Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 120 Ambang Kegilaan


__ADS_3

“Upacara pengangkatan harus dilakukan di hari esok, aku tidak menerima penolakan.” Seorang pria yang terduduk di atas singgasana naga meraih sapu tangan yang disodorkan ke arahnya, membersihkan sisa darah yang masih menempel pada pedang di tangannya. “Kalian jelas tahu akhir dari penolakan hanyalah …,” manik hitam pria itu melirik para subjeknya yang menunduk dengan wajah ngeri, beberapa menatap kosong ke arah satu tubuh bersimbah darah di tengah ruangan—korban amarah sang pemimpin, “… kematian.”


Orang-orang berpakaian pejabat itu segera memberi hormat dan mengangkat plakat nama mereka, sebuah aksi untuk menunjukkan dukungan kepada keputusan sang pemimpin negara. “Yang Mulia Pangeran Keenam bijak, semua akan dilaksanakan sesuai perintah!” teriak salah seorang pejabat dengan tangan gemetar.


Tepat pada saat itu, pintu pengadilan istana berdecit terbuka, mengalihkan pandangan Wang Chengliu yang berada di atas takhta. Melihat sosok Chenxiao, pria itu segera berkata, “Kalian semua sudah boleh pergi.”


Tanpa perlu menunggu lama, para pejabat itu segera meninggalkan ruang pengadilan istana. Lagi pula, perintah mengundurkan diri merupakan hal yang telah mereka tunggu sejak lama. Mereka merasa bahwa semakin lama mereka berada di ruangan bersama dengan pangeran itu, benang kehidupan mereka akan semakin terkikis habis oleh ketakutan dan kekhawatiran.


Setelah semua pejabat pergi, para pelayan dan kasim istana pun mengikuti. Mereka tahu keberadaan mereka tidak diinginkan oleh sang pangeran keenam.


Chenxiao melirik ke arah pria yang terbaring tak bernyawa di tengah ruangan, lalu dia mengernyitkan dahi. “Yang Mulia … bagaimana mungkin kau membunuh Kasim Gao?!” tanya pria itu setengah berseru.


Kasim Gao adalah tangan kanan Kaisar Weixin, itu benar. Namun, eksistensi pria itu tidak sesederhana itu. Kasim Gao merupakan pilar yang menjaga keteraturan para pelayan dan kasim istana. Tanpa pria itu, siapa yang mungkin mampu mengambil alih dan mendampingi Wang Chengliu ketika pria itu menjadi kaisar nanti?!


“Dia menentangku perihal upacara pengangkatan, mengatakan bahwa apa yang aku lakukan adalah pemberontakan. Tindakannya menghancurkan reputasiku di hadapan para pejabat, apa kau masih merasa dia pantas untuk hidup? Wang Chengliu balik bertanya kepada Chenxiao dengan wajah dingin.


“Yang Mulia, Kasim Gao telah melakukan banyak hal untukmu,” ujar Chenxiao dengan alis bertaut.


Ya, seperti Kaisar Weixin, Kasim Gao memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan pria itu. Kasim Gao memiliki hati yang lembut, terlebih lagi karena dirinya tak memiliki kemampuan untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, sedari dulu, melihat ketidakadilan yang diterima oleh Wang Chengliu, pria itu selalu membantunya dengan memperingatkan para pelayan untuk memperlakukan sang pangeran keenam dengan hormat.


Namun … bahkan setelah semua yang Kasim Gao lakukan, Wang Chengliu ….


Chenxiao sendiri tahu dan pernah merasakan bantuan dari Kasim Gao, dan hal tersebut membuat hatinya merasa sedikit tidak nyaman ketika melihat mayat pria itu terbaring tak bernyawa di hadapannya. “Bagaimana mungkin kau—”


“Chenxiao, apa ini perasaanku atau akhir-akhir ini kau sering mempertanyakan tindakanku?” potong Wang Chengliu dengan mata tajam.


Chenxiao terdiam di tempat dengan wajah sedikit terkejut. Dia mengepalkan tangannya dan dengan cepat berlutut. “Hamba … melewati batas. Mohon Yang Mulia menghukumku.”


Wang Chengliu mendengus, “Aku tak punya waktu untuk menghukummu.” Kemudian, dia bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini? Apa sudah ada perkembangan dari tugas yang kuberikan padamu?”


Chenxiao menengadahkan pandangannya dan menatap Wang Chengliu. “Mingwei Junzhu sama sekali tidak membuka mulutnya,” jelasnya. “Kalau aku terus menyiksanya, aku khawatir dia bisa berakhir menjadi seorang … cacat.”


Mendengar hal ini, alis Wang Chengliu bertaut. “Cacat?” dia mengulangi ucapan Chenxiao, membuat bawahannya itu sedikit takut. Di luar dugaan Chenxiao, sebuah senyuman tampak di bibir Wang Chengliu. “Kalau memang begitu, maka itu lebih baik.”


‘Apa?’ Chenxiao membelalakkan matanya.


“Aku penasaran dengan wajah yang akan ditampakkan sang ‘Penasihat Liang’ ketika dia kembali dan melihat istri yang begitu dia cintai telah menjadi seorang cacat,” ujar Wang Chengliu dengan keji. Entah kenapa, hatinya merasa semakin panas ketika mengatakan hal tersebut, merasa jijik dengan hubungan Liang Fenghong dan Huang Miaoling.


Bagaimana tidak? Pria yang di kehidupan lalu merupakan bawahannya berakhir menikahi wanita yang di kehidupan lalu merupakan istrinya. Ini seperti sebuah pengkhianatan besar yang menggelikan! Harus ditaruh di mana wajahnya jikalau ada orang yang mengetahui hal tersebut?!

__ADS_1


Ah, tunggu. Lu Si telah mengetahui hal itu, dan ini merupakan salah satu alasan Wang Chengliu merasa marah serta tidak terima!


‘Sejak hari ritual kematian, pria itu tidak pernah terlihat lagi. Di saat genting seperti ini, ke mana perginya dia?!’ bentak Wang Chengliu dalam hati, merasa marah. Begitu banyak hal yang harus dia hadapi, tapi Lu Si malah menghilang entah ke mana. “Kalau memang diperlukan, aku tidak keberatan apabila kau menghilang satu atau dua bagian tubuhnya,” ucap Wang Chengliu mendadak, merujuk kepada Huang Miaoling.


Ketika dirinya mendengar hal ini, Chenxiao merasa ada sesuatu yang harus dia luruskan. “Yang Mulia, aku rasa … kau harus memikirkan kembali rencanamu,” ucapnya dengan kening berkerut dan tangan mengepal kuat.


Pandangan Wang Chengliu yang tadinya masih terlihat sedikit santai langsung berubah menjadi sangat mengerikan. “Kau bilang apa?” tanyanya dengan nada setajam belati.


Chenxiao menarik napas panjang dan langsung berkata, “Mingwei Junzhu adalah orang yang seperti apa, kau seharusnya jelas. Dia begitu keras, dan jika kau memaksanya, dia akan semakin menolak.” Pria itu menelan ludah, mendapati Wang Chengliu perlahan mencengkeram tangan takhtanya. “Kalau Mingwei Junzhu terluka terlalu parah atau kehilangan nyawanya, lalu … kita gagal, keluarga Huang dan Kerajaan Wu tidak akan melepaskan kita. Tidak ada kesempatan bagi kita untuk—”


“Sejak aku duduk di singgasana ini, aku sama sekali tidak memiliki rencana untuk gagal, Chenxiao,” potong Wang Chengliu. “Selain itu, apa kau sungguh berpikir bahwa dari detik aku menangkap wanita itu … aku akan membiarkannya hidup?”


Kerutan pada kening Chenxiao menjadi semakin dalam, dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan majikannya saat ini. “Apa yang—”


Baru saja Chenxiao membuka mulutnya, pintu pengadilan utama terbuka lebar. Seorang pengawal berlari cepat dan berseru dengan napas terengah-engah, “Y-Yang Mulia! Jenderal Chenxiao!”


Wang Chengliu memasang sebuah senyuman terhibur, menunjukkan pada Chenxiao bahwa dia telah menduga pria tersebut akan datang. “Ada apa?” tanyanya.


Pengawal tersebut mencoba menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab seraya memberi hormat, “Y-Yang Defei dan Selir Huang menerobos penjara bawah tanah!”


“Apa?” Chenxiao berbalik dan memasang wajah khawatir serta terkejut. ‘Kalau Yang Defei bertemu dengan Huang Miaoling, mengingat dendamnya atas kematian Wang Zhengyi, maka wanita itu akan—’ Dia membeku di tempat, mencoba mengingat kembali ucapan Wang Chengliu sebelumnya. ‘Tidak membiarkan … Junzhu hidup?’


***


Entah berapa lama waktu telah berlalu, tapi Huang Miaoling merasa waktunya berjalan sungguh lambat. Dia tidak tahu apa yang terjadi di luar, pada keluarga dan negaranya. Namun, Huang Miaoling tahu bahwa dirinya sedang berada di ambang keputusasaan dan kesengsaraan.


Dengan leher ditopang ujung atas punggung kursi, kepala Huang Miaoling sedikit tertarik ke belakang dengan lemas. “He he …,” sebuah tawa kabur dari bibir Huang Miaoling.


Ah, bukan hanya keputusasaan dan kesengsaraan, Huang Miaoling juga sudah berada di ambang kegilaan.


Jari-jari tangan Huang Miaoling dialiri darah yang terus menetes ke lantai, menyebabkan kepalanya terasa sedikit ringan. Jarum perak masih terlihat tertanam dalam pada area yang berada di antara kuku dan jari, mengoyak daging yang seharusnya menjalin kedua benda tersebut.


Mendadak, telinga Huang Miaoling mendengar sejumlah langkah kaki—tiga pasang. Suara derap langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat. Kemudian, suara itu berhenti dan dilanjutkan oleh derit nyaring pintu besi tua yang terbuka.


“Astaga … apa ini sungguh orang yang sama?”


Mendengar suara yang familier itu, Huang Miaoling memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dia menegapkan kepalanya, lalu mengarahkan pandangannya yang sedikit membuyar pada dua sosok di depan pintu penjara.


Ketika mengenali tiga orang tamu tak diundangnya, Huang Miaoling membiarkan kepalanya terjatuh ke depan, mengambang di udara di depan dadanya. Tindakannya itu membuat salah satu tamunya mendelik marah, merasa diacuhkan.

__ADS_1


“Defei! Lihat dia! Dia sama sekali tidak memedulikan kehadiranmu!” teriak salah satu tamu itu dengan lantang.


Yang Yuechan melirik Huang Wushuang dengan pandangan kesal. Di ruangan sempit dan lembap seperti ini, suara tinggi menyebalkan Huang Wushuang bergema lantang, dan hal itu membuat sang Defei merasa tidak nyaman.


“Defei.” Mingyue yang berada di sebelah Yang Yuechan mengulurkan tangannya untuk menyodorkan sebuah benda.


Huang Wushuang sedikit terkejut dengan belati di tangan Mingyue. ‘Mereka sungguh akan membunuhnya,’ batin wanita itu. Lalu, dia tertawa kencang dalam hati. ‘Ini bagus!’ Huang Wushuang pun berkata, “Haruskah aku membantu Defei untuk menyelesaikannya?”


Mingyue dan Yang Yuechan menatap Huang Wushuang selama sesaat, merasa sedikit terkejut dengan tawarannya. Hanya saja, keduanya tidak bodoh. Mereka tahu bahwa Huang Wushuang hanya menawarkan hal tersebut untuk mengambil hati Yang Yuechan, berharap bisa menjadi sekutunya nanti.


“Dendam putraku perlu kutuntaskan sendiri, tidak perlu orang luar sepertimu untuk ikut campur,” balas Yang Yuechan dengan ketus.


“Aku mengerti, maafkan aku atas kelancanganku,” ujar Huang Wushuang dengan senyuman yang dipaksakan. Sedari awal, dia tahu Yang Yuechan akan menolak permintaannya. Namun, mendengar penolakan yang begitu kasar, hatinya merasa tidak senang. ‘Menyebalkan. Ketika aku menjadi permaisuri, akan aku pastikan untuk menyingkirkanmu terlebih dahulu.’


Yang Yuechan meraih belati dari telapak tangan Mingyue dan mulai menghampiri Huang Miaoling. Tidak mendapatkan reaksi apa pun, wanita itu mengerutkan keningnya, terlihat sedikit tidak senang.


Mata Yang Yuechan terarah pada jarum yang terbenam di antara kuku dan jari Huang Miaoling. Dia menyentuh jarum tersebut dan menariknya keluar, menyebabkan teriakan nyaring dari sosok sang Mingwei Junzhu.


Walau tak bisa melihat karena tubuh Yang Yuechan menghalanginya, tapi teriakan Huang Miaoling membuat Huang Wushuang tetap merasa ngilu dan takut. Huang Miaoling adalah seorang praktisi ilmu bela diri, dan toleransi wanita itu terhadap rasa sakit tentunya jauh lebih tinggi dari orang biasa. Bahkan dengan hal itu, Huang Miaoling masih menunjukkan reaksi kesakitan yang luar biasa. Tak terbayangkan oleh sang Selir Huang perihal rasa sakit yang dirasakan mantan saudari tirinya itu.


Huang Wushuang bergidik ngeri, ‘Mengerikan … orang-orang istana sungguh mengerikan,’ pikirnya. Jantung Huang Wushuang berdetak kencang, dia merasa bersemangat. ‘Namun, aku menyukainya!’ Cara yang paling menyenangkan untuk mengantarkan musuh kepada kematian memang adalah dengan menyiksanya!


Tidak ada sedikit pun keraguan dari Yang Yuechan ketika dia mencabut satu per satu jarum dari jari Huang Miaoling. Bahkan ketika wanita itu berteriak nyaring di telinganya dengan begitu memilukan, wajah sang Defei tetap datar tanpa emosi.


Sampai pada jarum terakhir yang dikeluarkan oleh Yang Yuechan, wanita itu menatap sang Mingwei Junzhu dengan dingin. “Sudah cukup, bukan?” tanyanya. “Kalau terlalu lama, aku tak akan menjamin tak ada yang datang kemari.”


Di saat ini, Huang Wushuang menautkan alisnya. “Defei, apa maksudmu?” tanyanya dengan bingung, membuat Yang Yuechan menoleh ke arahnya. ‘Apakah dia baru saja berbicara denganku? Tapi—'


Sebelum Huang Wushuang menyelesaikan ucapan dalam benaknya, dia terbelalak lebar, menatap bulat sosok yang berdiri dari tempatnya terduduk. Manik hitam kecokelatannya terpaut dengan manik hitam segelap malam yang menatapnya tajam, bak binatang buas menatap mangsa.


Dengan jari bergetar, Huang Wushuang menunjuk ke satu arah dan langsung berteriak nyaring, “Yang Defei! Di belakangmu!” Dalam sekejap mata, sosok yang dia tatap menghilang dari pandangan, dan Huang Wushuang pun dengan panik mencari-cari ke segala arah. “Ke mana dia?!”


Kemudian, suara terkekeh yang membekukan hati terdengar di sisi telinga Huang Wushuang, “He he. Di belakangmu, adikku sayang.”


___


A/N:


Huang Miaoling: Di belakangmu, adikku sayang."

__ADS_1


Me: *Nengok belakang* ... oke gak ada\, aman.


__ADS_2