
“Kerajaan Wu dan keluarga Huang?” hal itu terucap dengan nada tidak percaya. Tangan yang mengepal erat menandakan sang pembicara tidak senang dengan informasi yang dia terima. “Kau bermaksud untuk mengatakan bahwa Liang Fenghong dan Huang Qinghao kembali?” Manik hitam kecokelatan itu menatap tajam prajurit yang berlutut di hadapannya, pembawa pesan dari pasukan yang telah gugur di Qiongpo Di.
Dengan kepala tertunduk dan tubuh bergetar—mampu merasakan amarah sang pemimpin—prajurit itu berkata, “Kami tidak melihat Jenderal Besar Huang, Raja Hui. Namun, tangan kanannya, Langcao dan Xiaofei, memimpin pasukan keluarga Huang untuk memukul mundur pasukan kita dari Qiongpo Di.” Dia tahu emosi Wang Chengliu meningkat, tapi laporan berikutnya tak boleh dilupakan. “Letnan Jenderal Jin juga gugur.”
Suara pukulan keras pada meja membuat jantung prajurit itu melompat. Dia tak berani menengadahkan kepalanya, tapi tubuhnya yang merasa dingin tahu jelas bahwa aura membunuh di ruangan tersebut begitu kuat.
Napas Wang Chengliu memburu, dan dadanya naik-turun, mengimbangi emosi yang menggebu-gebu dalam dirinya. “Bagaimana dengan Huang Miaoling?” tanyanya seraya melirik kepada Chenxiao yang berdiri di sebelah prajurit tersebut.
“Lapor, Yang Mulia, masih belum tertangkap,” jawab Chenxiao dengan wajah kesulitan. “Info terakhir menyatakan bahwa dirinya berada di gang menuju Gerbang Timur,” dia menarik napas panjang sebelum menjelaskan, “dan Gerbang Timur telah jatuh diserang pasukan Kerajaan Wu.”
Tidak perlu Chenxiao jelaskan panjang-lebar, dia yakin Wang Chengliu segera paham mengenai apa yang terjadi. Huang Miaoling berhasil kabur, dan dia tentu telah diselamatkan oleh para pasukan Kerajaan Wu yang dipimpin oleh Liang Fenghong.
Wang Chengliu mengepalkan tangannya, rencananya hancur berantakan. Kepalanya berputar, mencoba menduga-duga bagaimana Huang Miaoling mampu merencanakan semua ini. Wanita itu seperti menggenggam dunia dalam tangannya, dia mampu memprediksi segala hal yang akan dilakukan lawannya.
Tunggu, apa semua hal ini sungguh direncanakan oleh Huang Miaoling?
‘Liang Fenghong … apa pria itu tak pernah berniat untuk pergi menyelamatkan Wu Huatai? Dia mengorbankan negaranya untuk seorang wanita?!’ Wang Chengliu tak mampu mempercayai hal tersebut. ‘Tunggu, mungkinkah dia kembali bersama Langcao dan Xiaofei selagi Huang Qinghao dan Liang Shupeng mencoba mendapatkan kembali Kerajaan Wu?’
Melihat wajah Wang Chengliu yang memburuk, Chenxiao segera berujar, “Aku telah mengutus sekelompok orang untuk memastikan siapa saja yang telah kembali ke Kerajaan Shi. Perbatasan Shi-Wu seharusnya memiliki sejumlah berita yang berguna bagi kita.”
Wang Chengliu melirik Chenxiao dengan sinis. “Apa gunanya? Huang Miaoling kabur, begitu pula Wu Meilan dan Wang Zhengyi. Aku sama sekali tidak memiliki pegangan!” geramnya. Kemudian, dia segera menyadari sesuatu. “Pergi dan utus orang untuk mendapatkan kabar dari perbatasan Zhou-Shi!” perintahnya pada prajurit yang berlutut di hadapannya.
“Baik, Yang Mulia!” balas prajurit itu seraya bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
Wang Chengliu menghela napas dengan kasar, lalu menatap ke arah Chenxiao yang masih berdiri di hadapannya. “Penyiksaan apa yang kau lakukan padanya?” tanyanya.
__ADS_1
“Jarum perak, Yang Mulia,” jawab Chenxiao singkat, tahu bahwa Wang Chengliu mengenali hampir semua caranya. “Dengan sedikit tambahan, sesuai permintaanmu.”
Mendengar hal ini, kerutan pada dahi Wang Chengliu sedikit melonggar. Sebuah senyuman tanpa diduga merekah di bibir pria tampan itu, senyuman yang terlihat begitu keji. “Bagus,” pujinya seraya menatap kosong ke udara, menerawang ruang dan waktu. “Paling tidak, kalau aku jatuh … aku akan membawanya jatuh bersamaku.” Di dalam hati, dia membatin, ‘Lagi pula, kita adalah suami-istri sehidup-semati, bukan?’
***
Derap kaki kuda terdengar beriringan, menunjukkan segerombol orang yang memacu kuda secara berdampingan. Tanpa henti, rombongan kuda itu dipacu untuk menjauhi tembok Zhongcheng yang dahulu terlihat begitu aman dan sejahtera.
“Ke mana kita akan pergi?” tanya Huang Yade selagi menatap gadis muda yang berada di hadapannya—berkuda bersamanya.
“Jingcheng,” jawab Mudan. “Dikatakan bahwa Jenderal Besar dan Perdana Menteri menunggu di sana,” jelasnya.
Selama sesaat, Huang Yade termenung. Sebelumnya, perlu waktu baginya untuk mendapatkan kembali ketenangannya. Sekarang, setelah dia memikirkan dengan lebih jernih, dia sangat terkejut mengenai bagaimana Langcao dan Xiaofei bisa tiba di Zhongcheng melalui jalur belakang Qiongpo Di.
Bukankah seharusnya mereka masih berjuang di Kerajaan Wu?
“Aku tidak tahu,” jawab Mudan jujur. ‘Apa Ketua sungguh mengorbankan Wu demi Junzhu?’ Dia kemudian mengarahkan pandangannya pada sosok Langcao yang berada paling dekat dengan mereka.
Langcao yang mampu mendengar percakapan tersebut berkata, “Yang—” dia sedikit tertegun, lalu mengulangi ucapannya, “Penasihat Liang pergi menjemput Mingwei Junzhu.” Dia tahu bahwa kedua orang itu mengharapkan penjelasan lebih mengenai apa yang sebenarnya terjadi, dan oleh karena itu, dia menambahkan, “Mengenai apa yang terjadi terhadap perjalanan menuju Wu,”—ekspresinya terlihat kesulitan—“ada baiknya kalian menunggu Penasihat Liang sendiri untuk menjelaskan.”
Ucapan Langcao membuat Huang Yade kembali teringat dengan adiknya, juga pada sejumlah orang yang menjadi bagian dari rencananya. “Guru Besar Qing berada di Gerbang Timur bersama dengan muridnya. Selain itu, sejumlah anggota Lianhua Yuan pergi menyelinap ke dalam istana di bawah pimpinan Yunlin dan Yuanli untuk menyelamatkan Miaoling. Kita harus memberikan mereka kabar!”
Langcao melirik Huang Yade, merasa sedikit aneh karena pikiran pria tersebut tidak tertata seperti biasanya. Sudah sejauh ini dan dia baru mengingat hal sepenting ini, bukankah itu tidak berguna?
‘Sepertinya, tekanan yang diberikan Pangeran Keenam cukup luar biasa,’ pikir Langcao memaklumi, sang ahli strategi genius memang bukanlah dewa yang serba bisa dan tahu segalanya. Tangan kanan Huang Qinghao itu pun menjelaskan, “Menteri Huang tidak perlu khawatir, Gerbang Timur ditangani oleh Penasihat Liang dan pasukannya. Oleh karena itu, aku yakin Guru Besar Qing telah bergabung dengannya.”
__ADS_1
Di saat ini, Mudan menambahkan, “Mengenai Yunlin dan Yuanli, aku yakin bahwa mereka bisa membaca situasi.” Dia teringat jumlah Pasukan Shiyan yang menyerang Qiongpo Di, “Perang Qiongpo Di jelas menimbulkan pergerakan di jalan utama Zhongcheng, dan mengetahui hal itu, mereka akan memilih untuk mengarah ke Gerbang Timur, menjauhi Qiongpo Di.” Dia menjelaskan, “Aku yakin mereka juga sempat bertemu dengan Ketua.”
Huang Yade menarik napas dalam-dalam, memutar benaknya mengenai segala kemungkinan. ‘Bahkan bila Yuanli atau Yunlin tidak menyadari hal itu, Miaoling pasti tahu.’ Kemudian, keningnya berkerut. ‘Apa … Miaoling sungguh baik-baik saja? Apa mereka sungguh berhasil?’ Ketakutannya yang terdalam pun perlahan terkuak, ‘Apa Ling’er bahkan … masih hidup?’
Huang Yade tidak bertanya lebih banyak, ketenangan yang perlahan kembali mengizinkannya untuk berpikir dengan lebih jernih. Keluarga kerajaan dan keluarga Huang yang lain jelas telah diamankan oleh pasukan bala bantuan, dan hal itu membuatnya jauh lebih tenang. Tak hanya itu, dia bisa menduga bahwa dengan keberadaan Huang Qinghao dan Liang Shupeng di Jingcheng, kota tersebut jelas menjadi benteng pertahanan yang kuat dari pihak Wang Chengliu.
Entah apa yang terjadi terhadap ekspedisi menuju Wu, tapi Huang Yade akan menunggu dirinya tiba di Jingcheng terlebih dahulu. Setelah bertemu dengan para pemimpin dari ekspedisi menuju Wu, barulah dia bertanya dengan lebih jelas. Dia telah mencoba mengorek informasi, tapi Mudan tak tahu apa pun, dan ada sesuatu yang menahan Langcao untuk menceritakan apa yang terjadi.
Mendadak, lamunan Huang Yade terpecah oleh ucapan Mudan, “Menteri Huang,” panggilnya. “Kita berhenti terlebih dahulu di sini.”
Huang Yade mengangkat kepalanya, melihat sekelompok orang yang menjaga sejumlah kuda. ‘Apa ini?’ batinnya sembari turun dari kuda.
Setelah Huang Yade turun dari kudanya, salah seorang dari kelompok asing itu menghampirinya dengan seekor kuda. “Menteri Huang, silakan,” ujarnya.
Huang Yade menerima tali kekang kuda yang disodorkan kepadanya, lalu dia mendengar Langcao berkata, “Kuda tak akan kuat melakukan perjalanan jauh sembari membawa dua orang. Kita sedang terburu-buru, jadi satu orang satu kuda akan lebih baik.”
“Liang Fenghong mempersiapkan semua ini?” tanya Huang Yade dengan terkejut.
Langcao hanya tersenyum, lalu berkata, “Kita harus segera pergi, Menteri Huang. Paling tidak, sebelum malam tiba, kita harus bergabung dengan rombongan keluarga kerajaan dan para nyonya serta tuan muda.” Mereka telah tertinggal jauh.
Kening Huang Yade berkerut, hatinya merasa tidak tenang. “Namun, Miaoling ….”
“Liang Fenghong akan menjaga Miaoling dengan baik,” Huang Liqiang mendadak berkata. Pandangannya sendu, menampakkan kekhawatiran yang mendalam. Namun, keyakinan terdengar dari nada bicaranya, “Aku percaya itu.”
___
__ADS_1
A/N:
Bisa gak sih tangan sakit karena kebanyakan ngetik? Akhir-akhir ini ngerasain suka keram, perlu ke dokter gak sih?