
Bertepatan dengan teriakan orang Tubo itu, Wu Rongya menoleh ke belakang. Melihat sebuah panah mengarah kepada Li Changsheng, gadis itu tak berpikir panjang sebelum mendorong pria itu menjauh. Panah itu pun meleset dari sasaran dan menancap pada batang pohon.
Jantung Wu Rongya berdebar kencang, mengira bahwa Li Changsheng hampir saja menjadi korban akibat panah tersebut. “Ayo!” teriaknya sembari menarik Li Changsheng berdiri dari tanah. “Kita ha—!” Cipratan darah dan bau anyir yang merebak menggantikan ucapan Wu Rongya yang menggantung di udara.
Mata Wu Rongya dan Li Changsheng membesar, pandangan mereka perlahan turun ke bawah. Sebuah panah terlihat menembus tubuh sang tuan putri Wu, menyebabkan darah mengalir secara perlahan dari sisi lukanya.
“Ah, aku ….” Lutut Wu Rongya terasa lemas, dan tubuhnya pun perlahan terjatuh ke depan.
“Rong’er!” Li Changsheng menangkap tubuh Wu Rongya, mencoba berhati-hati dengan panah yang menembus tubuh kekasihnya itu. “Rong’er, bertahanlah!” teriaknya seraya menggenggam tangan kekasihnya.
Wu Rongya yang sadar bahwa bahaya masih mengelilingi Li Changsheng segera berkata, “Lari … tinggalkan aku!” Dia berusaha keras mendorong tubuh pria di sisinya, tapi Li Changsheng bergeming.
Air mata menggenang di pelupuk mata sang mantan Raja An. “Tidak! Aku tak akan meninggalkanmu!”
Sementara itu, prajurit Tubo yang masih terbaring di tanah berteriak, “Kau salah sasaran, dasar bodoh! Pangeran Keempat jelas berkata kita harus membunuh Raja An dan bukan Tuan Putri Wu!”
Mendengar hal ini, Li Changsheng membeku di tempatnya. Dia dengan cepat menoleh ke arah para prajurit Tubo dengan pandangan terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Sudah terlambat! Bunuh saja semuanya!” balas prajurit Tubo yang menembakkan panah. Dia membidik ke arah Li Changsheng yang masih belum tersadar dari kekagetannya.
Mendadak, terdengar suara angin terbelah oleh sebuah benda besar. Kemudian, hal tersebut diikuti dengan suara benda tajam yang menancap pada sesuatu yang keras.
“Bo Rang!” Melihat sebuah golok menancap pada sisi kepala kawannya, salah satu prajurit Tubo itu tak bisa menahan diri untuk berteriak. Matanya memancarkan kengerian seiring dirinya menyadari bahwa kenyataan tak berjalan sesuai rencana. Dia menoleh ke kiri, menatap sekelompok orang berkuda yang baru saja tiba. “Baj*ngan! Kalian—!”
Tak sempat prajurit Tubo itu menyelesaikan ucapannya, sebuah belati lempar menghunjam dadanya. Mata penuh ketidakrelaan itu menatap ke arah tamu yang datang tak diundang. Namun, dewa pencabut nyawa tak pernah lamban dalam bekerja. Dalam hitungan detik, prajurit tersebut kehilangan nyawanya.
__ADS_1
Li Changsheng yang terkejut dengan perkembangan keadaan segera mengalihkan perhatian pada sekelompok pengunjung baru itu. Pandangannya terarah pada seorang pria berkuda yang memimpin di barisan paling depan. Wajah pria itu dipoles bak wanita, membuat orang yang melihatnya akan mengernyitkan dahi.
“I-ini—!”
Pemimpin kelompok berkuda itu melirik ke arah satu prajurit Tubo yang tersisa. Tanpa berkata apa pun, dia melemparkan sebuah belati lempar dan menghabisi prajurit itu.
Setelah menyelesaikan lawannya, pria anggun itu menatap ke arah Li Changsheng yang masih termenung dengan Wu Rongya di pelukannya. “Raja An, kami datang untuk menyelamatkanmu.”
***
Sembari berlutut di tanah, Li Changsheng terus menggenggam tangan Wu Rongya. Selagi salah satu bawahan pria serupa wanita itu mencoba memeriksa luka sang tuan putri Wu, Li Changsheng terus berkata, “Kau akan baik-baik saja, kau dengar aku?” Matanya memerah, berusaha keras untuk menahan air mata dari kembali menuruni wajahnya.
Bibir Wu Rongya terlihat pucat, jelas itu merupakan efek dari darah yang tak berhenti mengalir dari lukanya. “Aku … maaf ….”
Apakah itu kenyataannya?
“Bagaimana?” tanya pria berpoleskan dandanan wanita itu dengan nada melantun. “Bisa kau selamatkan?” pertanyaan ini jugalah pertanyaan yang ingin dilontarkan Li Changsheng. Oleh karena itu, sang mantan Raja An melirik wanita yang sedang mencari cara mengobati Wu Rongya itu.
Tak sesuai harapan, wanita itu menggeleng pelan. “Terlalu parah,” dia berujar seraya berdiri, tak lagi berniat menghabiskan waktu.
Melihat wanita itu berdiri, Li Changsheng segera berteriak, “Jangan pergi! Cobalah terlebih dahulu! Kau pasti bisa melakukan sesuatu!” Alis pria itu bertaut, pancaran matanya menunjukkan harapan akan sebuah keajaiban.
Sayangnya, wanita itu bukanlah dewa. Luka yang diderita Wu Rongya tak bisa dia sembuhkan.
“Kau bahkan belum mencoba! Rong’er, dia—” Tak sempat Li Changsheng menyelesaikan ucapannya, dia terlebih dahulu mematung di tempat. Wu Rongya yang terbaring di hadapannya tak lagi membuka mata. “Rong’er?” Li Changsheng berusaha memanggil kekasihnya, tapi hanya keheningan yang menyambutnya. “Rong’er!” pria itu berteriak, menyentuh sisi wajah Wu Rongya yang terasa begitu dingin. “Rong’er, bangunlah! Aku mohon, bangunlah!” Air matanya tak lagi mampu terbendung. “Wu Rongya!!”
__ADS_1
***
Teringat dengan kematian Wu Rongya membuat hati Li Changsheng terasa dingin. Selagi dirinya meninggalkan penjara bawah tanah itu, dia mencoba mengingat kembali alasan dirinya bertekad untuk membalas dendam.
Setelah kematian Wu Rongya, Hudie membawanya pergi meninggalkan Kerajaan Wu. Dia menjelaskan bagaimana Wu Huatai dan Wang Junsi merupakan dalang dari penyerangan yang terjadi pada Li Changsheng.
“Dirimu adalah keturunan Li, tak mungkin Wu Huatai membiarkanmu pergi begitu saja dengan saudaranya,” jelas Hudie dalam perjalanan mereka bersama. “Apabila dia berhasil membunuhmu, maka Wu Rongya akan kembali ke istana. Dengan kembalinya Zhanggongzhu, Wu Huatai akan memiliki sesuatu yang bisa digunakan sebagai alat pertukaran dengan negara lain.’ Dengan pandangan penuh arti, Hudie juga sempat berkata, “Kerajaan Wu berada pada posisi paling lemah. Apabila menginginkan bantuan, tentu Wu Huatai memerlukan sesuatu yang bisa dia jual, bukan begitu?”
Hudie menjelaskan bagaimana Wu Huatai berniat untuk mengirim Wu Rongya ke Kerajaan Xu. Namun, bila sedari awal kaisar Wu itu mencoba menghalangi hubungan kedua adiknya, maka Wu Rongya pasti akan sulit diajak bekerja sama. Oleh karena itu, dia berniat berpura-pura merestui hubungan Li Changsheng dan Wu Rongya untuk kemudian memisahkan mereka dengan topeng “takdir”.
Ya, Wu Huatai berniat menyingkirkan Li Changsheng.
Tak hanya itu, keterlibatan Tubo dalam hal ini merupakan bukti yang cukup kuat bahwa Wu Huatai dalang di balik semuanya. Para pasukan Tubo bersedia bergerak membantu Wu Huatai dalam sandiwara ini karena perjanjiannya dengan Wang Junsi.
“Tidakkah semua orang terkejut dengan penghargaan sang kaisar Wu terhadap Pangeran Keempat? Sekarang, kau sudah memiliki jawabannya,” ujar Hudie sembari mendengkus, mungkin menghina keburukan hati Wu Huatai. “Selain itu, apakah kau tahu bahwa dia menjanjikan pernikahan Wu Meilan dengan Wang Junsi? Pria itu sudah jelas ingin mendukung Pangeran Keempat ke atas takhta. Demikian, putrinya bisa menjadi permaisuri.” Helaan napas kabur dari bibir Hudie, “Berada di sisi Ibu Suri He terlalu lama membuatnya menumbuhkan sifat licik yang sama.”
Setiap kalimat yang terucap dari bibir Hudie mengenai kejadian itu terekam jelas dalam benak Li Changsheng. Pria itu pun mengepalkan tangannya seiring dirinya menyusuri jalanan utama istana Kerajaan Wu.
Selagi berjalan, Li Changsheng bisa mendengar suara tangisan dan teriakan, “Jangan kau berani mendekat!” Teriakan itu membuat Li Changsheng mengerutkan keningnya, lalu berbelok arah ke dalam suatu halaman. “Tak akan kubiarkan kau menyentuh Permaisuri!”
______
A/N:
Demikiankah? Siapa yang kalian percaya?
__ADS_1