Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 91 Selir Huang


__ADS_3

“Aku mengerti, Kak Yaoyao,” ujar Yuanli seraya memberi hormat kepada pelayan pendamping Huang Yan’an.


Yaoyao mengangguk, “Pergilah.” Sebelum menunggu Yuanli pergi, dia telah terlebih dahulu membalikkan badan untuk kembali ke halaman majikannya.


Selesai percakapan singkatnya dengan sang pelayan Huang Shufei, Yuanli memutar tubuh untuk kembali ke jalanan utama istana. Namun, baru dia menapakkan kaki pada jalanan utama istana, dia dikejutkan oleh sekelompok pelayan yang berlari kecil menuju halaman utama istana.


“Permisi,” Yuanli menghentikan salah satu pelayan, “apa yang terjadi?” tanyanya dengan sebuah senyuman sopan.


Melihat Yuanli, pelayan itu mendecakkan lidahnya. “Tidakkah kau tahu? Hari ini adalah hari keberangkatan Pangeran Keempat untuk menangani perbatasan Zhou-Shi. Semua orang harus mengantar kepergiannya di halaman utama istana.” Tanpa pamit, dia langsung berlari pergi.


Sikap tidak sopan itu tidak membuat Yuanli marah maupun kesal. Lagi pula, wajar jika dirinya tak lagi dihormati setelah majikannya di istana kehilangan posisinya. Dibandingkan membuat Yuanli kesal, dia merasa senang. Tindakan tak sopan itu adalah bukti bahwa rencana Huang Miaoling untuk menghancurkan Huang Wushuang … berhasil.


Setelah memastikan alasan kehebohan yang terjadi, Yuanli pun memutar tubuhnya dan kembali melanjutkan perjalanan. Gadis itu tak berniat untuk berpartisipasi mengantarkan kepergian Wang Junsi. Tak ada kewajiban baginya untuk melakukan hal tersebut, terlebih karena halaman Huang Wushuang juga tidak diundang.


Halaman yang sekarang ditempati oleh Huang Wushuang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan halaman putri mahkota. Bila dibandingkan dengan selir-selir Wang Zhengyi yang lain, halaman yang wanita tinggali itu bisa dibilang kumuh. Perlakuan ini bukanlah suatu hal yang aneh. Huang Wushuang bukan lagi permata berharga di mata Wang Zhengyi, terutama setelah pria itu tahu mengenai keterlibatan wanita itu dengan kecelakaan yang hampir menimpa Huang Miaoling.


Yuanli mendorong pintu ruangan Huang Wushuang hingga terbuka, lalu berjalan masuk untuk meletakkan nampan berisi makanan yang dia bawa ke atas meja. Baru saja nampan itu berpisah dari tangannya, sudut mata Yuanli menangkap pergerakan mengejutkan dari sisi kirinya.


“Haa!” seruan itu mengiringi sebuah serangan berupa tusuk konde yang diarahkan kepada sosok Yuanli.


Sebelum ujung tajam tusuk konde itu mendarat di wajahnya, Yuanli menangkap pergelangan tangan penyerangnya dengan sigap. Pandangan pelayan itu berpindah kepada wajah sang penyerang, menikmati tekad dan kebencian yang terpancar dari manik cokelat yang ada di hadapannya. “Usaha yang bagus, Huang Wushuang.” Kemudian, tanpa belas kasihan, Yuanli mencengkeram erat pergelangan tangan ramping milik lawannya, membuat Huang Wushuang menjatuhkan senjatanya sembari berteriak kesakitan.


Jijik, Yuanli menghempaskan tangan Huang Wushuang, membuat wanita itu terjatuh mundur ke belakang. “Tidakkah kau mengerti apa yang dimaksudkan dengan ‘diam’? Haruskah setiap hari kau berusaha membunuhku, walau tahu hal itu tak akan berhasil?” tanya Yuanli seraya meraih tusuk konde yang terjatuh di lantai.


Sebuah senyuman terpasang di wajah Huang Wushuang. “Siapa yang tahu bahwa satu dari hari-hari itu aku beruntung dan bisa menciptakan lubang di jantungmu?!” Tangan kanannya terasa remuk, rasa sakit yang tajam menyerang ketika dia menggerakkannya. Namun, Huang Wushuang tak ingin menunjukkan kelemahannya kepada Yuanli, dia tak sudi.


“Kehilangan martabat dan diturunkan menjadi seorang selir masih belum cukup untukmu?” Yuanli mengerutkan keningnya, tak lagi mengerti apakah wanita di hadapannya ini memiliki otak yang berfungsi. “Satu-satunya alasan Wang Zhengyi mempertahankan dirimu di dalam tembok halamannya adalah karena marga Huang yang masih menempel di depan namamu. Jika kau diketahui membunuhku, konsekuensinya adalah kemarahan Mingwei Junzhu.” Pelayan itu berjongkok di hadapan Huang Wushuang dan tersenyum lebar, “Coba tebak apa yang akan Pangeran Mahkota lakukan demi menenangkan amarah Junzhu?”


Mengingat betapa suaminya menghormati Huang Miaoling, Huang Wushuang yakin bahwa dirinya akan dikorbankan. Namun, dia menyeringai, tak bersedia untuk kalah dalam perdebatan, “Huang Miaoling akan marah karena kematianmu? Tidakkah kau menganggap dirimu terlalu tinggi, Yuanli?” Wanita itu berniat memancing amarah gadis di hadapannya. “Terhadap saudara sedarahnya sendiri, Huang Miaoling tega, apalagi terhadap gadis tak berstatus sepertimu!” Dia menambahkan, “Selain itu, Ayah tak mungkin diam saja melihatku dihukum!”


Mendengar ucapan Huang Wushuang membuat Yuanli tersenyum lebar, kentara menahan tawa. “Ah … menyedihkan,” ujarnya dengan nada mengejek, “Saudara katamu?” Dengan satu tangan menopang sisi wajahnya, Yuanli membongkar sebuah rahasia, “Kau kira kenapa Keluarga Huang tidak melakukan apa pun ketika statusmu sebagai putri mahkota ditarik secara paksa? Kenapa pula Permaisuri dan Ibu Suri Shen berjuang keras untuk menjatuhkanmu?”


Huang Wushuang bungkam, wajahnya yang tadi terlihat begitu angkuh mulai berubah khawatir. “Apa yang ingin kau katakan?!” hardiknya.

__ADS_1


Yuanli mengarahkan jari telunjuknya pada Huang Wushuang, “Kau … bukan keturunan keluarga Huang, tak ada sedikit pun darah Jenderal Besar Huang yang mengalir dalam tubuhmu.” Senyum yang terlihat begitu manis muncul di wajah gadis itu, “Sebaliknya, kau adalah keturunan orang yang paling dibenci oleh seluruh keluarga Huang— Ah! Salah. Keturunan yang paling dibenci semua orang,” dia terkekeh, “Li Hongxia.”


***


‘Aku … bukan putri Ayah?’ Huang Wushuang memandang kosong ke udara, tak lagi memedulikan betapa tidak senonoh penampilannya yang terduduk di lantai sekarang. ‘Aku … putri sang pengkhianat, Li Hongxia?’


Kacau, sangat kacau benak Huang Wushuang saat ini. Awalnya, dia mengira bahwa sikap Yuanli yang keterlaluan didasari oleh posisi Huang Miaoling yang begitu tinggi di kerajaan saat ini. Bila dirinya bisa memberi tahu sang ayah mengenai hal ini, mungkin pria itu bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan penyiksaan yang dia terima. Namun, sekarang ….


‘Tak heran Bibi Yan’an mengabaikanku, begitu pula Kakak Pertama yang tidak pernah membalas surat yang kukirimkan padanya,’ batin Huang Wushuang. Dadanya terasa sesak dan tenggorokannya tercekat, air mata pun mulai menuruni wajah cantiknya. ‘Mereka sudah tahu … mereka jelas sudah tahu sejak lama, tapi tak pernah memberi tahu diriku!’


Malu, sedih, terluka, begitu banyak emosi bercampur-aduk dalam diri sang selir putra mahkota. Semua rencana hidupnya yang begitu luar biasa hancur berkeping-keping, dan mimpinya untuk menjadi ibu dari kerajaan tak akan bisa lagi tercapai. Dengan kenyataan bahwa dirinya adalah keturunan Li Hongxia, juga kerabat dari suku padang rumput, Huang Wushuang sadar bahwa hanya ada kesuraman di masa depannya.


Setelah Yuanli memberitahukan Huang Wushuang mengenai identitasnya, gadis tersebut pergi meninggalkan wanita itu sendirian di dalam ruangan. Tak hanya itu, gadis itu meninggalkan tusuk konde yang sempat Huang Wushuang gunakan untuk menyerangnya di sisi wanita itu. Tujuan Yuanli tak lain adalah … untuk memberikan kesempatan kepada Huang Wushuang agar menghabisi nyawanya sendiri.


“Apa gunanya kau hidup, Huang Wushuang? Kau serupa burung dalam sangkar, dengan perbedaan majikanmu tak lagi berniat untuk menikmati atraksi yang bisa kau suguhkan,” ujar Yuanli sebelumnya dengan sebuah pandangan merendahkan. “Matilah, hanya itu kebaikan yang bisa kuberikan padamu.” Dan, gadis itu pun pergi, membiarkan sang mantan putri mahkota mengambil pilihannya.


Mata Huang Wushuang menatap tusuk konde yang berada di sisinya, lalu dia meraihnya. Jarinya yang lentik menyentuh tusuk konde yang indah itu, hadiah pertama yang diberikan oleh Wang Zhengyi kepada dirinya.


‘Matikah … pilihannya?’


“Telah lama sejak Pangeran Mahkota mengunjungi Selir Huang, dan dia merasa bersalah karenanya. Oleh karena itu, Pangeran Mahkota memerintahkanku untuk mengirimkan sesuatu,” suara seorang gadis yang begitu manis bisa terdengar menjawab pertanyaan Yuanli.


“Terima kasih atas perhatian Putra Mahkota, aku yakin Selir Huang akan menyu—”


Sebelum ucapan Yuanli selesai, gadis pelayan suruhan Wang Zhengyi memotongnya, “Aku sendiri yang akan memberikannya kepada Selir Huang, perintah Putra Mahkota harus kulaksanakan sampai tuntas.”


Khawatir Yuanli akan memaksa pelayan itu untuk menyerahkan hadiah Wang Zhengyi padanya, Huang Wushuang segera berdiri dan merapikan penampilannya sedikit. Ada harapan dalam hati wanita itu, harapan bahwa Wang Zhengyi masih mencintai dirinya.


Huang Wushuang bergegas mendudukkan diri kursi sebelum akhirnya berkata, “Yuanli, biarkan dia masuk.” Sebuah senyuman tipis terlukis di wajahnya, ‘Di hadapan orang lain, apa kau bisa membantahku?’


“Baik … Selir Huang,” jawab Yuanli dengan suara yang sedikit tertahan, jelas bahwa dia kesal.


Tak lama, pintu ruangan pun terbuka, dan Yuanli beserta seorang pelayan dengan tubuh mungil berjalan masuk. Sebuah kotak kayu dengan ukiran unik berada di atas nampan yang dipegang pelayan asing itu.

__ADS_1


“Salam kepada Selir Huang,” ujar pelayan tersebut membuat pelipis Huang Wushuang berkedut, dia tak pernah menyukai status barunya.


“Berdirilah,” balas Huang Wushuang. “Apa yang kau bawa?”


Mendengar pelayan itu menjelaskan hal yang sama seperti yang dia katakan kepada Yuanli, Huang Wushuang pun menganggukkan kepala dan meraih kotak kayu dari atas nampan. Dia membuka kotak tersebut dan terkejut ketika melihat sebuah cincin dengan permata berwarna kemerahan.


Ah, maaf. Bukan permata indah tersebut yang membuat Huang Wushuang terkejut, melainkan sesuatu yang menempel pada bagian dalam tutup kotak.


‘I-ini—’ Huang Wushuang membocorkan keterkejutannya, membuat Yuanli yang berada di sebelah pelayan itu memicingkan matanya.


Sebelum ada yang bisa bertindak lebih jauh, pelayan itu tersenyum dan berkata, “Ini merupakan permata yang ditemukan di gunung pusaka Fanhui, hanya ada satu di dunia ini dan Pangeran Mahkota memutuskan untuk menghadiahkannya padamu, Selir Huang.”


Ketika melihat Yuanli menggeser posisi tubuhnya untuk melihat isi kotak, Huang Wushuang bergegas menutup kotak tersebut. Lalu, dengan wajah yang terlihat sedih dan pahit, wanita itu meletakkan kembali kotak hadiah itu di atas nampan.


“Sampaikan kepada Yang Mulia Pangeran Mahkota … bahwa aku tak bisa menerima hadiahnya,” ucap Huang Wushuang membuat tak hanya pelayan utusan Wang Zhengyi itu terkejut, tapi juga Yuanli.


Dengan wajah panik, gadis pelayan itu bergegas berkata, “A-apakah kau tidak menyukai hadiahnya, Selir Huang? N-namun, Pangeran Mahkota telah meluangkan waktu lama untuk mencarikan—”


“Niat baik Pangeran Mahkota telah kuterima, tapi tidak dengan hadiah yang begitu berharga. Bawalah kembali hadiah itu,” balas Huang Wushuang seraya berdiri dari kursinya dan melangkah menjauhi ruang tamunya. “Aku lelah dan ingin beristirahat.”


Gadis pelayan itu terlihat sangat ketakutan. Tentu saja, bagaimana tidak? Apabila hadiah yang dia antarkan ditolak, jelas Wang Zhengyi akan marah besar dan mencurigai bahwa alasan penolakan Huang Wushuang adalah dirinya.


Gadis pelayan itu yakin bahwa dia akan dihukum. Namun, apa yang bisa dia lakukan?


Dengan berat hati, gadis pelayan itu menundukkan kepalanya. “H-hamba mengerti, Selir Huang.” Kemudian, dia pun berbalik dan melangkah pergi.


Yuanli yang memerhatikan kejadian itu dari samping hanya terdiam. Walau sedikit tak menduga Huang Wushuang akan menolak hadiah Wang Zhengyi, tapi dia tak berniat untuk memaksa wanita itu menerima hadiah tersebut. Lagi pula, kalau Wang Zhengyi sungguh berakhir marah dan hubungan Huang Wushuang dengan pria itu semakin rusak, itu adalah sebuah kabar baik.


Setelah semua orang pergi dari ruangannya, Huang Wushuang mendudukkan diri di pinggir tempat tidurnya. Dia menggigit kuku ibu jarinya dengan gemas, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang dia pikirkan dengan keras.


Sesungguhnya, Huang Wushuang menolak hadiah tadi bukan karena dia tidak menginginkannya, melainkan karena pesan yang tertera pada kertas kecil yang menempel pada bagian dalam tutup kotak. “Tolak hadiah ini setelah kau membaca pesanku. Malam ini, aku akan menemuimu,” nama yang tak diduga mengakhiri surat tersebut.


Dengan wajah panik dan kebingungan, Huang Wushuang membatin dalam hatinya, ‘Kenapa … Pangeran Keenam menghubungiku?’

__ADS_1


___


A/N: *Author yang lagi mengamati dari atas pohon*: Kayaknya\, malam ini ada tontonan menarique.


__ADS_2