
“I-ini … tidak mungkin,” suara wanita itu terdengar bergetar, begitu pula dengan tangannya yang sedang memegang kertas penuh kerutan itu. Manik hitam wanita tersebut beralih kepada seorang pria paruh baya yang terduduk di hadapannya. “Guru Besar Qing, berita ini … sungguh bisa dipercaya?!” dia tak bisa menahan suaranya untuk tidak meninggi.
Qing Gangtie menganggukkan kepalanya, “Sungguh, Mingwei Junzhu. Stempel itu tidak bisa digunakan sembarangan orang.”
Mendengar hal ini, Huang Miaoling meletakkan kertas tersebut di atas meja yang berada di sisinya. Wanita itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Siku Huang Miaoling bertumpu pada tanganan kursinya, dan ibu jarinya menekan-nekan sisi kepalanya yang pening.
Mata Huang Miaoling tertutup. “Sudah berapa lama sejak keberangkatan A Feng dan Ayah ke Wu?” dia bertanya, “Enam hari?” Wanita itu membuka mata dan melihat Huang Junyi yang berada di sisi Qing Gangtie menganggukkan kepalanya. “Mereka masih perlu sekitar tiga hari lagi, dan itu perkiraan paling cepat. Apa Kaisar Huatai masih … bisa bertahan?”
Huang Hanrong meraih surat yang tergeletak di atas meja. Dengan saksama, dia membaca kembali isinya.
Isi surat tersebut menyatakan bahwa Zhou belum lama menerima surat mengenai hasil penyerangan ke Wu yang dikepalai oleh Li Changsheng. Sebagian besar penguasa daerah telah tunduk kepada pria itu, dan ibu kota pun dikuasai sang keturunan Li dengan bantuan Zhou dan Suku Nanhan. Berita yang paling mengguncang Huang Miaoling adalah … kematian Permaisuri Tianzhen.
“Tuan Putri Wu akan sangat bersedih bila mendengar berita ini,” ujar Huang Hanrong. “Ditambah dengan rencana Kaisar Weixin yang ingin menikahkannya dengan Pangeran Keenam, aku khawatir dia … tak akan sanggup bertahan.”
“Jangan sampai berita ini tiba di telinganya,” ujar Huang Liqiang. “Sampai Kaisar Wu Huatai diselamatkan, berita ini harus tetap disembunyikan.”
Huang Hanrong menghela napas. Dia tahu itu adalah harapan terbesar semua orang, bahwa Kaisar Wu Huatai bisa selamat. ‘Namun, apa sungguh bisa?’
Sepemikiran dengan kakak kelimanya, Huang Junyi berujar, “Apa Ayah dan Kakak Ipar … sungguh bisa memukul mundur Pasukan Nanhan dan Zhou?” Dia jujur terhadap keraguannya. “Aku mengerti betapa hebatnya Ayah, juga pasukan keluarga Liang. Akan tetapi, tertera jelas dalam surat bahwa para kepala daerah Wu sebagian besar telah tunduk kepada Li Changsheng. Membiarkan Ayah dan Kakak Ipar melanjutkan ekspedisi sama saja dengan ….” Pemuda itu tak mampu menyelesaikan ucapannya.
Huang Miaoling tahu apa kelanjutan ucapan adiknya itu, “Membiarkan mereka mati, bukan?” tebaknya, membuat Huang Junyi menampakkan wajah bersalah karena sempat memikirkan hal sial seperti itu. “Kau tidak salah, Junyi,” ujar Huang Miaoling, membuat semua orang terkejut.
Huang Liqiang mengerutkan keningnya, “Kau lebih condong apabila mereka menelantarkan Wu?”
Pandangan Huang Miaoling terangkat. “Tidak, Kakek,” balasnya. “Aku berkata bahwa Junyi tidak salah memikirkan hal tersebut. Namun, aku tak mengatakan bahwa menelantarkan Wu adalah keputusan yang benar.” Wanita itu melanjutkan, "Sudahkah Kakek mengirimkan orang untuk menyusul Ayah dan memberikan kabar mengenai hal ini?”
“Tentunya,” balas Huang Liqiang.
“Bagus,” Huang Miaoling menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian tersenyum tipis, “Itu sudah cukup.” Huang Miaoling menutup matanya sesaat, “Aku percaya bahwa Ayah, Perdana Menteri Liang, dan juga … A Feng memiliki perhitungan mereka sendiri.” Wanita itu membuka matanya dan menatap Huang Liqiang dan Qing Gangtie, “Biar mereka perangi perang mereka sendiri, dan kita … persiapkan diri untuk perang kita sendiri.”
Mendengar ucapan Huang Miaoling, Huang Liqiang tak mampu menahan diri untuk berkata, “Apa lagi yang kau rencanakan?” Alisnya bertaut, memancarkan kecurigaan. Kemudian, dia teringat akan suatu hal, “Kudengar kau bertemu dengan Pangeran Keenam, untuk apa?”
Mendadak, sebuah suara terdengar berkumandang, “Setiap kali Miaoling datang kemari, haruskah kalian terus membicarakan politik?”
__ADS_1
Semua orang menoleh ke arah pintu ruang tengah yang kemudian terbuka, mempersilakan sejumlah sosok melangkah masuk ke dalam ruangan. Kehadiran sosok yang berada di barisan paling depan membuat para orang muda di dalam ruangan berdiri dan membungkuk hormat.
“Salam kepada Nenek,” ucap Huang Miaoling, Huang Hanrong, dan Huang Junyi secara bersamaan. Lalu, mereka berlanjut kepada dua wanita di sisi Liang Siya, “Salam kepada kedua kakak ipar.”
Liang Siya tersenyum dan mempersilakan para cucunya untuk duduk. Dibantu Situ Yangle, wanita tua itu mengarah ke kursi kosong yang ada di sebelah suaminya.
“Siya, seharusnya kau beristirahat,” ujar Huang Liqiang seraya menggantikan Situ Yangle untuk membantu istrinya duduk.
“Aku ingin bergabung, kau tidak senang?” balas Liang Siya membuat Huang Liqiang tertawa canggung.
“Boleh, boleh,” jawab Huang Liqiang.
Shang Meiliang yang berjalan dibantu oleh pelayan pendampingnya duduk di kursi dengan hati-hati. Lalu, dia memiringkan kepala dan menatap Huang Miaoling dengan sebuah senyuman, “Sesuai ucapan Nenek, belakangan ini kedatangan Adik Ipar Ketiga tidak pernah terlepas dari hal politik. Namun, melihat semua orang berkumpul seperti ini, apa aku salah bila menduga akan ada badai yang segera tiba?”
Sebagai anggota keluarga kerajaan, Shang Meiliang memiliki firasat yang cukup tajam perihal gejolak pemerintahan. Suaminya baru saja dikirim ke medan perang, dan hatinya tidak pernah tenang.
Sekarang, Huang Miaoling datang ke kediaman, dan karena dia langsung diarahkan ke ruang tengah, tentunya wanita itu tidak datang untuk berkunjung semata. Dengan demikian, insting Shang Meiliang secara kuat menyatakan bahwa … akan segera terjadi perang internal di Kerajaan Shi.
Pertanyaannya, perang antara siapa?
Belum sempat Huang Miaoling menyelesaikan ucapannya, Liang Siya mengangkat tangannya. “Meiliang berhak tahu,” ucapnya singkat. “Di saat seperti ini, semakin banyak yang bisa dia ketahui, maka akan semakin baik.” Mata wanita itu terlihat tegas. “Kalau hal yang terburuk tak bisa dihindari, paling tidak mentalnya telah siap untuk menerima kenyataan.”
Ucapan Liang Siya memunculkan kilatan ketakutan pada mata Shang Meiliang, dan Huang Miaoling menangkap hal tersebut. Namun, dengan cepat, kilatan itu menghilang dan digantikan oleh sebuah tekad.
Melihat hal ini, Huang Miaoling pun menghela napas. Dia menutup matanya sesaat, memperhitungkan sesuatu.
“Baiklah,” jawab Huang Miaoling dengan ekspresi yang berubah serius. “Aku akan berterus-terang, perang tak bisa dihindari.”
“Apa … kau sudah memikirkannya dengan matang?” Qing Gangtie langsung berkata. Dia sudah menduga keputusan wanita di hadapannya itu untuk waktu yang cukup lama, sejak dirinya mendengar bahwa Huang Miaoling menemui Wang Chengliu di istana. Namun, perang bukanlah hal yang sepele. ‘Begitu banyak hal yang harus dipertaruhkan.’
Huang Liqiang menganggukkan kepala, tahu jelas arah pikiran cucunya. “Sepertinya, memang tak bisa lagi dihindari.” Dia mencengkeram lututnya, mencoba melihat apakah otot kaki yang dia miliki masih sama kekarnya dengan bertahun-tahun yang lalu. “Karena Qinghao pergi, maka aku akan mengambil alih sisa pasukan Huang yang—"
“Kakek,” Huang Miaoling memanggil Huang Liqiang, memotong ucapan pria tua itu dengan kening berkerut. Senyuman tak berdaya perlahan mengembang di bibirnya, “Apa yang kau bicarakan? Kau berucap seakan aku akan mengirimmu untuk pergi perang.”
__ADS_1
Di saat ini, Huang Liqiang dan Qing Gangtie mengerutkan kening. Huang Miaoling baru saja membicarakan mengenai perang. Lalu, kalau Huang Qinghao tidak terlibat dalam perang ini, maka siapa lagi? Huang Miaoling seorang?
Itu gila!
“Perang kali ini tidak sesederhana menjadi pemimpin pasukan untuk menyerang musuh,” Huang Miaoling berkata dengan tenang, membuat semua orang semakin kebingungan. Pandangannya menyapu setiap wajah yang ada di ruangan tersebut, “Saat ini, hanya ada dua kemungkinan untuk keluarga Huang,” sebuah awan gelap membayangi wajahnya, “menjadi pengkhianat atau mendukung seorang pengkhianat.”
“Apa?” celetuk sebagian besar orang, para pria.
Di sisi lain, para wanita mengerutkan kening mereka, mencoba menafsirkan maksud tersembunyi sang Mingwei Junzhu.
Liang Siya memberikan pandangan tertarik pada cucunya, “Dan, yang mana yang kau inginkan?”
Huang Miaoling tersenyum ketika melihat bahwa hanya neneknya yang mampu membaca pikirannya. Wanita itu kemudian menjawab, “Tentunya, … aku lebih memilih menjadi seorang pengkhianat.”
***
Seorang wanita meniup lembut teh pada cangkirnya, membiarkan kepulan asap menyebar ke segala arah. Setelah menyesap minumannya, wanita itu menghela napas lega.
“Jadi, bukankah cukup kentara bahwa Mingwei Junzhu telah mengambil keputusan?” tanya wanita paruh baya itu sembari tersenyum. Manik kecokelatannya berpindah pada pria yang terduduk di hadapannya, seorang pria dengan mahkota yang melambangkan kekuasaan. “Apa yang membuatmu begitu tak tenang, Kaisar?”
Pandangan Wang Weixin yang sebelum terarah ke bawah segera terangkat. “Ibunda, Huang Miaoling adalah Wu Jiushi Zhu, juga Mingwei Junzhu. Dia memimpin Pasukan Longzhu, dan Liang Fenghong, sang Tabib Jianghu dan putra keluarga Liang, terikat di jari kelingkingnya.” Pria itu menggelengkan kepalanya, “Menggunakannya seperti ini ….”
“Apa? Kau merasa aku keterlaluan?” Ibu Suri Shen menaikkan alisnya. “Kau selalu membanggakan wanita itu sebagai permata tersembunyi Kerajaan Shi. Kalau tidak menggunakannya, untuk apa kau membanggakannya?”
“Keluarga Huang telah mendukung keluarga kerajaan untuk waktu yang lama, dan Huang Miaoling sendiri bertekad mendukung Wang Zhengyi,” tutur Wang Weixin. “Dia juga telah berjasa banyak untuk negara,” imbuhnya. “Jika Mingwei Junzhu tahu bahwa dirinya digunakan seperti ini, aku khawatir—"
“Kaisar, apa aku tidak salah dengar?” Ibu Suri Shen menautkan alisnya. “Apa kau takut dengan seorang gadis kecil?”
Selama sesaat, Wang Weixin terdiam. Lalu, pria itu menatap tajam ibundanya, “Ibunda, kau tahu bukan itu maksudku.” Wang Weixin menutup matanya, mencoba menghilangkan ekspresi mengerikan dari wajahnya. “Sudahlah, tak peduli bagaimanapun, semuanya telah terjadi.” Lalu, pria itu membuka matanya. “Dalam keadaan seperti ini, yang bisa kulakukan adalah berharap semua berjalan sesuai rencana.”
Ibu Suri Shen menganggukkan kepalanya, “Menggunakan Wu Meilan untuk memaksa Huang Miaoling bertindak terhadap Wang Chengliu adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan.” Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah langit, menatap bulan yang bersinar terang di malam itu. "Sebagai keluarga kerajaan, kita perlu menggunakan orang lain untuk bertahan hidup.”
Dan, mereka yang mengganggap menjadi keluarga kerajaan adalah hal yang menyenangkan … adalah orang-orang awam yang tak mengerti apa-apa.
__ADS_1
___
A/N: :)