Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 115 Tersiksa dan Kehilangan


__ADS_3

Mendengar balasan wanita itu, Chenxiao mengerutkan keningnya. Melukai Huang Miaoling bukanlah hal yang ingin dia lakukan. Bukan, bukan karena dia bersimpati terhadap wanita tersebut, melainkan karena dia khawatir bahwa majikannya mengambil sebuah keputusan yang tidak tepat.


“Apabila kau sungguh lebih berpengetahuan dibandingkan Pangeran Keenam, maka kenapa kau masih bisa berakhir di sini?”


Huang Miaoling tertawa dalam hati, ‘Pria ini seperti menaburkan garam pada luka.’ Dia menjawab, “Karena aku ingin berbicara denganmu.”


Kerutan pada dahi Chenxiao menjadi semakin dalam. ‘Jadi, wanita ini sengaja? Hanya untuk berbicara denganku?’ batinnya bertanya-tanya.


Mengorbankan dirinya untuk keberhasilan sebuah rencana merupakan hal yang telah berkali-kali Huang Miaoling lakukan, dan dia yakin Chenxiao cukup teliti untuk mengetahui hal tersebut. Namun, akan Huang Miaoling umumkan saat ini bahwa pernyataan yang baru saja terucap dari mulutnya … adalah sebuah kebohongan.


Jatuh ke dalam tangan Wang Chengliu sama sekali bukan bagian dari rencana Huang Miaoling.


Sedari awal, Huang Miaoling sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna kalau-kalau sesuatu terjadi di istana; jalan keluar, pasukan cadangan, juga tempat aman rahasia di ibu kota yang tidak diketahui Wang Chengliu.


Namun, siapa yang mengira bahwa sang pangeran keenam akan menggunakan Wang Zhengyi untuk menyerang Kaisar Weixin?!


‘Lu Si, baj*ngan itu.’ Mengingat kenyataan bahwa Lu Si membantu Wang Chengliu kembali membuat hati Huang Miaoling panas.


“Hal apa yang mungkin ingin Mingwei Junzhu bicarakan dengan seorang hamba sepertiku?” tanya Chenxiao sembari meraih sebuah gulungan kulit dari atas meja. Pria itu lalu membuka ikatan pada gulungan tersebut seraya menghampiri Huang Miaoling. Saat gulungan kulit itu terbuka, serentetan jarum terpampang jelas, berkilau memantulkan cahaya api obor.


Manik hitam Huang Miaoling menggerayangi barisan jarum yang ada di tangan Chenxiao. Dia memaki, ‘Pria ini … akan menggunakan cara itu?’ Jantungnya berdebar kencang.


Di kehidupan sebelumnya, siksaan yang Huang Miaoling rasakan bisa terhitung jari—tak banyak, tapi cukup berkesan. Bagaimanapun, dia bukanlah seorang pengkhianat negara, melainkan seorang permaisuri yang tak mampu mendapatkan hati sang kaisar. Namun, sekarang sepertinya Chenxiao akan menggunakan salah satu siksaan paling kejam untuk mendapatkan jawaban dari dirinya.


“Chenxiao, kenapa kau begitu setia kepada Wang Chengliu?” tanya Huang Miaoling dengan mata tajam. “Sebagai seseorang yang tahu jelas perihal semua hal yang dia lakukan, kau seharusnya menyadari bahwa dirinya adalah seorang pengkhianat negara. Ketika ayahku kembali dengan bala bantuan dari Wu, dirinya tak akan bisa lari dari hukuman mati,” jelasnya.


Chenxiao berhenti di hadapan Huang Miaoling, lalu menatapnya dengan tatapan datar. “Junzhu, apa kau sedang berusaha mengulur waktu?” ujarnya dengan nada dingin. “Apa kau kira dengan mengajakku berbicara, aku akan menunda tugasku?” Dia menarik keluar satu jarum dari tempatnya, lalu menusukkannya pada daging di antara kuku dan jari Huang Miaoling.


“Ahhh!” Huang Miaoling berteriak nyaring ketika Chenxiao melakukan hal tersebut.


Mata wanita itu memerah, menatap ke arah jarum yang bersemayam di antara kuku dan jarinya. Garis merah perlahan muncul di permukaan kuku Huang Miaoling, samar-samar menunjukkan keberadaan jarum dalam kukunya. Perlahan, darah menetes turun dari ujung jarum tersebut.


Tubuh Huang Miaoling bergetar karena rasa sakit yang dia rasakan. Hanya satu jarum, satu jarum kecil, tapi dengan efek mengerikan.


“Junzhu, bicaralah dengan lebih cepat. Ketika jarum kesepuluh bersemayam di jari-jari tanganmu, aku khawatir kau tak akan memiliki kemampuan untuk kembali berucap,” jelas Chenxiao seraya memilin jarum di jari Huang Miaoling, membuat wanita itu kembali berteriak. “Kalau bisa, berikanlah juga jawaban yang Pangeran Keenam inginkan.”


Dengan napas yang tertahan, Huang Miaoling berdoa di dalam hati, ‘Bertahanlah, Huang Miaoling.’ Dia menutup matanya dengan erat. ‘A Feng ….’ Andai pria itu ada di sini.


Mendadak, teriakan Huang Miaoling kembali bergema di dalam ruangan kecil itu, membuat suasana menjadi semakin mencekam dan memilukan. Bau anyir darah yang sedari awal sudah ada menjadi semakin pekat seiring waktu berjalan.


Jarum kedua sekarang tertanam.


Chenxiao memilin jarum kedua yang terbenam di antara kuku dan jari telunjuk Huang Miaoling, membuat wanita itu menggeram rendah. “Sudah jarum kedua, apa kau masih tak akan bicara, Junzhu?” tanyanya, terdengar begitu mengerikan karena nada bicara yang begitu tenang.


Huang Miaoling menggertakkan giginya, lalu dengan tenaga yang dia miliki, dia mengangkat pandangannya untuk menatap lurus Chenxiao. Walau sebelumnya dia berteriak nyaring akibat rasa sakit, tapi saat itu dia memasang sebuah seringai. “Apa Wang Chengliu tahu kesetiaan yang kau berikan didasari cintamu terhadap ibunya?”

__ADS_1


***


Di dalam sebuah ruangan kumuh, seorang wanita sedang menatap nyalang ke arah seorang pria dengan pakaian serba putih. “Kau berbohong!” teriak wanita itu dengan penuh amarah sembari berbaring di atas tempat tidur, matanya yang berkaca-kaca menunjukkan kesedihan dalam hatinya. “Tidak mungkin aku kehilangan anakku! Tidak mungkin!”


Pria berpakaian serba putih itu berlutut di hadapan sang wanita, lalu menundukkan kepalanya dan memberi hormat. “Shang Junzhu, hamba tidak berguna.” Sungguh, pria itu tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan selain hal tersebut.


“Meiliang, tenanglah,” ujar seorang wanita yang tak lain adalah Situ Yangle.


“Bagaimana aku bisa tenang?!” teriak Shang Meiliang penuh dengan amarah.


Baru satu detik berlalu setelah dia berteriak, Shang Meiliang langsung tersadar bahwa dirinya telah bersikap lancang. Wanita itu segera mengalihkan pandangan ke arah yang lain, menutupi rasa malu dan kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.


Melihat hal tersebut, Situ Yangle memasang ekspresi pahit. Lalu, dia bergegas melirik pria yang berlutut di lantai, “Tabib Bai, pergilah terlebih dahulu.”


Mendengar perintah yang dituturkan oleh istri sang Menteri Huang itu, Tabib Bai pun berdiri dan melangkah keluar. Baru saja dia menggeser kain kusam yang menjadi pembatas antara ruang tidur dan ruang tamu, pria itu langsung bisa merasakan sejumlah pandangan suram mendarat padanya.


“Bagaimana?” tanya seorang pria dengan pakaian kusam yang terlihat kontras dengan parasnya yang tampan. Di beberapa bagiannya tubuhnya, terlihat keberadaan perban dengan noda obat dan darah yang bercampur menjadi satu, memberikan petunjuk bahwa dirinya sempat terluka.


Tabib Bai menggelengkan kepala, “Maafkan hambamu ini tidak berguna, Menteri Huang.”


Huang Yade menautkan alisnya. Dia sudah tahu jawabannya, lagi pula teriakan Shang Meiliang terdengar bisa terdengar jelas dari rumah kecil itu. Namun, sungguh pria itu berharap bisa mendengar jawaban yang berbeda.


‘Bagaimana aku menyampaikan ini kepada Jieli nanti?’ batin Huang Yade dengan pahit.


Huang Yade terus-menerus memaki dirinya sendiri karena telah lalai dalam menjaga keluarganya. Dia tak pernah menduga bahwa tekanan psikologis dapat menyebabkan adik iparnya itu kehilangan janin dalam kandungannya.


Perang terjadi, tentu saja ketakutan dan kekhawatiran tak bisa dihindari. Bagaimana mungkin Huang Yade bisa menjauhkan hal tersebut dari Shang Meiliang? Bahkan bila Tabib Setengah Dewa, Hua Tuo, ada di sini, kejadian ini kemungkinan besar masih tak bisa dihindari!


‘Aku bukan seorang tabib, tapi kalau memang alasannya adalah tekanan psikologis, tidakkah wajar untuk menjadikan kepergian Kakak Kedua sebagai alasan utamanya?’ batin Huang Junyi yang juga berada di ruangan kumuh tersebut. ‘Selain itu, masih belum ada kabar dari perbatasan Zhou-Shi sampai saat ini. Apa Kakak Kedua baik-baik saja?’


Huang Junyi menampakkan wajah khawatir selagi melirik ke arah kain kusam yang berfungsi sebagai pintu. Berbeda dari kediaman Huang, ‘pintu’ itu tidak membatasi sebuah gedung dengan halaman, melainkan sebuah gedung—rumah—dengan jalanan umum, bukan lagi bagian dari kediaman tempat tinggal.


Alis Huang Junyi bertaut, ‘Lalu, bagaimana dengan Kakak Ketiga?’


Huang Junyi memutar benaknya, teringat pada detik-detik ritual kematian sang pangeran kelima dilaksanakan. Pada saat itu, dirinya tidak sedang berdiam diri di dalam kediaman sebagaimana harusnya.


Alih-alih ikut berkabung di kediaman seperti keluarga bangsawan lain, Huang Junyi sebenarnya tengah bersiaga bersama dengan sejumlah prajurit Longzhu yang tidak menghadiri ritual kematian. Berdasarkan perintah Huang Miaoling, dirinya bertugas sebagai pemimpin pasukan bala bantuan.


“Kau adalah seorang petarung. Di luar tembok istana, hanya dirimu yang aku percaya,” ucapan Huang Miaoling terngiang jelas di benak Huang Junyi.


Saat tanda bahaya diterima, pasukan Longzhu di bawah pimpinan Huang Junyi dengan mudah menembus pertahanan istana. Sepertinya, Wang Chengliu tak sepenuhnya menyangka bahwa Huang Miaoling rela menjadikan seorang pemuda sebagai kartu trufnya.


Ketika Huang Junyi berhasil melewati gerbang pertama istana, dia bisa mendengar teriakan lantang dari dalam halaman utama, “Tangkap semuanya!”


Tanpa berpikir panjang, Huang Junyi segera memacu kudanya seraya memerintahkan Pasukan Longzhu untuk menghabisi semua prajurit Wang Chengliu yang berjaga di depan gerbang halaman utama. Bekal latihan Huang Miaoling kentara jelas dari betapa mudahnya para prajurit Longzhu menjatuhkan musuh.

__ADS_1


Hal yang berikutnya terjadi tentu jelas, seluruh Pasukan Longzhu tergabung dan mampu menyelamatkan sejumlah tokoh penting di pihak keluarga Huang. Huang Yade, Wei Shulin, Wei Xinhao, Situ Haonan, Rong Gui, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak orang yang bisa mereka selamatkan, hanya satu orang yang tidak berhasil diselamatkan akibat tekad Wang Chengliu untuk mendapatkannya;


Huang Miaoling.


‘Pangeran Keenam ….’


Huang Junyi mengepalkan tangannya ketika teringat jelas sosok Huang Miaoling yang berada di dalam pelukan Wang Chengliu. Wanita itu terluka, kentara dari darah yang mengalir dari pelipisnya—hasil dari pukulan keras.


Namun, situasi tak memungkinkan, dan keputusan paling masuk akal diambil oleh Huang Yade; Mereka meninggalkannya.


“Junyi, ada apa?” tanya Huang Hanrong yang mengembalikan roh Junyi dari lamunannya.


“Tidak, aku—"


Tepat pada saat itu, derap langkah kaki terdengar dari luar rumah. Semua orang di dalam ruangan mengalihkan pandangan mereka ke arah tangan yang menyingkirkan kain pembatas.


Melihat sosok yang hadir, Huang Yade langsung bertanya, “Penyelidik Rong, ada apa?”


Berbeda dari biasanya, tapi serupa dengan Huang Yade saat ini, Rong Gui terlihat mengenakan pakaian kumuh yang tak sesuai dengan jabatannya. Pria itu memberi hormat dan menjawab, “Menteri Huang, Pangeran Mahkota telah sadar.”


Mendengar hal ini, Huang Yade terbelalak. Kemudian, dia segera mengambil langkah untuk meninggalkan ruangan. Namun, pria tersebut berhenti dan melirik ke belakang, mengembalikan fokusnya pada suara tangisan pilu dari dalam ruang tidur.


Huang Hanrong tahu jelas apa yang ada di dalam pikiran Huang Yade. Oleh karena itu, dia berkata, “Kakak, pergilah. Aku dan Junyi akan menjaga kedua kakak ipar.” Ucapan Huang Hanrong diikuti dengan anggukan mantap dari Huang Junyi.


Huang Yade sedikit termenung ketika melihat pandangan kedua saudaranya itu. ‘Mereka sudah dewasa,’ batinnya. Kemudian, dia menganggukkan kepalanya, “Kupercayakan kepada kalian,” dan dia pun pergi mengikuti Rong Gui.


Melihat kepergian Huang Yade, Huang Junyi mengepalkan tangannya. Dalam situasi seperti ini, selain membantu memberikan ketenangan kepada saudaranya, pemuda itu sadar bahwa dirinya sama sekali tidak berguna. Bahkan, perihal dirinya yang menembus pertahanan istana hanya mampu dilakukan karena Pasukan Longzhu telah dilatih keras oleh kakak ketiganya.


Malu, tapi Huang Junyi tak elak berdoa, ‘Kakak Ipar Ketiga, aku harap kau segera kembali.’ Kenyataan harus dihadapi, dan Huang Junyi tahu satu hal, ‘Hanya dirimu yang bisa membantu kami membalikkan keadaan.’


___


A/N:


Story: Huang Miaoling tertawa dalam hati, ‘Pria ini seperti menaburkan garam pada luka.’ Dia menjawab, “Karena aku ingin berbicara denganmu.”


Me: :) For real, my lady?


Story: Itu kebohongan.


Me: Good, karena I bet para pembaca udah muak lu pura-pura jatuh ke dalam perangkap untuk menjalankan rencana.


*A few minutes later*


Me: Hold on, terus ... pemeran utama kita serius jatuh dalam perangkap Wang Chengliu?! Jir, lemah banget!!

__ADS_1


True A/N: Yes, ini sarkasme. :)


__ADS_2