
Liang Siya menyesap tehnya dengan tenang, lalu dia meletakkan cangkirnya di atas meja. Walau kerutan telah menghiasi beberapa sisi wajahnya, tapi keanggunan dan wibawa yang wanita itu tunjukkan mampu membuat orang terkagum.
“Aku yakin kalian telah mendengar mengenai apa yang terjadi di istana beberapa saat yang lalu,” ucap Liang Siya dengan suara dalam. Mata wanita itu terarah ke depan, memandang beberapa anggota keluarganya yang hadir di ruang tengah secara bergantian. “Huang Wushuang telah menyinggung sang Ibu Suri Shen.”
Sosok Huang Liqiang terduduk di samping Liang Siya dalam diam. Sepertinya, dalam hal ini, dia memutuskan untuk tidak ikut campur dan hanya berniat untuk memberikan tanggapan apabila diperlukan.
Sementara itu, Huang Yade dan Huang Jieli duduk berdampingan dengan istri mereka, dan Huang Miaoling beserta kedua adik kecilnya menempati kursi yang ada di seberang kakak-kakak mereka. Huang Qinghao tidak berada di sana karena dirinya sedang sibuk mengantarkan Wang Wuyu sampai ke perbatasan.
Tak ada satu pun yang terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Liang Siya. Sepertinya, setelah semua hal yang terjadi, mereka tak lagi heran dengan kekacauan yang mampu Huang Wushuang hasilkan. Hanya ekspresi lesu dan kekhawatiran yang terpajang di wajah beberapa orang.
Huang Yade melemparkan sebuah pandangan kepada Huang Miaoling, tapi gadis itu hanya terdiam dan tidak mengindahkan isyarat yang pria itu sampaikan. Akhirnya, sang Tuan Muda Pertama Keluarga Huang itu mengalihkan pandangannya kembali ke arah para tetua.
“Ada apa dengan wanita itu?” tanya Shang Meiliang yang terlihat kesal. “Tidakkah dia sadar tindakannya berefek pada Keluarga Huang juga?!” Sepertinya, kehamilannya membuat emosi wanita itu sedikit mudah terombang-ambing.
Namun, kekhawatiran Shang Meiliang tidaklah salah. Kesalahan Huang Wushuang pasti berefek kepada Keluarga Huang, sengaja maupun tidak.
“Tenanglah, Meiliang,” ujar Huang Jieli.
Beberapa saat yang lalu, ketika Huang Miaoling sedang sibuk berbincang dengan kakeknya dan sang Guru Besar Qing, sebuah pesan dari istana yang ditujukan kepada Liang Siya tiba. Mengingat Liang Siya memiliki hubungan baik dengan Ibu Suri Shen, tak ada yang merasa aneh dengan hal tersebut.
Namun, siapa yang menduga kalau tak beberapa lama setelah hal itu terjadi, Liang Siya segera mengumpulkan semua orang di ruang tengah. Ternyata, surat yang dikirimkan oleh Ibu Suri Shen tidak mengandung berita baik, melainkan berita buruk.
Liang Siya menutup matanya untuk sesaat sebelum menjawab dengan tenang, “Sepertinya, isu yang tersebar di kalangan rakyat akan menjadi kenyataan.”
“Ah ….” Situ Yangle tahu apa maksud dari ucapan Liang Siya. “Wushuang … akan dilengserkan dari posisinya sebagai putri mahkota?” Dia mengernyitkan dahi ketika melihat Liang Siya menganggukkan kepalanya. “Ini buruk. Kalau begini, ke mana perginya wajah Keluarga Huang?”
Saat semua orang sibuk mengkhawatirkan mengenai apa yang akan terjadi, Liang Siya menangkap adanya keanehan. Dua orang yang biasanya selalu terlibat dalam pembahasan keluarga kala itu terdiam tak bersuara.
“Sungguh jarang bagi kalian berdua untuk bungkam seperti ini,” celetuk Liang Siya membuat perhatian seisi ruangan beralih pada dua sosok yang sedang ditatap oleh wanita tua itu. “Bukankah waktu bagi kalian untuk bersuara telah tiba?” sindirnya ke arah Huang Miaoling dan Huang Yade.
__ADS_1
Mendengar cara bicara Liang Siya, Huang Liqiang langsung mengerti kalau istrinya itu telah mengetahui sesuatu. Pandangannya beralih pada kedua cucunya. ‘Apa lagi sekarang?’
Huang Yade menatap ke arah Huang Miaoling, tapi gadis itu malah balik menatapnya. Akhirnya, pria itu menghela napas dan mengalihkan pandangannya kepada kakek dan neneknya.
“Karena Ayah tidak di sini, aku akan langsung saja,” Huang Yade memulai. “Huang Wushuang bisa sampai ke titik ini … itu semua karena doronganku dan Miaoling.”
“Apa?” Huang Liqiang mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?!” bentaknya. “Kau bermaksud untuk mengatakan bahwa kau mendorong adikmu sendiri untuk sampai ke titik terpuruk ini?!”
Liang Siya menyentuh pundak Huang Liqiang, menenangkan pria itu. Dia menatap Huang Yade. “Lanjutkan.” Nada bicaranya dingin dan memerintah.
Huang Yade terdiam untuk beberapa saat, lalu dalam satu tarikan napas berkata, “Huang Wushuang adalah putri Li Hongxia.”
Selama beberapa saat, seisi ruangan menjadi hening. Tatapan kosong terlempar dari berbagai arah kepada Huang Yade, membuat pria itu menelan ludah karena ketegangan yang terbentuk.
“Kau … baru saja …. Apa yang baru saja kau katakan?” Huang Liqiang bertanya saat telah kembali mendapatkan suaranya. “Wushuang … apa?”
Reaksi Liang Siya terlihat jauh lebih besar. Wanita tua itu terbelalak, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya. Dia meninggalkan tata krama dan tidak peduli dengan postur tubuhnya yang kurang berwibawa. Tangan kanan wanita itu menyentuh pelipisnya yang berdenyut.
Huang Miaoling tersenyum pahit, tahu kalau semua orang telah menebak keseluruhan cerita. Ini merupakan saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya di hadapan keluarganya, bukan?
Pandangan Huang Miaoling mengarah pada Huang Junyi. Di antara semua orang yang sekarang berada di ruangan ini, dia paling mengkhawatirkan perasaan adiknya itu. Kalau Huang Miaoling sungguh menceritakan semua yang telah dia lakukan pada Jingxiang dan Huang Wushuang, apakah adiknya itu akan baik-baik saja?
Karena pandangannya bertemu dengan pandangan sang Kakak, Huang Junyi mengerti apa yang ada di pikiran Huang Miaoling. Sejujurnya, dia sudah menyimpan berbagai dugaan mengenai hubungan ibu dan kakak keempatnya dalam masalah-masalah yang menimpa keluarga Huang. Namun, Huang Junyi tak memedulikannya. Yang terpenting di matanya adalah Huang Miaoling dan Huang Miaoling seorang.
Menangkap tekad bulat Huang Junyi, Huang Miaoling pun memulai, “Akulah yang mendorong Huang Wushuang ke istana.” Lalu, dia menambahkan, “Oleh karena itu, harus aku juga yang menjatuhkannya dari sana.”
Huang Miaoling menceritakan segalanya, bagaimana dirinya menjebak Huang Wushuang dan Wang Zhengyi, mendorong Mingyue kepada Song Qiaolan, dan juga melibatkan Ibu Suri Shen dan Permaisuri Mingmei. Dia tidak melewatkan sedikit pun hal penting, terlepas kebenciannya yang didasari oleh dendam dari kehidupan lalu.
Semakin lama, suasana di dalam ruangan menjadi semakin suram. Mereka tak percaya kalau selain Huang Yade, Huang Miaoling ternyata mampu menebarkan begitu banyak jaring di dalam kerajaan Shi, bahkan di kerajaan Wu sekali pun. Ditambah dengan dorongan status barunya sebagai Mingwei Junzhu dan juga dorongan sang Calon Suami, tak heran kalau gadis itu memiliki keberanian setinggi langit!
__ADS_1
Liang Siya sedang mengerutkan keningnya akhirnya berkata, “Jadi, kau sengaja membiarkan Huang Wushuang terlibat dengan Li Guifei dan Wang Wuyu … demi mendorong Ibu Suri Shen untuk bertindak?”
Memaksa Ibu Suri Shen untuk menyingkirkan Huang Wushuang, lalu mendorong Yang Defei untuk mengucilkan Wang Wuyu. Berikutnya, target Huang Miaoling adalah untuk memotong jalan keberhasilan Wang Chengliu secara paksa dengan tangan Kaisar Weixin!
Shang Meiliang dan Situ Yangle melirik ke arah Huang Miaoling, mereka masih tak percaya kalau ipar mereka ternyata mampu menjadi seseorang yang begitu mengerikan. Dahulu, Huang Miaoling hanyalah seorang gadis muda dengan cita-citanya yang ingin menjadi seorang pejuang. Sekarang, tak hanya berhasil menjadi seorang pejuang, gadis itu telah menjadi seorang penguasa di balik layar!
Huang Hanrong memandang kakak ketiganya dengan pandangan berbinar, tidak memusingkan persoalan kekejian Huang Miaoling. Di benaknya, dia hanya tahu kalau kakak ketiganya itu berhasil melampaui sang Kakak Pertama dalam hal penyusunan strategi untuk menjatuhkan musuh. Sungguh luar biasa!
Huang Jieli dan Huang Liqiang hanya bisa menghela napas panjang. Mereka tidak memiliki hak untuk menegur Huang Miaoling.
Sebagai bagian dari anggota militer, kedua orang itu tahu jelas kalau tanpa campur tangan Huang Miaoling sekali pun, perang pasti akan terjadi. Tak hanya itu, perang akan terjadi dalam situasi yang lebih berdarah!
Sekarang, karena campur tangan Huang Miaoling perang yang terjadi hanyalah perang berskala kecil. Tidak ada keterlibatan kerajaan lain dan area peperangan dipersempit menjadi di ibu kota saja, hanya para bangsawan yang akan benar-benar merasakan langsung peperangan tersebut.
Huang Miaoling menganggukkan kepala untuk membalas pertanyaan neneknya. “Itu benar.”
“Apa aku bisa menyimpulkan bahwa Tuan Muda Liang mengetahui hal ini?” tanya Liang Siya secara mendadak, membuat Huang Miaoling sedikit kebingungan dengan tujuan neneknya menanyakan hal tersebut.
“Ya,” jawab Huang Miaoling jujur. “Dia tahu.” Walau tidak semuanya.
Mendengar jawaban cucunya, Huang Liqiang membatin, ‘Tak heran pria itu mengurung Ling’er sekarang.’ Dia ingin sekali menggelengkan kepalanya dan menghela napas. ‘Gadis ini bisa membalikkan kerajaan kalau dia terus dibiarkan berkeliaran sesuka hati!’ Lalu, sang Kakek bertanya-tanya dalam hati, ‘Pengusiran Wang Wuyu telah terjadi dan pelengseran Wushuang hanya perlu menunggu waktu. Yang tersisa hanyalah Li Guifei dan Wang Chengliu, bukan?’
Benak Huang Liqiang melayang pada percakapannya dengan Huang Miaoling yang terpotong beberapa saat yang lalu. Pria itu menutup mata untuk beberapa, membiarkan sang Istri mengambil alih percakapan di ruang tengah.
Saat dirinya siap, Huang Liqiang angkat bicara, “Ling’er,” panggilnya pada sang Cucu. “Aku sebelumnya enggan menanyakan ini padamu. Namun, aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat.”
Huang Miaoling menatap ke arah Huang Liqiang yang terlihat ragu. “Kakek, katakanlah.”
Mata Huang Liqiang memancarkan kekhawatiran yang mendalam. “Apakah kau berniat untuk mendorong seseorang ke atas takhta?”
__ADS_1