Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 82 Perjalanan Mereka


__ADS_3

Dari lorong panjang dan sempit yang hanya disinari api obor, suara langkah kaki bergema dengan keras. Hal itu membuat pelipis seorang pria dengan kedua tangan dan kaki terikat rantai itu berdenyut. Pria itu menggerakkan sedikit kepalanya, menghantarkan getaran pada rantai yang kemudian menghasilkan suara nyaring.


Semakin lama, suara langkah kaki itu menjadi semakin keras, menandakan sang pengunjung semakin dekat. Ketika sosok pengunjung tak diundang itu berhenti di depan pintu besi penjara bawah tanah, decitan nyaring bisa terdengar dari pintu penjara yang didorong terbuka.


“Salam kepada Yang Mulia Kaisar,” ujar sang pengunjung seraya melangkah masuk ke kandang manusia itu. Sebuah senyuman terpasang di wajahnya, bukan untuk menunjukkan rasa hormatnya, melainkan mengejek kondisi lawan bicaranya.


Wu Huatai—pria yang dirantai itu—tidak memberikan reaksi. Dia hanya terdiam, tak berniat mengacuhkan tamunya itu. Setelah semua yang terjadi, pria itu merasa begitu lelah dengan dunia ini.


Karena tidak diacuhkan, Li Changsheng mendecakkan lidahnya. Dia menggerutu, “Wu Huatai, aku sudah begitu sungkan padamu, tapi kau tidak mengindahkannya. Aku begitu terluka.”


Karena masih diabaikan, pria tersebut akhirnya meraih cambuk yang berada di sisi pinggangnya. Lalu, tanpa menahan diri sedikit pun, dia melayangkan cambuk itu ke arah pundak Wu Huatai.


Dengan sumpalan kain pada mulutnya, hanya erangan kesakitan yang keluar dari Wu Huatai. Rasa sakit dari kulitnya yang terkoyak akibat cambuk tersebut membuat tubuh sang kaisar Wu tertarik ke belakang. Matanya yang memerah akibat tidur yang tak kunjung tiba terlihat berkaca-kaca, mungkin karena luka pada tubuhnya … atau hatinya, bisa juga keduanya.


Berhasil mendapatkan reaksi yang dia inginkan, Li Changsheng tersenyum keji. “Hah! Seorang putra langit pada akhirnya masih seorang manusia. Hanya satu cambukan kecil dan kau akan melolong kesakitan,” sindirnya seraya menarik kembali cambuknya, bersiap melayangkan cambukan kedua. “Apa kau tahu bahwa hal yang sama juga sempat dirasakan Rong’er!?”


Setelah berulang kali melayangkan cambukan demi cambukan, sebuah tangan menghentikan Li Changsheng. Hal tersebut membuat sang mantan Raja An itu menoleh ke belakang.


“Kalau kau terus melanjutkannya, maka dia akan mati,” ujar Hudie sembari tersenyum ke arahnya. “Bukankah kau sendiri yang berkata kita membutuhkannya untuk memaksa Perdana Menteri Liang untuk bekerja sama, juga demi mendapatkan cap naga dan plakat militer?”


Li Changsheng menarik lepas tangannya dari genggaman Hudie. “Aku berkata tidak akan membunuhnya, tapi itu tak berarti aku tak akan menyiksanya,” balas pria itu seraya melotot ke arah Wu Huatai yang hampir kehilangan kesadarannya. Tangan Li Changsheng menggenggam erat cambuk di tangannya, lalu dia mendengkus, “Menjijikkan,” dan berjalan pergi.


Hudie terdiam di tempatnya, tapi pandangannya terus menggerayangi sosok Li Changsheng yang berjalan pergi meninggalkan sel penjara itu. Jari-jarinya diketukkan pada sisi tubuhnya, menunjukkan bahwa dia sedang berpikir.


‘Sepertinya, rencana Yang Mulia berjalan dengan baik,’ batin Hudie dalam keheningan. Dia beralih pada sosok Wu Huatai yang tubuhnya dipenuhi luka, ‘Haruskah aku membunuhnya saja?’ Pria itu mendengkus mengejek, ‘Namun, itu tidak menyenangkan, bukan?’ Hudie pun berkata, “Obati lukanya, pastikan dia bisa bertahan hidup sampai hari pasukan Perdana Menteri Liang tiba di ibu kota.”


Dua prajurit yang entah sejak kapan berada di luar sel penjara membalas serempak, “Baik!”


Dari kejauhan, Li Changsheng yang bisa mendengar samar perintah Hudie mengepalkan tangannya yang terbebas. ‘Rong’er …,’ satu butiran air mata menuruni wajahnya, ‘berikanlah aku kekuatan.’


*Sekitar satu bulan yang lalu*


“Changchang, coba kau lihat itu!” seorang gadis dengan rambut panjangnya yang diikat dua menunjuk ke satu arah, tepat pada stan manisan buah di pinggir jalan. “Aku mau itu!” Bahkan dengan pakaian kumuhnya, kecantikan gadis itu bersinar dan mampu menarik perhatian beberapa pria.


Pria yang berjalan tidak jauh di belakang gadis itu memasang ekspresi tak berdaya, dia menarik kerudung sang gadis sehingga menutupi wajahnya. “Rong’er, jaga sikap dan berhenti menarik perhatian,” tegurnya dengan nada lembut.


Kedua orang itu tak lain adalah Li Changsheng dan Wu Rongya.


Mendengar teguran Li Changsheng, Wu Rongya mendecakkan lidah. “Sudah berapa hari sejak kita meninggalkan ibu kota, dan kau masih khawatir ada orang yang mengenali kita?” tanyanya sembari memajukan bibir. “Kalau seperti itu, apa bedanya dengan kita berdiam di istana?” gumamnya.


Sebuah senyuman mengembang di wajah Li Changsheng, merasa lucu dengan kesalahpahaman gadis itu. “Rong’er, bukan hal itu yang aku khawatirkan.” Pria itu mendekatkan wajahnya pada Wu Rongya, mencoba membisikkan sesuatu, “Apakah kau tidak tahu kecantikanmu itu berbahaya?”


Terkejut dengan ucapan Li Changsheng, Wu Rongya sekejap mematung di tempat. Perlahan, rona menjalar di kedua sisi wajahnya. “Penggoda ulung,” makinya sembari melanjutkan langkahnya ke arah penjual manisan.


Melihat reaksi gadis itu, Li Changsheng tersenyum semringah sembari tertawa kecil. Tanpa dia sadari, dirinya sendiri menarik perhatian beberapa wanita yang sempat mendaratkan pandangan pada wajahnya.

__ADS_1


Li Changsheng dan Wu Rongya telah meninggalkan ibu kota, dan sekarang mereka berada dalam perjalanan menuju perbatasan Wu-Xu. Dibandingkan dengan Shi dan Zhou, Kerajaan Xu dikatakan sebagai kerajaan kecil yang makmur dan tidak terlibat perang. Itulah alasan mantan Raja An dan Zhanggongzhu Kerajaan Wu itu memutuskan untuk berlabuh ke negara tersebut.


“Perlu setidaknya setengah bulan untuk mencapai Kerajaan Xu,” ucap Li Changsheng seraya mengikat tali kudanya pada kayu penahan. Dirinya baru saja menemukan penginapan yang tidak terlalu mencolok, tapi cukup baik untuk ditinggali. “Maaf karena harus membuatmu tersiksa.”


Kerutan menghiasi dahi Wu Rongya. “Changchang,” nama panggilan baru yang diberikan sang tuan putri itu selalu menggelitik sudut hati Li Changsheng, “apa yang kau bicarakan?” nada bicara Wu Rongya terdengar tidak senang. “Kau sedang meremehkanku?”


Mata Li Changsheng mengerjap, dan dia dengan cepat berkata, “Bukan begitu.”


“Maka, jangan ucapkan ‘maaf’ karena aku tidak membutuhkannya,” jelas Wu Rongya. Gadis itu menundukkan kepalanya, “Bisa bersama denganmu merupakan berkat dari langit, dan aku rela menukarkan segalanya demi hal tersebut.”


Pengakuan Wu Rongya membuat jantung Li Changsheng berdetak cepat, kebahagiaan tiada tara menyelimuti dirinya. Pria itu pun mengambil satu langkah maju untuk kemudian menarik kekasihnya itu ke dalam pelukan.


“Rong’er, kau adalah hadiah terindah dari langit untukku.” Seluruh hati Li Changsheng terasa hangat, dia merasa sangat hidup. Pria itu melepaskan pelukannya dan menatap Wu Rongya lekat-lekat.


Wu Rongya membalas tatapan Li Changsheng, terhipnotis dengan manik cokelat gelapnya yang begitu indah. Ketika melihat pria itu mendekatkan wajahnya, jantung gadis itu berdetak kencang. ‘Apa dia akhirnya berani?!’ Ekspektasi memenuhi benak Wu Rongya, dan mata putri itu pun tertutup rapat.


Cup!


‘Hah?’ Wu Rongya membuka matanya dengan cepat dan menyadari Li Changsheng mencium keningnya.


“Entah budi baik apa yang kulakukan di kehidupan lalu, sehingga langit memberkatiku dengan kehadiranmu,” ujar Li Changsheng sembari tersenyum lembut.


Di sisi lain, Wu Rongya merasa wajahnya memanas, malu atas apa yang baru saja dia harapkan. Putri itu kemudian menginjak kaki Li Changsheng dengan kencang, menyebabkan pria itu mengerang kesakitan. “Jangan kau kira bersikap manis bisa membuatku memaafkanmu setelah meremehkanku!” serunya sembari berjalan masuk ke dalam penginapan. ‘Dasar otak kura-kura!’


***


Suara langkah kaki kuda yang garing mengisi keheningan. Li Changsheng menatap ke jalanan di depannya sembari sesekali mencoba melirik ke belakang. Hari sudah berganti dan beberapa jam telah berlalu sejak dirinya dan Wu Rongya melanjutkan perjalanan. Namun, tuan putri yang duduk di belakangnya itu masih tidak mengeluarkan suara sedikit pun, bahkan ketika dirinya diajak bicara.


“Rong’er, apa kau tidak akan berbicara kepadaku sampai kita tiba di Xu?” tanya Li Changsheng dengan tak berdaya.


Tak ada jawaban.


Diam-diam, Li Changsheng menghela napas. Kenapa sepertinya sikap Wu Rongya menjadi sedikit lebih rumit dibandingkan ketika di istana?


Selagi Li Changsheng memikirkan hal tersebut, Wu Rongya sedang sibuk berkutat dengan benaknya sendiri. Dia begitu malu dengan tindakannya tadi malam, bagaimana dirinya mengharapkan pria di sisinya itu untuk menciumnya.


‘Kau gila, Rongya! Di mana harga dirimu?!’ maki Wu Rongya kepada dirinya sendiri. Kemudian, keningnya berkerut. ‘Enak saja, ingat kata Ling’er! Perset*n dengan harga diri! Yang penting, diriku bahagia!’ Hal itu diikuti dengan merenggangnya alis sang tuan putri Wu yang sempat bertaut. ‘Tidak, tidak, tapi reaksiku setelah melakukan hal itu begitu berlebihan. Changchang pasti menganggapku aneh!’ Akhirnya, putri tersebut memasang wajah ingin menangis, ‘Ya, Langit, apa yang harus kulakukan?!’


Selagi Wu Rongya sibuk bercakap-cakap dengan batinnya sendiri, dia terkejut dengan teriakan Li Changsheng yang mendadak memacu kuda. Kalau bukan karena pegangannya pada pinggang kekasihnya itu, Wu Rongya yakin bahwa dirinya sudah terjerembap ke belakang dan berakhir dengan leher patah.


“Ada apa?! Kenapa kau mendadak memacu kuda dengan begitu kencang?!” teriak Wu Rongya, khawatir suaranya tidak terdengar.


Tanpa menoleh ke belakang, Li Changsheng berkata dengan nada serius, “Ada yang mengikuti kita.”


Mendengar hal itu, ekspresi Wu Rongya sekejap berubah khawatir. “Mungkinkah itu suruhan Kakak?” tanyanya dengan polos.

__ADS_1


“Tidak,” balas Li Changsheng. “Bawahan Kakak Pertama tak mungkin mengendap-endap bak seorang pencuri,” jelasnya. Matanya terarah ke jalanan di hadapannya. ‘Belum lama sejak kami memasuki hutan, itu berarti jarak ke kota berikutnya masih cukup jauh.’ Jantung pria itu berpacu kencang, seakan mengikuti derap kaki kuda. ‘Selama tidak ada serang—!’ Belum sempat Li Changsheng menyelesaikan benaknya, dia berteriak, “Merunduk!”


Tanpa berpikir panjang, Wu Rongya merunduk. Tepat pada saat itu, satu buah panah melesat kencang melewati kepalanya, menyayat pita yang mengikat rambutnya ke atas.


Kaget, Wu Rongya pun berteriak, “Ah!” Dia bisa merasakan rambutnya jatuh tergerai menuruni pinggangnya.


Menyadari bahwa penguntit mereka berniat untuk menyingkirkan dan bukan sekadar bertamu, Li Changsheng segera menarik tali kekang kudanya. Pria itu mengarahkan kudanya meninggalkan jalanan utama, sadar bahwa jalanan utama begitu terbuka dan mempermudah musuh untuk membidik dirinya dan Wu Rongya.


“Rong’er, teruslah merunduk! Kau mengerti?!” teriak Li Changsheng.


“Ya! Ya!” balas Wu Rongya seraya menguatkan pelukannya pada Li Changsheng. ‘Siapa yang sebenarnya mengejar kami?! Bandit?!’


Li Changsheng menoleh ke belakang, mendapati tiga sosok orang berpakaian hitam dengan topi jerami di kepala mereka. Hal tersebut membuat sang mantan Raja An memaki dalam hati, tak mampu mengenali pengejarnya.


Kali ini, sebuah belati melesat ke arah mereka, tapi berujung menusuk paha kuda. Alhasil, kuda yang ditunggangi Li Changsheng dan Wu Rongya meringkik nyaring sebelum goyah ke samping.


Sebelum bertemu dengan tanah, Li Changsheng meraih tubuh Wu Rongya untuk kemudian melompat dari kuda. Namun, tindakan itu diambil tanpa persiapan yang cukup. Siku kiri sang mantan Raja An membentur tanah dengan keras, ditambah dengan beban dari tubuh Wu Rongya, suara tulang yang retak bisa terdengar.


‘Argh!’ geram Li Changsheng dalam hati, tak ingin mengeluarkan suara kesakitan yang mampu membuat musuh tahu mengenai lukanya. Kemudian, dia bergegas melirik gadis dalam pelukannya. “Kau tak apa?!” teriaknya selagi memastikan Wu Rongya baik-baik saja.


Mata Wu Rongya diselimuti kekhawatiran, dan nada bicaranya bergetar, “A-aku baik-baik saja, tapi kau—" Pandangannya terarah pada lengan kiri Li Changsheng yang terlihat lemas.


“Aku baik-baik saja,” potong Li Changsheng. “Kita harus segera pergi!” serunya sembari mengangkat Wu Rongya berdiri dan langsung menariknya lari.


Manusia biasa melawan kuda, tidak perlu lagi ditanya siapa yang akan menang. Tidak sempat Wu Rongya dan Li Changsheng berlari jauh, dan musuh mereka sudah mengepung. Berbeda dengan sebelumnya, mereka tak langsung menyerang.


Sekarang, dengan posisi yang lebih rendah daripada lawannya, Li Changsheng bisa melihat bahwa selain mengenakan topi jerami, tiga orang berpakaian hitam itu mengenakan penutup wajah. Namun, matanya tidaklah buta untuk tak bisa mengenali karakteristik unik dari mata ketiga pengejarnya.


“K-kalian orang Tubo!” Li Changsheng menggertakkan gigi, mata biru itu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki sembarang orang. “Apa tujuan kalian?!” serunya dengan berani sembari mencoba melindungi Wu Rongya—sebuah usaha yang sebenarnya sia-sia karena ketiga orang itu mengepung mereka dengan kuda.


“Serahkan Tuan Putri Wu!” balas salah satu orang Tubo itu. “Demikian, kami akan memberikanmu kematian yang cepat!”


Mendengar hal ini, Wu Rongya membelalakkan matanya. Dia tentunya tak berniat menuruti perintah tersebut. “Changchang,” Wu Rongya menggenggam erat lengan pakaian Li Changsheng.


“Dalam mimpimu!” teriak Li Changsheng seraya mengayunkan pedangnya pada kuda salah satu orang Tubo itu.


Tindakan Li Changsheng membuat kuda malang itu meringkik dan bergerak liar, membuat penunggangnya terjerembap ke belakang dan terjatuh. Di sisi lain, di sela keterkejutannya, kuda itu menendang kuda lain dan menyebabkan kekacauan.


Li Changsheng pun mengambil kesempatan ini untuk berlari keluar dari kepungan pengejarnya. “Ayo!” teriaknya seraya menarik Wu Rongya, tak memedulikan rasa ngilu yang menusuk pada tangan kirinya.


“Bocah si*lan!” maki salah satu orang Tubo yang terjatuh ke tanah itu. Dengan tenaganya yang tersisa, dia meraih busur silang di sisinya. Kemudian, dia mulai membidik, “Rasakan ini!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2