
Ketika aku berhasil mengambil alih takhta dari Wang Zhengyi, aku akan mengumumkan hubungan kita kepada dunia.” Wang Chengliu menyentuh lembut wajah Huang Wushuang, seakan sedang membayangkan masa depan itu. “Dan, kau akan menjadi permaisuri tercantik di dunia.”
Tangan Huang Wushuang menahan selimut di depan dadanya, dan matanya menatap penuh harap pria di hadapannya itu. “Aku … percaya padamu,” dia tak tahu lagi harus mengatakan apa.
Wang Chengliu menatap pahit ke arah Huang Wushuang, sadar wanita itu masih belum bisa mengatakan cinta padanya. “Aku mencintaimu, Wushuang” ujar pria itu selagi mencium tangan Huang Wushuang.
Walau tahu bahwa dirinya masih belum jatuh hati pada pria di hadapannya, tapi Huang Wushuang tersentuh dengan perlakuan Wang Chengliu kepada dirinya. Dengan canggung, wanita itu mengucapkan, “B-berhati-hatilah.”
Keterkejutan muncul di wajah Wang Chengliu, tapi hal itu sekejap digantikan dengan sebuah senyuman tampan yang begitu menawan. Sebagai seorang wanita muda yang sehat, Huang Wushuang bisa merasakan jantungnya berdebar kencang ketika memandang wajah pria itu. Secara perlahan, wanita itu telah tenggelam ke dalam pesona sang pangeran keenam.
“Aku pergi,” ucap Wang Chengliu seraya meninggalkan ruangan tersebut.
Begitu pintu tertutup, Huang Wushuang menjatuhkan pandangannya. Dia merasa bahwa apa yang baru saja terjadi sangat gila. ‘Aku … baru saja berzina dengan pria lain, pria yang tak lain merupakan adik lelaki suamiku.’ Tangannya bergetar, sedikit khawatir apabila rahasia ini terbongkar. Namun, wanita itu kemudian mengepalkan tangannya, membulatkan tekad.
Menjual tubuhnya, itu merupakan sesuatu yang pernah Huang Wushuang lakukan sebelumnya. Sekarang, demi kebebasan dan dendam dalam hatinya, hal yang sama ia lakukan untuk yang kedua kalinya.
‘Apa ini menjadikanku seorang jal*ng seperti Ibu?’ pikir Huang Wushuang selagi menatap lurus ke dalam kegelapan malam dengan pandangan kosong. ‘Tidak!’ Api membara terlihat dari pancaran mata sang Selir Huang. ‘Aku sedang berjuang untuk hidup!’ Dia menggigit bibirnya, “Huang Miaoling … kau akan segera jatuh.”
Di luar ruangan, Wang Chengliu yang masih belum meninggalkan halaman itu terdiam memandang ke arah ruangan Huang Wushuang. Mendengar apa yang wanita itu katakan, sebuah senyuman perlahan mengembang di wajahnya yang tak bercela, ‘Huang Wushuang, kau memang wanita bodoh ….’
Setelah berjalan menjauhi halaman Huang Wushuang, satu sosok berpakaian hitam berlutut di hadapan Wang Chengliu, membuat pria itu menghentikan langkahnya. Pandangan dingin diberikan oleh Wang Chengliu kepada pria di hadapannya, “Bagaimana?” tanyanya, “Sudah kau tangkap tikus kecil itu?”
Pria di hadapan Wang Chengliu menggertakkan giginya. Tanpa berani mengangkat pandangannya, pria itu menjawab, “Kami hampir saja menangkapnya, tapi—”
Tanpa menunggu balasan bawahannya, Wang Chengliu melayangkan sebuah tendangan pada wajah pria itu. “Dia kabur?!” geramnya dengan suara tertahan. “Bagaimana mungkin seorang gadis kecil bisa kabur begitu saja dari tangan kalian?!” Tangannya mengepal kuat, menunjukkan amarah atas kelalaian bawahannya.
Bawahan Wang Chengliu itu tak sempat kembali berlutut, tapi sebelum majikannya kembali melayangkan sebuah serangan mematikan, dia buru-buru berkata, “Ada seseorang yang membantunya!”
__ADS_1
Sang pangeran keenam membeku. Kemudian, api amarah yang sempat berkobar pada maniknya sedikit mereda. “Siapa?”
Mendengar pertanyaan Wang Chengliu, pria tersebut mengernyitkan wajahnya. “Kami tidak bisa melihat wajahnya, dia mengenakan tudung hitam.” Sadar api amarah kembali terpancar dari mata sang pangeran, dia cepat-cepat menambahkan, “Namun, ketika dia membantu gadis pelayan itu untuk kabur, kami berhasil melukainya. Hanya saja, di saat kami sudah mengepungnya, mereka melompat ke dalam kolam dan menghilang!”
Penjelasan bawahannya membuat Wang Chengliu mengerutkan kening. ‘Apa?’
***
Jejak kaki basah dan juga bercak darah mengiringi langkah gontai satu sosok dalam kegelapan itu. Di punggungnya, terdapat seorang lain dengan mata tertutup dan napas yang tersengal-sengal.
“Bertahanlah, kita akan segera sampai,” ujar sosok yang masih sepenuhnya sadar, berharap orang yang sedang bersamanya bisa mendengar ucapannya.
Dengan susah-payah, sosok tersebut melintasi jalanan utama Zhongcheng untuk kemudian tiba di depan sebuah gedung tinggi bertingkat, lambang teratai terpampang jelas pada bendera yang menunjukkan nama tempat itu. Ketika dia melihat dua prajurit yang menjaga pintu belakang tempat tersebut, dia segera bersiul.
Terkejut dengan siulan tersebut, kedua prajurit itu segera bersiaga. Namun, saat sadar dengan melodi yang dilantunkan, mereka bergegas mengarahkan obor ke arah datangnya siulan itu.
“Kita tidak punya waktu!” sela Yuanli. “Segera panggil Mudan, ada seseorang yang memerlukan pertolongan!” perintah gadis itu dengan cepat. “Selain itu, segera kirimkan pesan kepada Junzhu untuk segera kemari.” Dia melirik sesaat sosok bertudung yang bertengger tak sadarkan diri di punggungnya, “Ada seseorang yang menginginkan kehadirannya.”
***
Di dalam ruangan Lianhua Yuan, terlihat Yuanli memasang wajah serius. Pandangannya terarah kepada Mudan yang sedang memegang tangan seorang, memeriksa nadi dan keadaan pasiennya.
“Bagaimana?” tanya Yuanli saat melihat Mudan meletakkan kembali tangan orang tersebut.
Mudan berdiri dan menjelaskan, “Belati itu menusuk tepat di antara rusuk, tapi beruntung tidak melukai organ vital.” Gadis itu tidak menunjukkan ekspresi khawatir maupun panik, tapi ada kebingungan yang terpancar dari matanya. “Dari nadinya yang begitu stabil, seharusnya dia akan segera sadar.”
Yuanli menautkan alisnya, terlihat sangat bingung dan terkejut. “Secepat itu?” tanyanya. Walau tak memiliki pengetahuan medis sedalam Mudan, tapi dia tahu bahwa dengan luka yang begitu parah, paling tidak memerlukan satu sampai dua hari bagi orang normal untuk sadar.
__ADS_1
Pandangan Mudan beralih dari sosok di atas tempat tidur kepada Yuanli. “Apa yang terjadi?” dia mengabaikan pertanyaan lawan bicaranya. “Bagaimana kau bisa berakhir di sini dengan orang ini?” Bibir Yuanli terbuka, tapi sebelum dia bisa mengatakan apa pun, Mudan mengangkat tangannya. “Lupakan, tunggu Junzhu tiba. Sepertinya, malam ini kita harus bersiaga terhadap serangan mendadak.”
Akhirnya, Yuanli pun hanya bisa menganggukkan kepala untuk menanggapi ucapan Mudan.
Sekitar satu jam kemudian, Yuanli dan Mudan yang menunggu dalam diam di depan panggung Lianhua Yuan dikejutkan dengan pintu yang mendadak terbuka lebar. Mereka mengalihkan tatapan dan mendapati sosok Huang Miaoling melangkah masuk dengan pakaian santainya.
“Nyonya!” panggil Yuanli seraya bergegas menghampiri wanita itu.
Huang Miaoling menatap Yuanli dan menggenggam tangan gadis itu, dia memutar tubuh bawahannya itu seakan mencari-cari sesuatu. Ketika Yuanli kembali menghadap dirinya, Huang Miaoling menghela napas, “Syukurlah kau tidak terluka." Wanita itu lalu bertanya, “Apa yang terjadi?”
Setelah menawarkan kepada majikannya untuk duduk terlebih dahulu, Yuanli segera menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya beberapa waktu yang lalu. Dia mulai menceritakan dari awal, yaitu mengenai perzinaan Wang Chengliu dan Huang Wushuang.
‘Seorang bedeb*h dan seorang jal*ng\, sungguh pasangan yang serasi\,’ sindir Huang Miaoling di dalam hati.
Begitu mendengar setiap ucapan yang dilontarkan Wang Chengliu kepada Huang Wushuang melalui Yuanli, pandangan Huang Miaoling menggelap. Tidak, wanita itu tidak sedang terbakar api cemburu. Walau harus diakui bahwa dirinya merasa sangat jijik dengan kegilaan Wang Chengliu dan hinanya Huang Wushuang, tapi ada satu hal yang membuat dirinya memasang ekspresi suram itu.
Dugaannya mengenai tujuan Wang Chengliu mendekati Huang Wushuang.
‘Huang Wushuang tak lagi memiliki nilai guna untuk tujuan Wang Chengliu menguasai takhta. Sebaliknya, wanita itu akan menjadi beban dan juga alasan kuat untuk mencoreng nama baiknya di pengadilan istana serta dunia ….’ Huang Miaoling menautkan alisnya. ‘Mengenal Wang Chengliu, dia tentunya tidak melakukan ini atas dasar cinta. Lalu, tujuannya berselingkuh dengan wanita kakaknya sendiri adalah ….’
Belum sempat Huang Miaoling menata benaknya, dia mendengar sebuah seruan dari lantai atas, “Yuanli, Mudan, orang itu sudah sadar!” Saat sadar dengan keberadaan Huang Miaoling, gadis yang merupakan salah satu anggota Lianhua Yuan itu segera memasang wajah kaget. “A-ah! S-salam kepada Junzhu!”
Huang Miaoling melemparkan anggukan singkat untuk membalas salam tersebut. Namun, dia dengan cepat mengalihkan pandangan kepada Yuanli dan Mudan. “Siapa ‘orang’ yang dia maksud?”
___
A/N: ... Ini ...
__ADS_1