Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 109 Terlempar ke Lembaran Lalu


__ADS_3

“Miaoling!” Huang Yade berteriak nyaring, berusaha untuk menghampiri adiknya. Namun, dia tahu bahwa dia tidak sempat.


Di sisi lain, melihat pedang yang melayang ke arahnya, Huang Miaoling membeku di tempat. Dia bisa mendengar suara sejumlah orang berteriak, tapi dirinya tidak bisa bergerak, seakan tubuhnya tahu tak ada waktu untuk menghindar.


Suara retakan yang garing bisa Huang Miaoling dengar. Manik wanita itu melirik ke kanan, pada pedang yang menancap di batu yang melapisi jalanan halaman utama istana. ‘Dia … tidak membunuhku?’ batinnya dalam hati.


Jawaban yang Huang Miaoling dapatkan adalah sebuah jambakan kasar pada rambutnya yang diikat. Wang Chengliu mendekatkan wajahnya, memasang sebuah senyuman mengerikan, “Apa kau kira aku akan membunuhmu dengan begitu mudah?” Melihat Huang Miaoling meringis, pria itu merasa sangat puas. “Ya, ini yang seharusnya kulakukan di masa itu. Siapa yang menyangka Huang Wushuang lebih tidak sabar dariku?” gumamnya.


Huang Miaoling meludah dan memaki, “Perset*n denganmu, Wang Chengliu! Kau akan menyesal tidak membunuhku hari ini!”


Sebuah tamparan keras Wang Chengliu layangkan pada wajah wanita dalam cengkeramannya itu, menyebabkan Huang Miaoling terlepas dari genggaman. Kepala wanita itu pun membentur batu jalanan dengan keras.


Sekejap, Huang Miaoling pun kehilangan kesadarannya.


“J*lang, akan kupastikan kau sendiri yang memohon untuk mati,” ujar Wang Chengliu dengan suara rendah. Maniknya kemudian terarah kepada sosok Huang Yade yang ditahan oleh Wei Shulin. “Chenxiao! Bereskan semuanya!”


“Baik, Yang Mulia!” balas Chenxiao dengan sigap seraya melaksanakan perintah majikannya. “Tangkap semuanya!”


***


“Permaisuri! Huang Miaoling!” suara itu terdengar begitu familier, tapi juga asing. Teriakan pria itu begitu menyakitkan, sungguh menyayat hati. “Kakak bersalah, Kakak bersalah padamu!” pria tersebut terisak, membocorkan kenyataan bahwa dia menangis dengan begitu memilukan.


‘Kakak?’ batin Huang Miaoling, tak mampu melihat apa pun selain kegelapan yang memenuhi pandangannya. Wanita itu tak bisa menggerakkan tubuhnya, tapi dia bisa merasakan sebuah kehangatan melingkupi dirinya. ‘Siapa yang sedang memelukku?’ Huang Miaoling bisa merasakan aliran hangat pada sisi wajahnya. ‘Dia menangis?’


Mendadak, suara decitan pintu terdengar, diikuti dengan suara seorang wanita berkata, “Menteri Huang, kita harus segera pergi.”


Suara wanita tersebut membuat Huang Miaoling mengerutkan kening, ‘Yuanli?’ Dia yakin itu suara Yuanli! Bagaimana bisa gadis itu bersama dengan Huang Yade? Dia seharusnya tidak berada di sini! ‘Tunggu, apa Kakak memanggilku dengan panggilan … ‘Permaisuri’?’ Huang Miaoling menjadi semakin pening. ‘Mungkinkah ini … kehidupan lalu?’


Merasakan guncangan pada tubuhnya, Huang Miaoling mendengar Yuanli kembali berkata, kali ini dengan nada tak percaya, “Kau akan membawanya?!”


Apa maksud gadis itu?


“Yang Mulia … pasti ingin menemuinya,” balas pria yang tak lain adalah Huang Yade. Suaranya parau, membuat Huang Miaoling sungguh tak mampu menduga itu adalah suara saudaranya sendiri. “Selain itu, gadis itu berkata masih ada kesempatan, aku ….” Huang Miaoling merasakan pegangan pada tubuhnya mengerat, dan suara pria itu kembali terdengar, “Bagaimanapun, aku akan membawanya!”


‘Yang … Mulia? Wang Chengliu? Tidak, tidak masuk akal.’


Derap kaki yang terdengar berat mulai mendekat, Yuanli pun berkata dengan suara rendah, “Kita harus pergi sekarang!”


Huang Miaoling bisa merasakan Huang Yade mulai berlari dengan tubuhnya dalam gendongan. Lalu, untuk sesaat, kehangatan pelukan kakaknya itu menghilang, sebelum akhirnya dia merasakan sedang terduduk pada sesuatu. Huang Miaoling kemudian merasakan tangan Huang Yade melingkar di pinggangnya, memegangnya erat agar tidak terjatuh.


Dengusan kuda serta teriakan yang mengiringi tindakan memacu kuda bisa terdengar. Pada saat itu, Huang Miaoling pun tahu bahwa dirinya sedang berada di atas kuda bersama dengan saudaranya itu.

__ADS_1


“Menteri Huang! Lewat sini!” teriak seorang pria lain.


Di saat ini, Yuanli berseru, “Yunlin!” Ada kelegaan dalam nada bicaranya. “Bagaimana dengan Yang Mulia?”


“Sudah aman, hanya kalian yang tersisa!” Yunlin menjawab. Kemudian, terdengar keraguan dalam nada bicaranya, “I-ini ….” Dari suara yang lebih jelas, Huang Miaoling menduga dia sedang menghadap ke arahnya, atau ke arah pria yang sedang memeluknya, “Bagaimana bisa dia memperlakukan Permaisuri Huang seperti ini?!”


Pelukan pada Huang Miaoling mengetat. “Kita harus pergi,” ucap Huang Yade, bisa wanita itu rasakan kepahitan hati kakaknya tersebut.


Huang Miaoling merasa kepalanya seperti ingin pecah, ada sesuatu yang tidak bisa dia mengerti yang berusaha menekan dirinya. ‘Bagaimana … bagaimana mungkin aku tidak mengingat sosok Yunlin dan Yuanli di kehidupan lalu? Aku tidak mengerti!’ pekik wanita itu di dalam hati.


Entah berapa lama telah berlalu, tapi Huang Miaoling bisa merasakan angin berhembus kencang, menghantarkan suara kekacauan pada telinganya dengan jelas. Pedang yang beradu, suara kayu lapuk termakan api, dentuman yang dihasilkan bangunan yang mulai runtuh, serta teriakan kesakitan dan lenguhan kematian.


Huang Miaoling yakin … ini suara perang.


“Jangan biarkan pengkhianat itu pergi!” teriak seseorang. Dari ucapannya, jelas bahwa dia berasal dari pihak yang ingin menangkap Huang Yade. “Huang Yade tak boleh meninggalkan istana, begitu pula dengan tubuh Huang Miaoling!”


“Mereka menemukan kita!” teriak Yuanli yang berada tak jauh dari sisi Huang Miaoling, kentara dia juga sedang memacu kudanya untuk meninggalkan tempat yang diyakini sang Permaisuri Huang sebagai istana.


Pada saat ini, Yunlin berseru, “Aku akan menahannya!”


“Tidak, Yunlin!” Huang Yade berteriak dengan panik. “Kembali kemari!”


Dengan suara penuh tekad, Yunlin terdengar membalas, “Kalian harus pergi!” Pria itu menambahkan, “Aku adalah pengawal pendampingmu, Menteri Huang. Biarkan aku melaksanakan tugasku.”


“Pergi!” geram Yunlin yang diikuti dengan derap langkah kaki sejumlah kuda yang kian mendekat. “Pergilah! Keluarga Huang harus bertahan!”


Hal terakhir yang Huang Miaoling dengar … adalah teriakan Yuanli, “Yunlin!”


***


Entah berapa lama waktu berlalu, tapi begitu dia tersadar, Huang Miaoling mendapati dirinya sedang berdiri di sebuah ruangan. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Huang Miaoling bisa melihat.


‘Di mana ini?’ tanya Huang Miaoling ketika mendapati dirinya berada di tengah sebuah ruangan yang begitu megah dan luas. ‘Tunggu, ini … aula utama?!’ batinnya ketika melihat singgasana emas berukirkan naga di atas panggung. ‘Bagaimana aku—’


Sebelum dia menyelesaikan batinnya, Huang Miaoling mendengar teriakan seseorang di belakangnya. “Baj*ngan!” Huang Miaoling dengan cepat menoleh, mendapati seorang pria sedang melayangkan sebuah tendangan pada tubuh seorang pria lain. “Memohon untuk Permaisuri Huang? Apa kau bercanda sekarang, Rong Gui?” geram pria dengan jubah kehormatannya, sang kaisar, Wang Chengliu.


Pria yang terjatuh ke lantai itu berusaha untuk kembali berlutut. “Yang Mulia, aku yakin Permaisuri Huang tidak bersalah! Bahkan kalau benar dia melakukan kesalahan, tapi dia telah berjasa banyak untuk kerajaan ini. Hal terkecil yang bisa kau lakukan untuknya adalah melaksanakan ritual kematian untuk—!” Sebuah tendangan kembali dilayangkan padanya.


“Apa kau bilang?! Berjasa?” teriak Wang Chengliu dengan wajah mengerikan. “Selain itu, jangan kau panggil dia dengan panggilan ‘Permaisuri’. Apa kau tidak dengar pengumuman bahwa wanita itu sudah bukan permaisuri lagi?! Dia lebih rendah dari pelayan!” Pria itu memasang senyuman mengejek. “Bahkan setelah dia mati, dia masih bisa membawakan masalah untukku! Tak akan aku biarkan dia mati dengan tenang!”


Melihat perdebatan kedua orang tersebut, Huang Miaoling menjadi sangat kebingungan. ‘Apa … yang sebenarnya sedang terjadi? Apa ini … setelah kematianku di kehidupan lalu? Bagaimana aku bisa melihat hal-hal ini?’ Lalu, dia terfokus pada Rong Gui. ‘Selain itu, Rong Gui ….’

__ADS_1


“Yang Mulia!” Rong Gui memasang wajah tak percaya. “Sadarlah! Permaisuri Huang telah banyak berkorban untukmu! Takhta yang kau duduki saat ini adalah takhta yang dia dapatkan dengan ganti darah pasukannya, keluarganya!”


Sebuah pertanyaan pun timbul di dalam hati Huang Miaoling, ‘Apa Rong Gui sudah gila?! Mengatakan hal itu sama saja dengan meminta Wang Chengliu untuk mencabut nyawanya!’


Sesuai dugaan Huang Miaoling, Wang Chengliu melotot. Mata pria itu memerah, dan dia terlihat begitu marah. Wang Chengliu merentangkan satu tangannya ke arah seorang pria lain di sudut ruangan, seorang prajurit.


Melihat gerakan Wang Chengliu, prajurit tersebut terbelalak. Dia menatap tak percaya kepada sang penguasa kerajaan dan berkata dengan gusar, “Y-Yang Mulia, kau tak mungkin bermaksud—”


“Berikan pedangmu!” teriak Wang Chengliu dengan lantang.


Prajurit itu dengan cepat mengalihkan pandangannya kepada Rong Gui. Dia tahu betapa penting pria di hadapannya itu dalam kerajaan. Namun, sekarang Wang Chengliu ingin menyingkirkannya hanya karena seorang wanita yang sudah tidak ada?!


“Apa kau berniat untuk memberontak juga?!” bentak Wang Chengliu lagi karena tidak kunjung mendapatkan benda yang dia minta.


Akhirnya, prajurit tersebut memberikan pedangnya kepada sang kaisar. Dia menggertakkan giginya, dan membuang wajah untuk tidak melihat akhir menyedihkan dari sang Penyelidik Rong.


“Rong Gui, katakan padaku,” ucap Wang Chengliu, mendekatkan pedang ke sisi leher bawahannya tersebut, “apa kau tidak akan berhenti memohon untuk Huang Miaoling?!”


“Permaisuri Huang hanya memikirkan kebaikan negara, juga kebaikanmu, Yang Mulia,” balas Rong Gui sembari bersujud, mengabaikan darah yang mulai mengaliri lehernya. “Apa yang akan rakyat katakan bila tidak ada ritual kematian yang dilaksanakan untuknya?!”


Huang Miaoling yang melihat hal itu mengerutkan keningnya. ‘Rong Gui sudah gila!’ teriaknya. Namun, di dalam hati, wanita itu tahu bahwa sang Penyelidik Rong tidak sekadar ingin membelanya, ‘Dia hanya ingin Wang Chengliu berhenti melakukan kesalahan ….’


Rong Gui menegapkan punggungnya, masih dalam kondisi berlutut. Matanya menatap Wang Chengliu penuh harap, ingin pria itu sadar bahwa membiarkan tubuh Huang Miaoling membusuk begitu saja di istana dingin adalah sebuah keputusan yang salah.


“Tak ada yang pernah salah dalam tindakan Permaisuri, dia hanya—”


Tak sempat Rong Gui menyelesaikan ucapannya, pintu aula utama terbuka, memperlihatkan seorang pria melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Mata Huang Miaoling memicing ketika melihat sosok pria yang berjalan masuk, ‘Chenxiao.’


Chenxiao melemparkan sebuah pandangan kepada Rong Gui yang berlutut di lantai. Dia mengabaikan penyelidik tersebut dan beralih pada Wang Chengliu, “Yang Mulia, Menteri Huang berhasil kabur dari penjara.”


“Apa?!” Wang Chengliu berteriak. “Bagaimana mungkin?! Apa kau sudah menyuruh orang untuk mengejarnya!?”


Chenxiao berlutut dengan satu kaki, “Maaf, Yang Mulia,” ujarnya dengan kening berkerut. “Aku tak berhasil menangkapnya. Pengawal pendampingnya, Yunlin, menghadang dan mengecoh pasukan.” Lalu, kepalanya semakin menunduk. “Selain itu, tubuh Permaisuri—” Ucapannya terhenti, ragu bagaimana harus menyebut Huang Miaoling, juga menjelaskan hal yang terjadi pada tubuh wanita itu.


Mendengar hal ini, wajah Wang Chengliu semakin memburuk. “Dia membawanya?!” Mata pria itu seakan ingin keluar dari soketnya ketika melihat Chenxiao menganggukkan kepalanya. “Siapa?! Siapa yang membantu mereka?!” geramnya dengan suara yang membuat hati terasa dingin—takut.


Chenxiao memisahkan bibirnya, tapi sebelum ada jawaban yang keluar dari mulutnya, tubuh Huang Miaoling mendadak terisap ke belakang dengan kuat. Pemandangan aula utama beserta orang-orang di dalam ruangan itu menjauh, dan kegelapan secara cepat menelan semuanya.


Di saat itu, sepasang manik merah menyala tampak di tengah kegelapan. Hanya ada satu orang yang memiliki mata itu di dunia ini, “Lu … Si?”


Dengan tatapan mata yang mengerikan, Lu Si berkata, “Kau tidak seharusnya berada di sini, enyah!”

__ADS_1


___


A/N: Well, d*mn.


__ADS_2