
Liang Fenghong tersenyum tipis. “Aku terlihat kesulitan di awal karena tak sempat mengingat satu cara itu,” jawabnya dengan santai.
Ketenangan di wajah Huang Miaoling segera hancur, gadis itu mengerutkan keningnya. “Apa kau menganggapku sebagai seorang bodoh?” celetuknya tanpa basa-basi. “Kalaupun di dunia ini kau adalah orang yang paling sulit kumengerti, tapi paling tidak aku tahu kau paling mahir menjaga ekspresimu. Kalau memang tidak sempat ingat, kau tidak akan memasang ekspresi kesulitan. Sebaliknya, kau akan terlihat sangat tenang,” jelasnya. “A Feng, jangan berbohong padaku.”
Melihat kalau gadis itu memiliki dugaan yang sungguh kuat, Liang Fenghong menghela napas. “Ling’er, kau berpikir terlalu jauh.” Dia kemudian berkata, “Sungguh tidak ada masalah, aku bisa melakukannya. Apa kau tak percaya dengan kemampuanku?” Pria itu meraih tangan gadis itu dan menggunakan tangannya yang lain untuk mengusap wajah Huang Miaoling seraya tersenyum lembut.
Ekspresi Liang Fenghong terlihat seperti sedang menertawakan Huang Miaoling yang terlewat curiga. Hal tersebut membuat gadis itu mulai meragukan dirinya.
‘Mungkinkah aku berlebihan?’ batin sang Mingwei Junzhu. Merasa sentuhan Liang Fenghong pada wajahnya sedikit mengalihkan fokusnya, gadis itu pun berbalik dan melanjutkan langkahnya. “Kalau kau menemukan bahwa kau sungguh tak bisa melakukannya, kau harus memberi tahu diriku. Selain untuk tidak memberikan harapan palsu kepada Kakak Ipar, aku juga bisa mulai merencanakan hal untuk menghadang bahaya dari luar.”
Liang Fenghong terkekeh selagi dirinya tertarik oleh genggaman tangan gadis itu. “Tidakkah kakak pertamamu lebih dari mampu untuk menangani hal itu sendiri?” tukas pria itu sembari berjalan di sisi Huang Miaoling.
Beberapa pelayan yang melihat dari kejauhan tertawa kecil melihat keserasian keduanya. Bisa mendengar tawa para pelayan, Huang Miaoling segera melepaskan genggamannya pada tangan pria itu. Samar-samar terlihat rona merah pada telinganya.
“Dia terlalu sibuk mengurus masalah negara, aku akan menanggung masalah keluarga,” jawab sang Nona Pertama Huang dengan tenang, berusaha keras untuk menutupi rasa malunya yang tertangkap basah oleh para pelayannya.
Pandangan Liang Fenghong beralih ke belakang, menangkap keberadaan beberapa pelayan yang mengintip interaksi keduanya. Pria itu mengangkat jari telunjuknya ke bibir, membuat para pelayan menganggukkan kepala dengan cepat.
Dengan wajah datarnya, sang Tuan Muda Liang mencoba membungkam para pelayan dengan melemparkan isyarat untuk diam. Tak ada satu pun dari para pelayan itu yang menyangka bahwa pria tersebut bisa bersikap begitu menggemaskan. Lihat bagaimana pria itu mencoba untuk mempertahankan suasana mesra di antara dirinya dan nona mereka.
__ADS_1
Sadar bahwa tak ada balasan dari pria di sebelahnya, Huang Miaoling menoleh. Namun, sebelum gadis itu sadar mengenai apa yang Liang Fenghong lakukan, pria itu telah menatap ke depan dengan wajah datar.
“Kita.” Ucapan Liang Fenghong yang mendadak membuat Huang Miaoling mengangkat alis kanannya, bingung. “Kita akan menanggung masalah keluargamu bersama.” Pria itu membalas tatapan gadis tersebut dengan lembut. “Aku juga ada di sini, bukan begitu?”
Senyuman perlahan merekah di wajah Huang Miaoling. Kepala gadis itu mengangguk pelan seraya tangan Liang Fenghong merayap masuk ke dalam rengkuhan telapak tangannya.
Selagi mengembalikan tatapannya ke depan, benak Huang Miaoling melayang. Ekspresi di wajah gadis itu terlihat buruk. ‘Selagi istrinya berperang dengan kondisi tubuhnya, pria itu malah sibuk mengurusi rumah tangga negaranya.’ Huang Miaoling mendengus dalam hati. ‘Tak heran di masa lalu keluarga Huang begitu mudah diserang.’ Dia terlalu sibuk untuk menyadari bahwa jari-jarinya telah kembali terkait dengan jari-jari pria di sebelahnya itu. ‘Kalau tidak ada keseimbangan dalam kepengurusan eksternal dan internal, tentu saja salah satunya akan tumbang terlebih dahulu.’
***
Berbeda dari biasanya, hari ini kediaman Yang terlihat sedikit lebih ramai. Ada dua kereta kuda yang tampak berhenti di depan gerbangnya, menandakan kalau ada dua tamu yang berkunjung di saat yang bersamaan. Lebih anehnya lagi, satu kereta kuda berasal dari istana dan yang lain … berasal dari kediaman Huang.
Keluarga Huang dan Keluarga Yang tidak pernah bermusuhan, tapi mereka juga tidak terlihat berteman. Tak ada satu dari keduanya yang pernah tanpa tujuan bertamu ke kediaman yang lain. Dengan demikian, situasi bertamunya seorang anggota keluarga Huang ke kediaman keluarga Yang pasti didasarkan oleh sebuah tujuan tertentu.
Selagi beberapa pejalan kaki berbisik membicarakan hal tersebut, terlihat seorang pria dari keluarga Huang sedang dijamu oleh para pelayan di dalam ruang tengah kediaman Yang. Pria itu duduk berhadapan dengan seorang wanita yang mengenakan hiasan rambut berwujud bunga Chu Ju [1], tanda kebesaran dari salah satu selir utama yang melambangkan kebijaksanaan. Dari ekspresi dan aura yang mengitari keduanya, kentara bahwa keduanya bukan sahabat. Mereka terlihat begitu canggung.
“Hari ini adalah hari keberangkatan putramu, apakah tak masalah kau tak mengantar kepergiannya dan malah menanggapi urusanku, Defei?” tanya Huang Yade dengan terus-terang kepada wanita yang sedang menyesap teh di hadapannya itu.
Yang Yuechan meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja. Wanita itu kemudian mendaratkan pandangannya pada pria yang baru saja berbicara padanya tersebut. "Yang perlu kuucapkan padanya telah kuucapkan, tak perlu ada kata perpisahan karena kepergiannya juga bukan untuk selamanya,” balas Yang Yuechan, penuh dengan keyakinan. “Aku yakin Nona Pertama Huang akan menghormati janjinya, bukan begitu?”
__ADS_1
Bibir Huang Yade yang menampakkan sebuah senyuman sopan berkedut, wanita itu jelas sedang memberikan peringatan kepadanya. Kalaupun Wang Wuyu pergi ke Kun Lun sekarang, tapi Huang Miaoling harus menepati janjinya dengan tidak menyentuh pangeran itu.
Di masa depan, kalau Yang Defei berhasil mendapatkan kesempatan, Huang Miaoling tak boleh menghalangi wanita itu dari membawa kembali putranya ke kerajaan Shi. Jika sang Mingwei Junzhu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan kepada Wang Wuyu, maka wanita itu tentu tak akan diam saja.
“Keluarga Huang selalu menepati janji,” balas Huang Yade. “Aku harap, keluarga Yang juga demikian,” tambahnya.
Mendengar hal tersebut, Yang Yuechan menjatuhkan pandangannya dan menghela napas. “Aku akan berusaha untuk memegang janji itu dan mengendalikan orang-orang di sisiku.” Alasan wanita itu terlihat kesulitan tentu saja karena ayahnya yang pastinya murka dengan kejadian ini.
Ambisi tak begitu mudah padam.
Huang Yade menganggukkan kepalanya, mengerti kalau wanita itu memiliki kesulitannya tersendiri. Hanya untuk mengunjungi keluarganya sendiri saja, Yang Yuechan perlu berseteru dengan Permaisuri Mingmei untuk beberapa saat. Kalau bukan karena Kaisar Weixin yang memandang baik sikap selirnya itu selama ini, kemungkinan Yang Yuechan tak akan pernah bisa keluar dari istana seperti ini.
‘Kaisar mana yang akan begitu baik hati sampai mengizinkan wanitanya keluar dari istana?’ batin Huang Yade sembari menghela napas dalam hati. Walau kebaikan hati Kaisar Weixin mempermudah pertukarannya dengan sang Defei, tapi sifat dasar pemimpin kerajaannya itu sungguh membuat Huang Yade khawatir. “Sejujurnya, alasanku datang kemari tak hanya untuk memenuhi perjanjian kita,” ucapnya.
___
[1] Aster
___
__ADS_1
A/N: Mau ada kejutan, siap-siap wkwk