
A/N: Friday! Friyay! Yang masih di bawah umur delapan belas tahun, mohon jangan baca, ya~ For your own safety~
Dari kemarin para kaum-kaum hasrat bergelora meminta lebih, jadi hari ini spesial kukasih untuk kalian. (Kalo jelek, jangan dihina. Otor udah terima nasib kagak bakat tulis begituan.)
____
“Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi lagi,” ujar Huang Miaoling selagi memeluk Liang Fenghong dengan erat.
Liang Fenghong menatap kosong ke udara selama sesaat, lalu dia melingkarkan tangannya pada pinggang Huang Miaoling. Pria itu memeluk wanita itu dengan erat, tapi tidak terlalu erat sampai Huang Miaoling merasa kesakitan.
Dengan suara dalam, Liang Fenghong membalas, “Aku pun tidak akan meninggalkanmu lagi.” Terlalu berbahaya, meninggalkan wanita tersebut sama saja seperti membiarkan sepotong jiwanya melayang bebas—pria itu tidak tenang.
Liang Fenghong melepaskan pelukannya dan menatap Huang Miaoling dengan saksama, dia menyingkirkan beberapa helai rambut dari dahi istrinya itu untuk kemudian menyentuh wajahnya dengan lembut. Di matanya, Huang Miaoling saat ini adalah sebuah boneka porselen—cantik, tapi begitu rapuh.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Liang Fenghong.
Huang Miaoling menyentuh tangan sang suami yang masih menggerayangi wajahnya, menikmati sentuhan hangatnya. “Sangat baik,” jawabnya jujur. Manik hitam wanita itu terarah pada Liang Fenghong, memancarkan sedikit kekaguman. “Apa ilmu medis seseorang semakin meningkat?” tanyanya dengan nada menggoda.
Aneh, tapi pertanyaan tersebut membuat Liang Fenghong menampakkan ekspresi kesulitan. Ekspresi itu hanya bertahan sekejap, bahkan sang Mingwei Junzhu tidak mampu menyadari kemunculannya.
“Siapa yang melakukan hal itu padamu?” tanya Liang Fenghong, tangannya tak berhenti menyentuh wajah gadis itu.
“Hal apa?” Huang Miaoling kembali membalas dengan pertanyaan, sengaja berpura-pura tidak tahu.
Liang Fenghong sungguh rindu balasan menantang dari istrinya itu, dan hal tersebut memercikkan sesuatu dalam hatinya. “Kau tahu maksudku.” Tangan Liang Fenghong menyusup ke balik rambut Huang Miaoling, dan jari-jarinya mulai memainkan telinga wanita tersebut.
Tindakan Liang Fenghong membuat Huang Miaoling terkejut, dan dia pun melenguh, “Ah ….”
Sadar bahwa dirinya mengeluarkan suara aneh, Huang Miaoling terbelalak dan bergegas menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia mengangkat pandangannya, lalu melihat Liang Fenghong menatapnya dengan intens.
__ADS_1
Dengan usaha untuk terlihat biasa, Huang Miaoling berdeham dan lanjut menjawab, “Pengawal pendamping Wang Chengliu.” Wanita itu merasakan jari-jari Liang Fenghong perlahan turun dari telinganya, menyusuri garis lehernya. “Chenxiao,” jelasnya.
Perlahan, jalur yang dilewati sentuhan Liang Fenghong mulai terasa panas. Tidak tahan, Huang Miaoling menghentikan tangan pria itu dengan cepat.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Huang Miaoling dengan wajah yang tidak dia sadari mulai merona.
“Aku merindukanmu,” balas Liang Fenghong, pancaran matanya terlihat sedikit berbahaya. Entah kenapa, hal tersebut membuat jantung Huang Miaoling sedikit berpacu. “Aku menginginkanmu.”
Sudah Huang Miaoling duga.
Mendengar pria di hadapannya itu berterus-terang, wajah Huang Miaoling sekejap merona merah. ‘Tidakkah dia merasa malu?’
Namun, untuk apa Liang Fenghong merasa malu? Huang Miaoling adalah istrinya!
Huang Miaoling mengalihkan pandangannya, merasa tidak siap dengan permintaan mendadak Liang Fenghong. “Aku baru terbangun, dan itu adalah hal pertama yang kau minta dariku?” tanyanya seraya mencoba untuk turun dari tempat tidur, berniat menghindari pria itu. “Ah!”
Sayangnya, Liang Fenghong tidak mengizinkannya.
Mulut sang Mingwei Junzhu langsung terbungkam ketika melihat sepasang manik hitam yang menatap lurus ke arahnya. “Kau yang berkata bahwa dirimu sangat baik,” tutur Liang Fenghong. “Sekarang, aku menginginkanmu, apa itu aneh?”
Huang Miaoling terdiam sesaat, maniknya mencari-cari sesuatu dari sepasang manik berwarna hitam di hadapannya. “Tidak,” wanita itu menjawab seraya melingkarkan tangannya di leher Liang Fenghong. Kemudian, dia mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir pria itu, “Aku pun merindukanmu.”
Satu ciuman itu menyalakan api dalam diri Liang Fenghong. Pria itu mendekatkan wajahnya dan melanjutkan ciuman yang Huang Miaoling mulai, awalan lembut itu secara perlahan mulai memanas.
Karena pakaian yang sederhana, tangan Liang Fenghong mampu dengan mudah menyusup ke dalam. Ketika tangannya menyentuh kulit Huang Miaoling secara langsung, wanita itu melenguh di sela-sela ciumannya. Hal tersebut membuat Liang Fenghong menjadi semakin berani.
Sembari berusaha untuk tidak melepaskan pagutan pada bibir wanita itu, Liang Fenghong dengan ahli menanggalkan pakaian Huang Miaoling. Di saat yang bersamaan, Huang Miaoling pun melakukan hal yang serupa.
Begitu benang terakhir yang menempel pada tubuh pria itu tersingkirkan, mata Huang Miaoling terbelalak. “I-ini …,” pandangan wanita itu menggerayangi bekas luka sayatan besar yang menghiasi tubuh Liang Fenghong. Bekas luka itu berawal dari ujung pundak, lalu berakhir di pinggang. “Siapa yang melakukan ini padamu?!” Ekspresi marah terlukis pada wajah Huang Miaoling.
__ADS_1
Liang Fenghong menggenggam tangan kanan sang istri yang menyusuri bekas lukanya, menggelitik dirinya. Kemudian, tangan kiri pria itu mengangkat dagu wanita tersebut. “Tatap mataku, dan jangan pikirkan hal lain,” ujarnya.
Awalnya, Huang Miaoling berniat untuk bertanya jelas hingga akhir. Namun, ketika dia menatap mata Liang Fenghong, wanita itu tahu ada yang salah.
‘Ada yang terjadi,’ Huang Miaoling menangkap emosi yang bercampur-aduk dalam pandangan suaminya itu. ‘Sesuatu yang membuatnya ingin lari.’ Bibir Liang Fenghong sekejap merenggut udara darinya. ‘Kalau kau ingin menghindari kenyataan,’ Huang Miaoling memperdalam ciumannya, ‘maka aku akan membawamu lari darinya.’
Deru napas dan lenguhan mulai terdengar di ruangan itu, mampu membuat orang yang mendengarnya merona merah karena malu. Namun, rindu dan ***** telah bersatu-padu, membutakan kesadaran siapa pun yang dikuasai olehnya.
“A Feng! A Feng!” Huang Miaoling menjulurkan tangannya, berusaha menggapai pria yang berada di atasnya itu.
Liang Fenghong menarik wanita itu ke dalam pelukannya, berhati-hati untuk tidak melukainya. “Ling’er, kau milikku,” pria itu membenamkan wajahnya pada ceruk leher Huang Miaoling, menciumnya dengan penuh hasrat.
Mendadak, Huang Miaoling mendesah, “Ah!” Dia melirik ke kiri, mendapati pria yang bersatu dengannya itu menggigit pundaknya. “Kau— Ah!” Sekali lagi, Liang Fenghong menciptakan bekas gigitan pada leher wanita tersebut.
Ketika mendapati tubuh Huang Miaoling menegang, Liang Fenghong menyeringai. “Aku tak tahu kau menyukai hal seperti ini,” bisiknya seraya merebahkan tubuh istrinya itu di tempat tidur. Peluh mengalir turun dari pelipis pria itu, terus berlanjut sampai menetes jatuh dari rahangnya yang tegas.
“Hah … hah!” Huang Miaoling mendesah kasar ketika merasakan entakan kencang pada inti tubuhnya. ‘Ah … aku—!’ Dirinya tak lagi mampu berpikir saat Liang Fenghong menggigitnya pelan telinganya.
Begitu dirinya mencapai puncak, benak Huang Miaoling sekosong lembaran kertas putih tak bernoda. Di saat itu, dia mendengar suara rendah dengan napas berat berbisik di telinganya, “Ling’er, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku.”
Manik Huang Miaoling perlahan beralih ke samping, menatap tatapan penuh kekhawatiran yang diarahkan kepadanya. Dengan tenaga yang tersisa, wanita itu menggeser tubuhnya dan memeluk tubuh Liang Fenghong.
Huang Miaoling menutup matanya, lalu mencium leher suaminya itu. Mendadak, matanya terbuka, memunculkan pandangan berbahaya. “Selama kau tidak meninggalkanku.”
___
A/N:
Huang Miaoling dengan pandangan berbahaya: Selama kau tidak meninggalkanku
__ADS_1
Me: APAKAH INI FLAG?! APAKAH HUANG MIAOLING KITA PSIKOPAT? POSESIP? OBSESIP?
Yak, silakan tuturkan penafsiran kalian di kolom komentar. HAPPY WEEKEND BTW~