
Suara lembaran halaman buku tua yang dibalik terdengar renyah, dan kertasnya yang termakan usia memunculkan aroma yang menenangkan. Jari-jari panjang yang tegas itu menyusuri rentetan kata pada buku tersebut, mencoba mencari targetnya.
Mendadak, jari tersebut berhenti pada satu nama. Kemudian, perlahan ujung jari itu menyusuri sekumpulan informasi menyangkut nama tersebut.
Seiring jari itu menyusuri penjelasan mendetail mengenai asal-usul nama yang tertunjuk, seluruh tubuh pemilik jari tersebut bergetar. ‘Jadi, wanita itu sungguh—!'
Sebelum menyelesaikan pikirannya, pemilik jari itu bergegas meletakkan kembali dokumen tersebut ke dalam rak. Lalu, dia meraih buku lain dan mulai membalik halamannya, berpura-pura membaca isinya.
“Penyelidik Rong?”
Rong Gui menoleh dan menutup buku yang dia pegang. Sebuah senyuman terlukis di wajahnya seiring dirinya berkata, “Salam kepada Menteri Yang.” Dia membungkuk hormat dengan sopan kepada pria yang memiliki kedudukan jauh lebih tinggi di atasnya itu.
Yang Tianbai mengerutkan keningnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Dia tidak terlihat senang melihat Rong Gui di tempat tersebut.
Dengan wajah santai, Rong Gui angkat suara, “Jawab, Menteri Yang, Ketua Wei memerintahkanku untuk menyelidiki mengenai identitas Kasim Xia.” Dia melihat kerutan di kening Yang Tianbai semakin dalam. “Pria itu diduga memiliki keterlibatan dengan usaha Li Guifei meracuni Huang Shufei.”
Mendengar penjelasan Rong Gui, Yang Tianbai menaikkan satu alisnya dengan tatapan curiga. “Masalah itu telah berlalu begitu lama, dan departemen penyelidikan masih mempermasalahkan hal tersebut?” Dia melirik judul buku yang Rong Gui pegang, lalu kecurigaan pada matanya menghilang diikuti dengan dirinya yang mendengus, “Yang benar saja.” Setelah berceloteh sendiri, pria tersebut berjalan melalui Rong Gui dan lanjut mencari sesuatu yang dia perlukan untuk melaksanakan ritual kematian cucunya.
Rong Gui pamit undur diri, yang tentu saja tak dihiraukan sang menteri ritus. Pria itu kemudian dengan lincah menukar buku yang dia pegang dengan buku yang sebelumnya dia letakkan di rak. Lalu, dia menyelipkan buku tersebut ke dalam pakaiannya. Sungguh menakjubkan bagaimana wajah tampan itu masih bisa terlihat tenang ketika melewati petugas ruang dokumentasi, menampakkan wajah tak berdosa walau kenyataannya telah mencuri sebuah buku penting.
Begitu dirinya mencapai departemen penyelidikan, Rong Gui bergegas melangkah ke ruang ketua. Dia berusaha keras untuk terlihat tenang seiring dirinya mengetuk pintu Wei Shulin, “Ketua, ini aku.”
“Masuklah, Rong Gui,” ujar Wei Shulin yang berada di dalam ruangan.
Rong Gui menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa keadaan sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang mengikuti dirinya. Kemudian, dia mendorong pintu dan melangkah masuk.
“Ketua, ada hal yang perlu—!” Rong Gui memilih untuk menghentikan ucapannya secara mendadak ketika menyadari bahwa Wei Shulin tidak sendiri. Pria itu membungkuk hormat, “Salam kepada Pangeran Mahkota.”
Wang Zhengyi melirik Rong Gui dan menilai pria tersebut dengan teliti. Kemudian, dia berujar, “Ini orangnya?” Entah kenapa, nada bicara Wang Zhengyi terdengar sedikit mengancam.
Dengan santai, Wei Shulin menjawab, “Ya, dia orangnya.”
Suara langkah kaki yang menghampiri dirinya membuat jantung Rong Gui berdetak kencang, khawatir. Dirinya masih belum dipersilakan untuk menegapkan tubuhnya, jadi sang Penyelidik Rong hanya bisa terdiam di tempat dengan pandangan menatap lantai.
__ADS_1
Detik berikutnya, wajah Rong Gui berubah buruk ketika mendengar sang pangeran mahkota berkata dengan suara berat, “Kau … orang yang sempat bekerja untuk Wang Chengliu?”
Keringat dingin bisa Rong Gui rasakan muncul di belakang leher dan punggungnya. ‘Bagaimana mungkin Pangeran Mahkota mengetahui hal ini? Apa … apa Mingwei Junzhu masih tidak mempercayaiku?’ Dia menggertakkan giginya. ‘Jadi, dia berniat menyingkirkanku?’
Namun, apakah Huang Miaoling orang yang seperti itu?
“Ya, Yang Mulia,” Rong Gui memutuskan untuk menjawab, lalu perlahan menegapkan tubuhnya dan menangkap tatapan tajam yang diberikan Wang Zhengyi padanya. “Aku adalah orang yang pernah bekerja untuk Pangeran Keenam.”
Pandangan kedua pria itu beradu untuk sesaat, dan suasana tegang mulai terasa. Namun, Rong Gui kemudian dikejutkan dengan wajah aneh yang tiba-tiba merayap di wajah Wang Zhengyi, terlebih ketika sang pangeran mahkota mengangkat kedua bahunya seakan tak peduli.
“Aku semakin tidak mengerti kriteria bawahan adik keenamku itu,” ujar Wang Zhengyi seraya berjalan ke salah satu kursi yang ada di ruangan, lalu dia duduk di sana. Matanya kemudian beralih kepada Wei Shulin, “Cukup mengejutkan bagaimana Mingwei Junzhu merekrutnya. Apa Junzhu tertarik dengan kemampuan pria ini … atau hanya karena dia pernah bekerja dengan Chengliu?”
Rong Gui mengerjapkan matanya beberapa kali, sedikit terkejut dengan perubahan suasana. Sikap dan ucapan Wang Zhengyi … menunjukkan seakan dia bekerja sama dengan Huang Miaoling.
‘Tunggu, sungguh?!’
Rong Gui sedikit terbengong, dia memutar benaknya. Sekarang, dia mengerti kenapa Wang Chengliu begitu waspada dengan Huang Miaoling.
‘Tidak hanya Junzhu ingin mendorong Pangeran Mahkota ke takhta, tapi dengan pilihan itu, dia juga memiliki banyak sekutu di dalam istana.’ Rong Gui yakin akan satu hal, ‘Permaisuri Mingmei dan Ibu Suri Shen jelas juga sekutunya ….’ Lalu, keningnya berkerut. ‘Namun, itu tidak menjelaskan bagaimana Junzhu mampu tahu mengetahui tentang ….’
Rong Gui melemparkan pandangan tidak nyaman kepada Wang Zhengyi. Akan tetapi, karena Wei Shulin tidak merasa terganggu dengan keberadaan sang pangeran mahkota, pria itu pun lanjut berkata, “Aku telah berhasil memastikan asal-usul ibu dari Chen Meiren, Chen Meilian.”
***
Huang Miaoling membaca surat yang baru saja dia terima, ekspresi yang terpasang di wajahnya begitu datar. Dia melipat kertas surat di tangannya dan melayangkannya di atas lidah api lilin yang sibuk menari.
Pandangan Huang Miaoling terarah kepada api yang perlahan melahap kertas, menerawang ruang dan waktu. Ingatannya melambung kepada ucapan Liang Fenghong sebelum pria itu pergi dari ibu kota.
“Wang Chengliu adalah keturunan Raja Zhou,” Liang Fenghong memasang wajah yakin ketika mengatakan hal itu. “Ibunya, Chen Meilian, merupakan anak dari kemenakan Raja Zhou.” Tak ada sedikit pun kegusaran saat pria itu membisikkan sebuah hal di luar akal sehat, “Selain itu, dia juga satu-satunya keturunan pria yang tersisa dari Raja Zhou.”
Teringat hal itu, manik Huang Miaoling terarah kepada bagian surat yang belum sempat berubah menjadi abu. Rentetan tulisan terlihat menyatakan, “Chen Meilian, pelayan pendamping Xue Kexin, sungguh keturunan Zhou,” tanda ketua departemen penyelidikan, Wei Shulin, mengakhiri surat tersebut.
Alis Huang Miaoling bertaut, mengingat kembali jawaban Qing Gangtie atas pertanyaannya siang tadi, “Berdasarkan penyelidikan yang kau minta aku lakukan, Chen Meiping kemungkinan besar adalah saudari Chen Meilian. Telah kuperingati Qing Shan mengenai wanita itu kali terakhir aku menghubunginya, dan kurasa …,” ekspresi Qing Gangtie berubah masam, “itu alasan dari kematiannya yang mendadak.”
__ADS_1
Wajah Huang Miaoling mencerminkan kekalutan hatinya. Tidak, bukan sekadar kenyataan bahwa Chen Meilian, ibu dari Wang Chengliu, sungguh keturunan Raja Zhou. Akan tetapi, kenyataan bahwa Liang Fenghong telah mengetahui hal ini terlebih dahulu dibandingkan semua orang!
‘A Feng … mungkinkah …,’ Huang Miaoling menggigit bibirnya selagi memikirkan hal tersebut, mencoba menyingkirkan prasangka dalam hatinya. Namun, dia teringat ucapan Lu Si, dan bibir gadis itu pun terbuka mengulangi ucapan pria tersebut, “Dua naga, kau memilih yang ini … maka aku akan memilih yang satunya.” Hal itu merujuk kepada suatu kemungkinan, ‘Selain Wang Chengliu, seseorang … kembali dari masa depan?’
“Jangan kau pikirkan hal yang tak mampu kau dapatkan jawabannya,” ujar sebuah suara membuat Huang Miaoling terkejut hebat, bahkan membuatnya melompat berdiri seraya meraih pedang di atas meja.
Ketika cahaya lilin menerangi wajah sosok tak diundang itu, Huang Miaoling menyarungkan kembali pedangnya. “Lan’er,” panggilnya. Wanita itu menghela napas, tak lagi ingin memusingkan diri mengenai bagaimana gadis itu mampu muncul dari ruang tidurnya. “Tidak seharusnya kau berada di sini, kau masih perlu istirahat,” ujarnya seraya menghampiri Lan’er.
Lan’er tersenyum tipis, seakan berusaha menutupi bibirnya yang pucat. “Dibandingkan menebak-nebak hal yang tidak pasti, lebih baik kau mengusut sebuah kenyataan yang baru saja terungkap,” balas gadis itu, mengabaikan nasihat sang Mingwei Junzhu. Dengan santai, Lan’er mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang mengelilingi meja tamu Huang Miaoling. “Kau tahu apa yang harus dilakukan.”
Itu bukan pertanyaan.
Huang Miaoling duduk dan kembali meletakkan pedangnya di atas meja. “Kau tahu?” tanyanya seraya mengerutkan kening.
Lan’er tidak menghindari tatapan tajam dari Huang Miaoling, dan dia pun membenarkan, “Aku mengetahui semuanya.” Dia tersenyum. “Apa kau ingin tahu bagaimana Chen Meilian berakhir menjadi pelayan pendamping Xue Kexin?”
Pertanyaan Lan’er mengambang di udara untuk beberapa detik, tapi kemudian bibir Huang Miaoling terbuka, “Apa itu akan mengubah pandanganku terhadapnya?” Wanita itu menggertakkan giginya. ‘Terhadap Wang Chengliu.’
Mata cokelat Lan’er menatap lurus ke arah Huang Miaoling, lalu dia menjawab, “Mungkin.”
Pelipis Huang Miaoling berkedut. Jika benar demikian, apa gunanya Lan’er memberi tahu hal ini padanya? Bukankah gadis itu sendiri menginginkan kematian Wang Chengliu?
Tiba-tiba, jantung Huang Miaoling berdetak kencang satu kali. Matanya mencari-cari sesuatu dari pancaran mata gadis di hadapannya, tapi tak ada hal lain selain ketenangan.
Sudut bibir Huang Miaoling pun terangkat membentuk sebuah seringai. “Kau begitu mempercayai tekadku?” tanya wanita itu kepada Lan’er, tak percaya ada seseorang yang menaruh keyakinan sebesar itu padanya. “Kalau aku membunuh Wang Chengliu, kau akan mati, bukan begitu?” Tak ada jawaban dari Lan’er. “Apa kau ingin aku membiarkannya hidup?”
Mendengar pertanyaan Huang Miaoling, tak sedetik pun Lan’er sia-siakan dan dia langsung membalas, “Apa aku berhak memiliki andil dalam pengambilan keputusanmu?”
Huang Miaoling pun terdiam.
Lan’er menutup matanya, menampakkan sebuah ekspresi yang begitu tenang. “Miaoling, sudah kukatakan sebelumnya padamu,” kelopak matanya terbuka dan pandangannya terangkat, dia menunjukkan pancaran mata lelah, “yang kuinginkan adalah kebebasan.” Lalu, gadis itu tersenyum lembut. “Jadi, apa kau ingin mendengar kebenarannya?”
“Aku ….” Huang Miaoling mengepalkan tangannya. “Aku bersedia mendengarnya.”
__ADS_1
___
A/N: Sudah waktunya.