Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 140 Fitnah


__ADS_3

Kening Huang Miaoling berkerut, mempertanyakan kenyataan bahwa apa yang Liang Fenghong ceritakan berbeda dengan yang pria itu katakan sebelumnya. “Lalu, apa maksudmu mengatakan bahwa kau tidak bisa menyelamatkan kakakmu?” Ingin sekali wanita itu mengutarakan hal tersebut. Namun, jelas masih ada yang belum Liang Fenghong ceritakan. Demikian, wanita itu memutuskan untuk menunggu.


“Ketika aku merasakan berat tubuhnya, ada sebagian hatiku yang merasa begitu lega, kau tahu?” ujar Liang Fenghong. “Tapi, siapa yang bisa menduga kalau hal itu hanya kebahagiaan sementara.”


“Apa yang terjadi?” tanya Huang Miaoling pada akhirnya. “Kalian bertemu dengan prajurit musuh di tengah jalan?”


Liang Fenghong menggeleng. “Tidak, semuanya berjalan lancar. Sungguh, terlalu lancar untuk bahkan kupercaya.” Dia melanjutkan, “Aku berhasil membawa Kakak ke tempat yang aman.”


Kening Huang Miaoling berkerut, merasa sangat bingung. “Bagaimana dengan Li Changsheng?” Mungkinkah Li Changsheng berkhianat?


“Li Changsheng ….”


***


Satu prajurit—seorang pembawa pesan dari perbatasan Wu—berlari tergesa-gesa ke ruangan tempat Nanhan Ding dan Hudie berada.


“P-pesan dari perbatasan!” teriak prajurit tersebut seraya menyerahkan gulungan kertas kepada Hudie yang segera membacanya.

__ADS_1


Seiring dengan perubahan ekspresi Hudie yang memburuk, prajurit pembawa pesan itu melirik Nanhan Ding diam-diam. Ketika manik sang jenderal beralih padanya, prajurit tersebut dengan cepat menjatuhkan pandangannya.


‘Apa-apaan?’ pikir Nanhan Ding yang merasa aneh.


Pada saat ini, pintu gerbang halaman tersebut terbanting terbuka. Sosok Li Changsheng masuk ke dalam dengan wajah suram, tangan kanannya menyentuh pundak yang terluka selagi tangan kiri menggenggam pedang yang berlumuran darah. Dua prajurit di belakang pria itu bergegas menutup pintu dengan wajah penuh kengerian.


Melihat hal ini, Hudie segera menutup surat di tangannya dan berjalan menghampiri Li Changsheng. “Apa yang terjadi? Bagaimana kau—”


“Huang …,” Li Changsheng menarik napas dalam-dalam, berusaha menyelesaikan ucapannya, “Pasukan Huang dan Liang telah menerobos istana!”


“Apa?!” teriak Hudie dengan mata terbelalak.


Li Changsheng melemparkan pandangan membunuh kepada Nanhan Ding, lalu dia menghunuskan pedang ke arah pria itu. “Kau! Beraninya kau masih berpura-pura!” geram pria tersebut membuat Nanhan Ding mengerjapkan matanya bingung. “Kerudung Hitam? Orang yang mengendalikan panah di udara dengan tangan kosong? Aku rasa omonganmu yang kosong!”


“Jaga ucapanmu, Li Changsheng! Apa maksud omonganmu itu, hah?!” balas Nanhan Ding, tidak terima dengan tuduhan yang diarahkan padanya.


Dengusan terdengar dari sosok Li Changsheng, dia juga melemparkan pandangan mematikan kepada Hudie. “Wang Chengliu sungguh ahli dalam memanipulasi keadaan! Dia tahu bahwa mengambil paksa takhta adalah jalan buruk untuk menguasai hati rakyat dan kerajaan tetangga, dan oleh karena itu dia menggunakan diriku untuk kemudian berpura-pura menjadi orang baik, bukan begitu!?” tutur pria tersebut.

__ADS_1


Hudie mengerutkan kening, tak suka dengan ketidaksopanan Li Changsheng terhadap majikannya. Akan tetapi, dia hanya terdiam.


Mendengar ini, Nanhan Ding menggeram, “Li Changsheng, apa kau sudah gila?”


Li Changsheng menjatuhkan pedangnya, membiarkan ujungnya menancap pada tanah berbatu untuk menopang tubuhnya. “Kabur atau tidaknya Chen Long tidaklah penting, dia hanyalah pengalihan belaka. Sebenarnya membiarkan gerbang terbuka bertujuan … agar kau bisa membiarkan Pasukan Huang dan Liang menyusup ke ibu kota, bukan?”


“Sembarangan!” geram Nanhan Ding selagi melirik Hudie. Ucapan Li Changsheng akan membuat Hudie mencurigai dirinya! “Apa dia telah kehilangan kewarasannya?!”


Alis Li Changsheng tertaut erat. “Kalau bukan demikian, bagaimana mungkin ribuan Pasukan Liang dan Huang bisa masuk dengan mudah dan menguasai istana!”


Mendengar ucapan Li Changsheng, Nanhan Ding terbelalak. “Menguasai … ista—?”


Ucapan Nanhan Ding tertahan di tenggorokannya, tak sempat terucap akibat sesuatu yang mengejutkannya. Dia menundukkan kepalanya, menatap benda runcing yang mencuat dari perutnya.


Li Changsheng menatap kaget pemandangan di hadapannya, pemandangan di mana tubuh Nanhan Ding tertembus pedang dari belakang. Maniknya terangkat untuk menatap sosok Hudie yang sedang menusukkan pedang pada tubuh sang jenderal Nanhan.


“H-Hudie …,” geram Nanhan Ding di sela-sela rasa sakit yang dia rasakan. “K-kau …!” Dia tersentak ketika benda asing dalam tubuhnya itu dengan paksa ditarik keluar, membuatnya kemudian jatuh berlutut di tanah. Nanhan Ding menoleh kepada Hudie yang berjalan ke hadapannya, “Kenapa …?!”

__ADS_1


Hudie memasang wajah dingin, lalu dia melemparkan gulungan surat ke atas lantai berbatu. Pandangan Li Changsheng dan juga Nanhan Ding tertancap pada tulisan yang tertera di atas kertas tersebut, ‘Perbatasan jatuh, suku padang rumput berkhianat.’


“Fitnah …! Fitnah …!” teriak Nanhan Ding dengan susah payah di sela-sela tenggorokannya yang tersedak darah. Matanya melotot dengan tidak rela selagi nyawanya terkikis secara perlahan. ‘Ini … fitnah ….’


__ADS_2