Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 84 Kesedihan dan Kebahagiaan


__ADS_3

Satu gadis pelayan terlihat menodongkan sebuah pisau dapur ke arah sejumlah prajurit Nanhan. Para prajurit itu pun tertawa melihat tingkah laku pelayan kecil yang sok berani itu, dan benak mereka pun terpacu membayangkan bagaimana ekspresi garang gadis pelayan itu akan berubah memelas ketika berada di bawah mereka.


“Gadis Kecil, wanita yang kau lindungi itu telah mati! Untuk apa kau melindungi seorang mati?” ujar seorang prajurit Nanhan dengan suara seraknya. “Dibandingkan sibuk melindungi mayat, lebih baik kau bersenang-senang dengan kami!” godanya sembari tertawa keras, diikuti dengan gelak tawa kawan lainnya.


“Ada apa ini?” pertanyaan itu membuat semua orang menoleh, terkejut dengan kehadiran yang tak diduga.


“Raja An, pelayan istanamu lumayan juga,” ujar seorang prajurit Nanhan dengan pandangan merendahkan, tak sedikit pun hormat dia tunjukkan kepada Li Changsheng selain sebutan yang dia gunakan. “Hanya untuk seonggok daging tak bernyawa, dia—!” Pria itu tak sempat menyelesaikan ucapannya … karena sisi mulutnya telah terlebih dahulu robek. “ARGHH!”


Semua orang terkesiap melihat prajurit itu mengerang kesakitan selagi kedua tangannya mengambang di kedua sisi wajah. Darah mengalir menuruni wajahnya, menghasilkan pemandangan mengerikan dan membuat suasana sekejap menegang.


Setiap pasang mata dengan cepat beralih kepada sosok Li Changsheng yang berdiri dengan wajah datar. “Seonggok daging tak bernyawa itu pernah menjadi permaisuri dari kerajaan ini. Paling tidak, dia sempat menjadi eksistensi mulia dibandingkan dirimu.” Ekspresi Li Changsheng berubah marah, “Enyah!”


Para prajurit Nanhan itu tak lagi berani berkata apa pun. Mereka bergegas membantu teman mereka berdiri, lalu pergi meninggalkan halaman tersebut. Walau bukan atasan mereka secara langsung, tapi Li Changsheng merupakan orang penting dalam rencana ketua mereka. Bukanlah hal baik mencari masalah dengan pria itu.


Setelah kepergian para prajurit itu, Li Changsheng mengalihkan pandangannya kepada gadis pelayan yang masih mematung di tempatnya. “Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” tanya pria itu dengan ekspresi gelap.


Gadis pelayan itu kembali mengangkat pisau kecil di tangannya, kembali waspada terhadap Li Changsheng. “M-mereka ingin membakar Permaisuri di halaman utama! Tak akan kubiarkan mereka mempermalukannya seperti itu!” Dijadikan tontonan oleh sekumpulan prajurit musuh, itu sama saja dengan menghina keluarga kerajaan.


Li Changsheng mengalihkan pandangannya pada jasad yang tergeletak di atas tanah. Wajah wanita tak bernyawa itu terlihat begitu tenang, tanpa ada penyesalan ketika meninggalkan dunia. Hal tersebut membuat Li Changsheng mengerutkan keningnya.


‘Meninggal karena melindungi, tapi tidak sedikit pun penyesalan tergambarkan di wajahmu ….’ Tangan Li Changsheng mengepal erat. ‘Tidakkah kau tahu bahwa penyesalan itu dilimpahkan seluruhnya kepada yang hidup?’


*Beberapa waktu yang lalu*


“Zhen’er!”


Teriakan Wu Huatai membuat semua orang menoleh cepat ke arah pedang yang terarah pada sosok Permaisuri Tianzhen. Li Changsheng mengambil langkah maju, berusaha untuk menghentikan hal tersebut. Namun, jarak antara dirinya dan sang permaisuri terpaut jauh.


Pedang di tangan bawahan Hudie itu menembus tubuh Permaisuri Tianzhen dengan begitu mudah, dan kejadian itu membuat semua orang sekejap membeku, termasuk bawahan Hudie yang tersadar dirinya salah sasaran. Mereka yang berada di tempat itu terpaku dengan kenyataan bahwa sang permaisuri baru saja menerima serangan fatal.


Dengan amarah yang menggebu di dalam dirinya, Wu Huatai segera meraih sebuah pedang yang tergeletak di tanah—berasal dari prajurit yang telah kehilangan nyawanya—dan melesat ke arah prajurit yang menusuk Permaisuri Tianzhen. “Bedeb*h!”


Melihat Wu Huatai menghampiri dirinya dengan kecepatan tinggi, prajurit itu mendecakkan lidah. Dia segera berusaha untuk menarik pedangnya, tapi senjatanya itu tidak bergerak. Mata prajurit itu melirik ke depan, menyadari bahwa Permaisuri Tianzhen mencengkeram pedang yang masih terhubung dengan tubuhnya itu menggunakan kedua tangan kosongnya, tak memedulikan bagaimana benda tajam itu mengiris kulit telapak tangannya.


“Jal*ng! Lepaskan!” maki prajurit tersebut seraya mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik lepas pedangnya.


Entah dari mana asalnya tenaga yang dimiliki Permaisuri Tianzhen, tapi wanita itu cukup kuat untuk menahan tarikan prajurit di hadapannya itu. Dengan darah yang keluar dari sisi mulutnya, wanita itu berkata, “Kau … akan mati denganku.”

__ADS_1


Ketika bayangan hitam menyelimuti sebagian dirinya, prajurit suruhan Hudie itu melirik ke samping, mendapati sebuah pedang tengah mengayun ke arahnya. Satu tebasan pedang pun diterima oleh prajurit itu, menghasilkan luka panjang dari pundak kiri sampai sisi kanan pinggang. Lalu, sebuah tendangan keras pun dilayangkan padanya, menyebabkan dirinya terpelanting ke belakang dan kepalanya membentur tembok dengan keras, seketika menghilangkan kesadarannya.


Melihat hal ini, Li Changsheng terkejut. Pria itu segera berteriak dengan nada memperingati, “Tidak ada yang boleh menyentuh Wu Huatai! Yang berani melawan, maka akan kubunuh kalian!” Matanya dengan cepat terarah kepada sosok Permaisuri Tianzhen. Diikuti dengan alisnya yang bertaut, wajah Li Changsheng menampakkan emosi yang begitu kompleks.


Melihat ancaman bagi suaminya telah tiada, Permaisuri Tianzhen berujar dengan lemah, “Syukurlah ….” Segala tenaga ajaib yang sempat dia kerahkan seketika menghilang, membuat dirinya terjatuh ke samping.


Sebelum tubuh Permaisuri Tianzhen bertemu dengan tanah, Kaisar Huatai bergegas menjatuhkan pedang dan menangkap tubuh istrinya. “Zhen’er! Zhen’er! Bertahanlah!” tangan kanannya yang terbebas terlihat menggerayangi pedang yang masih menancap di tubuh istrinya, tapi tak berani menyentuhnya. Walau tahu bahwa Permaisuri Tianzhen tak bisa diselamatkan, tapi kesadarannya menolak untuk menerima. “Kau akan baik-baik saja, tabib akan segera datang,” bisik Wu Huatai.


“Bawa tabib istana kemari!” teriak Li Changsheng kepada seorang prajuritnya, matanya tidak lepas dari sosok Permaisuri Tianzhen yang terkulai lemas di pelukan Wu Huatai. ‘Kenapa ada yang berani menyerang Wu Huatai?’ batin pria itu. Lalu, pandangannya pun beralih kepada sosok Hudie yang berdiri dengan santai di ujung yang lain. Mendadak, tangan Li Changsheng mengepal, ‘Hudie!’


Permaisuri Tianzhen mencoba mengangkat tangannya, ingin menghapus darah yang mengotori wajah Wu Huatai. Namun, dia tak lagi memiliki tenaga. “Y-Yang Mulia …,” panggilnya. Air mata mulai mengalir keluar dari sudut matanya, “Anak kita ….” Hatinya terasa begitu sakit, sakit karena kehilangan nyawa dalam kandungannya, juga karena dia merasa akan meninggalkan pria di hadapannya. “Aku bersalah padamu ….” Janji sehidup-semati, tak bisa dia tepati.


“Jangan bicara, jangan bicara,” pinta Wu Huatai, berharap hal tersebut akan membantu mengurangi rasa sakit istrinya. “Kau akan baik-baik saja.” Kebohongan.


Hudie memutar bola matanya melihat adegan di hadapannya. Dengan ekspresi jijik di wajahnya, pria itu melambaikan tangannya. “Bunuh Wu Huatai,” perintahnya.


Dua prajurit di sisi Hudie segera melangkah maju, bersiap untuk menarik Wu Huatai terpisah dari istrinya. Namun, Li Changsheng menggeram, “Kalian berani!?”


Mendengar nada mengancam dari Li Changsheng, Hudie memicingkan matanya. “Li Changsheng, jangan karena kita berada di Wu, maka kau bisa bertindak sesuka hati. Walau Ketua menjanjikan posisi kaisar untukmu, tapi kau masih belum secara sah menyandang status itu. Percaya atau tidak, aku bisa saja membunuhmu saat ini juga.”


Li Changsheng menggertakkan giginya. “Hudie, seperti yang kau bilang, ini adalah Kerajaan Wu, dan Wu memiliki tradisi tersendiri untuk pemindahan takhta. Tanpa plakat militer kerajaan dan cap naga, kau kira rakyat akan mengakuiku sebagai kaisar? Terlebih setelah kudeta yang ibuku lakukan?” Dia menambahkan, “Hanya Wu Huatai yang tahu letak kedua benda itu, kita masih memerlukannya hidup-hidup.”


Melihat Hudie mempertanyakan dirinya, Li Changsheng bergegas melanjutkan, “Akan lebih baik menjadikannya sandera untuk memancing perlawanan Chen Qiang, juga mengendalikan pasukan Liang di kemudian hari.”


Mendengar kalimat terakhir Li Changsheng, Hudie pun mendecakkan lidah. “Tangkap Wu Huatai,” ujarnya, memutuskan untuk mengubah perintahnya.


Pasukan Wu Huatai telah sepenuhnya dilumpuhkan dengan mudah, sesuatu hal yang telah diprediksi berdasarkan jumlah kecil yang mereka miliki. Memang masih ada beberapa yang memiliki kesadaran, tapi sebagian besar telah kehilangan nyawa. Dengan demikian, ketika dua orang prajurit dari pihak Hudie menghampiri sang kaisar, tak ada yang mampu untuk berdiri kembali dan menghalangi.


“Jangan mendekat!” teriak Wu Huatai ketika menyadari dua sosok yang berniat mendekatinya. Dengan satu tangan menyangga tubuh Permaisuri Tianzhen, dia bergegas meraih pedang di dekatnya dan menudingkannya pada pihak musuh.


Melihat hal ini, Hudie mendecakkan lidahnya. Kemudian, dia tersenyum mengejek, “Kaisar Huatai, sebaiknya kau menyerah saja.” Dia mengayunkan tangannya dari kiri ke kanan, merujuk kepada daerah sekeliling. “Semua orangmu telah mati, dan hanya kau yang tersisa. Tak ada lagi perlu untuk bersandiwara sebagai pemimpin terhormat,” sindirnya.


Ucapan Hudie membuat Kaisar Huatai memandang sekeliling secara sekilas. Sesuai ucapan lawannya itu, semua pasukannya telah jatuh. Lalu, dia melirik ke bawah, Permaisuri Tianzhen terlihat begitu lemah. Dalam hati kecilnya, Wu Huatai tahu bahwa wanita itu tak akan bertahan lebih lama lagi.


Melihat perhatian Kaisar Huatai teralihkan, Li Changsheng bergegas melayangkan sebuah serangan untuk menepiskan pedang pria itu. Dalam satu ayunan, pedang di tangan Wu Huatai terlepas dan terpelanting ke tanah. Dua prajurit Hudie bergegas menahan pergerakan sang kaisar.


“Lepaskan aku!” teriak Wu Huatai seraya meronta sekuat tenaga.

__ADS_1


Sementara itu, melihat tubuh Permaisuri Tianzhen terbaring di tanah sembari bersimbah darah, Li Changsheng dengan cepat menggendong tubuh wanita itu. Kemudian, tanpa memedulikan pandangan yang diberikan oleh semua orang, dia berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat tersebut.


“Zhen’er! Zhen’er!” Wu Huatai tak tahu apa yang ada di pikiran Li Changsheng, dan melihat pria itu membawa pergi istrinya membuatnya menjadi semakin tidak tenang. Namun, apa yang bisa dia lakukan dengan posisi ditahan seperti sekarang? ‘Zhen’er ….’ Hanya air mata yang bisa menuruni wajahnya.


Sementara itu, meninggalkan tempat penyergapan, Li Changsheng terus berteriak dalam hati, ‘Tabib istana! Aku harus segera ke sana!’


Permaisuri Tianzhen tak mampu menggerakkan badannya, tapi dia masih bisa melihat samar ekspresi khawatir di wajah Li Changsheng. Sebuah senyuman tipis pun mengembang di wajahnya, “Chang … Sheng …,” bisikan lirih itu berhasil menyita perhatian pria tersebut untuk sesaat.


“Bertahanlah, aku akan membawamu ke tabib istana,” ujar Li Changsheng seraya terus berlari, melewati beberapa halaman yang diselimuti teriakan dan tangisan tak berdaya.


Senyuman di wajah Permaisuri Tianzhen perlahan menghilang, “Kau … telah … menderita ….”


Li Changsheng sama sekali tidak membalas ucapan Permaisuri Tianzhen, dia hanya terus berlari. Namun, di saat menyadari bahwa hembusan napas lemah tidak lagi bisa terdengar, langkah kaki pria itu kian melambat, sampai akhirnya … dia hanya mematung di tempat.


***


Suara isakan tangis bisa terdengar. Hal tersebut diiringi dengan suara kayu lapuk yang termakan api. Dua sosok yang begitu kontras berdiri berdampingan di dalam sebuah halaman, di hadapan satu jasad yang tak lagi mampu dikenali akibat kobaran api yang begitu besar.


“Permaisuri … kau mati dengan begitu tak adil …,” rengek sang gadis pelayan. Mungkin, dahulu dia merupakan salah seorang pelayan yang sempat mendampingi Permaisuri Tianzhen.


Sementara itu, di sisi pelayan tersebut, Li Changsheng berdiri tegak sembari menatap lidah api yang menari bebas. Beberapa abu yang terangkat ke udara menarik perhatiannya, hati kecilnya menganggap hal tersebut merupakan roh sang permaisuri yang telah terbang pergi.


Dengan pandangan kosong, Li Changsheng mengepalkan tangannya. ‘Apa … aku sudah mengambil keputusan yang benar?’


***


Petikan senar yang terdengar merdu bergema di salah satu bagian istana. Alunan yang dilantunkan terdengar bersemangat, lalu berubah tenang, dan dilanjutkan dengan keceriaan.


“Apa kiranya yang membuat Pangeran Keenam begitu bahagia?” ujar sebuah suara yang membuat sang pemain sitar segera menghentikan permainannya.


Mata Wang Chengliu mendadak terbuka, dan dia dengan cepat menoleh ke arah kanan. Mendapati sosok sang ayah menghampiri paviliun tempatnya berada, pangeran keenam itu bergegas berdiri dan memberi salam, “Salam kepada Ayahanda.” Kepalanya tertunduk, tapi maniknya mengarah ke segala arah, menyapu keadaan sekitar. ‘Para kasim dan pelayan menjaga jarak begitu jauh ….’


Wang Weixin menatap Wang Chengliu dengan ekspresi yang tak terbaca. “Apa kau tahu? Ketika seseorang berbahagia, maka ada orang lain yang sedang bersedih,” ujarnya penuh arti. Lalu, dia mengulangi ucapannya, “Jawab pertanyaanku, Pangeran Keenam. Apa yang membuat dirimu begitu bahagia?”


______


A/N: Banyak yang bertanya kapan konflik akan berakhir, author berikan satu jawaban:

__ADS_1


Segera.


__ADS_2