
Melihat Wang Zhengyi, Song Qiaolan segera mengubah ekspresinya menjadi sangat memelas. “Yang Mulia! Kau harus tahu beberapa hari ini aku begitu tersiksa!” ujarnya, terlihat bersemangat menceritakan hal-hal yang telah dia alami. “Demi menyelamatkan Tuan Putri Qiuhua dan Tuan Putri Meilan, aku hampir saja kehilangan nyawaku!”
Wang Zhengyi menatap Song Qiaolan dengan pandangan terkejut, ‘Menyelamatkan Qiuhua … dan Wu Meilan?’ pikirnya dengan ragu.
Walau Song Qiaolan adalah wanitanya, dan memang benar dia harusnya bahagia karena paling tidak ada seseorang dari kediaman belakangnya yang berhasil kabur, tapi Wang Zhengyi malah merasa hatinya diselimuti kecurigaan. Meski dirinya memiliki banyak wanita, tapi dia tahu jelas sifat masing-masing dari wanitanya, dan … Song Qiaolan bukan wanita yang begitu baik hati sehingga rela membahayakan nyawanya untuk menyelamatkan orang lain.
Tiba-tiba, sebuah dengusan tajam terdengar, “Kau menyelamatkan kami demi menyelamatkan dirimu juga. Jangan kau kira aku sebodoh itu sampai tidak mengetahui perjanjianmu dengan Miaoling.” Wang Qiuhua memutar bola matanya.
Mendengar hal ini, Wang Zhengyi langsung teringat mengenai berita pertemuan Huang Miaoling dengan Song Qiaolan. Dia mengira bahwa pertemuan itu merupakan hal yang tidak disengaja, terutama karena setelahnya sang Mingwei Junzhu mengadakan pertemuan tersembunyi dengan sejumlah orang penting lain di ruang ketua departemen pertahanan milik Huang Yade.
‘Jadi, Huang Miaoling telah mempersiapkan semuanya,’ batin Wang Zhengyi.
Selagi memikirkan tentang rencana Huang Miaoling, Wang Zhengyi mengabaikan sepenuhnya ketegangan yang terbentuk di antara adik dan istrinya. Dia cukup terkejut karena sang Mingwei Junzhu mampu menggunakan Song Qiaolan untuk menyelamatkan Wang Qiuhua dan Wu Meilan. Terkecuali Huang Miaoling tahu jelas sifat Song Qiaolan yang begitu egois—terutama perihal keselamatan dirinya sendiri—wanita tersebut tak mungkin terpikir untuk melibatkan selirnya itu dalam rencana ini.
Mengesampingkan kebingungannya terhadap pengetahuan Huang Miaoling terhadap para wanita di kediaman belakangnya, Wang Zhengyi sangat kagum dengan rencana yang disusun wanita itu. Walau tidak memiliki kedudukan sepenting Kaisar Weixin, Permaisuri Mingmei, Ibu Suri Shen, atau bahkan dirinya sebagai putra mahkota, tapi Wu Meilan dan Wang Qiuhua adalah prioritas utama dalam daftar orang yang harus dijauhkan dari Wang Chengliu.
‘Jika Wu Meilan tertangkap, maka itu sama saja seperti membiarkan Wang Chengliu memiliki sebuah pion emas,’ pikir Wang Zhengyi.
Dengan Wu Meilan, tak hanya pangeran keenam itu bisa menguasai Wu sepenuhnya, tapi dia juga bisa memperkuat posisinya di pengadilan.
Di sisi lain, jika Wang Chengliu memiliki Wang Qiuhua dalam genggamannya, maka itu sama seperti memiliki sebuah alat tukar. Sang pangeran keenam bisa saja mengirimkan Wang Qiuhua kepada Zhou, Xu, atau Wu untuk dijadikan selir—jaminan untuk sebuah kerja sama. Selain itu, dia—mungkin—juga bisa memaksa Huang Miaoling untuk menyerah karena gadis itu adalah sahabat baiknya.
Berpikir sampai di sini, Wang Zhengyi menautkan alisnya. ‘Apa Huang Miaoling membiarkan dirinya tertangkap?’ duganya, teringat kekhasan dari rencana Huang Miaoling yang sebelum-sebelumnya.
Wang Zhengyi menggelengkan kepalanya sedikit, mengesampingkan kemungkinan yang melambung di benaknya itu. Berbeda dari biasanya, persiapan Huang Miaoling kali ini lebih terasa seperti ‘berjaga-jaga’ dibandingkan menyimpan niat untuk ‘menyerang’. Oleh karena itu, dia cukup yakin bahwa insiden ‘tertangkap oleh Wang Chengliu’ bukanlah bagian dari rencana wanita itu.
Menggunakan rencana yang sama berkali-kali? Tentu saja Huang Miaoling lebih kreatif dibandingkan hal itu.
Mendadak, Wang Zhengyi tersadar akan sesuatu. “Bagaimana dengan pelayan kecil itu?” tanyanya ke arah Song Qiaolan.
“Ah?” Song Qiaolan yang sedang saling melemparkan tatapan garang dengan Wang Qiuhua segera menatap suaminya. “Siapa yang kau maksud, Yang Mulia?”
__ADS_1
Wang Qiuhua mendengus dan menyunggingkan seringai mengejek. “Tentu saja Mingyue, apa kau bodoh?” makinya dengan kasar, mengejutkan Rong Gui dan Mudan yang berada di ruangan itu. Putri itu menatap saudara laki-lakinya dengan tajam, “Dia kembali ke majikannya yang seharusnya.”
Wang Zhengyi memicingkan matanya, sedikit bingung dengan siapa yang Wang Qiuhua bicarakan. “Aku tidak yakin diriku mengerti perihal orang yang sedang kau bicarakan. Apa kau sedang membicarakan Wang Chengliu?” tanyanya.
Di saat ini, Huang Yade yang terlebih dahulu menjawab, “Bukan, Pangeran. Majikan Mingyue yang Tuan Putri maksud adalah—!”
“Ahh!” teriakan nyaring dari luar rumah menghentikan ucapan Huang Yade. Bersamaan dengan itu, semua orang lainnya segera mengalihkan perhatian mereka ke luar rumah.
Lebih cepat dibandingkan orang-orang lainnya, Mudan melesat ke luar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Di belakangnya, Rong Gui dan Huang Yade dengan cepat mengikuti.
Ketika dia melewati kain kusam, pandangan Mudan mengarah ke kanan, ke arah jalan masuk Qiongpo Di dari jalanan utama Zhongcheng. Kemudian, gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah tersebut, berniat untuk memeriksa keadaan dari lebih dekat.
Namun, setelah sejumlah langkah, Mudan berhenti.
Dengan mata terbelalak dan wajah dipenuhi kepanikan, Mudan bergegas membalikkan tubuh dan berteriak ke arah Huang Yade dan Rong Gui, “Pergi melalui jalur belakang!”
*Beberapa saat yang lalu*
“Sudah dua hari, apakah sudah ada kabar mengenai rencana menyelamatkan Kakak Ipar?” tanya seorang gadis dengan pakaian putih dengan sejumlah noda kusam di beberapa sisi. Bahkan dengan pakaian semacam itu, aura bangsawan yang dia miliki tidak hilang.
“Jawab, Nona Liang, belum,” balas prajurit dengan tanda kebanggaan Kerajaan Wu pada bagian dada baju besinya.
“Sudah begitu lama! Apa mereka akan diam saja!?” bentak Liang Jian penuh dengan emosi. “Kalau terus begini, siapa yang tahu apakah Kakak Ipar masih bisa kembali seutuhnya atau tidak!”
“Liang Jian!” Yun Xia—sang Nyonya Besar Liang—menatap putrinya dengan pandangan memperingati. “Tidakkah kau tahu semua bahwa situasi saat ini tidak menguntungkan pihak kita? Berhasil kabur dari tangan Pangeran Keenam sudah merupakan sebuah keajaiban! Selain itu, tentunya Menteri Huang tak akan membiarkan apa pun terjadi pada Ling’er!” tegurnya.
Liang Jian terbelalak, tapi perlahan ekspresi penuh amarahnya berubah menjadi ekspresi tak berdaya. “Kakak telah pergi untuk sekian lama dan masih belum ada kabar darinya, dan aku tak mampu melakukan apa-apa mengenai hal itu karena aku sendiri tak tahu keberadaannya.” Mata Liang Jian terlihat berkaca-kaca, tapi gadis itu berusaha untuk tidak membiarkan air matanya jatuh. Dia menggigit bibirnya, berusaha keras menahan isak tangis. “Sekarang, aku tahu jelas Kakak Ipar berada di istana, berada dalam genggaman musuh, apa aku juga harus diam saja?”
Sementara itu, Chen Long dan Wu Meilan yang juga berada di ruangan itu memasang ekspresi kesulitan. Keduanya merasakan hal yang sama dengan sang Nona Muda Liang, mereka juga mengkhawatirkan Huang Miaoling dan Liang Fenghong. Hanya saja, mereka tahu bahwa saat ini mereka tak berguna.
Dengan lukanya yang masih belum sepenuhnya sembuh, Chen Long harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak mampu melakukan apa pun. Dengan berat, dia berkata, “Hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini … adalah menunggu.” Merasakan Liang Jian mengalihkan pandangan padanya, pria itu tersenyum pahit. “Paling tidak, dengan begitu kita tidak akan menghalangi mereka dari menjalankan rencana yang ada.”
__ADS_1
Wu Meilan menautkan alisnya, merasa sangat tak berguna. Tidak hanya kejatuhan kerajaannya, tapi bahkan nyawanya saja tidak bisa dia selamatkan sendiri. Kalau bukan karena Huang Miaoling, kemungkinan besar dia masih terjebak di istana dan menjadi mainan di dalam genggaman Wang Chengliu.
“Aku harap … Mingwei Junzhu baik-baik saja,” ucap Wu Meilan, sadar bahwa dirinya hanya bisa menghantarkan doa kepada langit. “Begitu pula dengan Tuan Liang …,” imbuhnya dengan jari-jari tangannya saling menggenggam erat.
Ucapan Wu Meilan membuat semua orang terdiam, tak ada yang bersuara. Semuanya mengulangi ucapan sang Tuan Putri Wu dalam hati, merapalkannya bagai mantra.
Mendadak, telinga Chen Long dan sang pengawal menangkap kegaduhan dari luar. Keduanya mengalihkan pandangan mereka ke arah luar dan segera beranjak dari tempat mereka.
“Ahh!” Teriakan penuh ketakutan dan teror itu membuat semua orang di dalam ruangan itu terbelalak.
“Aku akan segera kembali!” ujar sang pengawal seraya berlari keluar dengan cepat.
Bersamaan dengan itu, Chen Long berdiri dari kursinya, merasa tidak tenang kalau tidak melihat keadaan dengan mata-kepalanya sendiri. “Tunggu di sini,” ujarnya seraya melangkah keluar dengan perlahan. Walau lukanya sudah mulai menutup, tapi dia masih tidak boleh melakukan gerakan besar.
Liang Jian pun mengikuti kekasihnya itu, merasa perlu untuk mendampinginya kalau-kalau pria itu memerlukan bantuan saat berjalan.
Chen Long menyingkirkan kain pembatas dengan tangannya, melihat seorang pengawal yang berjaga di luar. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan kening berkerut, menggeser pandangan ke arah jalanan utama Qiongpo Di untuk beberapa saat. “Ke mana perginya pengawal lain?”
Pengawal itu menoleh dan baru saja membuka mulutnya untuk menjawab Chen Long. Begitu pandangannya bertemu dengan pandangan sang wakil jenderal Kerajaan Wu, bayangan hitam mulai menyelimuti sebagian wajahnya. Hal tersebut membuat pengawal itu menengadah ke atas bersama dengan Chen Long.
Sebelum ada yang sempat bereaksi, sepasang kaki yang terbalut sepatu kulit menghantam keras wajah pengawal itu. Kemudian, dengan cepat, pemilik kaki tersebut menebas kepala sang pengawal dengan keji. Darah tercecer di jalanan Qiongpo Di, menghiasi jalanan yang dilapisi tanah dan batu kerikil itu dengan warna merah merona.
Chen Long terbelalak melihat hal tersebut, sedangkan Liang Jian yang berada di belakangnya terkesiap. Tak hanya hal itu membuat sang wakil jenderal Kerajaan Wu itu terkejut, tapi Liang Jian berhasil menarik perhatian kehadiran sang tamu tak diundang.
“Hah!”
Tanpa berpikir dua kali, Chen Long segera mengayunkan kakinya untuk menendang wajah pembunuh itu. Mengambil kesempatan lumpuhnya sang lawan-walau hanya sementara—Chen Long segera melesat cepat untuk meraih pedang dari pinggang sang prajurit yang tak lagi bernyawa. Kemudian, secepat kilat dia menusukkan pedang itu ke arah dada musuhnya.
“Cepat keluar!” teriak Chen Long kepada para wanita yang saat ini sedang memasang wajah ngeri. Jantung pria itu berdetak kencang, bukan hanya karena kaget dengan hal yang baru saja terjadi, melainkan juga karena rasa sakit yang dia rasakan dari kaki dan pinggangnya. “Kita harus pergi melalui jalur belakang!”
___
__ADS_1
A/N: Besok vaksin kedua, doain gak teler dan bisa apdet ya. (Korban AZ)