Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 43 Batas Kegilaan


__ADS_3

Tawa renyah bergema di dalam ruangan dengan wangi bunga Jian Lan yang menyegarkan itu. “Huang Miaoling sungguh telah kehilangan akal sehatnya!” seru Huang Yan’an dengan sebuah senyuman di bibirnya, tak berniat untuk menutupi dukungannya atas tindakan gila keponakannya.


Pelipis Huang Liqiang berdenyut melihat cara bicara putrinya. “Jaga ucapanmu, kau seorang Shufei,” dia memperingati seraya melirik ke arah barisan pelayan yang menundukkan kepalanya sembari menutup mata. “Sebaiknya tak ada mata-mata lain di antara orang-orang ini.”


Mendengar sang Ayah menyindir kecerobohannya mengenai Kasim Xia, Huang Yan’an mendengus. “Ayolah, Ayah, aku sudah meminta maaf. Sampai kapan kau akan terus mengungkit hal tersebut?” Dia melanjutkan, “Aku akui bahwa aku telah lalai, tapi semua berakhir baik, bukan?”


Huang Liqiang membanting cangkir tehnya ke meja, mengejutkan Huang Yan’an serta para pelayan. Walau kedudukan Shufei berada di atas mantan jenderal besar, tapi hubungan ayah-anak keduanya tak bisa dipungkiri. Oleh karena itu, tak ada yang bisa menyalahkan Huang Liqiang yang berani bersikap begitu lancang terhadap sang Selir Terhormat.


“Kehilangan kemampuanmu untuk mendapatkan keturunan masih belum cukup, Yan’an?”


Huang Liqiang ingin mengatakan hal tersebut. Namun, hatinya tidak tega, terutama ketika mengingat betapa terpukulnya putrinya itu karena masalah lampau tersebut. Pria itu mencoba menenangkan emosinya sebelum membuka mulutnya.


Melihat sang Ayah sedang berusaha mengendalikan diri, Huang Yan’an memberikan isyarat kepada para pelayannya untuk pergi. Betapa pun rapatnya mulut para pelayannya yang sekarang, tetap saja hal tersebut tak menutup kemungkinan tersebarnya rumor tak sedap.


Setelah pintu kembali tertutup rapat, Huang Yan’an berkata, “Yang Mulia sempat bertanya padaku mengenai Chen Meiren.”


Perubahan topik yang mendadak sempat membuat Huang Liqiang kesal. Kentara sekali bagaimana Huang Yan’an ingin lari dari topik sebelumnya. Namun, informasi yang diberikan putrinya itu membuat Huang Liqiang terbelalak.


‘Chen Meiren?’ Huang Liqiang memasang wajah bertanya-tanya. ‘Sudah bertahun-tahun sejak wanita itu meninggal, dan ini adalah kali pertama Kaisar Weixin menanyakan tentangnya. Apakah wanita malang itu akan bahagia bila mendengar hal ini dari langit?”


“Aku yakin Chen Meiren sedang menangis karena begitu terharu,” ucap Huang Yan’an seraya menyesap tehnya. “Sudah bertahun-tahun berlalu sejak dia meninggal, dan akhirnya tiba saat sang Kaisar bertanya mengenai dirinya.”


Sungguh, kedua ayah-anak ini begitu mirip.


Huang Liqiang berdeham, mencoba menutupi kecanggungan yang diakibatkan oleh pernyataan putrinya yang selaras dengan pikirannya. “Apa yang membuat Kaisar Weixin bertanya mengenai mendiang Chen Meiren?” tanyanya.


Pancaran mata Huang Yan’an terlihat gelap. “Yang Mulia bertanya mengenai kematian Chen Meiren.” Pandangan wanita itu terangkat seraya dirinya menatap ayahnya dalam-dalam. “Dia bertanya padaku mengenai apakah kematian Chen Meiren ada sangkut-paut dengan Li Guifei.”


Kebingungan menyelimuti Huang Liqiang. Pria itu sangat yakin bahwa Xue Kexin—sang Xianfei—merupakan orang yang paling tepat untuk ditanyai mengenai hal ini. Lagi pula, selain bidan dan pelayan pendamping Chen Meiren, hanya ada Xue Kexin dan pelayan pendampingnya di dalam ruangan hari itu.

__ADS_1


“Kenapa Yang Mulia bertanya padamu?” Huang Liqiang merasa tenggorokannya sedikit kering, dia meraih cangkir teh yang telah diisi kembali oleh putrinya dan segera meneguk isinya. Naluri pria itu memberikan tanda bahwa ada hal yang aneh dalam kejadian ini.


Huang Yan’an mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Aku dengar Yang Defei dan Permaisuri mendapatkan pertanyaan yang sama.” Kening wanita itu berkerut. “Ini hanya menandakan satu hal.”


Kaisar Weixin sedang mencurigai Xue Kexin.


Walau tak diucapkan, Huang Liqiang langsung mengerti maksud putrinya. “Kenapa? Seperti Yang Defei, Xue Xianfei adalah orang yang tenang. Sejak kematian Pangeran Ketiga, Wang Sanxia, dia telah hidup dalam pengasingan di istananya.”


Ucapan Huang Liqiang tidak salah, Xue Kexin memang mengunci diri di dalam istananya. Dari antara sekian banyak penghuni istana, hanya sang Kaisar, Permaisuri, dan sang Putra Angkat—Wang Chengliu—yang bisa mengunjungi wanita tersebut. Bahkan ketika Wang Chengliu melalui upacara kedewasaannya, Xue Kexin hanya mengirimkan hadiah dan tidak menginjakkan kaki di luar halamannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa selain merasa berutang budi terhadap Chen Meilian—ibu dari Wang Chengliu—yang telah mengabdi bertahun-tahun padanya, sang Xianfei tak memiliki niat untuk menyokong sang Pangeran Keenam.


Huang Yan’an mengitari bibir cangkir tehnya dengan jari, sesuatu yang sering dia lakukan ketika tak tenang. “Kudengar, Pangeran Keenam membantu Pangeran Keempat untuk keluar dari pengawasan antek-antek keluarga Li dan Ibu Suri He sehingga bisa mencapai kerajaan Wu,” tuturnya.


Tanpa perlu Huang Yan’an untuk membicarakan lebih dalam mengenai hal tersebut, Huang Liqiang segera mengerti maksud putrinya. “Apakah maksudmu … Pangeran Keenam mengira bahwa ibunya juga meninggal karena Li Guifei?” Kerutan di kening pria itu menjadi semakin dalam. “Oleh karena itu, dia membantu Pangeran Keempat yang bertujuan untuk menjatuhkan keluarga Li?!” Cara Huang Liqiang berbicara mulai terdengar seperti sedang mendesis. “Tak masuk akal!” serunya.


Dalam hal ini, Huang Yan’an setuju dengan pernyataan terakhir ayahnya. Wanita itu menganggukkan kepala. “Benar, tak masuk akal.” Dia melanjutkan, “Wang Chengliu adalah orang yang cerdas. Paling tidak, itu yang aku lihat dari segala tindakan yang dia ambil sejak dirinya mulai bisa mengendalikan perilakunya sendiri. Tak mungkin dia tak sadar seorang Li Guifei tak akan pernah menyentuh ibu kandungnya yang hanya ….” Dia tak melanjutkan ucapannya.


Huang Liqiang merasa pening. Pria itu pun menutup matanya untuk sesaat. “Jadi, kau curiga bahwa Xue Xianfei telah menanamkan ide tersebut dalam benak Pangeran Keenam?” Sang Shufei mengangguk membuat pria itu menggeram frustrasi. “Namun, kenapa?!”


Mata Huang Liqiang membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Xue Kexin, sang Xianfei, adalah seseorang yang tak pernah sedikit pun memiliki predikat buruk di mata semua orang, termasuk dirinya. Sekarang, wanita itu dikatakan sedang menggunakan putra angkatnya untuk membalaskan dendam pribadinya?


Mengerikan.


Namun, semakin lama Huang Liqiang berusaha memikirkannya, dia merasa kalau ucapan putrinya itu juga cukup masuk akal. Di luar maupun di dalam istana, semua orang memiliki kemungkinan untuk berubah seiring waktu berjalan, entah itu dalam hal sifat maupun perilaku. Dengan kenyataan bahwa kehidupan di dalam istana memiliki tekanan yang jauh lebih kuat, bukanlah hal yang mengherankan kalau seorang yang begitu baik bisa menjadi begitu kejam.


“Aku tahu kalau Ayah kemari untuk memintaku agar lebih waspada terhadap pergerakan di halaman Li Guifei. Namun, dengan keadaan saat ini, apakah masih ada perlu bagiku untuk melakukan hal tersebut?” Huang Yan’an berkata, “Wanita itu telah terlebih dahulu menggali lubang kematiannya, tidakkah sebaiknya kita diam saja dan menunggu hasil akhir?” cetusnya.


Huang Liqiang terdiam. Pria itu sedang menimang-nimang ucapan putrinya, dan sungguh, dia merasa ucapan Huang Yan’an sangat masuk akal.


Untuk apa Huang Yan’an repot-repot melibatkan diri dengan Li Shijing kalau pada akhirnya ada begitu banyak orang lain yang ingin menjatuhkan wanita itu? Bukankah lebih aman bagi Huang Yan’an untuk diam dan tidak mengotori tangannya dengan masalah yang melibatkan wanita ular itu lagi?

__ADS_1


Setelah beberapa waktu berlalu, Huang Liqiang akhirnya angkat bicara, “Tidak.” Mata pria itu memancarkan sebuah kesimpulan. “Apakah kau tak merasa aneh, Yan’an?” tanyanya membuat sang Putri menautkan alis. “Wang Chengliu adalah pemuda yang cerdas. Jika benar demikian, bukankah seharusnya dia sadar bahwa Xue Xianfei sedang mempermainkannya?”


Huang Yan’an berniat untuk memotong ayahnya, “Ayah, tapi—” Tangan Huang Liqiang yang terangkat menghentikan ucapannya.


“Aku tahu kau akan berkata bahwa Wang Chengliu hanya memiliki Xue Xianfei di sisinya, dan oleh karena itu, pemuda tersebut lebih mempercayai wanita itu dibandingkan pemikirannya sendiri.” Huang Liqiang bisa membaca pikiran putrinya. “Namun, hal itu tak menutup kemungkinan kalau pemuda itu bisa saja mempermainkan kita semua dan menjadikan Xianfei sebagai kambing hitamnya,” tandas pria itu.


‘Tidakkah itu berlebihan?’ batin Huang Yan’an. ‘Dia hanya pemuda ingusan.’


“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, kau merasa aku berlebihan dan meremehkan jalan berpikir pemuda itu,” tebak Huang Liqiang membuat sang Putri mengulum senyum canggung. “Tapi Yan’an,”—Huang Liqiang melemparkan sebuah pandangan memperingatkan pada putrinya—"tak ada yang pernah tahu batas kegilaan seorang manusia.”


***


“Lu Si …,” desahan lemah dari mulut gadis itu terdengar begitu memilukan. “Lu Si …!” Tangan gadis dengan mata tertutup tersebut terlihat seperti sedang mencoba menggapai sesuatu.


Tak perlu waktu lama sebelum langkah kaki seseorang yang berlari bisa terdengar. Pintu ruangan itu terbanting terbuka, memperlihatkan sosok Lu Si dengan mata merahnya yang menyala. Manik semerah darah itu memancarkan kekhawatiran, sesuatu hal yang jarang terjadi.


“Lan!” Lu Si bergegas menghampiri sisi tempat tidur Lan’er dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat. “Aku di sini, aku di sini,” ucapnya berulang kali, berharap hal tersebut bisa menenangkan racauan gadis itu.


Namun, nyatanya tidak. Tangan Lan’er membalas genggaman Lu Si dengan erat, seakan mencoba mengirimkan rasa sakit yang dia rasakan kepada pria tersebut. Air mata mengalir keluar dari sudut matanya yang tertutup, menyuarakan penderitaan yang dia rasakan.


Melihat hal tersebut, jantung Lu Si berdetak kencang. Mata pria itu memancarkan kekhawatiran yang mendalam, rahangnya mengeras selagi dirinya menggertakkan gigi menahan frustrasi.


‘Aku menyesal telah mendukungmu, Lan,’ batin Lu Si. ‘Tidak seharusnya aku mengizinkanmu untuk mendukung pria itu.’ Mata pria itu memancarkan emosi mendalam. ‘Dia sudah lakukan kesalahan besar, dan sudah seharusnya dia menanggung hukumannya! Namun, kau malah ….’


Lu Si menempelkan tangan Lan’er di pipinya, terasa seperti sebongkah es yang menempel di kulit. Lalu, pria itu menutup matanya dan aliran panas terlihat mengalir dari pertemuan tangannya dan Lan’er. Hal tersebut membuat racauan gadis itu mereda, ekspresinya juga perlahan membaik.


Walau melihat hal tersebut, ekspresi Lu Si tidak melonggar, masih ada kemarahan dalam dirinya. ‘Selagi mereka bertarung, siapa pun yang terluka akan menjadi serangan bagimu.’ Kegelapan menyelimuti wajah pria itu. ‘Haruskah aku membunuh gadis itu saja?’


___

__ADS_1


A/N: Kasihan author sama yang nunggu kondangan. Udeh gini, kukasih clue. Yang nunggu kondangan nih ye, mending tabung 10 episode dulu.


__ADS_2