itu, tidak ingin melepaskan. Dia khawatir sekalinya dirinya melepaskan tangan itu, maka dia akan kembali tenggelam dalam kegelapan. ‘Pria ini …. Apa yang dimaksudkan olehnya dengan … ‘masih’?’


“Namun, dari yang kulihat, kau memperhatikannya,” ujar Liang Fenghong.


Huang Miaoling memasang wajah tak percaya. “A Feng! Kenapa kau begitu memaksa hubunganku dengan Wang Chengliu?! Apa kau berharap aku pergi kepadanya?!” Gadis itu berusaha untuk memancing Liang Fenghong untuk mengutarakan suatu kalimat kepastian.


“Dari awal sampai akhir, yang aku harapkan hanyalah agar kau menyisakan sedikit ruang bagiku dalam dirimu!” balas Liang Fenghong membuat Huang Miaoling tercengang. Pria itu menyentuhkan tangan Huang Miaoling pada dahinya, sebuah usaha untuk menutupi wajahnya. “Malam sebelumnya, walau sempat menegurmu, kau tidak tahu betapa bahagianya aku ketika tahu semua yang kau lakukan, menjebak keluargamu sendiri, itu semua adalah demi diriku.”


Huang Miaoling terdiam, mengingat kembali perdebatannya dengan Liang Fenghong di malam sebelumnya. Pria itu memang sempat menegurnya, tapi semua ucapannya tidak mengandung hal-hal yang memojokkan Huang Miaoling dan mencobai kesabarannya.


“Hari ini, kau … rela meletakkan dirimu di garis depan, membahayakan semua keberhasilan yang telah kau bangun, hanya untuk mendapatkan keyakinan mengenai posisi Wang Chengliu di atas papan permainan?” Liang Fenghong mengangkat kepalanya, sepasang matanya terlihat berkaca-kaca. “Aku tidak terima!” serunya dengan suara tertahan. Lalu, alisnya bertaut, membuat keningnya membentuk sebuah kerutan dalam. “Lagi pula, apa yang membuat dirimu begitu membencinya?”


Huang Miaoling tersedak. “Kau ….” Matanya tidak bisa beralih dari sepasang manik hitam di hadapannya, menggerayangi wajah pria yang menggambarkan sebuah tekad untuk mencari tahu sebuah kebenaran dari dirinya. “Kau tidak tahu?”


Mendengar pertanyaan ini, Liang Fenghong memasang wajah yang sangat buruk, seakan dia baru pertama kali melihat Huang Miaoling mengatakan sesuatu yang sangat bodoh. “Bagaimana mungkin aku tahu?!” tanyanya dengan frustrasi.


Huang Miaoling mengedipkan matanya beberapa kali. “Jadi, semua tindakanmu … karena kau cemburu?”


“Ya!”


Detik Liang Fenghong meneriakkan kata-kata itu, Huang Miaoling tercengang. Karena mengamati pria itu dengan begitu dalam, gadis itu bahkan menyadari kalau rona merah perlahan merayap di wajah pria itu. Sepertinya, Liang Fenghong baru tersadar kalau ucapannya cukup mengguncang harga dirinya.


Liang Fenghong memaki dalam hati karena baru tersadar dengan jawabannya. ‘Liang Fenghong, kau ini bicara apa?!’ teriaknya atas kebodohan dirinya sendiri yang terbawa emosi. Sungguh dia merasa dirinya baru saja melakukan hal yang begitu memalukan.


Selama sesaat, Huang Miaoling merasa semua kekhawatirannya menguap. Dia awalnya mengira kalau Liang Fenghong tahu mengenai hubungannya dengan Wang Chengliu di kehidupan lalu. Lagi pula, kalau seseorang seperti dirinya mampu kembali ke masa lalu, ada hal apa yang bisa menjamin bahwa tak ada orang lain yang mengalami hal yang sama seperti dirinya?

__ADS_1


Ya, Huang Miaoling sempat mengira Liang Fenghong mengalami perjalanan waktu seperti dirinya. Dia menduga hal tersebutlah yang menyebabkan perubahan sikap pria itu kepadanya sejak awal pertemuan mereka. Ada ketakutan dalam diri Huang Miaoling kalau semua kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh Liang Fenghong sekarang … hanyalah sebuah sandiwara bagi suatu tujuan yang lain.


Namun, sepertinya itu hanyalah sebuah kekhawatiran kosong Huang Miaoling belaka.


Mata Huang Miaoling menatap sepasang manik hitam yang terpampang di hadapannya. Entah telah berapa kali dirinya menatap keseluruhan wajah pria di hadapannya, tapi Huang Miaoling baru pertama kali merasa wajah Liang Fenghong saat itu begitu menggemaskan. Sosok yang biasa hanya mampu menampakkan ekspresi yang begitu dingin pada saat ini terlihat seperti seseorang yang kehilangan arah.


Entah apa yang merasuki Huang Miaoling pada saat itu, tapi gadis tersebut secara tiba-tiba menundukkan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Liang Fenghong. Hal tersebut membuat sang Tuan Muda Liang terbelalak, tak menyangka akan ada hari di mana gadis di hadapannya melakukan sebuah tindakan di luar akal sehat seperti ini.


Sebelum Liang Fenghong sempat bereaksi, Huang Miaoling memisahkan dirinya dan menatap sosok pria di hadapannya. Ciuman itu terjadi begitu cepat, tapi kelembutan dan kehangatan yang ditinggalkan membuat Liang Fenghong seperti seseorang yang baru saja terjatuh ke dalam sebuah hipnotis.


Huang Miaoling tertawa kecil menatap ekspresi konyol yang terpasang di wajah sang Tuan Muda Liang. ‘Tuan Cuka, anggap itu hadiahmu,’ ejek gadis itu dalam hati. “Kalau hal seperti hari ini terjadi lagi, jangan salahkan aku memaksamu meneguk satu mangkuk cuka sebagai hukuman.” Liang Fenghong hanya terdiam dan tidak membalas ucapan Huang Miaoling. Hal itu membuat sang Nona Pertama Huang memiringkan wajahnya sembari bersenandung. ‘Apa tindakanku begitu mengejutkannya?’


“L-Ling’er,” panggil Liang Fenghong seiring rohnya kembali. “A-aku sepertinya baru saja berhalusinasi.”


Mendengar hal ini, Huang Miaoling berkata, “Begitukah?” Alis kanannya terangkat dan ekspresinya menunjukkan kalau dirinya sangat terhibur. “Kalau begitu, bagaimana?”


Mendengar nada menantang dari ucapan Huang Miaoling dan senyuman menggoda yang terlukis di wajah gadis itu, Liang Fenghong merasa mulai kehilangan kendali dirinya. Pria itu mencondongkan tubuhnya dan menarik wajah Huang Miaoling ke arahnya.


____


A/N:


AHHHHHHHHHHH!!!! AHHHHHHHH!!!!


.


.


.


AHHHHHHH!!!


Mohon maap, authornya gak nyangka akan ada detik-detik membahagiakan ini. :") AKHIRNYA, AKU BISA MENULIS KE ARAH INI. (mohon maap nih, bang. Arah ke mana yak?)


Yah begitulah pokoknya. Awalan episode berikutnya .... uwu banget sih, menurut opini otor sih, yak. Jadi, jangan berharap banyak. Yang otor tahu, pas nulis senyam-senyum sambil tutup muka sendiri gara-gara malu.

__ADS_1


JANGAN LUPA KOMEN YAK, PENASARAN REAKSI KALIAN. AHAHAHA


__ADS_2