
Kaisar Weixin terbelalak mendengar pertanyaan tersebut. Selain Huang Yade, Permaisuri Mingmei, Wang Qiuhua, serta pihak kerajaan Zhou sendiri, belum ada orang lain yang mengetahui hal ini. Pria itu menoleh ke arah Huang Yade, melemparkan sebuah pertanyaan bisu.
Huang Yade menangkap pandangan yang diberikan Kaisar Weixin padanya, dia langsung mengerti kalau sang Kaisar menduga dirinya telah memberitahukan hal ini kepada Qing Gangtie. Sebuah gelengan kecil ditunjukkan oleh sang Menteri Pertahanan.
Bagaimanapun, Huang Yade adalah pejabat kerajaan Shi yang bertugas untuk menjaga keamanan negaranya. Sang Kaisar seharusnya tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa pria itu tak mungkin membocorkan informasi penting semacam ini.
Melihat kalau Huang Yade memberikan tanda bahwa dirinya tak membocorkan tentang hal ini, Kaisar Weixin menjadi semakin waspada.
Siapa kiranya yang membocorkan mengenai rencana Kaisar Weixin ini kepada Qing Gangtie? Mungkinkan Qing Gangtie memiliki hubungan dengan kerajaan Zhou?
Namun, hubungan macam apa yang mampu membuat Kaisar Zhou membocorkan hal yang jelas-jelas telah diperingatkan oleh Kaisar Weixin untuk dirahasiakan sebelum hari yang tepat tiba?
Andai saja sang Kaisar tahu kebenarannya.
“Yang Mulia, aku telah lama mengabdi di sisimu. Jalan pikiranmu, apa aku masih belum mengerti?” Qing Gangtie berkata, tidak ingin mengatakan kalau dia mengetahui hal ini secara langsung dari pesan yang dikirimkan oleh Qing Shan, sang Kaisar Zhou. “Aku beruntung sempat bertemu dengan Mingwei Junzhu di kediaman Huang, Junzhu sempat menceritakan beberapa hal menarik mengenai pengalamannya ketika pertama kali tiba di pengadilan,” lanjutnya.
Mendengar hal ini, Huang Yade adalah orang pertama yang bereaksi. Kening pria itu berkerut dan alisnya bertaut. ‘Kapan Huang Miaoling sempat berbincang tentang kejadian itu pada Guru Besar Qing?’ pikirnya. Namun, dia tidak menyuarakan pertanyaannya itu karena tahu tidaklah sopan mempertanyakan sang Guru Besar yang merupakan tamu kediamannya. Akan lebih baik untuk menelisik hal ini ketika kembali ke kediaman.
Di sisi lain, Kaisar Weixin segera mengerti maksud Qing Gangtie. Sekarang, mulai masuk akal bagaimana Qing Gangtie bisa berakhir dengan dugaan bahwa Wang Qiuhua akan dinikahkan dengan Pangeran Qing Zhuang. Sang Guru Besar pasti sadar bahwa demi menjatuhkan Mu Buhui dan mematahkan sayap Li Hongxia waktu itu, Kaisar Weixin terpaksa mengikuti permainan Huang Miaoling dan meminjam nama kerajaan Zhou, merusak reputasi mereka di mata rakyat kerajaan Shi. Dengan demikian, satu-satunya cara penebusan yang paling tepat adalah dengan menjalin sebuah ikatan antara keturunan mereka.
Mengaitkan takdir keturunan, itu bisa diartikan sebagai satu bentuk ketulusan.
“Karena Guru Besar Qing telah tahu, maka aku pun tidak akan menyembunyikan hal ini.” Kaisar Weixin tersenyum, merasa kalau Qing Gangtie memang seorang yang luar biasa. Hanya dari cerita singkat Huang Miaoling, pria tua itu bisa menyimpulkan sebuah tindakan yang akan diambil sang Kaisar. “Itu benar, aku akan menikahkan putriku pada Pangeran Qing Zhuang. Apa Guru Besar Qing memiliki tanggapan?”
Qing Gangtie tersenyum. ‘Andai sang Kaisar tahu kalau aku tidak sehebat itu.’ Lalu, dia mengeluarkan satu gulung surat dan memberikannya pada Kaisar Weixin. “Mohon Yang Mulia membaca ini.”
Kaisar Weixin menerima gulungan surat tersebut dan segera membaca isinya. Perlahan, ekspresinya berubah menggelap. Dia segera menggulung kembali surat itu dan melemparkannya pada tungku penghangat yang berada di sisinya, membiarkan kertas itu dengan cepat terbakar.
Sekejap, suasana ruangan tersebut berubah tegang.
__ADS_1
“Guru Besar Qing, dari mana kau dapatkan surat tersebut?” tanya Kaisar Weixin dengan suara dalam. “Kebenarannya … apa bisa dipastikan?”
Huang Yade mengerutkan kening, tak mengerti apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Qing Gangtie dan Kaisar Weixin. Dia sedikit terkejut karena sebelum membiarkan dirinya membaca surat tersebut, sang Kaisar telah terlebih dahulu membakar gulungan surat itu.
Rahasia yang bahkan tidak boleh diketahui oleh seorang Huang Yade, hal tersebut pasti berhubungan dengan keluarga kerajaan.
Selagi Huang Yade memperhatikan Qing Gangtie, dia tersadar kalau Huang Liqiang terlihat tenang. Hal ini menandakan kalau kakeknya itu mengetahui sesuatu tentang hal yang dibicarakan oleh sang Kaisar dan sang Guru Besar.
‘Kakek tahu, tapi aku tak boleh tahu? Apa-apaan?’ batin Huang Yade, merasa sedikit kesal karena dirinya tertinggal. Lalu, otaknya mulai bekerja. ‘Aku tidak melihat Huang Miaoling berbicara dua mata dengan Guru Besar Qing. Namun, pria tersebut menyebutkan namanya di hadapan Kaisar Weixin.’ Pelipis Huang Yade berkedut. ‘Apa jangan-jangan … gadis kecil itu ada sangkut-pautnya dengan hal ini?
Sementara Huang Yade sedang dipusingkan dengan berbagai dugaan, Qing Gangtie menjawab, “Tulisan tangan pada surat tersebut, aku yakin Yang Mulia bisa mengenalinya. Mengenai kebenarannya, waktu seharusnya akan memberikan jawaban.”
Setelah berbicara penuh dengan teka-teki, Qing Gangtie akhirnya berbicara mengenai masa-masa lampau ketika dia mengabdi di sisi Kaisar bersama dengan Huang Liqiang. Huang Yade yang berada dalam ruangan sangat kebingungan, tak mengerti kenapa pembicaraan secara mendadak berubah haluan menjadi begitu … tidak penting. Yang lebih aneh, Kaisar Weixin sendiri sama sekali tidak menunjukkan keengganan untuk menghabiskan waktu untuk ‘mengenang’ masa lalu.
Sekitar satu jam keempat pria itu berada di dalam ruangan. Huang Yade yang selalu bersikap tegas dan serius saat bekerja tak bisa menahan diri untuk menguap secara sembunyi-sembunyi. Lagi pula, dia adalah seorang pria, bukan wanita. Menghabiskan waktu berbicara omong kosong seperti ini bukanlah hal yang dia gemari.
Ah, tunggu. Apakah Huang Yade baru saja menghina para tetua dan sang Kaisar sebagai seorang wanita?!
Detik berikutnya, rasa kantuk yang menyerang Huang Yade sekejap menghilang ketika dirinya mendengar suara beberapa pengawal berseru, “Lindungi Kaisar!”
Huang Yade segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu, pandangannya dipenuhi kewaspadaan. ‘Apa yang terjadi?’ pikirnya. Saat itu juga, dia menyadari kalau ketiga orang yang berada dalam ruangan bersamanya memiliki reaksi berbeda.
Alih-alih terkejut seperti Huang Yade, ekspresi yang terlukis di wajah Kaisar Weixin hanyalah … kesuraman. Di sebelahnya, Qing Gangtie terlihat tenang dengan pandangan terhibur. Yang terakhir, Huang Liqiang, pria tua itu menunjukkan ekspresi … kagum.
Kagum?
Terdengar suara baju besi yang bergesek dan langkah kaki yang berat menghampiri ruangan. Huang Qinghao datang memasuki ruangan, memperlihatkan kalau di luar terdapat banyak pengawal yang telah bersiaga.
“Ada apa?” tanya Kaisar Weixin dengan nada suram.
__ADS_1
Huang Qinghao memasang ekspresi serius dan berlutut dengan satu kaki. “Lapor, Yang Mulia. Ada penyusup.” Tangannya terjulur dan memperlihatkan sebuah senjata lempar. “Senjata ini diarahkan tepat di tiang penyangga istana. Sepertinya, ini sebuah peringatan.”
Huang Yade mengedipkan matanya beberapa kali, sedikit tak percaya ada seseorang yang begitu gila. Menyelinap ke istana sang Kaisar hanya untuk memberikan peringatan? Apa orang itu tidak menginginkan nyawanya lagi?
Tidak, lebih tepatnya, apa gunanya menarik perhatian?
“Jenderal Besar Huang, bawa pasukanmu ke arah Gerbang Timur. Wakil Jenderal Huang bisa membawa sebagian pasukan istana untuk menjaga Gerbang Barat,” perintah Kaisar Weixin.
Mendengar perintah sang Kaisar, Huang Qinghao sedikit terkejut. Huang Yade yang mengerti pikiran ayahnya pun bereaksi sama.
Sang Menteri Pertahanan bertanya, “Yang Mulia, menjaga? Tidakkah lebih baik untuk ‘mencari’ atau ‘mengejar’ penyusup itu? Bagaimana kalau penyusup menyerang salah satu pangeran maupun selir terhormat?” Pria itu merasa ada yang aneh.
Huang Qinghao memasang wajah memperingati, sadar bahwa cara Huang Yade berbicara terkesan lancang. Bisa-bisanya putranya itu mempertanyakan perintah Kaisar Weixin. Kalaupun dia dianggap otak sang Kaisar, tapi Huang Yade seharusnya tidak boleh melupakan kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang bawahan dan bukan seseorang dengan kedudukan yang setara dengan Kaisar Weixin.
Walau sadar pandangan yang dilemparkan oleh ayahnya bertujuan untuk memperingati dirinya, Huang Yade mengabaikannya. “Yang Mulia?” ulangnya lagi melihat sang Kaisar hanya terdiam.
Kaisar Weixin menutup matanya sesaat, terlihat seperti sedang berpikir. Beberapa detik kemudian, pria itu akhirnya berkata, “Perintahkan Pangeran Keenam untuk membawa sisa pasukan istana untuk mencari penyusup itu.”
***
Pukulan keras lagi-lagi dilayangkan oleh Huang Yade pada meja kerjanya yang malang. Wei Shulin meringis tak berdaya, tak mengerti apa yang sebenarnya mengalir dalam otak saudara sepupunya itu. Bagaimana bisa seorang Huang Miaoling menjadi dalang semua kekacauan yang terjadi hari ini?
Dari segi mana pun, Wei Shulin hanya bisa melihat Huang Miaoling sebagai seorang korban. Sebaliknya, dibandingkan dengan sang Nona Pertama Huang, Huang Wushuang lebih tepat dikatakan sebagai dalang.
Huang Yade mendikte semua kejanggalan yang terjadi dalam benaknya. ‘Isi surat Guru Besar Qing, perintah Kaisar untuk mengutus Pangeran Keenam untuk mencari penyusup dan bukan Jieli maupun Ayah, dan Huang Miaoling serta Pangeran Keempat yang masuk ke dalam jebakan Li Guifei dan Pangeran Kelima.’ Sebuah ekspresi penuh kemarahan terlukis di wajah Huang Yade. ‘Bagus, Huang Miaoling. Kali ini, kau benar-benar bertindak di luar dugaanku.’ Lalu, keningnya berkerut. “Hanya untuk satu hal sederhana itu, dia bertekad menjadikan pernikahannya dengan Tuan Muda Liang serta hubungan dekatnya dengan sang Pangeran Keempat sebagai taruhan?”
‘Kakak Sepupu, kau ini bicara apa?’ Wei Shulin sungguh ingin menanyakan hal tersebut. Namun, dia tak berani mengeluarkan suara ketika melihat raut wajah Huang Yade yang begitu ‘berwarna’.
‘Tidak beres, tidak masuk akal!’ pekik Huang Yade dalam hati seraya berdiri dari kursinya dan mulai mengacak-acak beberapa dokumen yang ada di atas mejanya. ‘Semua ini hanya demi mencari tahu siapa musuh dalam selimut dan menghabiskan sumber daya Wang Wuyu dan Li Guifei? Tidak, ada hal lain!’ Lalu, tindakan Huang Yade berhenti mendadak. ‘Kenapa … Kaisar bisa teringat sang Pangeran Keenam di saat genting?’
__ADS_1
___
A/N: Tebakan dong, tebakan!! Sampai sini masih belum ada yang bisa mendugakaah? Sudah mulai kentara banget loh padahaaal, udah banyak cluenya dilempar sana-sini wakakakk